Gunakan Smartphone, Cara Mudah Promosi Kuliner Nusantara

ultah-gandjelrel-2th

Tiga laki-laki duduk berjejer di sebelah kananku. Mas Nur, Mas Uje, dan Mas Castro, mereka adalah teman  baikku yang kini makin asyik dengan pekerjaannya sebagai Jurnalis.

Tak ada hujan, apalagi pelangi, mereka tiba-tiba datang ke tempat kerjaku saat jam istirahat tiba. Artinya, aku harus prihatin dulu. Ngga kulineran sejenak. 😉

Ah…tak mengapa, karena saat itu belum ada rencana mau hunting kuliner apa, dan dimana. Tau sendiri, segala apa yang sudah direncanakan, dan ngga terlaksana, biasanya bikin batin perih. Apalagi kalau menyangkut kebahagiaan perut. Hayati bakal guling-guling tak berkesudahan. 😀

Bercerita, ngobrol asyik ngetan ngulon, ujung-ujungnya yang dibahas adalah kuliner. 😆 Ini memang pada doyan makan, ya. Alhamdulillaah dong, masih semangat makan tandanya sehat. 😉 Cuma bedanya, aku doyan makan, lalu dipamerin hasil buruan kuliner di media sosial, dan juga blog. Sementara mereka, ngga begitu doyan makan tapi hampir tiap hari mencari informasi kuliner untuk dijadikan bahan tulisan di koran. 😆 😆 Jadi, ngobrolnya memang punya tujuan, ya. Bermanfaat, ngga gosipin pilkada muluu. Wkwkwk

Disela-sela obrolan…

Kamu masih setia pakai Smartphone ASUS untuk motret, Dah?”  Tanya Mas Nur dengan ekspresi wajah tengil setengah meledek.

~Perjalanan ke Boyolali dan Soto Sedeep~ . Ada alasan-alasan pasti untuk kembali singgah ke Soto Sedeep. Yang pasti menu, rasa, harga, dan fasilitas umum menjadikan rumah makan ini salah satu langganan saat menuju timur , atau kembali ke barat lewat Jl. Jambu. . ? Soto Ayam Kampung ? Rp 9.500 per porsi ? Jl. Magelang Km. 5-Jl. Raya Jambu-Ambarawa . #RumahMakan #SotoSedeep #SotoGurih #KulinerSoto #SotoWAR #KulinerAmbarawa #Culinary #Icip2Cerdas #IdahnJajan

A post shared by Idah (@idahceris) on

Oooooo tentuuuuuuuu…” Jawabku tanpa ragu. Beuuh…mentang-mentang kameranya  level sepuluh *emangmakicih*, dia selalu saja punya cara untuk meledekku. Maaph bangeeeet, aku sudah terlanjur nyaman motret pakai smartphone ASUS baik saat piknik, maupun  wisata kuliner. Aku lebih mengandalkan kamera smartphone.

Ooo…ternyata pakai smartphone ASUS. Bening juga hasil jepretannya, ya. Kirain pakai kamera model gini. Tambah Mas Castro sembari menyodorkan kamera SLR yang nyaris tak pernah lepas dari lehernya. Berasa kalung seberat satu kilo ya, Mas. 😛

Hari gini mau kulineran harus membawa kamera gede, gitu? Kelamaan. Iyaa kelamaan, soalnya aku belum punya. Hahaha. Lagipula, jepret kuliner pakai smartphone hasilnya ngga kalah bagus dengan kamera SLR, kok. Apalagi kalau smartphonenya ASUS ZenFone series. Kulineran terasa lengkap. Selesai jepret, tinggal nyalain paket data selular, langsung unggah makanan di Instagram.

Share hasil foto kuliner disertai caption yang informatif. Ini aku banget, deh. Coba follow instagramku @idahceris. Asli, itu hobiku banget. *promoterselubung* Hihihi

Saat melihat satu persatu hasil jepret kuliner di akun instagramku, Mas Uje pun mengomentarinya. Menurutnya, ada beberapa foto yang angle-nya kurang greget. Duuh, mana kupaham tentang angle, ya. Seketika, aku pun ingin belajar angle-angle syalalala kepada para Jurnalis itu. Qiqiqi

Belum mulai minta diajarin angle, mereka ingin melihat hasil jepretan kuliner secara langsung di smartphone ASUS. Woyoooooh! Yaudah, aku kasih lihat hasil jepretan kuliner menggunakan ASUS ZenFone 6 dengan menginformasikan mode-mode yang kupakai untuk motret kuliner.

Dari total 18 mode pada settingan kamera belakang ASUS ZenFone, aku lebih sering mengandalkan tiga mode ini untuk foto kuliner.

Mode Auto 

Ini andalan banget. Mode yang kerap kupakai untuk foto kuliner. Tinggal jepret tanpa perlu nahan napas berdetik-detik, hasil sudah cukup bagus. Sekali kedip, hasilnya langsung dapat diunggah di sosial media, atau blog. Mudah banget, ya.

kamera-asus
Pempek, kuliner khas Palembang favorit banget. . .

Kelebihan Mode Auto, pengguna tidak perlu mengatur pencahayaan, fokus, dan lain sebagainya karena semua pengaturan sudah dilakukan secara otomatis oleh kamera smartphone ASUS ZenFone.

Btw, potret di atas adalah Pempek, kuliner khas Palembang yang kini bisa juga dinikmati di Banjarnegara. Inu Pempek paling hits se Banjarnegara, lho. Memang, rasa tengiri kurang nampol, tapi gurihnya Pempek bikin aku kerap balik ke gerobak Mbah Badari. Hihihi

Mode Miniature

mode-miniatur-asus-zenfone
Mode Miniature dengan bentuk fokus memanjang…

Ini mode andalan kedua. Jika ada beberapa objek di meja, dan aku hanya ingin fokus pada kulinernya saja, aku cukup menggunakan Mode Miniature. Pengguna bisa dengan mudah mengatur luas area objek kuliner yang akan dibuat fokus. Coba perhatikan titik garis yang ada pada layar kamera.

Ada dua model fokus yang disediakan yaitu bentuk lingkaran dan bentuk memanjang. Keduanya bisa digeser menyesuaikan objek yang akan difokuskan. Selain fokus objek, terdapat juga pengaturan untuk ketajaman objek, dan pencahayaan.

contoh-mode-miniatur-asus-zenfone
Mie Aceh ada di Banjarnegara! 🙂

Omong-omong, mode miniature ini kerap bikin aku bahagia karena hasil jepretan dengan mode ini, tuh, seakan-akan udah jago jepret foto kuliner. Padahal cukup gonta-ganti mode saja. 😀

FYI, ini kuliner Nusantara khas Aceh. Mie Aceh, namanya. Dulu, pertama makan Mie Aceh tuh di Tebet. Mie Aceh Jali-Jali. Sekarang kalau lidah kangen Mie Aceh, cukup mampir ke warung Bang Alba yang standby di depan Masjid Agung An-Nur Banjarnegara.

Mode Depth Of Field

Waainiii…Mode Depth Of Field (DOF) kamera smartphone ASUS ZenFone yang nyenengin. Tanpa pengaturan rumit, pengguna bisa menciptakan efek latar belakang blur.

mode-depth-of-field-asus-zenfone
Perlu nahan napah kalau pakai mode ini. . .wkwkwk

Yang perlu diperhatikan ketika menggunakan mode ini, saat memotret sedapat mungkin tenang, karena kamera akan mengambil gambar sebanyak dua kali jepretan. Kenapa dua kali? Karena cara kerjanya juga dua kali. Jepretan pertama yaitu untuk menangkap objek dengan fokus, dan jepretan kedua untuk membuat latar belakang blur.

A post shared by Idah (@idahceris) on

Selain tenang, selama proses pemotretan, usahakan tangan jangan bergerak, tetap stabil agar hasil foto maksimal. Jika Mode Auto tetap bisa berjalan tanpa menahan napas, maka pada mode aku kerap menahan napas beberapa detik sampai kamera kembali pada posisi semula alias standby. Ngga lama kok, hanya 3-4 detik.

Kenapa harus menyematkan foto saat promosi kuliner?

Jawabannya simpel banget! Karena pastinya akan terasa hambar, kurang informatif, jika mengunggah informasi kuliner tanpa ada visualisasi. Kurang greget, dan kurang meyakinkan juga, kan.

Kalian mau ngomong Mie Aceh Bang Alba enak banget, tapi ngga memperlihatkan foto kulinernya, yang lihat ngga bisa turut menikmati, dong. 😛 Lagipula ASUS sudah mendesain smartphone canggih, kenapa ngga memanfaatkannya?

