Aku termasuk tipe perempuan yang ngga bisa rajin kalau harus menjahit manual. Meski hanya memasukkan benang ke dalam jarum, dan lanjut menjahitnya. Sesederhana itu, tapi aku susah rapih untuk hal yang satu ini.
Menjahit yang kumaksud di sini tuh sekadar menjahit baju sobek barang sepuluh centi meter. Bukan menjahit bahan menjadi pakaian utuh. Hihihi. Ya bayangin saja, rok kerja sobek bagian saku, harus ke penjahit. Celana Jasmine sobek cuma sepuluh centi meter, musti nunggu tukang jahit keliling. Duuuuh…dikit-dikit penjahit, ya.
Memang, seberapapun panjang sobekan kalau menjahitnya di Penjahit pasti ada tarifnya. Tapi semisal Penjahit lagi pada sibuk, rasa-rasanya gombelan tidak akan langsung diperhatikan. Kalau udah gini, kadang aku ingin menambah peralatan rumah tangga berupa Mesin Jahit Mini.
Di Indonesia ada beberapa jenis mesin jahit terkenal seperti mesin jahit mini. Jenis mesin jahit ini biasanya digunakan oleh para pemula dalam hal menjahit. Karena bentuknya yang mini atau kecil dan ringan, maka mesin ini menjadi banyak disukai oleh orang-orang. Simpel, dan tidak membutuhkan banyak ruang.
Secara umum, mesin jahit ukuran mini ini terbagi menjadi dua macam yaitu:
Mesin Jahit Tangan.
Mesin jahit tangan merupakan jenis mesin jahit dengan ukuran mini yang sering disebut dengan mesin jahit staples karena memiliki bentuk yang hampir mirip dengan staples. Jenis mesin jahit ini memiliki ukuran yang sangat kecil dengan hasil jahitan yang sangat standar.
Jahitan yang dihasilkan hampir mirip seperti rantai karena hanya menggunakan satu benang saja. Dengan ukurannya yang hanya segenggam tangan, jenis mesin jahit ini memiliki harga yang sangat terjangkau yaitu hanya sekitar puluhan ribu rupiah saja. Pingin nyoba beli yang ini.
Mesin Jahit Portable.
Mesin jahit ini merupakan jenis mesin jahit yang memiliki ukuran mini atau kecil dengan pengoperasian mesin yang hampir mirip dengan mesin jahit pada umumnya. Bedanya adalah jenis mesin ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan ringan.
Secara umum, hasil jahitan dari mesin jahit ini hampir mirip dengan mesin jahit besar karena jenis mesin jahit ini menggunakan 1 benang spool dan 1 benang sekoci.
Jenis mesin jahit portable ini memiliki harga yang bervarian sesuai dengan mereknya. Beberapa diantarnya menggunakan baterai dan juga tenaga listrik. Jadi, jika sedang mati listrik maka tidak perlu khawatir karena mesin ini memiliki baterai, namun penggunaannya dalam waktu tertentu saja.
Uuuh…ingin punya mesin jahit yang ini. Musti nabung dulu, ya.
Penggunaan mesin jahit mini dalam kegiatan jahit menjahit memberikan banyak kelebihan dan juga kekurangan yang dapat dirasakan oleh penggunanya.
Nah, berikut beberapa kelebihan dan kekurangan jenis mesin jahit ukuran mini:
Kelebihan:
Secara umum semua mesin jahit yang memiliki bentuk mini atau kecil di pasaran memiliki harga yang sangat murah dan terjangkau oleh siapa saja.
Semua jenis mesin jahit ukuran mini memiliki bentuk yang kecil dan ringan sehingga sangat mudah untuk dibawa kemana saja.
Memiliki dynamo atau baterai sehingga saat terjadi mati listrik maka tidak perlu khawatir karena penggunaannya bisa menggunakan daya baterai.
Merupakan jenis mesin jahit yang memiliki pola pengoperasian yang sangat mudah sehingga sangat cocok untuk digunakan oleh para pemula maupun anak-anak. Untuk itu jenis mesin jahit ini sangat baik digunakan sebagai sarana belajar menjahit.
