Tahun baru, haruskah ganti yang baru? Mengapa tidak, ya. Kalau memang ada yang perlu diganti, selagi ada anggaran, dan memang kebutuhan, bagiku ngga masalah. #SokSugih
Tapi sebelum mengganti dengan yang baru, biasanya harus ada alasan-alasan kuat sebagai bahan pertimbangan. Ya tahu sendirilah, karena ujung-ujungnya pasti berhubungan dengan dana, duuuuiiiiit. Hihihi.
Kurang lebih enam bulan, Notebook yang biasa kupakai kerja di kantor dalam keadaan mencemaskan. Bunyi beep tiada henti kerap terjadi saat aku akan menyalakannya. Semisal sedang selow, aku membiarkan Notebook “sembuh” dengan sendirinya. Sebaliknya, kalau lagi gugup, notebook kumatikan paksa. Tak lama kemudian berulah berhasil masuk Windows.
Untuk menunggu bunyi beep berhenti, membutuhkan waktu agak lama. Makanya, aku kurang sabar. Belum lagi, bunyinya melengkiiiiiing bangeeet, kasihan telinga para rekan kerja, kan. Bisa jadi, mood kerja mereka hilang hanya gara-gara beep beep. Qiqiqi
Bunyi beep tanpa jeda adalah pertanda bahwa harddisk sudah tidak normal. #AlasanGantiBaru. Ya…meski sebenarnya bisa cukup dengan hanya ganti harddisk, sih. Tapi, pengadaan harddisk, tuh, nanggung. Apalagi hanya satu biji. Wkwkwk. #AlasanKuatGantiBaru
Selama enam bulan, aku bertahan dengan notebook yang kadang bikin was was itu. Alhamdulilaah, selama itu notebook masih bisa diajak kerjasama, masih mampu di bawa keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan. Luar biasa!
Tapiiiiiii, saat awal tahun tiba, rasa-rasanya aku ngga bisa mempertahankan notebook itu untuk tetap bekerja denganku. Apalagi sampai memaksakan notebook andalanku untuk kerja lebih keras (lagi). Rasa-rasanya, ngga tega. Takut ngamuk, kemudian meledak. Hahaha. #IniLebay.
Belum lagi, kegiatan di luar kantor terus bertambah. Gimana kalau tiba-tiba harddisk tidak berfungsi sama sekali? Mati total. Sementara, data-data di dalamnya belum aku amankan. Beeeuh…ini masih di dunia ya, Sist. 😀 #SokPuyeng
Pengadaan atau belanja barang semacam notebook di instansi, tuh, ngga mudah. Harus membuat daftar rencana kebutuhan, pengajuan anggaran kepada negara, dan masih banyak step by step yang harus dilalui untuk mendapat barang sesuai kebutuhan.
Beruntung, di semester dua tahun lalu, satker menerima bantuan dua notebook khusus untuk Dua operator aplikasi aset negara. Duilee…aku, sang Operator, bahagia banget. Asli. Operator lagi ketiban durian montong, nih. MARI JOGED! 😀
Untuk kenyamanan BERSAMA, awal tahun, aku langsung mengajukan pengadaan harddisk eksternal dengan kapasitas Satu Tera. Emmh…sudah diberi notebook dengan spesifikasi yang mentereng gonjreng, masih juga minta lebih, ya. Duileee…ini namanya ngelonjak, bukan? 😛
Ampuun deh…kalian kira harddisknya buat pribadi, gitu? Senang amaaat. Qiqiqi. Harddisk yang kupesan, rencananya akan aku gunakan untuk memindahseluruh data yang ada di notebook lama supaya cepat ngebackupnya. Yakali, data dengan size ratusan giga, mau dicopy pelan-pelan lewat flash disk, ya. Pegal, dong. #AlasanGantiBaru
Hal serupa terjadi dengan notebook yang selama ini menemaniku berkarya, ngeblog. #CryMaksimal. Belum lama, sih. Mungkin baru dua bulan notebook kesayanganku ngebeep beep.
Rasanya lebih was was lagi saat mendengar suara beep dari notebook pribadi. Lebih sedih lagi, lebih bikin lemas lagi, dan lebih bingung lagi. Data-data, sih, bisa diamankan dengan nebeng harddisk kantor, ya. #EhCurang. Tapi ya gitu, lebih bingung karena ujung-ujungnya duiiiit. Wkwkwk
Semenjak ada Kecemut, aku sudah jarang buka notebook di rumah. Tapi, kupikir notebook ini barang penting banget. Apalagi kalau menyangkut hobi dan profesiku sebagai Blogger. Bakal sering nabok suami pastinya laaah. #IsteriKDRT
Sesuai dengan rencana anggaran, kami sudah merencanakan untuk membeli notebook bulan Mei atau Juni. #IniIkutInstansiBanget. Wkwkwk. Ngga hanya instansi saja yang butuh proses, kami pun butuh menabung, mencari referensi harga notebook murah dengan spesifikasi mentereng. Syukur-syukur, duit yang terkumpu bisa dapat yang seperti punya kantor. Hihihi. #BerharapLebihBaik.
Omong-omong, kalian punya rencana ganti baru? Di atas, tuh, alasan ganti baru versiku, mana versimu? Share, yuk!
Gimana kalau BuIbu yang tiap hari langganan masakan catering, tiba-tiba suami atau anak minta dimasakin sesuai keinginan mereka? Kalau suami yang minta, sih, bisa kubelokkan ke ranjang. Nah ini, kalau nantinya Jasmine sudah mulai minta dibikinin makanan, atau camilan, sepertinya susah untuk menolak. 😀
Yakali…anak minta dibuatin makanan pasti ngga setiap hari. Apalagi kalau sudah kenal sama cikimiki, rotaro, toscito, yang bumbunya saja bikin nagih, gurihnya tak tertandingi. Bisa jadi akan berbalik, orang tua gigih menawarkan camilan homemade dengan dalih pingin anaknya makan makanan yang higienis. Qiqiqi
“Jasmine pingin Fuyunghai, tapi Ibu yang buat. Bukan koki Dapoer Central.” Entah mengetest Ibunya, atau memang ingin dimasakin. 😛 Ketika anak minta dimasakin makanan yang tak biasa, pusing, ngga?
Ya ngga laaah, ya! Sorry, sekarang kan udah zamannya #okegoogle, ngapain sampai pusiang hanya karena ngga tahu cara buat Fuyunghai. Hanya bakwan gedee, gituuu? Keciiiil! Ngga usah sampai terlihat bingung, apalagi gemetar di depan anak karena minta dibuatin camilan atau makanan favoritnya. Manfaatkan internet, tanya ke google atau langsung cari situs resep masakan lengkap. Syukur-syukur situsnya bisa digunakan sebagai acuan tiap hari. Sebagai rujukan.
Omong-omong, situs website yang bagus biasanya akan menjadi rujukan para pembacanya. Ya…meski kriteria bagus itu beragam, tapi setidaknya mudah dipahami dan simpel. Seperti situs website yang menyajikan informasi resep makanan. Untuk rujukan resep makanan, aku memilih website Resepkoki.co.
Foto kiriman CERIS Family (@cerisfamily) pada
Resepkoki.co adalah situs kumpulan resep-resep masakan Indonesia dan dunia. Resep Koki ini mengedepankan resep masakan yang mudah dan praktis. Cocok banget buat remaja, BuIbu yang lagi senang-senangnya belajar masak. Buat yang ngga terlalu suka dengan penyedap rasa, resep-resep di Resep Koki ini pas banget menjadi rujukan karena mereka meminimalkan penggunana penyedap rasa. 😉
Kenapa Resep Koki?
Pertama, karena praktis.
Cukup pekerjaan kantor saja yang kadang susah dicari solusinya. Usahakan mencari resep makanan yang praktis. Baik dari segi bahan, maupun cara membuatnya. Di ResepKoki, resep-resep yang ada tuh serba praktis. Namun, hasilnya tidak kalah dengan menu masakan cateringan lah, ya. Bahan minimalis, hasil maksimal.
Yang praktis gini yang dicari…
Kedua, banyak variasi menu masakan dan camilan.
Di rumahku, lauk yang bernama Tahu, Tempe, hampir tiap hari ada di meja makan. Sejauh ini, sih, apa yang ada di meja makan, diambil. Apapun hasilnya. Tapi setelah melihat variasi menu masakan, lauk yang ada di Resep Koki, rasanya pingin berkerasi. Ya…meski bahan dasarnya masi seputar tahu, tempe, telor, daging, tapi kalau bentuknya makin menarik, kan, lebih enak dilihat. *eh*
Ketiga, ada menu untuk anak-anak.
Yeeees! Resep koki bakal menjadi rujukan banget. Secara, di websitenya tersedia kreasi menu masakan dan camilan untuk anak-anak. Resep kue, puding, misalnya. Beragam banget. Udah gitu, bahan yang dibutuhkan mudah dicari. Coba saja klik halaman resep untuk anak. Ada banyak pilihan menu makanan untuk si kecil.
Keempat, website Resep Koki “ramah”.
Ini paling penting. Tampilan website sebagus apapun, kalau tidak didukung dengan keramahan kasihan para pembaca dong, ya. Masuk ke situs Resep Koki, pembaca akan diberi pilihan untuk berlangganan resep. Ini bisa yes or no. Kalau ngerasa butuh referensi resep makanan, silakan yes!
Hal lain yang kusmaksud dengan ramah adalah tentang navigasi atau petunjuk bagaimana pembaca bisa dengan mudah mengakses website. Pembaca ngga merasa bingung mencari resep makanan di Resep Koki melalui menu search yang ada di pojok atas kanan, atau sidebar kanan.
Kelima, ikut nimbrung di Resep Koki!
Ini paling menyenangkan. Silakan langsung cus ke menu Kirim Resep di website Resep Koki. Ada kejutan di sana! Ini sepesial banget bagi kamu yang suka masak, menciptakan menu masakan baru, atau modifikasi menu. 😉
Yang lebih menyenangkan lagi nih, ya. Resep Koki punya Toko Online yang menjual alat-alat dapur & rumah tangga berkualitas dengan harga terjangkau. Resep Koki Shop, namanya. Perlatan yang ada di etalase, tuh, dari berbagai macam brand. Ini yang menjadi pertimbangan penting. Sebelum membelinya, bisa melihat peralatan lain yang sejenis, tapi beda brand. Membandingkan lah, ya.