Selain itu, sekarang kuliner Nusantara dapat dijumpai hampir di tiap kota. Di Banjarnegara, misalnya. Cukup banyak kuliner khas Nusantara bertebaran di kota kelahiranku ini. Tapi, belum banyak orang tahu tempat atau lokasi yang menjual kuliner enak, baik kuliner khas Banjarnegara, maupun khas Nusantara. Padahal, sekarang makin beragam kuliner di sini, lho. Asli.

Nah, dengan menyematkan atau mengupload foto, baik di akun media sosial, blog, atau media online lainnya, kuliner khas Nusantara bisa lebih dikenal banyak orang. Ini salah satu cara mudah memperkenalkan kuliner Nusantara lewat dunia online.

Gimana? Ternyata semudah ini mempromosikan kuliner Nusantara, ya. Semudah ini juga cara pamer, sekaligus memperkenalkan kuliner ke khalayak followers khususnya, dan pengguna internet umumnya.

Kalau kuliner Nusantara makin banyak dikenal orang, turut bangga, kan? Apalagi ngehitsnya sampai kancah dunia. Uwwwh…;)

Lalu, kenapa pakai ASUS ZenFone Series?

Jawabannya juga gampang banget! Karena mode kamera pada ASUS ZenFone ngga bikin ribet pengguna. By the way, ASUS menyematkan teknologi yang sama di semua seri Zenfone, yaitu ASUS PixelMaster Camera.

PixelMaster adalah sebentuk teknologi yang dikembangkan ASUS untuk kamera smartphone dengan menggabungkan tiga unsur, yakni software, hardware, dan desain lensa. Nah, karena teknologi ini lah hasil foto dan video yang diambil menggunakan smartphone ASUS bisa dibilang memuaskan. Ngga pandang siang, maupun malam.

DELAPAN BELAS Mode Kamera milik ASUS ZenFone. KECEEE!

Selain tiga mode yang sudah kutulis di atas, 15 mode lainnya juga sering kupakai. Wefie bersama keluarga, dan atau teman, misalnya. Tentu hasilnya makcling banget dengan mode kamera beautification, dong. Mode lain juga bersahabat banget jika digunakan pas piknik. Buat pepotoan objek wisata dengan mode panorama juga cantik banget karena dapat menghasilkan foto seluas 360 derajat. *njerit*

Motret pas malam hari juga hasilnya tetap bagus dengan mode night dan low light. Pokokya, ngga bakal bingung motret kalau pakai kamera smartphone ASUS.

Ternyata promosi kuliner itu gampang banget, ya!

Betuuullll. Cukup berbekal smartphone yang mumpuni seperti ASUS ZenFone dan Internet, promosi kuliner makin mudah. Mengenalkan kuliner Nusantara lewat media online semudah minta uang kepada suami. 😛 Iyaaa kan, Ayaah? Awal bulan, lho. 😆 😆

contoh-mode-dof-asus-zenfone
Sate Gombong di Banjarnegara pake mode Depth Of Field. Ngeblur bekgrooon. . .

Btw, apakah aku juga cuap-cuap sepanjang ini di depan para Jurnalis? Kagak laaah! Bisa-bisa aku ngga makan siang, ngga kulineran. 😀 Aku ngasih tahu hasil foto-fotonya, sama penggunaan mode yang pas. Kalau tulisan panjang ini ya buat bacaan kalian yang mau pada baca. Hahaha. 😛 😛

Makasih atas sharingnya, Mas Castro, Mas Uje, dan Mas Nur. Kapan-kapan, hunting kuliner bareng seru kalik, ya. Sambil belajar jepret kuliner dengan angel syalala, gitu. 🙂

Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel

Stay Calm Meski Berada di Lingkungan Orang yang Sakit

“Bahagia dan susah. Kadang, mereka diciptakan untuk selalu berdekatan, berdampingan. Supaya kita tetap ingat kepada Sang Pencipta.” Tante mencoba menguatkan, saat Om sedang merasa terpuruk kala itu. Aku yang saat itu berada di samping mereka, turut mengambil hikmahnya.

Kenyataannya, tiap manusia pernah mengalami masa bahagia dan susah. Pun denganku. Susah dan bahagia pernah kualami secara bersamaan. Tepatnya saat usia Jasmine menuju delapan bulan dalam kandungan, dan setelah lahir.

Namanya perempuan sedang hamil, ya. Pasti merasa bahagia karena tak lama lagi akan menjadi seorang Ibu. Tapi saat itu juga, aku merasa susah. Bisa dibilang, kondisi mentalku cukup buruk. Ini karena penyakit hipertensi menghampiri Ibuku kala itu.

Sedang hamil besar, Ibuku, calon Embah dari bakal anakku, dirawat beberapa hari di RSUD. Gimana rasanya, coba? Nyaris tidak bersemangat hidup. Sedahsyat itukah? Iya, karena perempuan yang telah melahirkanku itu begitu istimewa bagiku. Meski tidak bisa full, aku berusaha menemani Ibu sampai waktunya istirahat malam, kira-kira jam 19.00 WIB. Cukup mengobati rasa rindu.

rumah-sakit-2

Kejadian sama kembali terulang saat Jasmine udah lahir, dan lagi-lagi saat usianya menjelang delapan bulan. Ternyata keadaanku jauh lebih buruk dari sebelumnya. Aku yang dulu masih bisa menemani, merawat Ibu, kali ini aku tidak bisa berada di sampingnya sewaktu-waktu. Bukan tanpa alasan tentunya. Di rumah ada Jasmine yang membutuhkan kehadiranku tiap hari. Ada suami, keluarga, yang tiap hari butuh makanan, dan segala hal untuk keperluan sehari-hari. Beruntung, Bapak, adik, beserta suami bisa menjaga Ibu secara bergilir.

Aku bersyukur karena Tuhan memberiku kesehatan terus menerus meski volume pekerjaan kantor dan rumah terus bertambah. Tapi di sisi lain, aku merasa susah karena daya tahan tubuh suami sempat drop. Mungkin karena kelelahan.

Sebenarnya sistem imun suamiku, tuh, terbilang kuat. Tapi, karena selama tujuh hari full ikut jagain Ibu, disuruh pakai masker selama di RS tidak mau, makan dan tidur tidak teratur, akhirnya dia pun ikut tumbang. Fufufu

stimuno

Sebelum jatuh sakit, tiap habis sarapan, dia aktif konsumsi Stimuno Forte. Menurutnya, ini termasuk salah satu cara menjaga kesehatan tubuh. Semisal sampai lupa, dia bisa minum Stimuno lempengan yang tak pernah absen nongkrong di dompetnya. Mengkonsumsinya pun bisa kapan saja, asal sudah makan. Tapi, saat mulai tidak sehat, suamk konsumsi Stimuno Forte tiga kali sehari untuk membantu mempercepat proses penyembuhan.

Kenapa Stimuno Forte?

Pertama, karena satu-satunya imunomodulator yang memperoleh sertifikasi Fitofarmaka, sebentuk standar tertinggi yang diberikan oleh BPOM untuk produk herbal yang sudah memenuhi standar proses dan kualitas sesuai dengan masyarat dari BPOM. Informasi ini kudapat di http://www.serbaherba.com/daya-tahan.

Kedua, karena bentuknya kapsul. Baik aku maupun suami, lebih memilih suplemen dalam bentuk kapsul karena mudah ditelan. Tidak terasa pahit.

stimuno-herbal-2

Ketiga, karena herbal. Terbuat dari ekstrak tanaman meniran (Phyllanthus niruri) yang sudah teruji klinis dan aman digunakan secara rutin dalam jangka panjang, jika dikonsunsi sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Keempat, karena bekerja langsung memperbaiki sistem imun dengan memperbanyak produksi produksi antibodi.

Omong-omong, Stimuno Forte ini bisa dikonsumsi untuk anak mulai usia 12 tahun dengan dosis yang dianjurkan 3×1 kapsul. Stimuno Forte belum bisa diminum oleh wanita hamil dan menyusui. Stimuno belum mengeluarkan produknya yang aman bagi wanita hamil dan menyusui.

stimuno-forte

Dengan bekal empat alasan di atas, suami udah yakin minum Stimuno setiap hari untuk memperkuat dan memperbaiki daya tahan tubuhnya. Jadi, tetap stay calm meski berada di lingkungan orang yang sakit, ya. Udah ada Stimuno Forte, lho.