Beberapa jenis mesin jahit ini memiliki desain jahitan yang cantik dan menarik.
Kekurangan:
Merupakan jenis mesin jahit yang menggunakan bahan dasar plastik sehingga lebih body mesin relatif ringkih.
Dalam penggunaannya kurang bisa digunakan untuk menjahit pakaian yang menggunakan bahan tebal seperti jeans, tas dan lain sebagainya.
Mesin jahit dengan ukuran mini biasanya tidak memiliki garansi resmi seperti jenis mesin jahit portable.
Jika digunakan untuk kebutuhan bisnis seperti konveksi maka jenis mesin jahit ukuran mini kurang cocok untuk digunakan.
Setelah tahu kelebihan dan kekurangan, sekarang makin tahu tentang dunia penjahit. ?? Btw, sekarang mesin jahit mini dapat dengan mudah ditemukan, dan dibeli di toko alat khusus mesin jahit. Tapi ya gitu, kalau udah punya duit, kadang ada saja kebutuhan lain yang lebih primer. Hahaha.
Di ruang tengah atau ruang keluarga yang biasa kami jadikan untuk nonton teve sembari bersantai, ada satu kursi sofa yang usianya lebih tua dari aku. Ya…kalau tahun ini usiaku 17 tahun, mungkin kursi sofa itu usianya 27 tahun. Secara ya, kursi sofa dengan warna hijau pekat, dibeli oleh Almarhum Mbah Kung sebelum aku lahir. Udah lama banget lah, ya.
Konon, untuk membeli kursi sofa, Mbah Kung harus menjual seekor pedhet, atau anak sapi. Menurutku perjuangan banget. Kata Bapakku, kursi sofa yang bersudut ini tergolong sofa paling bagus pada masa itu. Namanya di Desa, orang zaman dulu ngga pada mentingin kursi sofa. Bagi mereka, perut isteri, anak, cucu, bisa kenyang saja sudah lebih dari cukup. 😀
Perjuangan ngga hanya sampai pada jual anak sapi. Soalnya, setelah kursi sofa terbeli, beberapa anak dari Simbah yang sudah menikah pun naksir. Memang, kursi sofa berbalut kain tanpa motif nampak manis, dan juga kokoh. Awet pula. Siapa yang ngga tertarik, ya. Simbah pun mulai nabung lagi, tentunya dibarengi anak-anaknya juga. Berusaha bersama.
Usia kursi sofa boleh dibilang udzur, tapi masih nampak kuat, dan masih layak dimanfaatkan. Hanya saja, dua kaki kursi sudah patah. Tepatnya kaki kursi sofa yang letaknya di paling kanan. Selain kaki, busanya juga sudah tidak begitu penuh, kalau dipakai buat duduk, ngga mental alias ambles. Hihihi.
Orang rumah sih sudah tahu, makanya jarang duduk di kursi yang paling kanan. Cuma, kalau ada tamu, dan langsung masuk ke ruang tengah, biasanya mereka memilih untuk duduk di paling kanan. Posisi saat hendak duduk semangat banget, saat landing malah makbles. Kenaaaa, deh! Qiqiqi.
Karena punya nilai history yang begitu kuat, Bapakku pinginnya memperbaikinya saja. Tapi menurut Ibu, ada baiknya nyari yang baru karena modelnya sama sudah ngga usum. Aku ngga bisa banyak komentar, takut dimintai pertanggungjawaban. 😛
Aku sempat bilang ke Bapak, buat nyari kursi sofa murah, dan elegan. Murah, dan awet. Murahh, dan bagus. Ini prinsip banget. Ngga pakai tapi. 😆 Memang ada, gitu? Pasti ada, karena selalu ada jawaban untuk tiap pilihan. Yaaaa, kaaan? 😛
Akupun mulai bantu mencari referensi kursi sofa murah yang modelnya simpel, murah, dan elegan.
Kursi Sofa Model “L”
Ini paling aku rekomendasikan. Panjangnya tidak melebihi kursi sofa yang sekarang. Namun, hanya ada satu dengan tipe memanjang. Pas buat bersantai sambil nonton teve, atau kruntelan sama bojo, dan Jasmine. Uuffh…Orang lain yang mau duduk di sini kayaknya juga mikir-mikir. Karena kursi sofa yang kurekomendasiksn ini hanya muat dua sampai tiga orang dalam satu tempat. Kurang nyaman kalau buat ngobrol bareng tetamu.