Hal lain yang patut menjadi bahan pertimbangan, Resep Koki Shop kerap memberi diskon besar dan promo! Ampun deh, ya. Sumpah, ini godaan banget. Apalagi warna barangnya sebagian besar warna cerah, kan makin menggodaaaaa. Fufufufu.
Nyontek resep masakan di Resep Koki. Beli peralatan masak di Resep Koki Shop. Jodoh banget, ya. 😆 😀
Sebelum tahu tentang Kota Tua Jakarta, aku terlebih dahulu dikenalkan dengan sosok pangeran yang berhasil mengusir bangsa Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa. Adalah Pangeran Fatahillah.
Guru mata pelajaran IPS semasa MTs, Bu Kustantinah, beliaulah yang mengenalkan. Tidak, kami tidak berkenalan langsung dengan pangeran yang gagah berjambang itu, ya. Yaa…lu kira gue hidup sebelum Doraemon, gitu. 😀
Melalui sebentuk buku materi pegangan guru dan juga siswa, ada satu pembahasan yang menceritakan tentang Pengeran Fatahillah. Beruntung, pada salah satu halaman terdapat foto berukuran seperempat folio yang menampilkan wajah Pangeran Fatahillah. Cukup ada gambaran dan tidak menghayal terlalu dalam. 😀
Di buku tersebut, pembahasan tentang sosoknya tidak begitu detail. Aku cukup tahu, bahwa Pangeran Fatahillah adalah pemimpin tertinggi gabungan pasukan tiga kesultanan yaitu Demak, Cirebon dan Banten. Selanjutnya, ada Sunda Kelapa, Batavia dan Kota Tua Jakarta yang kini telah dimanfaatkan sebagai kawasan wisata juga menggerakan bolpoinku untuk sekadar mencatat harapan.
“Kota Tua Jakarta, besok aku ke sana.”
Iya, besok yang kumaksud itu entah kapan, waktu itu. Qiqiqi. Kalau ngebayangin zaman cupu-cupu gemas, bikin ketawa sendiri. Asli. Ya…seperti saat menulis postingan ini.
Kompleks ini ngangenin…
Dulu, aku membayangkan Kota Tua Jakarta tuh sereeeem. Namanya kota tua, pasti identik dengan bangunan kuno, tidak banyak penghuni, sepi, angker, pokoknya bayangan yang sama sekali tidak indah. Semisal tiba-tiba ramai suara hentakan kaki, mungkin Pangeran Fatahillah beserta prajuritnya sedang nostalgia. 😆 Khayalan macam apa ini, ya. 😛
Namun, bayangan itu sirna seketika saat aku sudah mulai sedikit lihai memainkan Google dan Portal Wisata. *okegoogle* *marimainkan* Bersama Sitti, Blogger di www.sittirasuna.com yang kini mulai sibuk nyari pasangan ganteng berkacamata, kami jalan-jalan ke kawasan wisata kota tua. Sebentuk kawasan yang sarat akan nilai sejarah.
Tempat pertama yang kami singgahi adalah Cafe Batavia.
Dindingnya rapih-rapih ramai, euy….
“Acara si Mister bertempat di Cafe Batavia. Aku belum pernah ke sana. Dengar-dengar sih bagus. Penasaran dalamnya.”
Si anak kota saja penasaran, tuh. Kembang desa pun ikut-ikutan penasaran lah, ya. Yaudah, menghadiri undangan sembari menikmati Cafe Batavia yang nyentrik artistik. Cafe ini nampak sederhana dari luar. Namun saat masuk Cafe, tuh, tiba-tiba adem ngelihat desain interior yang elegan.
Full bar yang berada di lantai dasar cukup ramai pengunjung. Ya, banyak orang di dalam, tapi suasana hening. Aku sih maklum, yang ngobrol kan orang dewasa, tidak perlu teriak-teriak yang penting pesan tersampaikan. 😉 Tapi suasana akan beda saat weekend karena ditemani alunan musik dari band lokal. Berlama-lama di Cafe Batavia tidak akan bosan, ya. Apalagi, didukung dengan pencahayaan lampu yang tidak terlalu terang, bikin saturday night di cafe ini makin nyaman.
Ini di Toilet, lho. . .
Nah, kalau di lantai dua, biasa dipakai buat acara, gitu. Kami terlalu narsis di sini. Tidak hanya kami, sih. Teman-teman lain yang ikut acara si Mister juga tak kalah narsis. Dari lorong timur yang viewnya kota tua banget, pemandangan kota tua dari atas yang oke banget, sampai dengan Toilet unik yang bikin kami keranjingan pepotoan di mari. Yaaa gimana lagi, tempatnya asyik, menarik, rapih, bersih pula.
Lalu, gimana dengan makanan Cafe Batavia?
Karena kedatangan kami dengan sebentuk undangan, makanan pun prasmanan, dong. Agak menyesal karena tidak mencicipi menu khas Cafe Batavia. Eh..Yah…Ayaah, ini kode buat kamu, ya. Kembali ke Kota Tua lagiiih!
Selesai acara si Mister, kami mulai keliling kawasan Kota Tua Jakarta. Tentunya pelataran Museum Fatahillah menjadi tempat pertama yang kami tuju.
Waaaini….Pelataran Museum Fatahillah!
Lapangan Fatahillah yang penuh sejarah ini sepertinya ramai dengan orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Apalagi kalau weekend. Hampir tidak ada interaksi dengan pengunjung lain karena -mugkin- ada yang lebih mengasyikan. Yaitu gadget. Tidak beda dengan kami yang juga sibuk dengan kamera. 😀
Di depan Museum Fatahillah atau Museum Kesejarahan Jakarta, banyak obyek yang menarik untuk difoto. Selain itu, obyeknya bisa juga dijadikan background yang Kota Tua banget! Lihatlah sepeda di atas. Kota Tua banget, kan? Sayangnya kami tidak mencoba untuk sewa sepeda, nih. Soalnya, malas mengayuh. Maunya mbonceng semua. 😀
Berjalan di sekitar museum ini ternyata membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Aku terlalu asyik melihat apa saja yang ada di pelataran museum sampai tidak sempat masuk museumnya kaena waktu berkunjung yang terbatas. 😛 Ehm…ini kode lagi lho, Yah. Kecemut pasti mau kalau diajak masuk ke Museum Fatahillah. Nanti, kita ngajak Sitti lagi buat nemenin jalan. 😀
Yang seperti ini juga menarik…
Jalan-jalan di Kota Tua Jakarta tidak hanya sampai di Cafe Batavia dan Kompleks Museum Fatahillah saja. Kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Kota Intan yang lokasinya masih di Kota Tua Jakarta. Btw, malam hari di jembatan ini asyik juga, lho. Kapan-kapan kuposting foto-fotonya di insstagramku, ya. 😀
Waktu berjalan begitu cepat ya, Temans. Perasaan, baru kemarin pergantian tahun. Tahu-tahu, udah masuk hari kesembilan dari awal tahun. 😀 Terasa makin cepat (lagi), rasa-rasanya Kecemut belum lama di samping kami. Tahu-tahu, tanggal lima belas bulan ini usianya genap satu tahun. *cipokbasah*
L A N J U T…
Rasa-rasanya (lagi dan terus), belum lama aku menulis rekam jejak 2015. Tahu-tahu, ini udah nulis rekam jejak 2016. Betapa satu tahun itu express banget, ya. Keinginan, harapan, bahkan cita-cita tahun lalu ada yang belum goal. Entah mau lanjut ke lamaran, atau disudahi saja, masih dalam pertimbangan. *janganadabaperyaks* Xixixi
Omong-omong, semangat menulisku tahun ini melonjak luar biasa dari tahun sebelumnya. Tiap hendak bepergian, masak, makan, piknik, lihat gadget baru, lihat kaus unik, lihat hijab cerah, bawaannya pingin langsung nyeritain di blog.
R E A L I S A S I N Y A…
Sesampainya di rumah merasa capek, dan memilih untuk istirahat. Niatnya, sih, akan kutulis esok hari, mumpung masih menyala. Namun, sehari setelahnya, semangat menulis padam seketika. Sementara menjadi sebuah angan-angan dan ngga tahu kapan akan menuliskannya. Xixixixi.
Tahun 2016, aku merasa kurang mutualisme untuk blog ini. Apalagi setelah menilik jumlah postingan selama satu tahun yang hanya terpublish 71 postingan. Duuuuh…ngapain saja selama 2016, ya? 😛 Sepertinya, aku terlena dengan kehadiran Kecemut. Bawaanya pingin megangin dia mulu, meluk dia terus-terusan. Apalagi sepulang kerja, kangennya masya allah. Ini bukan mencari kambing gibas lho, ya. Memang seperti itu adanya. Tak sampai pada Kecemut, menambahnya volume pekerjaan juga membuatku kerap memilih untuk tidur lebih awal ketimbang nulis. Hihihi. Ngga sopan banget.
Ngeblogku memang kurang maksimal, meski demikian alhamdulilaah rejeki karena blog masih mengikuti dan semoga akan terus mengikuti. Teman terus bertambah, daya ingat makin cemerling, makin sehat, waras, dan job terus ada. Ini harapan banget, meski 2016 kegiatan blog walkingku amburadul.
Moment selama 2016 yang bikin hidup makin greget karena hadirnya Si Kecil. Asli, ini paling istimewa sejauh ini dan kerap membuatku meleleh.
Dari Kecemut, aku banyak belajar tentang bagaimana menyayangi orang tua, menghargainya, memberi perhatian, dan pengertian. Belajar hidup sehat, tenang, sabar, ikhlas, juga kudapat dari Kecemut. Anak pertamaku, perempuan, dia membuatku lebih teliti dan berhati-hati dalam menjani hidup, kehidupan.
Ngga terasa, hampir sembilan bulan aku menjadi Ibu Perah. Ini juga kadang membuatku takjub sendiri. Alhamdulillaah, semangat dan kekuatan untuk memberi ASI terus ada. Ini semua dapat terlaksana tak lepas dari dukungan suami, keluarga, teman, dan orang-orang terdekatku. Khususnya Kecemut, dengan wajah polosnya selalu sukses menyemangatiku sebagai Ibu perah.
Hal lain yang membuatku takjub yaitu tentang jejak dan langkahnya yang makin menyenangkan. Bisa jadi karena sedari dalam perut, dia sudah terbiasa kuajak jalan menuruti kemauan kaki aku. Taman kota, Waterpark, Air Terjun, Kebun Binatang, Dieng, Hiking, Kaki Gunung Slamet, Candi, dan Taman Bermain, Kecemut telah mengenal itu semua saat usianya masuk empat bulan.