Streaming Lebih Nyaman dengan Tablet

Kemarin aku baru posting tentang #AlasanGantiBaru. Ada satu barang yang kupunya, dan kondisinya sudah memprihatinkan. Kalian bisa baca cerita lengkapnya di alasanku ingin ganti yang baru, ya.

Ganti Notebook belum terlaksana, tapi ini udah merencanakan beli gadget lagi. Ya apa susahnya bikin daftar kebutuhan atau keinginan, sih, ya. Orang tinggal nulis aja. Hihihi. Apalagi, ini Tahun Ayam. Pas banget kalau banyak “berkokok”. Biar hidup makin sehat, dan semangat. 😀

Gadget yang rencananya akan kami beli yaitu Tablet. Ini kebutuhan suami banget yang rajin streaming film malam hari. Bisa dibilang udah menjadi hobi, nih. Betah banget kalau udah streaming film. Beeeuh…

“Istriku yang manis-manis ngangenin, pinjam ponselmu, dong. Buat streaming film. Kan layarnya cukup lebar. Mantap.”

Ini, nih, yang membuatku “berkokok”. Mau dipinjami, kadang lagi asyik chat. Ngga mau dipinjami, kasihan. Hahaha. Makanya, aku nyaranin ke Suami buat beli Tablet.

Nah, kalau udah punya Tablet sendiri, kan dia bisa nonton film dengan nyaman, tanpa mengganggu dan diganggu siapapun. 😀

SMARTPHONE BARU

Karena Tabletnya mau dipakai buat streaming film, akupun merekomendasikan tablet-tablet ini:

Lenovo Tipe A7-50 A3500

Tablet yang aku rekomendasikan pertama adalah merek Lenovo dengan tipe A7-50 A3500. Tablet ini didukung dengan teknologi IPS pada layar dengan resolusi cukup tinggi sebesar 1280×800 Pixel. Lumayan lah, ya.

Jaringan yang digunakan 3G dengan kapasitas memori ada 2 pilihan yaitu 8 dan 16 GB. RAM dengan ukuran 1 GB ditambah  prosesor dari MediaTek 8382. Ukuran kamera belakang 5 MP dan untuk kamera depan sebesar 2 MP, tablet ini dijual dengan harga sekitar 1,8 juta rupiah. Cukup terjangkau, nih.

Asus Tipe Memo Pad 7

Tablet kedua yang aku rekomendasikan untuk streaming film adalah Asus dengan tipe Memo Pad 7. Tablet ini memiliki banyak kelebihan, yang pertama adalah sudah menggunakan jaringan 4G LTE dengan resulosi yang baik. Ini termasuk mumpuni untuk streaming film.  Apalagi dengan adanya speaker stereo. Makin nyaman. Tablet ini harganya 3 jutaan. Duuuh…cukup mahal ya, Yah. Hahaha

Lenovo Tab 2 Tipe A7-10

Tablet berikutnya yang bisa menjadi pilihan yaitu merek Lenovo Tab tipe A7-10 yang terbukti murah karena harganya hanya berkisar 800 ribuan saja. Pas aku merekomendasikan ini, suamiku langsung ngepoin. Berbekal informasi harga di bawah 1 Juta. Wkwkwkw

Sekalipun murah, tablet ini tetap memiliki spesifikasi yang mumpuni mulai dari RAM sebesar 1 GB, prosesor MT8127, CPU quad core. Kira-kira, cukup dengan ini ngg? Hahaha.

Asus Tipe Fonepad 7

Dari Brand Asus lagih, nih. Selain Memo Pad 7, masih ada lagi tablet Asus yang mempunyai spesifikasi hebat yaitu Fonepad 7.

Keunggulan utama dari tablet yang satu ini adalah jaringannya sudah 4G LTE. Selain itu, ditambah dengan RAM sebesar 1GB, prosesor Intel Z2560, dan kamera utama 5 MP. Dengan spesifikasi tersebut, tablet Asus ini dijual dengan harga 1,7 juta rupiah. Yang ini cukup menarik.

LG Pad Tipe V410

Merek terakhir yang aku rekomendasikan yaitu merek LG Pad tipe V410 yang memiliki desain comfortable.

Banyak keunggulan pada tablet ini mulai dari prosesor Snapdragon Qualcomm, jaringan sudah 4G LTE, kamera utama 5 MP, dan kapasitas baterai yang besar.

Mumpuni banget buat streaming, nih. Jadi jangan heran jika tablet LG ini dijual dengan harga 3 juta rupiah. Qiqiqi.

Aku nyari Tablet di atas cukup lewat online di MatahariMall.com, Toko Online aman dan terpercaya. Koleksi Tabletnya makin banyak. Penyajian informasinya juga makin detail.

Kalian punya rekomendasi Tablet yang nyaman buat streaming film? Kasih info sini, Gan! 😆

Ini Alasanku Ganti yang Baru

Tahun baru, haruskah ganti yang baru? Mengapa tidak, ya. Kalau memang ada yang perlu diganti, selagi ada anggaran, dan memang kebutuhan, bagiku ngga masalah. #SokSugih

Tapi sebelum mengganti dengan yang baru, biasanya harus ada alasan-alasan kuat sebagai bahan pertimbangan. Ya tahu sendirilah, karena ujung-ujungnya pasti berhubungan dengan dana, duuuuiiiiit. Hihihi.

Kurang lebih enam bulan, Notebook yang biasa kupakai kerja di kantor dalam keadaan mencemaskan. Bunyi beep tiada henti kerap terjadi saat aku akan menyalakannya. Semisal sedang selow, aku membiarkan Notebook “sembuh” dengan sendirinya. Sebaliknya, kalau lagi gugup, notebook kumatikan paksa. Tak lama kemudian berulah berhasil masuk Windows. 

Untuk menunggu bunyi beep berhenti, membutuhkan waktu agak lama. Makanya, aku kurang sabar. Belum lagi, bunyinya melengkiiiiiing bangeeet, kasihan telinga para rekan kerja, kan. Bisa jadi, mood kerja mereka hilang hanya gara-gara beep beep. Qiqiqi

Bunyi beep tanpa jeda adalah pertanda bahwa harddisk sudah tidak normal. #AlasanGantiBaru. Ya…meski sebenarnya bisa cukup dengan hanya ganti harddisk, sih. Tapi, pengadaan harddisk, tuh, nanggung. Apalagi hanya satu biji. Wkwkwk. #AlasanKuatGantiBaru

Selama enam bulan, aku bertahan dengan notebook yang kadang bikin was was itu. Alhamdulilaah, selama itu notebook masih bisa diajak kerjasama, masih mampu di bawa keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan. Luar biasa!

Tapiiiiiii, saat awal tahun tiba, rasa-rasanya aku ngga bisa mempertahankan notebook itu untuk tetap bekerja denganku. Apalagi sampai memaksakan notebook andalanku untuk kerja lebih keras (lagi). Rasa-rasanya, ngga tega. Takut ngamuk, kemudian meledak. Hahaha. #IniLebay.

Belum lagi, kegiatan di luar kantor terus bertambah. Gimana kalau tiba-tiba harddisk tidak berfungsi sama sekali? Mati total. Sementara, data-data di dalamnya belum aku amankan. Beeeuh…ini masih di dunia ya, Sist. 😀 #SokPuyeng

elevenia-ctg-tablet-notebook-desktop

Pengadaan atau belanja barang semacam notebook di instansi, tuh, ngga mudah. Harus membuat daftar rencana kebutuhan, pengajuan anggaran kepada negara, dan masih banyak step by step yang harus dilalui untuk mendapat barang sesuai kebutuhan.