Selain itu, dari model udah nampak private banget. Aaak…ternyata harganya cukup terjangkau. Satu jutaan! Uuuwh…
Kursi Sofa Model Sudut.
Kursi Sofa ini memang akan ditempatkan di ruang tengah, namun Mbah Kung kerap mempersilakan para tetamu untuk duduk di bersama di ruang ini. Banyak alasan, sedang nanggung nonton suatu acara, sambil nonton berita, atau merasa ngga nyaman di ruang tamu. *kapan-kapan perlu posting ruang tamu yang kayak gudang* Hihihi.
Jadi yaaa, kursi sofa yang biasanya hanya ditempati keluarga, bisa sekaligus dijadikan kursi tamu. Multi fungsi, gitu. Kursi sofa model sudut yang aku rekomendasikan ini tidak membutuhkan space yang luas. Kalau beneran tertarik dengan model ini, space ruang tengah akan tetap.
Kursi sofa model sudut ini ternyata harganya juga terjangkau, yaitu dua juta-an. Aku kira bakalan mahal karena nampak elegan.
Kursi Sofa Model “L”
Waaainiiii…cocok banget ditaruh di depan televisi. Model simpel, desain menarik, nampak elegan, harganya terjangkau pula. Ini menjadi kursi sofa idamanku banget, nih. Bakal betah berlama-lama di depan televisi. Kenapa? Sembari nonton teve, pasti nyaman buat nenenin Jasmine, sampai kami tidur pulas. 😀 😆
Keliatannya kecil, ya? Padahal ngga lho. Ini cukup lebar. Nyaman buat bobok juga karena bahan kainnya adem, dan busanya empuk. Siapa yang ngga pingin bobok di atas sofa macam ini, coba? Sesekali dalam seminggu bisa jadi Puteri Tidur lah, ya.
Membaca lewat kolom detail informasi, ketiga kursi sofa di atas tergolong murah, elegan, dan sepertinya awet. Ini dengan pertimbangan bahan yang digunakan. Tapi, kembali lagi pada anggaran ya, PakBuk. 😉
Omong-omong, kalian suka kursi sofa model yang mana untuk nyantai di ruang tengah? Atau, ada rekomendasi lain? ??
Komunitas GenPI Jawa Tengah – Sebelum tulisan ini sampai tiga ribu kata, aku mau norak dulu, yaaa. 😀 😛 😆 Jum’at (10/03), aku dapat telepon dari Mas Artadi, salah satu Staff Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Ngga tahu kenapa, setelah menutup telepon, aku giraaang banget karena aku diundang untuk suatu event.
Norak berkelanjutan saat menerima undangan perihal pembentukan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah yang direncanakan pada hari Senin (13/03). Ini nih event yang kumaksud. Membaca daftar nama yang bakal hadir di acara GenPI Jateng. Soalnya sedulur Banyumasan: Mas Pradna, Pungky, Tante Neli, dan Afri, juga tercantum sebagai peserta. Qiqiqi. Mereka adalah Blogger wilayah Banyumas yang sudah kukenal lama, dan cukup sering berkomunikasi. Ya…meski pada akhirnya Mas Pradna dan Pungky ngga bisa hadir karena suatu hal. Fufufu.
Makin tinggi level noraknya ketika acara sudah dimulai. Kenapa? Karena Banjarnegara dimention oleh Pak Urip Sihabudin, Kadis Porpar Provinsi Jawa Tengah. Kemudian lanjut dimention oleh Bapak Don Kardono, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi. Secara, peserta yang datang kan ngga hanya dari Banjarnegara saja, ya. Qiqiqi. Gini aja dinorakin, ya. 😆
Memang sih, aku menghadiri undangan ini atas nama Blogger. Namun karena GenPI dibentuk per wilayah, dalam hal ini adalah wilayah Jawa Tengah, maka aku dan Banjarnegara akan terus berdampingan untuk GenPI. 😀 😀 Yaudah Pamernyaaaa. 😛
GenPI Wilayah Jawa Tengah merupakan tindak lanjut dari pembentukan komunitas GenPI yang sudah dilaksanakan di lima wilayah yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Barat dan Maluku yang dimaksudkan untuk mengembangkan promosi wisata nusantara dengan melibatkan generasi muda khususnya penggiat sosial media.