“Menutup akhir tahun, Ibu pingin piknik kemana?” Tanyaku kepada perempuan yang selama ini telah memberi perhatian penuh kepadaku.
“Borobudur.” Jawab beliau dengan mantap. Aku merasa seperti keharusan mengajak, menawarkan, kepada Ibu untuk jalan-jalan. Ini bukan hadiah, kok. Sama sekali bukan. Untuk ulang tahunnya, hari Ibu, kesetiaannya mendampingi cucu, mengabulkan permintaan ke Borobudur rasa-rasanya belum sebanding dengan apa yang telah Ibu berikan kepada kami. Kecemut, khususnya.
SAMPAI DI SINI…
Aku berterima kasih banget banget banget sama blog ini. Berkat blog ini, kami bisa sampai Magelang, bahkan Yogya. Karena blog ini, aku mendapat dua undangan sekaligus pada hari yang sama. Menyaksikan Borobudur Cultural Feast dan menjajal seluruh wahana permainan yang ada di Sindu Kusuma Edupark. Ini salah satu berkah ngeblog yang menjadikan 2016ku makin sempurna.
A photo posted by CERIS Family (@cerisfamily) on
Lagi-lagi karena Blog. Bersama sembilan belas blogger Ketenger, aku termasuk Blogger yang paling bahagia saat itu. Ya gimana ngga bahagia, diajak ngetrip oleh Dinbudpar Banjarnegara selama tiga hari dua malam! Ini membuatku bahagia sekaligus bangga. Apalagi Kecemut juga kuajak ngetrip. 😀
2014, update blog tiap tiga hari sekali menjadi semacam keharusan. Namun sekarang, tidak dapat kulanjutkan karena ada keharusan yang sifatnya di atas hobi menulis. Job di kantorterus bertambah, euy. Menangani aplikasi-aplikasi yang bagiku baru. Banyak pekerjaan tak terduga yang kerap diberikan dan harus segera diselesaikan tepat waktu. Sering kejar dateline juga. Fufufufuh. Ini baru mencumbu satu blog, ya. Padahal, aku punya lima blog di mana kelimanya masih hidup, masih bernapas sampai sekarang.
Sadar se yakin-yakinnya, punya keinginan untuk memfokuskan tulisan sesuai hobi, sementara waktuku kian terbatas, aku memutuskan untuk tidak sendiri dalam mengelola Blog. Ya, ada dua blog yang aku kelola bersama orang terdekatku.
Pertama, Blog Tekno yang aku kelola bersama Om Arman. Kedua, Blog Wisata yang belum lama ini aku ngajak Tante buat join nulis di sana. Mereka tidak hanya sekadar membantuku, tapi turut menyalurkan hobi menulis (juga) sesuai passion mereka. Ngga hanya blog, mereka juga ngadmin di akun twitter dan instagram yang merupakan akun media sosial dari dua blog yang telah kusebut.
A photo posted by Idah (@idahceris) on
Tahun ini, aku betul-betul ingin kembali aktif ngeblog di blog ini, khususnya. Niatnya, sih, update seminggu dua kali. Hari lain kugunakan untuk update blog Kecemut dan blog Catatan Kerja. CERIS Wisata dan CERIS Tekno, karena sudah dibantu update, sedikit woles lah, yaw. Xixixi
Doakan bisa kembali rutin ngeblog dan blogwalking ya, Temans! ^_*
Rabu (14/12), aku bersama empat belas teman Blogger menghadiri undangan Kongres Gunung yang berlokasi di Lapangan Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.
Kongres yang diselenggarakan oleh Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga tidak hanya mengundang Blogger. Mereka yang tergabung dalam komunitas pecinta alam, para pendaki, dan perwakilan dari instansi, juga turut hadir.
Bertempat di dalam tenda, Kongres dimulai tepat pukul 10.00 WIB, setelah para peserta menikmati camilan khas Purbalingga dan juga pertunjukan seni kuda kepang.
Ketika masuk ke dalam tenda, rasa rindu kepada gunung muncul seketika. Memang, tenda yang digunakan untuk Kongres bukan sejenis dome, melainkan tenda yang biasa dipakai untuk kegiatan out door seperti kemah. Rindu makin menggebu saat melihat banyak carrier yang berderet di bagian belakang tenda. Gilaaa…hampir dua tahun aku tidak menyusuri hutan, tidak pula berkomunikasi dengan gunung.
tenda tempat kongres. . .
Kegiatan olahraga mendaki gunung tiap dua bulan sekali pernah menjadi agenda rutinku kala itu. Saat statusku masih single danjonesssss maniees. xixixi 😆 😛 Adalah Gunung Prau. Dengan2565 mdpl-nya, gunung tersebut selalu sukses membuatku bahagia karena ada banyak kisah yang tercipta di sana.
Bagiku, sebentuk gunung yang berada di Kabupaten Wonosobo, telah menjadi sahabat baik. Jika ada dari kalian yang suka menyendiri di tepi pantai untuk sekadar menenangkan hati, maka aku memilih gunung untuk melakukan hal yang sama. Udara segar, hutan lebat, pepohonan nan rindang, dan hembusan angin sejuk khas gunung. Rasa-rasanya apa yang kuceritakan kepada ‘sahabat’ cukup terbalas.
Belum lagi, saat menyaksikan matahari tenggelam, sunrise, atau mendapat bonus awan yang terlihat jelas dan dekat dari puncak, sungguh ia menjadi sahabat yang paling baik.
Ya, gunung adalah sahabat manusia. Dia menjadi sebaik-baiknya sahabat yang akan terus memberi manfaat bagi manusia. Tentunya dengan dilandasi oleh kesadaran, bahwa manusia hidup wajib berusaha untuk kebaikannya, sekalipun Tuhan yang menentukan.
“Sebagai manusia, kita wajib memelihara dan menjaga hutan sebagai ‘pakaian’ gunung. Kalian perlu tahu, bahwa gunung-gunung di Indonesia, khususnya, sekarang dalam keadaan sakit akibat perilaku manusia yang kurang menghargai.” Budayawan Ahmad Tohari, memulai sharing dengan memberi pemahaman dan sentuhan khusus tentang gunung.
“Pakaian yang seharusnya dirawat, kadang dengan sengaja ‘ditelanjangi’ dari tubuhnya untuk kepentingan manusia. Bahkan, wilayah kakinya sampai digerogoti.” Lanjut Pak Tohari yang saat itu menjadi pembicara Kongres Gunung dengan judul makalah ‘Jangan Lupa Berterima Kasih Kepada Gunung.‘
“Jika teman-teman di sini mengaku telah mencintai gunung, kira-kira apa yang telah kalian lakukan untuknya?” Pak Tohari memberi pertanyaan ringan kepada para peserta, namun tidak seorangpun yang menjawabnya. Termasuk aku yang memilih untuk diam karena memang tidak punya keberanian menjawab. Xixixi Terlebih saat itu, hadir juga Prof. Ris. Dr. Ir. Sutikno Bronto dari Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM, sebagai pembicara. Beeeuh…udah deh, cukup menjadi pendengar yang bijak. Hihihi
“Sebenarnya kongres ini lebih tepat jika judulnya ditambah. Dari Kongres Gunung menjadi Kongres Gunung Api, karena kongres kali ini akan fokus berdiskusi tentang Gunung Api. Gunung Slamet, khususnya. Gunung terdekat dari Lapangan ini.” Ungkap Pak Bronto sebelum beliau memaparkan makalahnya yang berjudul ‘Gunung Api Sebagai Pendukung Kesejahteraan Manusia: Pandangan Geologi.’
Saat ini, tidak sedikit masyarakat yang menyadari bahwa ada sebentuk gunung yang ikut andil mendukung kesejahteraan manusia. Terlebih gunung api, ia banyak memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Sudah menjadi keharusan manusia betul-betul berusaha menjadi sahabat baiknya. Menjaga, memperlakukan gunung layaknya manusia. Turut merawat hutan yang mana menjadi ‘pakaian’ bagi gunung.
Mencintai gunung dengan cara menjaga dan merawat pepohonan dengan baik. Itu baru dua aset penting agar gunung terus lestari. Belum sampai pada pengelolaannya. Termasuk sampah yang kerap tertinggal di atas puncak. Entah tertinggal, atau ditinggal. Padahal kita semua harusnya tahu, bahwa manusia akan semakin makmur dan sejahtera bila mereka dapat mengelola gunung dengan bijaksana.
“Terus tanamkan prinsip bermanfaat, aman, dan lestari, serta dilandasi oleh kesadaran bahwa manusia hidup diwajibkan berusaha, sekalipun Tuhan yang mentukan.”
Dengan gaya bicaranya yang santai, Pak Bronto menghimbau, mengajak kami untuk menerapkan tiga prinsip yang telah disebutkan. Warga yang tinggal di sekitar gunung api, khususnya. Karena mereka mempunyai kelebihan dalam hal rasa memiliki, kesadaran, tanggung jawab dan mencintai. Pun dengan cara memperlakukannya, akan lebih bijaksana.
“Andai di bumi tidak muncul gunung, permukaan bumi tetap rata, maka secara teori tidak akan muncul kehidupan di permukaannya.”
Statement di atas membuatku makin menyintai gunung. Membuatku makin sadar bahwa gunung begitu berarti bagi hidup dan kehidupan manusia. Manusia harus banyak bergerak untuk kelestarian gunung. Wajib menjaga, menghargai, melestarikan, dan mengelola gunung dengan benar. Tidak asal-asalan dalam memperlakukannya. Adanya dataran tinggi, dataran rendah, permukaan-permukaan miring, terjadinya hujan, sampai dengan terciptanya sungai, itu karena adanya gunung.
Sekali lagi, betapa gunung itu penting bagi hidup dan kehidupan manusia. Maka dari itu, mulai sekarang singkirkan semangat menaklukan gunung.
“Semangat ‘penaklukan gunung’ sampai ke puncaknya yang mungkin dianggap lebih keren, terlanjur merasuk, pelan-pelan mulai disingkirkan dan menggantinya dengan semangat membaca gunung demi menghargainya sebagai pemberi sumber kehidupan.” Budayawan Ahmad Tohari kembali mengajak kepada seluruh peserta untuk lebih menghargai gunung.
“Kalian dapat menaklukan gunung atau tidak, gunung tetap berada pada tempatnya. Kepuasan setelah sampai puncak, ada baiknya diungkapkan dengan bersujud, mencium, memeluk dan ungkapan lain yang lebih menghargai gunung.” Pungkas Pak Tohari.