Beruntung, di semester dua tahun lalu, satker menerima bantuan dua notebook khusus untuk Dua operator aplikasi aset negara. Duilee…aku, sang Operator, bahagia banget. Asli. Operator lagi ketiban durian montong, nih. MARI JOGED! 😀

Untuk kenyamanan BERSAMA, awal tahun, aku langsung mengajukan pengadaan harddisk eksternal dengan kapasitas Satu Tera. Emmh…sudah diberi notebook dengan spesifikasi yang mentereng gonjreng, masih juga minta lebih, ya. Duileee…ini namanya ngelonjak, bukan? 😛

Ampuun deh…kalian kira harddisknya buat pribadi, gitu? Senang amaaat. Qiqiqi. Harddisk yang kupesan, rencananya akan aku gunakan untuk memindah seluruh data yang ada di notebook lama supaya cepat ngebackupnya. Yakali, data dengan size ratusan giga, mau dicopy pelan-pelan lewat flash disk, ya. Pegal, dong. #AlasanGantiBaru

Hal serupa terjadi dengan notebook yang selama ini menemaniku berkarya, ngeblog. #CryMaksimal. Belum lama, sih. Mungkin baru dua bulan notebook kesayanganku ngebeep beep.

ctg-tablet-notebook-desktop

Rasanya lebih was was lagi saat mendengar suara beep dari notebook pribadi. Lebih sedih lagi, lebih bikin lemas lagi, dan lebih bingung lagi. Data-data, sih, bisa diamankan dengan nebeng harddisk kantor, ya. #EhCurang. Tapi ya gitu, lebih bingung karena ujung-ujungnya duiiiit. Wkwkwk

Semenjak ada Kecemut, aku sudah jarang buka notebook di rumah. Tapi, kupikir notebook ini barang penting banget. Apalagi kalau menyangkut hobi dan profesiku sebagai Blogger. Bakal sering nabok suami pastinya laaah. #IsteriKDRT

Sesuai dengan rencana anggaran, kami sudah merencanakan untuk membeli notebook bulan Mei atau Juni. #IniIkutInstansiBanget. Wkwkwk. Ngga hanya instansi saja yang butuh proses, kami pun butuh menabung, mencari referensi harga notebook murah dengan spesifikasi mentereng. Syukur-syukur, duit yang terkumpu bisa dapat yang seperti punya kantor. Hihihi. #BerharapLebihBaik.

Omong-omong, kalian punya rencana ganti baru? Di atas, tuh, alasan ganti baru versiku, mana versimu? Share, yuk!

Aw, Ternyata Ada Kumpulan Resep Masakan Praktis

Gimana kalau BuIbu yang tiap hari langganan masakan catering, tiba-tiba suami atau anak minta dimasakin sesuai keinginan mereka? Kalau suami yang minta, sih, bisa kubelokkan ke ranjang. Nah ini, kalau nantinya Jasmine sudah mulai minta dibikinin makanan, atau camilan, sepertinya susah untuk menolak.  😀

Yakali…anak minta dibuatin makanan pasti ngga setiap hari. Apalagi kalau sudah kenal sama cikimiki, rotaro, toscito, yang bumbunya saja bikin nagih, gurihnya tak tertandingi. Bisa jadi akan berbalik, orang tua gigih menawarkan camilan homemade dengan dalih pingin anaknya makan makanan yang higienis. Qiqiqi

“Jasmine pingin Fuyunghai, tapi Ibu yang buat. Bukan koki Dapoer Central.” Entah mengetest Ibunya, atau memang ingin dimasakin. 😛 Ketika anak minta dimasakin makanan yang tak biasa, pusing, ngga?

Ya ngga laaah, ya! Sorry, sekarang kan udah zamannya #okegoogle, ngapain sampai pusiang hanya karena ngga tahu cara buat Fuyunghai. Hanya bakwan gedee, gituuu? Keciiiil! Ngga usah sampai terlihat bingung, apalagi gemetar di depan anak karena minta dibuatin camilan atau makanan favoritnya. Manfaatkan internet, tanya ke google atau langsung cari situs resep masakan lengkap. Syukur-syukur situsnya bisa digunakan sebagai acuan tiap hari. Sebagai rujukan.

Omong-omong, situs website yang bagus biasanya akan menjadi rujukan para pembacanya. Ya…meski kriteria bagus itu beragam, tapi setidaknya mudah dipahami dan simpel. Seperti situs website yang menyajikan informasi resep makanan. Untuk rujukan resep makanan, aku memilih website Resepkoki.co.

 

Foto kiriman CERIS Family (@cerisfamily) pada

Resepkoki.co adalah situs kumpulan resep-resep masakan Indonesia dan dunia. Resep Koki ini mengedepankan resep masakan yang mudah dan praktis. Cocok banget buat remaja, BuIbu yang lagi senang-senangnya belajar masak. Buat yang ngga terlalu suka dengan penyedap rasa, resep-resep di Resep Koki ini pas banget menjadi rujukan karena mereka meminimalkan penggunana penyedap rasa. 😉

Kenapa Resep Koki?

Pertama, karena  praktis.

Cukup pekerjaan kantor saja yang kadang susah dicari solusinya. Usahakan mencari resep makanan yang praktis. Baik dari segi bahan, maupun cara membuatnya. Di ResepKoki, resep-resep yang ada tuh serba praktis. Namun, hasilnya tidak kalah dengan menu masakan cateringan lah, ya. Bahan minimalis, hasil maksimal.

fuyunghai-resep-koki
Yang praktis gini yang dicari…

Kedua, banyak variasi menu masakan dan camilan.

Di rumahku, lauk yang bernama Tahu, Tempe, hampir tiap hari ada di meja makan. Sejauh ini, sih, apa yang ada di meja makan, diambil. Apapun hasilnya. Tapi setelah melihat variasi menu masakan, lauk yang ada di Resep Koki, rasanya pingin berkerasi. Ya…meski bahan dasarnya masi seputar tahu, tempe, telor, daging, tapi kalau bentuknya makin menarik, kan, lebih enak dilihat. *eh*

Ketiga, ada menu untuk anak-anak.

Yeeees! Resep koki bakal menjadi rujukan banget. Secara, di websitenya tersedia kreasi menu masakan dan camilan untuk anak-anak. Resep kue, puding, misalnya. Beragam banget. Udah gitu, bahan yang dibutuhkan mudah dicari. Coba saja klik halaman resep untuk anak. Ada banyak pilihan menu makanan untuk si kecil.

Keempat, website Resep Koki “ramah”.

Ini paling penting. Tampilan website sebagus apapun, kalau tidak didukung dengan keramahan kasihan para pembaca dong, ya. Masuk ke situs Resep Koki, pembaca akan diberi pilihan untuk berlangganan resep. Ini bisa yes or no. Kalau ngerasa butuh referensi resep makanan, silakan yes!

website-resep-koki

Hal lain yang kusmaksud dengan ramah adalah tentang navigasi atau petunjuk bagaimana pembaca bisa dengan mudah mengakses website. Pembaca ngga merasa bingung mencari resep makanan di Resep Koki melalui menu search yang ada di pojok atas kanan, atau sidebar kanan.

Kelima, ikut nimbrung di Resep Koki!

Ini paling menyenangkan. Silakan langsung cus ke menu Kirim Resep di website Resep Koki. Ada kejutan di sana! Ini sepesial banget bagi kamu yang suka masak, menciptakan menu masakan baru, atau modifikasi menu. 😉

resep-koki-shop

Yang lebih menyenangkan lagi nih, ya. Resep Koki punya Toko Online yang menjual alat-alat dapur & rumah tangga berkualitas dengan harga terjangkau. Resep Koki Shop, namanya. Perlatan yang ada di etalase, tuh, dari berbagai macam brand. Ini yang menjadi pertimbangan penting. Sebelum membelinya, bisa melihat peralatan lain yang sejenis, tapi beda brand. Membandingkan lah, ya.

Hal lain yang patut menjadi bahan pertimbangan, Resep Koki Shop kerap memberi diskon besar dan promo! Ampun deh, ya. Sumpah, ini godaan banget. Apalagi warna barangnya sebagian besar warna cerah, kan makin menggodaaaaa. Fufufufu.

Nyontek resep masakan di Resep Koki. Beli peralatan masak di Resep Koki Shop. Jodoh banget, ya. 😆 😀

Kota Tua Jakarta dengan Kawasan Wisatanya yang Menarik

Sebelum tahu tentang Kota Tua Jakarta, aku terlebih dahulu dikenalkan dengan sosok pangeran yang berhasil mengusir bangsa Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa. Adalah Pangeran Fatahillah.

Guru mata pelajaran IPS semasa MTs, Bu Kustantinah, beliaulah yang mengenalkan. Tidak, kami tidak berkenalan langsung dengan pangeran yang gagah berjambang itu, ya. Yaa…lu kira gue hidup sebelum Doraemon, gitu. 😀

Melalui sebentuk buku materi pegangan guru dan juga siswa, ada satu pembahasan yang menceritakan tentang Pengeran Fatahillah. Beruntung, pada salah satu halaman terdapat foto berukuran seperempat folio yang menampilkan wajah Pangeran Fatahillah. Cukup ada gambaran dan tidak menghayal terlalu dalam. 😀

Di buku tersebut, pembahasan tentang sosoknya tidak begitu detail. Aku cukup tahu, bahwa Pangeran Fatahillah adalah pemimpin tertinggi gabungan pasukan tiga kesultanan yaitu Demak, Cirebon dan Banten. Selanjutnya, ada  Sunda Kelapa, Batavia dan Kota Tua Jakarta yang kini telah dimanfaatkan sebagai kawasan wisata juga menggerakan bolpoinku  untuk sekadar mencatat harapan.