Disaat GenPI Lombok Sumbawa telah berhasil mencapai kesuksesan dalam mempromosikan wisata secara digital, aku justeru baru tahu ada sebentuk komunitas yang didukung oleh Kemenpar untuk fokus mempromosikan pariwisata Indonesia. Hellow…kemana aja, Sist. Qiqiqi
Mbak Jhe adalah koordinator GenPI Lombok Sumbawa yang saat itu turut menghadiri acara Focus Group Discussion Pembentukan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Wilayah Jawa Tengah yang bertempat di Hotel Aston Semarang. Dia berbagi pengalaman perihal kegiatan GenPI yang membuat kami, para peserta FGD, makin gereget dan semangat menjadi relawan GenPI.
Selain Mbak Jhe, hadir pula perwakilan dari GenPI yang telah terbentuk sebelumnya: Bang Esmat (GenPI Mentawai), Bang Glen (GenPI Maluku), Bang Aswi (GenPI Jabar), dan Bang Siapa Bang (GenPI Sumbar) yang ternyata kami belum sempat berkenalan. 😆 Keren, ya!
Tentunya bukan tanpa sebab Kemenpar memilih Jawa Tengah menjadi chapter berikutnya. Dari banyaknya objek pariwisata di Jawa Tengah, ternyata jumlah kunjungan wisatawan, macanegara khususnya, masih tergolong rendah. Kalah saing dengan Jawa Barat. Padahal, Jawa Tengah mempunyai objek pariwisata yang sudah mendunia. Candi Borobudur, misalnya. Makanya, Kemenpar menggandeng para netizen yang berdomisili di Jawa Tengah untuk turut mempromosikan pariwisata Jawa Tengah dengan harapan
Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) merupakan generasi muda yang mempunyai kemampuan lebih dalam dunia internet berbasis komunitas yang memiliki aktivitas rutin dan aktif dalam mempromosikan pariwisata Indonesia baik melalui blog, media sosial, dan media digital lainnya kepada masyarakat luas.
Namanya komunitas di bawah payung Kementerian, punya niat sebaik apapun, biasanya timbul pro dan kontra, ya.
“Halaaaaaaaah…kalian mau-maunya dimanfaatin Kementerian Pariwisata untuk ikutan promosi pariwisata Indonesia. Kayak ngga punya kerjaan aja.”
Kira-kira ada yang berkomentar seperti itu, ngga? Semisal ada, berarti sifat gotong royong dalam diri telah luntur, mungkin. 😛 😛 Untuk mensukseskan pemasaran pariwisata Go Digital, Kemenpar ngga mungkin bisa bekerja sendiri. Menggandeng generasi Millennial: para Blogger dan pegiat sosial media, untuk turut mempromosikan pariwisata Indonesia yang sangat beragam menjadi solusi baik bagi kemajuan wisata Indonesia.
Yakali, pihak Kementerian mampu membagikan kekayaan pariwisata Nusantara yang jumlahnya seabreeeeg. Kemampuan mereka pasti terbatas lah, ya. Apalagi, saat ini banyak anak muda yang memanfaatkan sosial media untuk share kekayaan pariwisata Indonesia. Yaudah, anggap aja ini keuntungan bagi Kemenpar, kan.
Kenapa Generasi Milenial?
Karena generasi yang lahir pada tahun 80-an ke atas dianggap siap dan sanggup berlama-lama online, dan pegang gadget. Generasi ini juga dekat dengan teknologi, perangkat digital dalam gaya hidup, dan kesehariannya.
Adanya wadah bernama GenPI ini pas banget digunakan untuk menyatukan para relawan yang punya tujuan sama untuk Go Digital pariwisata Indonesia.
Lalu, kenapa harus ada GenPI?