Acara Kongres Gunung tidak hanya sampai pada sesi sharing materi dengan pembicara karena kongres ini mempunyai tujuan memberi kesadaran kepada manusia terkait dengan ancaman dan manfaat gunung bagi kesejahteraan hidup manusia. Maka dari itu, usai sesi sharing, peserta kongres dibagi menjadi dua kelompok dengan harapan nantinya ada langkah dan tindakan kongkrit dalam upaya pelestarian lingkungan atau ekosistem gunung.
Kelompok pertama yaitu Mitigasi Bencana diperuntukkan bagi peserta yang punya minat khusus menangani bencana atau punya pengalaman tentang penanggulangan bencana. Lalu, Kelompok kedua adalah Manfaat Lestari khusus bagi peserta yang kerap ikut kegiatan bersama para pecinta alam. Mencintai dan melestarikan lingkungan.
Diskusi yang dimulai pukul 14.30-20.00 WIB, berhasil mencetuskan deklarasi Gunung Api. Sebagai perwujudan sikap dan gerak laku gunung api, masyarakat gunung api menyatakan:
Memandang Gunung Api sebagai rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa untuk kemakmuran kehidupan manusia;
Siap mengupayakan dan menjaga keharmonisan kehidupan di gunung api;
Siap mengupayakan dan menjaga kelestarian kehidupan di gunung api;
Siap mengoptimalkan kemanfaatan Gunung Api untuk kemakmuran kehidupan sesuai asas keamanan dan kelestarian;
Siap guyup, bahu-membahu, bekerjasama untuk hidup dan menghidupkan gunung api.
Lima butir pernyataan telah dideklarasikan bersama delapan puluh peserta kongres gunung api pada tanggal 14 Desember 2016, pukul 20.15 WIB. Atas dasar poin kelima, dua pembicara kongres gunung api berharap, agar segera dibentuk paguyuban yang dikelola oleh masyarakat yang tinggal di daerah Gunung Slamet.
Minimal ada dua paguyuban yang dikelola dengan baik, yaitu paguyuban yang fokus dengan kelestarian gunung (paguyuban lestari) dan paguyuban yang fokus dengan bencana (paguyuban sosial).
Bila ada satu sahabat (baca: gunung) yang ‘sakit’ atau terkena bencana, ada baiknya masyarakat yang tinggal di sekitar gunung turut prihatin, membantu mereka baik secara materi maupun moril. Karena tidak ada seorangpun yang tahu datangnya bencana.
Kalian fans berat Dian Pelangi, bukan? Atau, Janahara? Atau, punya “pegangan” perempuan lain, di mana kalau dilihat itu menarik dari sisi manapun. Atas, bawah, kanan, dan kiri. Menarik lebih lama.
Melihat cara berpakaian Dian Pelangi, Desainer muda berbakat, siapa yang tidak terpesona dengan penampilannya? Dia mengenakan pakaian dengan model apapun, tetap menarik. Apalagi padu padan hijabnya. Variasi sesederhana apapun selalu menarik. Kadang, yang kayak gini bikin iri. Meski sesama perempuan, melihat perempuan lain berpenampilan menarik tuh sukaaak. 😀 😛
Selalu kagum melihat yang demikian. Mengagumi ciptaan Tuhan, dan itu sesama perempuan. Ini tidak aneh, lho. Sama sekali tidak. Karena, biasanya endingnya bakal ada kata menginspirasi. Ya, kaaaaaaaan? 😉
Untuk mendapat inspirasi fashion, atau gaya berhijab kini semakin beragam. Seperti yang kutulis di awal, bahwa Dian Pelangi, desainer muda berbakat, bisa menjadi inspirasi gaya hijab a la selebriti dan informasi tren fashion terbaru untuk sehari-hari.
Bukan hanya gaya hijab untuk aktivitas kantor dan pesta saja yang patut diperhatikan. Gaya hijab casual untuk aktivitas sehari-hari juga tidak kalah penting. Yaaa…meski aplikasinya tetap itu-itu saja, tapi melihat perempuan yang kerap bergaya casual untuk pakaian dan hijab, asli bikin pingin nyoba. 😀 *pingindowang*
Karena rasanya tidak mungkin sama dalam penampilan, cukup lah artes-artes yang cantik berhijab itu menjadi inspirasi. 😀 Nih, beberapa variasi hijab modern bergaya casual yang kerap kucoba dan sangat mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:
Celana Jeans Menjadi Penyelamat Terbaik
Celana jeans tidak pernah gagal membuat penampilan makin casual dan menarik. Termasuk ketika kita mengenakan hijab.
Pilih model celana jeans yang membuatmu nyaman. Celana jeans dapat dipadukan dengan beragam jenis atasan berwarna cerah agar penampilan kelihatan ceria. *aaaw*
Variasi Cardigan Berwarna Gelap
Setelah menggunakan pakaian berwarna cerah, lengkapi juga dengan cardigan berwarna gelap untuk kesan santai. Cardigan yang panjangnya mencapai pinggul dapat menyamarkan bentuk pinggul agar tidak nampak vulgar. Penggunaan cardigan juga sangat cocok bila dipakai saat beraktivitas di tempat atau cuaca yang dingin. Jangan ragu menyiapkan beberapa cardigan untuk mendukung penampilan casual.
Kemeja longgar aneka warna adalah perpaduan yang cocok untuk gaya casual wanita berhijab. Mau bahannya katun, flanel, atau bahan lainnya, penampilan akan semakin istimewa dan tetap rapih. Asalkan kita tidak memilih bahan kemeja yang panas dan tidak menyerap keringat.
Celana Kulot yang Nyaman dan Modis
Celana kulot yang nyaman dan modis akan membuat penampilan wanita berhijab kelihatan lebih unik. Apalagi kalau celana kulotnya berwarna gelap. Pasti celana tersebut semakin mudah dipadukan dengan model atasan apapun.
Lengkapi celana kulot dengan motif jilbab pashmina modern yang dapat menyempurnakan gaya modis kamu. Aneka jilbab pashmina modern bisa diperoleh di MatahariMall. Toko online tersebut telah menyiapkan koleksi jilbab dan busana muslim lengkap dengan harga terjangkau. Penawaran diskon istimewanya membuat kamu bisa bergaya dengan hemat.
Dari teori di atas, semuanya sudah kucoba karena memang simpel. Aku suka berpakaian yang simpel. Ya…meski belum berani narsis a la model, tapi aku merasa nyaman berpakaian casual. Merasa seru (juga) melihat variasi hijam modern bergaya casual. 😛
Kalian suka berpenampilan casual? Atau, tipe perempuan yang harus mengikuti tren fashion harian? 😆
“Pak, berhenti di depan BRI, ya.” Intruksi dari seorang laki-laki bertopi hitam, dan mengenakan jaket warna oranye. Lelaki yang mendampingi kami tur selama tiga hari dua malam. Pak Daryo, namanya.
BRI Dieng menjadi ancer-ancer menuju Bukit Scotter, Dieng, Banjarnegara. Teman-teman nampak semangat turun dari minibus meski sudah dipastikan tidak akan mendapat sunrise karena kami keluar dari penginapan D’Qiano jam 05.00 WIB. Sampai kaki bukit jam 05.30 WIB.
Dinginnya Dieng pagi itu sama sekali tidak menyurutkan niat untuk sampai puncak Bukit Scotter. Justru sebaliknya. Udara segar, perkampungan rapih, dan pemandangan sekitar bukit yang terlihat dari kejauhan, sukses menggerakkan kaki kami untuk melangkah cepat karena petunjuk arah ke bukit sudah terpampang jelas. Tidak perlu mikir, tanya warga, apalagi bingung pilih arah.
Satu hal yang membuatku gemas-gemas terharu pagi itu yaitu karena aku gagal mempertahankan kaki untuk tetap standby di area parkir. Si Kecemut tidak mau berhenti jalan! 😆 Ampun, deh.
Gang ini bisa menjadi pilihan setelah turun BRI…
Niatku hanya mengantar Teman-teman sampai seperempat jalan. Itung-itung sambil olahraga pagi seperti biasa.
Berbagai usaha untuk membuatnya kembali tersenyum sudah kulakukan. Jalan-jalan di sekitar area parkir, sampai kembali turun ke perkampungan. Tapi gagal. Mbak Rian, satu-satunya peserta yang tidak ikut naik bukit menyarankan untuk diajak jalan ke atas. Ini pilihan akhir yang bisa kulakukan. Dan akhirnya, Kecemut kembali girang saat melihatku ngos-ngosan. Ampun ini bocah.
Bagiku, perjalanan menuju Bukit Scotter dengan menggendong bayi tidak begitu susah payah. Tanjakan yang didapat hanya dua kali saja, yaitu awal hiking, masih dalam perkampungan. Kemudian, saat hampir sampai Bukit Scotter. Selebihnya, jalan datar.
Langkah para petani pagi itu menemani perjalananku. Sambil ngobrol dengan mereka, tidak terasa kurang lebih lima belas menit telah sampai loket Bukit Scotter. Ini bacanya ngindonesia saja, ya. Skoter, bukan Skuter. Kalau sampai salah baca, bisa penasaran sampai ubun-ubun karena tidak akan pernah menemukan Skuter di puncak bukit. 😆
Nama Scotter atau Skoter ini diambil karena dulu di kaki bukit terdapat pemancar atau tower radio. Skoter (Seko Tower) yang dalam Bahasa Indonesia berarti Dari Tower, menurut salah satu pertani yang ngobrol denganku. Please jangan tanya hubungan darah antara Tower dan Bukit ini, ya. Kagak paham betul. 😛
Setengah perjalanan, nih. . .
Beberapa petani yang hendak ke ladang dengan mengendarai sepeda motor menawarkan jasa untuk mengantarkanku sampai ladang mereka yang katanya ada di seberamg bukit. Tapi, melihat perkakas bawaan mereka yang digendong, rasanya akan menambah beban dan merepotkan.
Ya, tidak sedikit petani yang mengendarai sepeda motor untuk ke Ladang karena jalan sudah lumayan bagus. Hanya saja, karena malam harinya gerimis, beberapa titik jalan yang belum dicor semen lumayan becek. Makanya, aku tetap memilih untuk jalan kaki. Takut motor mereka kelebihan muatan, lalu BREG! 😀 😛
Omong-omong, ternyata aku dan Kecemut bukan satu-satunya peserta yang belum sampai puncak. Masih ada Tante yang terlihat santai, menikmati perjalanan. Jadi ada teman, deh! 😀
Jalannya udah enak. Cor-coran. Dari sini mulai narsise…
Aku dan Kecemut kerap berhenti. Sementara Tante, terus berjalan pelan. Sesekali motoin kami. 😉 Kami berhenti bukan karena aku loyo, atau Kecemut rewel. Melainkan, HARUS selfie. Hahaha. Penting banget, ya. Jelas, dong.