“Kota Tua Jakarta, besok aku ke sana.”

Iya, besok yang kumaksud itu entah kapan, waktu itu. Qiqiqi. Kalau ngebayangin zaman cupu-cupu gemas, bikin ketawa sendiri. Asli. Ya…seperti saat menulis postingan ini.

kota-tua-jakarta-2
Kompleks ini ngangenin…

Dulu, aku membayangkan Kota Tua Jakarta tuh sereeeem. Namanya kota tua, pasti identik dengan bangunan kuno, tidak banyak penghuni, sepi, angker, pokoknya bayangan yang sama sekali tidak indah. Semisal tiba-tiba ramai suara hentakan kaki, mungkin Pangeran Fatahillah beserta prajuritnya sedang nostalgia. 😆 Khayalan macam apa ini, ya. 😛

Namun, bayangan itu sirna seketika saat aku sudah mulai sedikit lihai memainkan Google dan Portal Wisata. *okegoogle* *marimainkan*  Bersama Sitti, Blogger di www.sittirasuna.com yang kini mulai sibuk nyari pasangan ganteng berkacamata, kami jalan-jalan ke kawasan wisata kota tua. Sebentuk kawasan yang sarat akan nilai sejarah.

Tempat pertama yang kami singgahi adalah Cafe Batavia.

batavia-cafe-kota-tua-jakarta
Dindingnya rapih-rapih ramai, euy….

“Acara si Mister bertempat di Cafe Batavia. Aku belum pernah ke sana. Dengar-dengar sih bagus. Penasaran dalamnya.” 

Si anak kota saja penasaran, tuh. Kembang desa pun ikut-ikutan penasaran lah, ya. Yaudah, menghadiri undangan sembari menikmati Cafe Batavia yang nyentrik artistik. Cafe ini nampak sederhana dari luar. Namun saat masuk Cafe, tuh, tiba-tiba adem ngelihat desain interior yang elegan.

full-bar-cafe-batavia

Full bar yang berada di lantai dasar cukup ramai pengunjung. Ya, banyak orang di dalam, tapi suasana hening. Aku sih maklum, yang ngobrol kan orang dewasa, tidak perlu teriak-teriak yang penting pesan tersampaikan. 😉 Tapi suasana akan beda saat weekend karena ditemani alunan musik dari band lokal. Berlama-lama di Cafe Batavia tidak akan bosan, ya. Apalagi, didukung dengan pencahayaan lampu yang tidak terlalu terang, bikin saturday night di cafe ini makin nyaman.

Ini di Toilet, lho. . .

Nah, kalau di lantai dua, biasa dipakai buat acara, gitu. Kami terlalu narsis di sini. Tidak hanya kami, sih. Teman-teman lain yang ikut acara si Mister juga tak kalah narsis. Dari lorong timur yang viewnya kota tua  banget, pemandangan kota tua dari atas yang oke banget, sampai dengan Toilet unik yang bikin kami keranjingan pepotoan di mari. Yaaa gimana lagi, tempatnya asyik, menarik, rapih, bersih pula.

Lalu, gimana dengan makanan Cafe Batavia?

Karena kedatangan kami dengan sebentuk undangan, makanan pun prasmanan, dong. Agak menyesal karena tidak mencicipi menu khas Cafe Batavia. Eh..Yah…Ayaah, ini kode buat kamu, ya. Kembali ke Kota Tua lagiiih! :mrgreen:

Selesai acara si Mister, kami mulai keliling kawasan Kota Tua Jakarta. Tentunya pelataran Museum Fatahillah menjadi tempat pertama yang kami tuju.

kota-tua-jakarta-3

lapangan-fatahillah

Waaaini….Pelataran Museum Fatahillah!

Lapangan Fatahillah yang penuh sejarah ini sepertinya ramai dengan orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Apalagi kalau weekend. Hampir tidak ada interaksi dengan pengunjung lain karena -mugkin- ada yang lebih mengasyikan. Yaitu gadget. Tidak beda dengan kami yang juga sibuk dengan kamera. 😀

sepdaan-di-kota-tua-jakarta

Di depan Museum Fatahillah atau Museum Kesejarahan Jakarta, banyak obyek yang menarik untuk difoto. Selain itu, obyeknya bisa juga dijadikan background yang Kota Tua banget! Lihatlah sepeda di atas. Kota Tua banget, kan? Sayangnya kami tidak mencoba untuk sewa sepeda, nih. Soalnya, malas mengayuh. Maunya mbonceng semua. 😀

Berjalan di sekitar museum ini ternyata membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Aku terlalu asyik melihat apa saja yang ada di pelataran museum sampai tidak sempat masuk museumnya kaena waktu berkunjung yang terbatas. 😛 Ehm…ini kode lagi lho, Yah. Kecemut pasti mau kalau diajak masuk ke Museum Fatahillah. Nanti, kita ngajak Sitti lagi buat nemenin jalan. 😀

kota-tua-jakarta-1

Yang seperti ini juga menarik…

Jalan-jalan di Kota Tua Jakarta tidak hanya sampai di Cafe Batavia dan Kompleks Museum Fatahillah saja. Kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Kota Intan yang lokasinya masih di Kota Tua Jakarta. Btw, malam hari di jembatan ini asyik juga, lho. Kapan-kapan kuposting foto-fotonya di insstagramku, ya. 😀

Rekam Jejak 2016

Waktu berjalan begitu cepat ya, Temans. Perasaan, baru kemarin pergantian tahun. Tahu-tahu, udah masuk hari kesembilan dari awal tahun. 😀 Terasa makin cepat (lagi), rasa-rasanya Kecemut belum lama di samping kami. Tahu-tahu, tanggal lima belas bulan ini usianya genap satu tahun. *cipokbasah*

L A N J U T…

Rasa-rasanya (lagi dan terus), belum lama aku menulis rekam jejak 2015. Tahu-tahu, ini udah nulis rekam jejak 2016. Betapa satu tahun itu express banget, ya. Keinginan, harapan, bahkan cita-cita tahun lalu ada yang belum goal. Entah mau lanjut ke lamaran, atau disudahi saja, masih dalam pertimbangan. *janganadabaperyaks* Xixixi

Omong-omong, semangat menulisku tahun ini melonjak luar biasa dari tahun sebelumnya. Tiap hendak bepergian, masak, makan, piknik, lihat gadget baru, lihat kaus unik, lihat hijab cerah, bawaannya pingin langsung nyeritain di blog.

R E A L I S A S I N Y A…

Sesampainya di rumah merasa capek, dan memilih untuk istirahat. Niatnya, sih, akan kutulis esok hari, mumpung masih menyala. Namun, sehari setelahnya, semangat menulis padam seketika. Sementara menjadi sebuah angan-angan dan ngga tahu kapan akan menuliskannya. Xixixixi.

REKAM JEJAK 2016

Tahun 2016, aku merasa kurang mutualisme untuk blog ini. Apalagi setelah menilik jumlah postingan selama satu tahun yang hanya terpublish 71 postingan. Duuuuh…ngapain saja selama 2016, ya? 😛 Sepertinya, aku terlena dengan kehadiran Kecemut. Bawaanya pingin megangin dia mulu, meluk dia terus-terusan. Apalagi sepulang kerja, kangennya masya allah. Ini bukan mencari kambing gibas lho, ya. Memang seperti itu adanya. Tak sampai pada Kecemut, menambahnya volume pekerjaan juga membuatku kerap memilih untuk tidur lebih awal ketimbang nulis. Hihihi. Ngga sopan banget.

Ngeblogku memang kurang maksimal, meski demikian alhamdulilaah rejeki karena blog masih mengikuti dan semoga akan terus mengikuti. Teman terus bertambah, daya ingat makin cemerling, makin sehat, waras, dan job terus ada. Ini harapan banget, meski 2016 kegiatan blog walkingku amburadul.

Moment selama 2016 yang bikin hidup makin greget karena hadirnya Si Kecil. Asli, ini paling istimewa sejauh ini dan kerap membuatku meleleh.

melangkah-bersama

Dari Kecemut, aku banyak belajar tentang bagaimana menyayangi orang tua, menghargainya, memberi perhatian, dan pengertian. Belajar hidup sehat, tenang, sabar, ikhlas, juga kudapat dari Kecemut. Anak pertamaku, perempuan, dia membuatku lebih teliti dan berhati-hati dalam menjani hidup, kehidupan.