Background Gunung Sindoro cakep banget! Apalagi, perkampungan Dieng yang telah padat. Wuuuw…selfie muluuu bawaannya. Ditambah lagi, ada Masjid di tengah perkampungan yang cuantik nian. Wuuuw…selfie lagi. 😀
Tidak terasa, 30 menit telah kami habiskan untuk jalan, dan kami telah sampai puncak Scotter. Sesampainya di bukit, Teman-teman nampak sibuk dan asyik memainkan kamera, pose, untuk mengambil gambar terbaik. Tiap sudut Bukit Scotter penuh untuk sesi foto. 😀 Gazebo mungil yang asyik banget buat duduk berdua sambil rangkulan, menjadi salah satu spot yang menarik. Rangkulan sama si Kecemut. 😛
Kawasan Candi rapih banget…
Dari puncak Bukit Scotter, lansekap perkampungan Dieng lebih indah. Berfoto dengan latar belakang Gunung Sindoro pun makin greget. Kompleks Candi Arjuna nampak jelas setelah kamera dizoom maksimal. 😆
Aku bersama Si Kecil juga minta difoto berkali-kali dengan background Gunung, Perkampungan, Bunga, Ladang, dan awwww….hasilnya kece bangett! Makasih udah motoin kami ya, Tanteee. 😀
Bukit yang awal tahun ini baru mulai dijadikan tempat wisata, punya tempat khusus untuk narsis. Asli, ini narsis sungguhan di Bukit.
A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on
Bukit Scotter menyediakan tempat khusus, sebut saja gardu pandang, yang terbuat dari bambu. Besama Mbak Lia dan Tante, aku mencoba untuk naik ke atas gardu secara bergantian. Untuk sampai ke atas, kami menggunakan tangga yang berada di samping gardu, cukup dengan enam langkah, foto narsis dimulai.
Di tangan Mas Nur, videografer dari Satelit News, hasil jepretannya membahagiakan banget! Fotonya cakep-cakep. Modelnya juga mendadak cakep. Tidak sia-sia meninggalkan Kecemut sejenak. Hahaha. Makasih Mas Topan, sudah mau gendong Yasmine yang rewel tak terkira. 😀
Jepretan dari gardu bambu. Cakep!
Bukit Scotter bisa menjadi alternatif pilihan saat berwisata ke Dieng. Kurang lebih 20 menit dari kompleks Candi Arjuna, Bukit ini mudah dijangkau. Hiking sejauh 1 km dengan medan tergolong biasa, menawarkan keindahan lansekap Dieng yang tak biasa. Nyalakan Google Maps bila belum paham jalan di Dieng, ya. Bukit Scotter tersedia di G-Maps. 😉
Baca juga: Hiking ke Bukit Scotter Bersama Bayi! 😛
Enam destinasi wisata Dieng Plateau mejeng cantik di Peta Wisata Jawa Tengah. Bersebelahan dengan destinasi unggulan Borobudur. Artinya, Dieng menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah yang recommended. Menawarkan pesona alam, seni, budaya, yang menarik dan tiada duanya. Keren banget, kan? *jawabkeren* *segelasdawetuntukmu*
Kompleks Candi Arjuna, Bukit Scotter, Kawah Sikidang, UD. Tri Sakti sebagai pusat Oleh-oleh Khas Dieng,Bukit Sikunir, dan Telaga Warna. Itulah enam destinasi yang terpampang di peta wisata Jateng.
Dari keenam destinasi, empat diantaranya adalah milik Banjarnegara. Ini yang membuatku bangga. Tepatnya, turut bangga karena secara administratif, keempat objek tersebut berada di tempat tinggalku, Banjarnegara. Duuh…gimana lagi, ya. Sudah terlanjur demen banget sama Banjarnegara. Apalagi, potensi wisatanya begitu banyak. Gue makin bangga, dong. 😆
Di hari ketiga Blogger Trip Plesir Maring Banjarnegara, kami diajak keliling KWDT (Kawasan Wisata Dataran Tinggi) Dieng, Banjarnegara. Sekadar informasi, pada tiap postingan tentang Dieng, aku kerap menyertakan “Banjarnegara” di belakangnya karena KWDT Dieng terbagi menjadi dua kawasan, yaitu kawasan Banjarnegara dan Wonosobo. *catatyaks*
Jika tadi melihat Peta Wisata Jateng, kini aku tercengang saat membaca pamflet Pesona Alam Dieng yang dibagikan oleh Dinbudpar Banjarnegara. Pada pengantarnya tertulis prosentase KWDT Dieng yang ternyata 80% #PesonaDieng adalah milik Banjarnegara. Catet lagi, ya. DELAPAN PULUH persen, Sist! Sebelumnya, aku kira kisaran enam puluh prosen saja. 😛 Sementara sisanya, milik Kabupaten Wonosobo.
Mendung, tapi tetap anggun…
Sekarang aku akan mengajak kalian turut menyambangi Wisata Unggulan Dieng, Banjarnegara. Cukup meluangkan waktu sepuluh menit, kalian akan sampai objek wisata unggulan Dieng (dalam tulisan) berikut ini. 😛
Kompleks Candi Arjuna
Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan kompleks Candi Arjuna. Ke Dieng tanpa mengunjungi Candi, rasanya kurang greget. Selain dikenal dengan negeri di atas awan, Dieng juga terkenal dengan warisan situs purbakala, Candi Dieng.
Candi Dieng merupakan kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa. Candi-candi ini terbagi menjadi beberapa kelompok dan lokasinya pun menyebar. Ada yang berdekata, seperti Candi Arjuna dan Candi Gatotkaca.
Saat kami berkunjung ke sini (16/11), sedang ada pemugaran candi di kompleks Candi Arjuna. Kalau tidak salah ingat, Candi Puntadewa sudah mulai dipugar. Meski demikian, kami tetap tur Candi dengan didampingi pihak Dinbudpar dan seorang pemandu wisatakompleks candi dan museum kailasa.
Untuk dapat masuk Kompleks Candi Arjuna, kalian cukup membeli tiket terusan senilai Rp 15.000 per orang. Tiket terusan ini sepaket dengan tiket masuk Kawah Sikidang. Catet, ya. Tiket terusan.
Berlokasi tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna, berdiri Candi Gatotkaca. Candi ini berada di dekat tempat parkir, atau pintu masuk Kompleks Candi Arjuna. Candi ini berdiri sendiri, bangunan candi terbilang masih kokoh, dan tempatnya cukup teduh kerena banyak pepohanan di sekitar candi.
A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on
Bagi kalian yang senang menelusuri jejak situs purbakala, bisa lanjut menyambangi Candi Bima, candi termuda, terbesar di Dieng dan sangat unik karena pada tiap tingkatan atap terdapat Arca Kudu. Kemudian, ada Kelompok Candi Setiyaki di mana lokasinya cukup dekat dengan Candi Gatotkaca. Terakhir adalah Candi Dwarawati. Candi ini lokasinya cukup jauh dari Kompleks Candi Dieng. Tepatnya di Desa Dieng Kulon, kaki Gunung Perahu.
Selanjutnya menyambangi Museum Kailasa!
Museum Kailasa
Menyambangi Museum tanpa pemandu? Apa jadinya? Mungkin bakal bengong, atau manggut-manggut sedikit paham karena terbantu dengan informasi yang tertera pada masing-masing benda. Kami, khususnya aku, merasa tertolong karena saat menyambangi Museum Kailasa, di mana lokasinya cukup tiga menit jalan kaki dari Kompleks Candi Arjuna, didampingi oleh pemandu wisata khusus bagian Museum dan Candi. Lumayan, menambah referensi dan pengetahuan.
Masuk Museum Kailasa, kami diajak nonton film terlebih dahulu. Film tentang peradaban masyarakat Dieng kala itu, sampai pembangunan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, berdurasi 20 menit.
“Orang zaman dulu memang unik, dan kreatif.” Batinku, saat film yang diputar mulai masuk bagian detil perancangan candi.
Museum Kailasa terbagi menjadi dua, yaitu bagian khusus peninggalan peradaban masyarakat kala itu yang berada di dalam Museum Kailasa. dan koleksi purbakala seperti Arca-arca yang berada di bangunan terpisah, tepatnya di depan Museum Kailasa.
Pemandu wisata menjelskan detil asal muasal ditemukan candi, dan berbagai Arca di dataran tinggi deing. Asli, kami larut dalam dongeng Bapak pemandu wisata yang betul-betul paham seluk beluk warisan yang berada Ganesha, arca-arca para Dewa dalam agama Hindu, arca lembu yang mirip dengan Situs Watu Lembu di Banjarmangu, dan masih banyak lagi koleksi benda di museum ini.
Cukup membayar Rp 6.000 per orang, kalian dapat masuk, dan melihat bermacam koleksi yang ada di dalam Museum. Aku saranin untuk minta pendamping saat menyambangi Museum Kailasa, ya. Banyak manfaatnya, kok.
Kawah Sikidang
Usai berkeliling Museum Kailasa, kami melanjutkan tur ke Kawah Sikidang. Kami masih ditemani Pak Daryo yang setia banget mendampingi kami selama perjalanan. Dengan mengendarai minibus, tidak sampai 15 menit dari Kompleks Candi Arjuna, kami tiba di Kawah Sikidang.
Di lokasi ini, aku memilih untuk jalan-jalan di “pasar” yang berada di kanan jalan karena Si Kecil masih peka sama aroma belerang. Aku mengatakan pasar karena banyak macam yang dijual di sini. Dari camilan Kentang Goreng, Sembako, Oleh-oleh khas Dieng, Bumbu Dapur, sampai dengan Opak juga ada! Pasar Sikidang, nih. 😀 Selain pasar, tempat parkiran makin luas, bersih, ternyata sudah ada fasilitas flying fox!
A photo posted by Pungky Prayitno (@pungkyprayitno) on
Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk mencapai Kawah. Hanya sekedipan mata, pengunjung bisa sampai bibir kawah. Seperti Mbak Lia dan Pungky. Mereka menjajal flying fox karena memang ingin mencobanya, sekaligus menghemat tenaga.
Flying fox yang dibanderol dengan tiket Rp 20.000 per orang, hanya bisa sampai kawasan Kawah Utama saja, dan tiu satu kali perjalanan. Pengunjung akan kembali berjalan kaki saat kembali.
Kepulan asap Sikidang. . .
HTM (Harga Tiket Masuk) Kawah Sikidang yaitu Rp 15.000 per orang. Ini merupakan tiket terusan Candi Arjuna-Kawah Sikidang. HTM tiket terusan ini nampaknya kurang diindahkan oleh para pengunjung, nih. Ceritanya, saat aku sedang antre Toilet, ada beberapa pengunjung yang nampaknya kurang setuju dengan tiket terusan ini.
“Kenapa ngga Candi dan Museum aja, sih. Kan lebih dekat, ya.” Ucap seorang perempuan kepada temannya yang duduk di sebelahku. Tapi, aku yakin, pihak Dinbudpar pasti punya tujuan lain atas tiket terusan ini. Ya kan, Pak Dwi? 😀
Bukit Scotter
“Turun depan BRI, ya.”
Aba-aba dari seorang laki-laki berkumis yang mendampingi kami tur selama tiga hari dua malam. Siapa lagi kalau bukan Pak Daryo! Ternyata, BRI Dieng menjadi ancer-ancer menuju Bukit Scotter. Ini bacanya ngindonesia saja,ya. Skoter, bukan Skuter.
Bukit ini belum lama menjadi objek wisata. Awal tahun 2016, mungkin. Sebenarnya, bukit ini tidak masuk wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Tapi, karena sudah masuk peta wisata Jateng, aku pun -seperti- harus memasukkan bukit Scotter pada blog post ini.
Melihat lansekap Kawasan Dieng dari atas Scotter menjadi salah satu hal yang dapat kalian lakukan di sini. Tapi, apakah yakin hanya ingin melihat lansekap saja? Soalnya, bukit ini bisa dibilang instagramable banget! Asli.
A photo posted by Idah (@idahceris) on
Background Gunung Sindoro menjadi incaran kami saat itu. Yaa…abisnya hasil jepretan makin kece, siih! Kan sayang banget mengabaikan Sindoro yang gagah itu. Selain itu, berfoto dari atas gardu pandang yang terbuat dari bambu juga tak kalah menarik. Hijaunya rumput, cantiknya bunga-bunga di bawah gardu akan “mencetak” hasil foto yang bikin greget-greget pingin narsis terooos.
Untuk mencapai Bukit Scotter, kalian tidak perlu susah payah. Hanya butuh waktu 15 menit saja untuk trecking jalan utama. HTM masuk bukit ini yaitu Rp 5.000 per orang. Itupun jika ada yang menjaga loket. Hihihi Berlokasi di Desa Dieng Kulon, Bukit Scotter mudah banget dijangkau karena aksesnya sangat mudah. Kira-kira, 25 menit dari kompleks candi arjuna. Tentang Bukit Scotter, akan aku posting terpisah, ya. 😛
D’Qiano Spring HOT Waterpark
Jelas banget, ya. Kata HOT sengaja aku capslock karena waterpark ini begitu HOT! Air yang mengalir ke waterpark dengan ketinggian 2.000 m dpl ini bersumber dari Kawah Sileri, Kawah terbesar di Dieng.
A photo posted by CERIS Family (@cerisfamily) on
Sama halnya dengan bukit scotter, D’Qiano juga tidak masuk wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Tapi gimana lagiiiih…! D’Qiano telah berhasil membuat kami betah berlama-lama di kolam hangat. Cukup membayar HTM Rp 20.000 per orang, kalian bisa renang, berendam dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB, sesuai jam operasional D’Qiano.
Jarak tempuh menuju D’Qiano dari Kompleks Candi Arjuna kurang lebih 35 menit. Ada banyak fasilitas umum yang disediakan, diantaranya: ruang ganti, kamar ganti, tempat jajan, dan yang tak kalah pentingnya yaitu penginapan. Tentang penginapannya seperti apa, nanti aku tulis terpisah saja, ya. 😀
Jika berwisata ke Dieng, kalian HARUS menyambangi D’Qiano yang berlokasi di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur. Yaa…kapan lagi bisa berenang sampai puas, tapi tidak merasa dingin! Ingat, waterpark ini di Dieng, lho. DIENG KAWASAN BANJARNEGARA. *pentingbangetcaplockini*
Pusat Oleh-oleh Khas Dieng
Piknik ke Dieng tidak mampir pusat oleh-oleh khas Dieng. Yakin? Pengen jemuran yang udah kering, kembali basah karean kehujanan. Kembali basah karena tetangga kagak dibelikan oleh-oleh khas, tapi sempat pamit. Duuh…tetangga masa gitu, sih!!! HAHAHA
UD. Tri Sakti menjadi pelabuhan terakhir Blogger Trip Ayo Plesir Maring Banjarnegara. Bapak Saroji, pemilik UD. Tri Sakti ini ternyata giat banget mempromosikan oleh-oleh khas Dieng. Sesampainya di UD. Tri Sakti, seluruh Blogger mencicipi aneka jajan, oleh-oleh khas Dieng. Dan yang paling laku yaitu Keripik Kentang dan Carica! Juara banget kalau disuruh ngemil, ya.
Oleh-oleh khas Dieng lainnya yang ada di UD. Tri Sakti diataranya: Keripik Jamur, Kerupuk Carica, Sirup Carica, Jenang Carica, Jus Terong Belanda, dan tentunya Purwaceng!
Kabarnya, beliau adalah orang pertama yang budidaya tanaman purwaceng di Dieng, mengolahnya menjadi minuman dalam bentuk serbuk, lalu memasarkannya dengan harga terjangkau karena produksi sendiri atau home industri. Pak Saroji ini meski sudah usia lanjut, inovasi tentang camilan cethar banget. Salut dengan beliau yang kini tinggal di Dieng Kulon, Banjarnegara.
Omong-omong, UD. Tri Sakti ini berlokasi di seberang jalan BRI Dieng atau seberang jalan masuk Bukit Scotter. Mudah banget dicari, harga juga bikin kita menari-nari. Ramah dompet, Sist. 😆 😛
Bagi kalian yang hendak berwisata ke Dieng, silakan menyambangi wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Aku yakin, kalian kagak bakal kuciwa! Asal dari rumah membawa bekal happy, sesampainya di Dieng makin happy!
Rafting di Sungai Serayu Banjarnegara – Suami menjadi satu-satunya orang yang khawatir banget saat tahu bahwa aku, istrinya, hendak “terjun bebas” ke Sungai Serayu Banjarnegara. Kekhawatirannya muncul lantaran hari itu hujan deras, debit air sungai tinggi, dan aku belum begitu lihai renang! 😆 😛
Pesan melalui WhatsApp yang bernadakan kekhawatiran terpaksa aku balas dengan bercandaan. Aku mengatakan terpaksa karena sebetulnya aku juga kurang percaya diri setelah melihat derasnya aliran sungai serayu pagi itu. Ya…meski pada akhir percakapan, dia menyemangatiku. *mungkin dia juga terpaksa menyemangati* 😆
Sebelum berkumpul untuk briefing, aku sempat bertanya kepada salah satu penanggungjawabrafting tentang cuaca pada hari itu yang tidak menentu. Menurutnya, meski pagi hari turun hujan, rafting tetap bisa berlanjut. Hujan yang turun di pagi hari tidak begitu membahayakan untuk olahraga arung jeram. Meski hujan, rafting tetap aman. Bahkan, akan lebih seru karena akan mendapat jeram yang tak biasa. Kecuali, hujan turun sedari malam. Ini tim rescue harus melihat kodisi lapangan terlebih dahulu.
Berbekal informasi yang kudapat, dengan didampingi guide dan tim rescue dari Bannyu Woong Adventure, aku berhasil mengarungi Sungai Serayu Banjarnegara sejauh 10 km, dengan durasi waktu selama kurang lebih 3 jam. Menerjang tiap jeram yang ada di depan mata. Ayye, berhasil…! Tak pernah kusangka! 😉
Tim heboh dari kiri: Mas Abi, Hanif, Mas Dodit, Mas Halim, iNyong dan Afri
Briefing singkat, namun padat telah kami diikuti sebelum rafting dimulai. Banyak pengetahuan dan istilah yang baru aku tahu. Asli. Tapi hampir semua teori betul-betul aku praktikkan selama arung jeram berlangsung.
“Jika ada batu di depan atau samping perahu, jangan dipeluk! Gunakan dayung untuk menghindari bebatuan itu.” Sedang asyik main dayung, sempat terpikir untuk memeluk batu, gitu. Ampun, deh. 😆 😛 :mrgren: Itu salah satu teori yang dibagikan saat briefing.
Berada dalam satu perahu karet, aku bersama Afri berada di bagian tengah. Lalu, Mas Halim dan Hanif menjadi benteng depan. Sementara Mas Abi, duduk di depan Mas Dodit, pemandu terkeren versi kami. Mas Dodit ini baru SEPULUH tahun menjadi pemandu rafting di Bannyu Woong, dan menurutnya belum lama. *merendah untuk meroket ya, Mas*
“Selama rafting berlangsung, ikuti komando dari saya, ya. Kurang lebih 2,5 jam, kita akan HIDUP BERSAMA.” Baru lima kali dayungan, Mas Dodit mulai drama. “Lucu bener ini orang, ya.
“Boom! Selain kata itu, abaikan bila sepanjang perjalanan hidup kita, saya terus cas cis cus nyerucus. Jika aba-aba Boom (baca: buuum) terucap, berarti kalian harus siap-siap masuk perahu karet dan dayung diangkat ke atas.” Persis teori yang dipaparkan saat briefing, Mas Dodit kembali menjelaskan lebih rinci.
Tidak lama kemudian, Mas Dodit menyuarakan: “Buuuuuuuuuum!”
Keseruan Rafting di Sungai Serayu dimulai dari sini…
Spontan, kami masuk ke dalam perahu karet, dengan posisi dayung tak beraturan. Hahahaha…Salahin Mas Dodit saja, ya. Memberi aba-aba mendadak. Menurutnya, ini bukan tiba-tiba, melainkan kejutan awal dari Mas Dodit dan Jeram Welcome. Jeram selamat datang sebagai jeram pemanasan, dimana para Pemandu Rafting mulai dapat menilai kesiapan peserta, katanya.