Ngga terasa, hampir sembilan bulan aku menjadi Ibu Perah. Ini juga kadang membuatku takjub sendiri. Alhamdulillaah, semangat dan kekuatan untuk memberi ASI terus ada. Ini semua dapat terlaksana tak lepas dari dukungan suami, keluarga, teman, dan orang-orang terdekatku. Khususnya Kecemut, dengan wajah polosnya selalu sukses menyemangatiku sebagai Ibu perah.

Hal lain yang membuatku takjub yaitu tentang jejak dan langkahnya yang makin menyenangkan. Bisa jadi karena sedari dalam perut, dia sudah terbiasa kuajak jalan menuruti kemauan kaki aku. Taman kotaWaterpark, Air Terjun, Kebun Binatang, Dieng, Hiking, Kaki Gunung Slamet, Candi, dan Taman Bermain, Kecemut telah mengenal itu semua saat usianya masuk empat bulan.

borobudur

“Menutup akhir tahun, Ibu pingin piknik kemana?” Tanyaku kepada perempuan yang selama ini telah memberi perhatian penuh kepadaku.

“Borobudur.” Jawab beliau dengan mantap. Aku merasa seperti keharusan mengajak, menawarkan, kepada Ibu untuk jalan-jalan. Ini bukan hadiah, kok. Sama sekali bukan. Untuk ulang tahunnya, hari Ibu, kesetiaannya mendampingi cucu, mengabulkan permintaan ke Borobudur rasa-rasanya belum sebanding dengan apa yang telah Ibu berikan kepada kami. Kecemut, khususnya.

SAMPAI DI SINI…

Aku berterima kasih banget banget banget sama blog ini. Berkat blog ini, kami bisa sampai Magelang, bahkan Yogya. Karena blog ini, aku mendapat dua undangan sekaligus pada hari yang sama. Menyaksikan Borobudur Cultural Feast dan menjajal seluruh wahana permainan yang ada di Sindu Kusuma Edupark. Ini salah satu berkah ngeblog yang menjadikan 2016ku makin sempurna.

 

A photo posted by CERIS Family (@cerisfamily) on

Lagi-lagi karena Blog. Bersama sembilan belas blogger Ketenger, aku termasuk Blogger yang paling bahagia saat itu. Ya gimana ngga bahagia, diajak ngetrip oleh Dinbudpar Banjarnegara selama tiga hari dua malam! Ini membuatku bahagia sekaligus bangga. Apalagi Kecemut juga kuajak ngetrip. 😀

2014, update blog tiap tiga hari sekali menjadi semacam keharusan. Namun sekarang, tidak dapat kulanjutkan karena ada keharusan yang sifatnya di atas hobi menulis. Job di kantor terus bertambah, euy. Menangani aplikasi-aplikasi yang bagiku baru. Banyak pekerjaan tak terduga yang kerap diberikan dan harus segera diselesaikan tepat waktu. Sering kejar dateline juga. Fufufufuh. Ini baru mencumbu satu blog, ya. Padahal, aku punya lima blog di mana kelimanya masih hidup, masih bernapas sampai sekarang.

Sadar se yakin-yakinnya, punya keinginan untuk memfokuskan tulisan sesuai hobi, sementara waktuku kian terbatas, aku memutuskan untuk tidak sendiri dalam mengelola Blog. Ya, ada dua blog yang aku kelola bersama orang terdekatku.

Pertama, Blog Tekno yang aku kelola bersama Om Arman. Kedua, Blog Wisata yang belum lama ini aku ngajak Tante buat join nulis di sana. Mereka tidak hanya sekadar membantuku, tapi turut menyalurkan hobi menulis (juga) sesuai passion mereka. Ngga hanya blog, mereka juga ngadmin di akun twitter dan instagram yang merupakan akun media sosial dari dua blog yang telah kusebut.

 

A photo posted by Idah (@idahceris) on

Tahun ini, aku betul-betul ingin kembali aktif ngeblog di blog ini, khususnya. Niatnya, sih, update seminggu dua kali. Hari lain kugunakan untuk update blog Kecemut dan blog Catatan Kerja. CERIS Wisata dan CERIS Tekno, karena sudah dibantu update, sedikit woles lah, yaw. Xixixi

Doakan bisa kembali rutin ngeblog dan blogwalking ya, Temans! ^_*

Baca juga: Rekam Jejak 2015

Singkirkan Semangat Menaklukan Gunung

Rabu (14/12), aku bersama empat belas teman Blogger menghadiri undangan Kongres Gunung yang berlokasi di Lapangan Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. 

Kongres  yang diselenggarakan oleh Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga tidak hanya mengundang Blogger. Mereka yang tergabung dalam komunitas pecinta alam, para pendaki, dan perwakilan dari instansi, juga turut hadir. 

Bertempat di dalam tenda, Kongres dimulai tepat pukul 10.00 WIB, setelah para peserta menikmati camilan khas Purbalingga dan juga pertunjukan seni kuda kepang. 

Ketika masuk ke dalam tenda, rasa rindu kepada gunung muncul seketika. Memang, tenda yang digunakan untuk Kongres bukan sejenis dome, melainkan tenda  yang biasa dipakai untuk kegiatan out door seperti kemah. Rindu makin menggebu saat melihat banyak carrier  yang berderet di bagian belakang tenda. Gilaaa…hampir dua tahun aku tidak menyusuri hutan, tidak pula berkomunikasi dengan gunung.

kongres-gunung-2016
tenda tempat kongres. . .

Kegiatan olahraga mendaki gunung tiap dua bulan sekali pernah menjadi agenda rutinku kala itu. Saat statusku masih single dan jonesssss maniees. xixixi 😆 😛 Adalah Gunung Prau. Dengan 2565 mdpl-nya, gunung tersebut selalu sukses membuatku bahagia karena ada banyak kisah yang tercipta di sana.

Bagiku, sebentuk gunung yang berada di Kabupaten Wonosobo, telah menjadi sahabat baik. Jika ada dari kalian yang suka menyendiri di tepi pantai untuk sekadar menenangkan hati, maka aku memilih gunung untuk melakukan hal yang sama. Udara segar, hutan lebat, pepohonan nan rindang, dan hembusan angin sejuk khas gunung. Rasa-rasanya apa yang kuceritakan kepada ‘sahabat’ cukup terbalas.

Belum lagi, saat menyaksikan matahari tenggelam, sunrise, atau mendapat bonus awan yang terlihat jelas dan dekat dari puncak, sungguh ia menjadi sahabat yang paling baik.

Ya, gunung adalah sahabat manusia. Dia menjadi sebaik-baiknya sahabat yang akan terus memberi manfaat bagi manusia. Tentunya dengan dilandasi oleh kesadaran, bahwa manusia hidup wajib berusaha untuk kebaikannya, sekalipun Tuhan yang menentukan.

“Sebagai manusia, kita wajib memelihara dan menjaga hutan sebagai ‘pakaian’ gunung. Kalian perlu tahu, bahwa gunung-gunung di Indonesia, khususnya, sekarang dalam keadaan sakit akibat perilaku manusia yang kurang menghargai.” Budayawan Ahmad Tohari, memulai sharing dengan memberi pemahaman dan sentuhan khusus tentang gunung.

gunung-prau-wonosobo-3

“Pakaian yang seharusnya dirawat, kadang dengan sengaja ‘ditelanjangi’ dari tubuhnya untuk kepentingan manusia. Bahkan, wilayah kakinya sampai digerogoti.” Lanjut Pak Tohari yang saat itu menjadi pembicara Kongres Gunung dengan judul makalah ‘Jangan Lupa Berterima Kasih Kepada Gunung.

“Jika teman-teman di sini mengaku telah mencintai gunung, kira-kira apa yang telah kalian lakukan untuknya?” Pak Tohari memberi pertanyaan ringan kepada para peserta, namun tidak seorangpun yang menjawabnya. Termasuk aku yang memilih untuk diam karena memang tidak punya keberanian menjawab. Xixixi Terlebih saat itu, hadir juga Prof. Ris. Dr. Ir. Sutikno Bronto dari Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM, sebagai pembicara. Beeeuhudah deh, cukup menjadi pendengar yang bijak. Hihihi

“Sebenarnya kongres ini lebih tepat jika judulnya ditambah. Dari Kongres Gunung menjadi Kongres Gunung Api, karena kongres kali ini akan fokus berdiskusi tentang Gunung Api. Gunung Slamet, khususnya. Gunung terdekat dari Lapangan ini.” Ungkap Pak Bronto sebelum beliau memaparkan makalahnya yang berjudul ‘Gunung Api Sebagai Pendukung Kesejahteraan Manusia: Pandangan Geologi.’

gunung-prau-wonosobo-4

Saat ini, tidak sedikit masyarakat yang menyadari bahwa ada sebentuk gunung yang ikut andil mendukung kesejahteraan manusia. Terlebih gunung api, ia banyak memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Sudah menjadi keharusan manusia betul-betul berusaha menjadi sahabat baiknya. Menjaga, memperlakukan gunung layaknya manusia. Turut merawat hutan yang mana menjadi ‘pakaian’ bagi gunung.

Mencintai gunung dengan cara menjaga dan merawat pepohonan dengan baik. Itu baru dua aset penting agar gunung terus lestari. Belum sampai pada pengelolaannya. Termasuk sampah yang kerap tertinggal di atas puncak. Entah tertinggal, atau ditinggal. Padahal kita semua harusnya tahu, bahwa manusia akan semakin makmur dan sejahtera bila mereka dapat mengelola gunung dengan bijaksana.

“Terus tanamkan prinsip bermanfaat, aman, dan lestari, serta dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia hidup diwajibkan berusaha, sekalipun Tuhan yang mentukan.” 

Dengan gaya bicaranya yang santai, Pak Bronto menghimbau, mengajak kami untuk menerapkan tiga prinsip yang telah disebutkan. Warga yang tinggal di sekitar gunung api, khususnya. Karena mereka mempunyai kelebihan dalam hal rasa memiliki, kesadaran, tanggung jawab dan mencintai. Pun dengan cara memperlakukannya, akan lebih bijaksana.

pembicara-kongres-gunung

“Andai di bumi tidak muncul gunung, permukaan bumi tetap rata, maka secara teori tidak akan muncul kehidupan di permukaannya.”

Statement di atas membuatku makin menyintai gunung. Membuatku makin sadar bahwa gunung begitu berarti bagi hidup dan kehidupan manusia. Manusia harus banyak bergerak untuk kelestarian gunung. Wajib menjaga, menghargai, melestarikan, dan mengelola gunung dengan benar. Tidak asal-asalan dalam memperlakukannya. Adanya dataran tinggi, dataran rendah, permukaan-permukaan miring, terjadinya hujan, sampai dengan terciptanya sungai, itu karena adanya gunung. 

Sekali lagi, betapa gunung itu penting bagi hidup dan kehidupan manusia. Maka dari itu, mulai sekarang singkirkan semangat menaklukan gunung

“Semangat ‘penaklukan gunung’ sampai ke puncaknya yang mungkin dianggap lebih keren, terlanjur merasuk, pelan-pelan mulai disingkirkan dan menggantinya dengan semangat membaca gunung demi menghargainya sebagai pemberi sumber kehidupan.” Budayawan Ahmad Tohari kembali mengajak kepada seluruh peserta untuk lebih menghargai gunung. 

“Kalian dapat menaklukan gunung atau tidak, gunung tetap berada pada tempatnya. Kepuasan setelah sampai puncak, ada baiknya diungkapkan dengan bersujud, mencium, memeluk dan ungkapan lain yang lebih menghargai gunung.” Pungkas Pak Tohari.

Acara Kongres Gunung tidak hanya sampai pada sesi sharing materi dengan pembicara karena kongres ini mempunyai tujuan memberi kesadaran kepada manusia terkait dengan ancaman dan manfaat gunung bagi kesejahteraan hidup manusia. Maka dari itu, usai sesi sharing, peserta kongres dibagi menjadi dua kelompok dengan harapan nantinya ada langkah dan tindakan kongkrit dalam upaya pelestarian lingkungan atau ekosistem gunung.

kongres-gunung-peserta

Kelompok pertama yaitu Mitigasi Bencana diperuntukkan bagi peserta yang punya minat khusus menangani bencana atau punya pengalaman tentang penanggulangan bencana.  Lalu, Kelompok kedua adalah Manfaat Lestari khusus bagi peserta yang kerap ikut kegiatan bersama para pecinta alam. Mencintai dan melestarikan lingkungan.

Diskusi yang dimulai pukul 14.30-20.00 WIB, berhasil mencetuskan deklarasi Gunung Api. Sebagai perwujudan sikap dan gerak laku gunung api, masyarakat gunung api menyatakan:

  1. Memandang Gunung Api sebagai rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa untuk kemakmuran kehidupan manusia;
  2. Siap mengupayakan dan menjaga keharmonisan kehidupan di gunung api;
  3. Siap mengupayakan dan menjaga kelestarian kehidupan di gunung api;
  4. Siap mengoptimalkan kemanfaatan Gunung Api untuk kemakmuran kehidupan sesuai asas keamanan dan kelestarian;
  5. Siap guyup, bahu-membahu, bekerjasama untuk hidup dan menghidupkan gunung api.

Lima butir pernyataan telah dideklarasikan bersama delapan puluh peserta kongres gunung api pada tanggal 14 Desember 2016, pukul 20.15 WIB. Atas dasar poin kelima, dua pembicara kongres gunung api berharap, agar segera dibentuk paguyuban yang dikelola oleh masyarakat yang tinggal di daerah Gunung Slamet.

kongres-gunung-api-purbalingga-2

Minimal ada dua paguyuban yang dikelola dengan baik, yaitu  paguyuban yang fokus dengan kelestarian gunung (paguyuban lestari) dan paguyuban yang fokus dengan bencana (paguyuban sosial).

Bila ada satu sahabat (baca: gunung) yang ‘sakit’ atau terkena bencana, ada baiknya masyarakat yang tinggal di sekitar gunung turut prihatin, membantu mereka baik secara materi maupun moril. Karena tidak ada seorangpun yang tahu datangnya bencana.

Serunya Melihat Variasi Hijab Modern Bergaya Casual

Kalian fans berat Dian Pelangi, bukan? Atau, Janahara? Atau, punya “pegangan” perempuan lain, di mana kalau dilihat itu menarik dari sisi manapun. Atas, bawah, kanan, dan kiri. Menarik lebih lama.

Melihat cara berpakaian Dian Pelangi, Desainer muda berbakat, siapa yang tidak terpesona dengan penampilannya? Dia mengenakan pakaian dengan model apapun, tetap menarik. Apalagi padu padan hijabnya. Variasi sesederhana apapun selalu menarik. Kadang, yang kayak gini bikin iri. Meski sesama perempuan, melihat perempuan lain berpenampilan menarik tuh sukaaak. 😀 😛

Selalu kagum melihat yang demikian. Mengagumi ciptaan Tuhan, dan itu sesama perempuan. Ini tidak aneh, lho. Sama sekali tidak. Karena, biasanya endingnya bakal ada kata menginspirasi. Ya, kaaaaaaaan? 😉

Untuk mendapat inspirasi fashion, atau gaya berhijab kini semakin beragam. Seperti yang kutulis di awal, bahwa Dian Pelangi, desainer muda berbakat, bisa menjadi inspirasi gaya hijab a la selebriti dan informasi tren fashion terbaru untuk sehari-hari.

Bukan hanya gaya hijab untuk aktivitas kantor dan pesta saja yang patut diperhatikan. Gaya hijab casual untuk aktivitas sehari-hari juga tidak kalah penting. Yaaa…meski aplikasinya tetap itu-itu saja, tapi melihat perempuan yang kerap bergaya casual untuk pakaian dan hijab, asli bikin pingin nyoba. 😀 *pingindowang*

Karena rasanya tidak mungkin sama dalam penampilan, cukup lah artes-artes yang cantik berhijab itu menjadi inspirasi. 😀 Nih, beberapa variasi hijab modern bergaya casual yang kerap kucoba dan sangat mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:

Celana Jeans Menjadi Penyelamat Terbaik

Celana jeans tidak pernah gagal membuat penampilan makin casual dan menarik. Termasuk ketika kita mengenakan hijab.

celana-jeans

 

Pilih model celana jeans yang membuatmu nyaman. Celana jeans dapat dipadukan dengan beragam jenis atasan berwarna cerah agar penampilan kelihatan ceria. *aaaw*

Variasi Cardigan Berwarna Gelap

Setelah menggunakan pakaian berwarna cerah, lengkapi juga dengan cardigan berwarna gelap untuk kesan santai. Cardigan yang panjangnya mencapai pinggul dapat menyamarkan bentuk pinggul agar tidak nampak vulgar. Penggunaan cardigan juga sangat cocok bila dipakai saat beraktivitas di tempat atau cuaca yang dingin. Jangan ragu menyiapkan beberapa cardigan untuk mendukung penampilan casual.