“Woow keren! asyik, Mas. Nanti kalau ada jeram yang lebih, kabar-kabar, ya. Ini hujan makin deras, nanti kita hajar bareng-bareng.” Mas Abi mulai nakal, nih. Mulai bertingkah.
Hujan deras, ditambah dengan aliran sungai yang deras pula. Betul-betul kolaborasi seru untuk rafting, karena matahari tidak menemani perjalanan. Artinya, kulit akan tetap stabil, tidak gosyong karena terik matahari. Selain itu, kolaborasi tersebut ternyata bisa menghangatkan badan. Meski hujan terus mengguyur badan, dingin selama rafting tidak begitu parah. Jika punya rencana rafting di sungai serayu Banjarnegara, ambillah waktu yang tepat supaya terasa raftingnya. Saat musim hujan, misalnya. Tapi, hujan yang sudah mulai slow, ya.
“Dayung ke depan…dayung ke depaan. Lebih semangaat. Ayoo dayung ke depan, dan Buuuuuum!”
Beberapa detik sebelum Buum, Mas Dodit menyemangati kami untuk lebih cepat lagi dalam mendayung. Ternyataa…kami akan melewati Jeram Trinil. Siapapun yang melewati jeram ini, akan terbalik. Makanya, Mas Dodit mengajak kami mendayung ke depan supaya perahu tidak larut dalam jeram, terus maju.
Sepanjang perjalanan, Mas Dodit memberi informasi tentang nama-nama jeram yang ada di Sungai Serayu Banjarnegara. Salah satu jeram yang kuingat yaitu Jeram Bethur. Jeram ini tidak ada hubungannya dengan si kelopak mata yang bendul, ya. Jeram ini cukup menantang karena terdapat beberapa batu besar yang tertutup arus. Gila ajaa, ya. Ada batu tertutup arus, semisal sampai menyentuh batu itu, apakabar kehidupan kita? 😆 Ya…namanya Jeram, kan, harus dilewati. Usahakan ikuti aba-aba dari guide, jangan sampai kelilit jeram ya, Kak. Karena lebih membahayakan ketimbang kelilit kenangan sama mantan.
“Mas, ini jembatan mana?” Tanyaku kepada Mas Dodit saat perahu karet kami melewati jembatan yang menurutku instagenic banget.
“Ini jembatan Desa Sered.”
“Asyiiik…masih lama untuk sampaifinish.” Batinku bungah banget. Secara, perjalanan sungai itu lebih lama ketimbang darat. Yaa.., kaan? Dan ternyata betul. Kami masih punya sisa waktu 30 menit untuk mencapai finish.
Mulai dari jembatan ini, kami cukup santai. Bisa berfoto dengan latar belakang jembatan, hutan, pohon bambu, air terjun alami, atau air terjun buatan yang sengaja diciptakan oleh para petani sebagai muara pengairan sawahnya. 😀
“Dayung lagi yoook. Dayung depan…dayung depaan.” Mas Dodit mulai menyemangati kami lagi.
Bersama Mas Abi, aku merasa teriakan kita paling membahana. Mas Halim, Hanif, dan Afri, teriaknya sedikit diumpet. 😆 Sedari awal, aku semangat banget mendayungnya karena memang sedang belajar mendayung dengan benar. Saat briefing dijelaskan, jika mendayungnya benar, maka beban hidup tidak akan terasa berat. Lha ini, aku masih merasa susah dan berat. Lengan pegal banget, Kaaak. 😆 Tapi, sekalinya sudah benar dan lancar mendayung, iseng banget nyipratin air sungai ke teman-teman menggunakan dayung. Sedaaaap penuh stamina!
Semangat mendayung yang diikuti terikan juga sukses membuat badan hangat. Perasaan takut akan derasnya air hujan perlahan hilang. Ternyata, teori ini berhasil. Aku begitu menikmati rafting sungai serayu Banjarnegara. Sampai tiba pada Jeram Tsunami, kami, khususnya aku, tidak merasa bahwa ada Buuum di depan!Tahu-tahu, kami sudah terpisah.
Jeram Tsunami sukses membuatku terharu…
Betapa nyawa ini sudah kupasrahkan kepada Sang Pencipta. Menerjang hujan di darat kerap kulakukan. Lha ini, menerjang hujan dan jeram di Sungai Serayu Banjarnegara yang punya tingkat jeram grade 3+. Sekali lagi, zona rafting yang kami ambil mempunyai tingkat jeram grade 3+ ini dimulai dari The Pikas dan berakhir di Surya Yudha Park.
Mas Dodit tidak memberi aba-aba Buum saat sampai Jeram Tsunami. Ini sengaja tidak berkabar, katanya. Karena sedang asyik mendengar cerita Hanif tentang game-game yang biasa dilakukan saat rafting, kami tidak memperhatikan ada jeram di depan. Hanya mempercayai Mas Dodit. Tapi yang diberi KEPERCAYAAN malah enak-enakan menjebak kami!
Apa-apaaaaan kamu, Maaaas! Aku BERHASIL MINUM AIR SUNGAI SERAYU! Satu liter, mungkin. 😀 Dan sinisnya, saat sedang berada di bawah perahu, aku mendengar teriakan Mas Dodit.
Beruntung, safety rafting ini oke banget! Jaket pelampung, khususnya. Ada baiknya memeriksa jaket pelampung sebelum rafting. Termasuk mengencangkan tali jaket. Mengecek pelampung antar teman termasuk yang dipraktikkan saat briefing. Berjaga-jaga untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi saat rafting. Jika pelampung melekat dengan baik, kecil kemungkinan tenggelam. Tentang pertolongan saat perahu terbalik, atau peserta tenggelam, ada berbagai macam cara. Pertolongan yang paling aku ingat yaitu menarik pelampung teman bagian atas.
Baca tentang Bannyu Wong, Operator Rafting di Banjarnegara.
Saat itu, pelampung yang pertama kudapati adalah milik Mas Abi. Ya, aku melihat Mas Abi yang sama-sama sedang berusaha naik ke perahu. Aku tarik pelampung bagian belakang atas. Aku memegang pelampung Mas Abi dengan kencang!
“Halim manaa…Hanif manaaa?” Aku yang nyawanya belum terkumpul penuh, hanya bisa geleng-geleng.
“Balik badan, Mbak. Siap-siap saya tarik, ya.” Aba-aba itu datang dari Mas Dodit. Pemandu kami yang keren banget dan menjadi satu-satunya orang yang tersisa di atas perahu karet. Asli, orang ini ngeselin dan tidak setia kawan. 😆 😛
“Bentar, Mas. Nyawaku urung balik iki.” Mas Dodit pun tertawa puas, sambil ngasih kode apa itu laah, kepada tim rescue. Jeram Tsunami bikin gila-gila sedaaaap!
Tak lama setelah aku berada di atas perahu bersama Afri dan Mas Abi, dua teman kami DIKEMBALIKAN ke asalnya. Hanif diselamatkan oleh tim rescue. Mas Halim, ternyata ada di depan perahu, namun tidak nampak, karena ternyata Mas Halim sedang mengatur napas di sana. 😀 Sementara si Go Pro milik Hanif, alhamdulillaah sudah diselamatkan terlebih dahulu oleh Mas Dodit.
“Go Pro, Mas. Go Pro punyaku.” Hanif sempat takut Go Pro kesayangannya hanyut. Sebelum menyelamatkan kami, ternyata Mas Dodit terlebih dahulu mengambil Go Pro yang nyantol di tali perahu bagian depan. Tuh kan, Mas Dodit JAHAT! Go Pro dulu, baru Manusia. 😆
Andai Go Pro ini hanyut, ya…HAHAHA
Beberapa kali, aku memohon kepada Mas Dodit untuk tidak menceburkan tim kami dengan alasan karena aku belum lihai renang. Mas Abi pun mendukungku. Namun, Si Hanif kerap bertanya tentang game-game yang dapat dinikmati. Sesekali Mas Dodit menjawab “Nanti di sana.” Namun, tidak memberi perincian game-nya seperti apa. Mungkin, ini yang membuat Mas Dodit gemas.
“Kayaknya ini anak pada memang minta diceblungiin ke Sungai.” Begitu gumam Mas Dodit, mungkin.
Dari 19 blogger (karena minus Mbak Olipe), terpisah menjadi 5 perahu karet, hanya perahu kami yang mendapat kejutan Jeram Tsunami. LUAR BIASAAA LUAAAR BIASAA ASYIK TENAN! Rasanya…terharu bangeeet! Tidak bisa berenang, tapi diberi kesempatan untuk menjajal Jeram Tsunami. Wuwuwuw…Mas Dodit, makasih, ya. Dikau mancen hebat!
Omong-omong, permohonanku sengaja tidak dikabulkan oleh Mas Dodit lantaran timku HEBOH, menurutnya. Dari semangat dan kehebohan yang tercipta, layak diberi kejutan Jeram Tsunami.
Selalu selfie di depan Air Terjun Serayu…
Di sini aku merasa terharu (lagi). Betapa Mas Dodit begitu percaya kepada kami. Atas ini semua, ternyata Mas Dodit sudah mempersiapkan segalanya, sudah memikirkan risiko-risiko yang bakal terjadi, melakukan kontak dengan tim rescue untuksiaga.
Rafting mulai dari The Pikas sampai Surya Yudha Park, teriak sekuatnya, pacu adrenaline di jeram-jeram yang menantang, sudah include jamuan Mendoan, Sebutir Kelapa Muda (setibanya di finish), penjemputan dari SYP sampai The Pikas lagi, cukup membayar rP 205.000 per orang. Masih banyak paket yang bisa dijajal mulai dari jarak tempuh 7-26 km, dengan harga mulai Rp 150.000 – Rp 375.000 per orang.
Aku merekomendasikan Bannyu Woong Adventure sebagai pemandu rafting Sungai Serayu Banjarnegara. Pertimbangannya adalah sebagai berikut:
Akses menuju base camp Bannyu Woong yang berada di kompleks The Pikas sangat mudah.
Pemandu Raftingdan rescue sudah berpengalaman,handal, profesional, ramah dan lucu-lucuuuw.
The Pikas menjadi titik kumpul bagi 20 Blogger yang mengikuti Blogger Trip bertajuk “Blogger Plesir Maring Banjarnegara.” Tema yang khas banget! Ngapak-ngapak kepenak. 😆
Sekadar informasi, tema yang diusung kali ini merupakan tagline dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Mereka yang memberi kesempatan kepada kami untuk explore wisata Banjarnegara.