Kemeja Longgar Aneka Warna

kemeja-bagus

Kemeja longgar aneka warna adalah perpaduan yang cocok untuk gaya casual wanita berhijab. Mau bahannya katun, flanel, atau bahan lainnya, penampilan akan semakin istimewa dan tetap rapih. Asalkan kita tidak memilih bahan kemeja yang panas dan tidak menyerap keringat.

Celana Kulot yang Nyaman dan Modis

Celana kulot yang nyaman dan modis akan membuat penampilan wanita berhijab kelihatan lebih unik. Apalagi kalau celana kulotnya berwarna gelap. Pasti celana tersebut semakin mudah dipadukan dengan model atasan apapun.

Lengkapi celana kulot dengan motif jilbab pashmina modern yang dapat menyempurnakan gaya modis kamu. Aneka jilbab pashmina modern bisa diperoleh di MatahariMall. Toko online tersebut telah menyiapkan koleksi jilbab dan busana muslim lengkap dengan harga terjangkau. Penawaran diskon istimewanya membuat kamu bisa bergaya dengan hemat.

Dari teori di atas, semuanya sudah kucoba karena memang simpel. Aku suka berpakaian yang simpel. Ya…meski belum berani narsis a la model, tapi aku merasa nyaman berpakaian casual. Merasa seru (juga) melihat variasi hijam modern bergaya casual. 😛

Kalian suka berpenampilan casual? Atau, tipe perempuan yang harus mengikuti tren fashion harian? :mrgreen: 😆

Keelokan Lansekap Dieng dari Bukit Scotter

“Pak, berhenti di depan BRI, ya.” Intruksi dari seorang laki-laki bertopi hitam, dan mengenakan jaket warna oranye. Lelaki yang mendampingi kami tur selama tiga hari dua malam. Pak Daryo, namanya.

BRI Dieng menjadi ancer-ancer menuju Bukit Scotter, Dieng, Banjarnegara. Teman-teman nampak semangat turun dari minibus meski sudah dipastikan tidak akan mendapat sunrise karena kami keluar dari penginapan D’Qiano jam 05.00 WIB. Sampai kaki bukit jam 05.30 WIB.

Dinginnya Dieng pagi itu sama sekali tidak menyurutkan niat untuk sampai puncak Bukit Scotter. Justru sebaliknya. Udara segar, perkampungan rapih, dan pemandangan sekitar bukit yang terlihat dari kejauhan, sukses menggerakkan kaki kami untuk melangkah cepat karena petunjuk arah ke bukit sudah terpampang jelas. Tidak perlu mikir, tanya warga, apalagi bingung pilih arah.

Satu hal yang membuatku gemas-gemas terharu pagi itu yaitu karena aku gagal mempertahankan kaki untuk tetap standby di area parkir.  Si Kecemut tidak mau berhenti jalan! 😆 Ampun, deh.

jalan-menuju-bukit-scotter
Gang ini bisa menjadi pilihan setelah turun BRI…

Niatku hanya mengantar Teman-teman sampai seperempat jalan. Itung-itung sambil olahraga pagi seperti biasa.

Berbagai usaha untuk membuatnya kembali tersenyum sudah kulakukan. Jalan-jalan di sekitar area parkir, sampai kembali turun ke perkampungan. Tapi gagal. Mbak Rian, satu-satunya peserta yang tidak ikut naik bukit menyarankan untuk diajak jalan ke atas. Ini pilihan akhir yang bisa kulakukan. Dan akhirnya, Kecemut kembali girang saat melihatku ngos-ngosan. Ampun ini bocah.

Bagiku, perjalanan menuju Bukit Scotter dengan menggendong bayi tidak begitu susah payah. Tanjakan yang didapat hanya dua kali saja, yaitu awal hiking, masih dalam perkampungan. Kemudian, saat hampir sampai Bukit Scotter. Selebihnya, jalan datar.

Langkah para petani pagi itu menemani perjalananku. Sambil ngobrol dengan mereka, tidak terasa kurang lebih lima belas menit telah sampai loket Bukit Scotter. Ini bacanya ngindonesia saja, ya. Skoter, bukan Skuter. Kalau sampai salah baca, bisa penasaran sampai ubun-ubun karena tidak akan pernah menemukan Skuter di puncak bukit. 😆

Nama Scotter atau Skoter ini diambil karena dulu di kaki bukit terdapat pemancar atau tower radio. Skoter (Seko Tower) yang dalam Bahasa Indonesia berarti Dari Tower, menurut salah satu pertani yang ngobrol denganku. Please jangan tanya hubungan darah antara Tower dan Bukit ini, ya. Kagak paham betul. 😛

gang-bukit-scotter
Setengah perjalanan, nih. . .

Beberapa petani yang hendak ke ladang dengan mengendarai sepeda motor menawarkan jasa untuk mengantarkanku sampai ladang mereka yang katanya ada di seberamg bukit. Tapi, melihat perkakas bawaan mereka yang digendong, rasanya akan menambah beban dan merepotkan.

Ya, tidak sedikit petani yang mengendarai sepeda motor untuk ke Ladang karena jalan sudah lumayan bagus. Hanya saja, karena malam harinya gerimis, beberapa titik jalan yang belum dicor semen lumayan becek. Makanya, aku tetap memilih untuk jalan kaki. Takut motor mereka kelebihan muatan, lalu BREG! 😀 😛

Omong-omong, ternyata aku dan Kecemut bukan satu-satunya peserta yang belum sampai puncak. Masih ada Tante yang terlihat santai, menikmati perjalanan. Jadi ada teman, deh! 😀

bukit-scotter
Jalannya udah enak. Cor-coran. Dari sini mulai narsise…

Aku dan Kecemut kerap berhenti. Sementara Tante, terus berjalan pelan. Sesekali motoin kami. 😉 Kami berhenti bukan karena aku loyo, atau Kecemut rewel. Melainkan, HARUS  selfie. Hahaha. Penting banget, ya. Jelas, dong.

Background Gunung Sindoro cakep banget! Apalagi, perkampungan Dieng yang telah padat. Wuuuw…selfie muluuu bawaannya. Ditambah lagi, ada Masjid di tengah perkampungan yang cuantik nian. Wuuuw…selfie lagi. 😀

Tidak terasa, 30 menit telah kami habiskan untuk jalan, dan kami telah sampai puncak Scotter. Sesampainya di bukit, Teman-teman nampak sibuk dan asyik memainkan kamera, pose, untuk mengambil gambar terbaik. Tiap sudut Bukit Scotter penuh untuk sesi foto. 😀 Gazebo mungil yang asyik banget buat duduk berdua sambil rangkulan, menjadi salah satu spot yang menarik. Rangkulan sama si Kecemut. 😛

bukit-scotter-dieng
Kawasan Candi rapih banget…

Dari puncak Bukit Scotter, lansekap perkampungan Dieng lebih indah. Berfoto dengan latar belakang Gunung Sindoro pun makin greget. Kompleks Candi Arjuna nampak jelas setelah kamera dizoom maksimal. 😆

Aku bersama Si Kecil juga minta difoto berkali-kali dengan background Gunung, Perkampungan, Bunga, Ladang, dan awwww….hasilnya kece bangett! Makasih udah motoin kami ya, Tanteee. 😀

Bukit yang awal tahun ini baru mulai dijadikan tempat wisata, punya tempat khusus untuk narsis. Asli, ini narsis sungguhan di Bukit.

 

 

A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on

 

 

Bukit Scotter menyediakan tempat khusus, sebut saja gardu pandang, yang terbuat dari bambu. Besama Mbak Lia dan Tante, aku mencoba untuk naik ke atas gardu secara bergantian. Untuk sampai ke atas, kami menggunakan tangga yang berada di samping gardu, cukup dengan enam langkah, foto narsis dimulai.

Di tangan Mas Nur, videografer dari Satelit News, hasil jepretannya membahagiakan banget!  Fotonya cakep-cakep. Modelnya juga mendadak cakep. Tidak sia-sia meninggalkan Kecemut sejenak. Hahaha. Makasih Mas Topan, sudah mau gendong Yasmine yang rewel tak terkira. 😀

bukit-scotter
Jepretan dari gardu bambu. Cakep!

Bukit Scotter bisa menjadi alternatif pilihan saat berwisata ke Dieng. Kurang lebih 20 menit dari kompleks Candi Arjuna, Bukit ini mudah dijangkau. Hiking sejauh 1 km dengan medan tergolong biasa, menawarkan keindahan lansekap Dieng yang tak biasa. Nyalakan Google Maps bila belum paham jalan di Dieng, ya. Bukit Scotter tersedia di G-Maps. 😉

Baca juga: Hiking ke Bukit Scotter Bersama Bayi! 😛