Ayo Plesir Maring Banjarnegara, atau dalam bahasa Indonesia Ayo Berwisata ke Banjarnegara. Itulah tagline aslinya. Berhubung pesertanya adalah para Blogger, jadilah kami masuk frame. 😆
Membaca rundown yang dikirim oleh Dinbudpar Banjarnegara, pemilihan The Pikas Resort sebagai tempat penginapan adalah pilihan yang tepat. Kenapa? Karena, lokasi The Pikas Resort mudah dijangkau dari arah mana saja. Dekat dengan jalan raya propinsi, yang mana beberapa teman Blogger ada yang menggunakan transportasi umum. Mas Halim, Blogger dari Kota Solo, misalnya. Dia menggunakan Bus.
Selain itu, kegiatan pertama yaitu raftingdi sungai serayu yang didampingi oleh Guide dan tim rescue Bannyuwoong, start from The Pikas. Jadi pagi harinya, peserta cukup kucek-kucek mata, sarapan, dilanjut memakai pelampung, helm, bawa dayung, pemanasan, kemudian masuk boat!
Pilihan yang tepat, bukan?
Jembatan menuju Balai The Pikas
Sore itu, aku datang bersama Si Kecil, dan langsung menuju Pendopo atau Balai The Pikas untuk mencari informasi tentang keberadaan Teman-teman Blogger. Menjadi peserta dengan jarak tempuh terdekat dari The Pikas Resort, tapi terlambat. Luar biasa banget.
Tepat di depan Balai, lelaki yang mengenakan kaus oblong warna biru memberi informasi, bahwa Teman-teman sudah datang.
Teman-teman cowok yang berjumlah dua belas, menempati Cottage Lumbir 4 dan 5. Sementara, delapan Perempuan di Cottage Lumbir 2.
Nama masing-masing cottage tidak terlihat dari jalan masuk cottage, makanya aku minta tolong kepada salah satu karyawan The Pikas untuk mengantar sampai Lumbir 2. Manja banget, ya. Hahahaha
For your information, The Pikas Resortmenawarkan 10 cottage yang masing-masing punya nama: Lumbir 1-5, Sabin Timur, Sabin Barat, Jawa Mini, Jabar dan Jatim. Cottage terluas yaitu Sabin Timur dan Barat dengan kapasitas 7 orang. Sedangkan yang paling kecil yaitu Jawa Mini yang dapat dihuni 2 orang.
Cottage Lumbir hampir semua berkapasitas enam orang, kecuali Lumbir 1 yang berkapasitas empat orang. Tempatku bermalam, yaitu Lumbir 2 yang biasanya berisi enam orang, malam itu dihuni tujuh orang, dan satu bayi. 😆 Betapa The Pikas Resort ramah dompet, ya. Cocok banget untuk menginap a la backpacker yang ngetripnya rombongan. 😛
Memasuki area Cottage, aku terpana dengan suguhan alam yang segarnya luar biasa. Hamparan sawah, pemandangan penuh hujau, dipadu dengan udara segar. Aku yang tinggal di desa melihat hamparan sawah saja sampai terpukau, ya. Ya maklum, sih. Ini pemandangan alamnya lain, Sist. Sawah, Pepohonan, Bunga, ada di antara Cottage. Kebayang sehatnya, kan?
Dua cottage yaitu Jawa Mini, dan Sabin, betul-betul berada di tengah sawah. Sementara kompleks Lumbir, begitu rindang dengan aneka pepohonan hijau. Kompleks ini cocok banget buat jogging pagi hari. Ya…meski bukan jogging track, tapi udara pagi sekitar Cottage sayang banget dibiarkan begitu saja. Minimal, keliling Cottage, sambil jeprat-jepret pemandangan sekitar yang begitu memikat.
Kira-kira jam 23.00 WIB, hujan turun dengan derasnya, dan aku masih terjaga. Jadi teringat beberapa jam lalu sebelum hujan, kami makan jagung bakar yang telah disediakan oleh panitia. Andai bisa menggigit jagung dikala hujan, tambah hangat, dan nikmat. 😀
Kawasan Lumbir yang memikat…
Etapi, saat jagung mulai dibakar, dan ada suguhan supermoon kira-kira jam 20.00 WIB, suasana di Balai The Pikas juga tidak kalah hangat. Terlebih alunan musik, dan suara Bapak Dwi, Kepala Dinbudpar, yang serak-serak sedap terus menemani para Blogger yang tengah asyik berpesta jagung bakar.
Di luar, hujan boleh turun dengan derasnya. Tapi, bagi kami yang ada di dalam Lumbir, tidur berjejer di atas matras, merasa makin hangat. Selimut cukup tebal, suara katak saling bersahutan, aliran kali serayu makin terdengar jelas. Syahdu. Tidur di samping si kecil, memeluknya erat, menambah hangat suasana malam itu.
Awalnya, aku sempat kaget dengan hujan yang tiba-tiba turun karena sebelumnya kami telah menikmati supermoon. Selain itu, akucukup was-was, andai Lumbir 2 sampai bocor. 😀 Kebayang, dong, ada Si Kecil di sampingku. Kasihan.
A photo posted by Sii Olipe (@olipe_oile) on
Perasaan was was itu wajar, melihat desain cottage yang unik, dengan bentuk rumah panggung. Dinding dan lantai semua berbahan kayu. Dinding kanan kiri didesain miring, kira-kira 30 derajat. Sementara, bagian atap cottage itu plong. Pemandangan ke atas langsung tertuju pada genting, beserta kayu-kayu. The Pikas Resort, desain penginapan khas pedesaan.
Pihak The Pikas Resort pasti sudah melakukan pengecekan sebelumnya. Itu pasti. Mereka akan memberi pelayanan terbaik untuk para Tetamu. Termasuk adanya lotion anti nyamuk.
Kelihatannya memang sepele, tapi mereka sadar bahwa cottage berada di sekitar Kolam, Kali Serayu, Sawah, dan Perkebunan. Makanya, mereka menyediakan lotion anti nyamuk buat persediaan. Beruntung banget yang mereka sediakan adalah lotion, bukan obat nyamuk semprot atau listrik. Jadi, Si Kecil aman karena lotion lebih ramah.
Yang segar gini menambah semangat!
Sampai pada fasilitas penting sebuah penginapan, Cottage di The Pikas Resort menyediakan dua macam kamar mandi, yaitu kamar mandi utama dan kamar mandi bersama.
Adanya fasilitas rekreasi seperti Outbound, Rafting, The Pikas Resort seperti sengaja menyediakan kamar mandi bersama di dalam Cottage. Memang, tidak jauh dari Balai The Pikas terdapat empat toilet mandi umum, namun kamar mandi bersama dengan sekat gorden yang ada di dalam Cottage memberi kenyamanan tersendiri bagi Tetamu yang punya rencana menginap, sekaligus rafting di The Pikas. Tidak perlu antre untuk masalah mandi.
Kamar mandi bersama. . .
Kamar mandi utama yang disediakan oleh The Pikas Resort cukup sederhana. Satu closet, dan satu set peralatan mandi. Perlengkapan mandi seperti: sabun, shampo, sikat gigit, pasta gigi, handuk, dll dll, belum disediakan. Ada baiknya, dimanapun akan menginap, bawalah perlengkapan mandi. Tidak ada salahnya lebih siap, kan. Okay? 😉
Omong-omong, air di The Pikas Resort hanya ada air dingin. Air hangat belum disediakan. Tapi, mengingat Banjarnegara tidak selalu dingin, air hangat tidak begitu dibutuhkan. Apalagi lokasi The Pikas Resort tidak begitu jauh dari kota. Kerap panas di sini. Semisal membutuhkan air hangat, Tetamu bisa langsung ke Pikasto. Resto milik The Pikas yang berada di sebelah kanan Balai.
Kamar mandi dalam, nih. . .
Ya, The Pikas mempunyai resto yang bernama Pikasto. Tetamu yang menginap di The Pikas Resort dapat memanfaatkan resto ini. Jika menginap di sini, menikmati masakan khas Desa di pagi hari sudah termasuk fasilitas. Menu masakan di Pikasto berragam. Nasi Bakar menjadi menu andalan di sini. Tetamu boleh memesan nasi bakar jika mau, dan mungkin berbayar. Karena, menu masakan include yang disediakan biasanya menu ayam rica-rica, atau nasi goreng.
Seperti sarapan, dan makan malam yang telah kami nikmati. Menu makanannya memang biasa, standard. Yang menjadi beda, dan spesial yaitu suasana. Sarapan nasi goreng di tepi kali serayu dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Atau, sarapan bisa dibawa ke Cottage, duduk di kursi yang disediakan di teras depan Cottage. Suasana serta pemandangan di depan Cottage juga tidak kalah asyik.
Mbak Olip makannya sedumil banget. . .
Oiya, Wi-Fi di penginapan ini belum sampai Cottage. Provider internet yang paling bagus dipakai di sini yaitu Indosat dan Telkomsel. Tidak ada salahnya siap siaga membawa modem, atau mengisi paket data selular jika ada dateline pekerjaan.
Fasilitas penunjang lainnya yaitu ada tempat parkir yang luas di dekat pintu masuk The Pikas, mushala, kamar mandi, paket outbound, dan paket rafting.
Untuk mencapai The Pikas Resort, dari lampu merah pertigaan Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, ambil arah kiri, ikuti jalan raya. The Pikas Resort ada di sebelah kiri jalan setelah jembatan yang melintasi sungai serayu.
Alternatif lain, jika menggunakan transportasi umum, dari pertigaan Singamerta, pilih angkutan umum warna biru dengan abjad “B” jurusan Madukara, atau Minibus jurusan Pagentan. Naik angkutan umum sampai depan The Pikas cukup bayar Rp 2.000.
Bagi yang suka olahraga, bisa jalan kaki. Jarak tempuh dari pertigaan Singamerta kurang lebih 700 meter. Cukup dekat, bukan?
Angetnya bobok di Cottage ini…
Ayo plesir maring Banjarnegara, dan pilih The Pikas Resort menjadi bagian dari perjalanan wisata ke Banjarnegara. Penginapan dengan konsep alam, nuansa khas pedesaan, akan membuat betah berlama-lama di sini. Asli. ^-*
The Pikas Resort Banjarnegara
Alamat: Jl. Raya Madukara, Desa Kutayasa, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
Rate: Rp 400.000-Rp 750.000,-
Extra bed: Rp 100.000
Include: Air Mineral, Kamar Mandi Dalam, Kasur Busa, Selimut dan Makan Pagi.