Memang, tiap daerah kini sudah terbentuk komunitas: blogger, dan Instagram, khususnya. Namun, dalam komunitas tersebut masih gado-gado. Blogger Banjarnegara, misalnya.
Tulisan dari anggota komunitas tersebut sangat beragam: pendidikan, budaya, ekonomi, politik, wisata, dan masih banyak kategori sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Makanya, Kementerian Pariwisata membuat wadah atau komunitas bernama GenPI. Tujuannya, agar para netizen, Blogger, dan pegiat media sosial, yang telah bergabung dengan GenPI dapat fokus membagikan informasi Pariwisata Indonesia.
Pak Don Kardono ngomongin M-17. Qiqiqiqi
Dalam acara ini, hadir juga Kadisporapar Provinsi Jawa Tengah, Bapak Urip, dan tiga pemateri dari Kementerian Pariwisata: Taufik Rahzen (Budayawan dan Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Budaya), Don Kardono (Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Media dan Komunikasi), dan Taufan Rahmadi (Anggota Tim Percepatan Wisata Halal dan Tim Percepatan 10 Destinasi Wisata Prioritas).
Pematerinya keren-keren, ya. Materi yang disampaikan pun betul-betul berbobot kek yang nulis blog post ini. Wkwkwk. Pak Taufik Rahzen, misalnya. Beliau menyampaikan, bahwa rempah-rempah Indonesia bisa menjadi kekuatan global karena kekayaan ini ngga dimiliki bangsa lain. Perjalanan rempah di Indonesia pun sangat potensial untuk diangkat sebagai wisata tematik karena mempunyai potensi wisata budaya, alam, bahari, dan kuliner khas nusantara.
Dengan jalur ini, diharapkan wisatawan dapat menemukan dan memahami sejarah proses perjalanan menikmati keindahan alam, kelezatan kuliner, dan kehangatan dari beragam budaya Indonesia. Topiknya pas banget dengan tema dari GenPI yaitu “Peran Strategis Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Dalam Rangka Penyusunan Strategi Pemasaran Wisata Tematik Jalur Rempah.”
Semangatnya Pak Taufan luar biasaa!
“Netizen berusaha untuk berbagi gambar, tulisan, informasi yang bermanfaat, dan tidak menjatuhkan reputasi.” Seperti itu pesan dari Pak Don Kardono. Perihal dunia pariwisata, sebagai Blogger dan pegiat sosial media, ada baiknya menyampaikan informasi baik, dan juga menarik tentang pariwisata Indonesia. Ngga memposting informasi HOAX, apalagi sampai menjatuhkan reputasi pariwisata Indonesia. Semisal ada kekurangan, atau bahkan kejelekan tentang obyek wisata di Indonesia, ada baiknya menyampaikan dengan bahasa halus. Saling menjaga reputasi kalau ini, ya.
“Netizen pariwisata indonesia bersatu, bersama-sama menjadikan Indonesia pusat epicentrum pariwisata dunia.” Ini mimpi Pak Taufan. Apakah bisa terwujud? Bisa banget kalau kamu, para generasi milenial, turut menyukseskan program GenPI. 😉
Acara ini ditutup dengan pemilihan Ketua Koordinator untuk wilayah Jawa Tengah. Mas Safigh Pahlevi Lontoh, pegiat pariwisata Jawa Tengah terpilih menjadi ketua GenPI Wilayah Jawa Tengah. Selamat ya, Kaaak. Semoga Komunitas GenPI Jateng bisa mewujudkan harapan Kemenpar untuk menaikkan jumlah Wisatawan Nusantara dan juga Wisatawan Mancanegara.
Btw, saat ini GenPI Wilayah Jawa Tengah masih dalam tahap pembentukan kepengurusan. Buat kamu yang tinggal di Jawa Tengah, nanti ikut gabung dan menjadi bagian dari GenPI Jateng, ya. Menjadi relawan untuk Pariwisata Indonesia. Tunggu saja rekruitmennya. 🙂 Buat yang di luar Jateng, gabung aja dengan GenPI yang sudah terbentuk. Kalau belum terbentuk di Provinsimu, tunggu saja. Siapa tahu menjadi generasi berikutnya. ^_*
Membuatkan teh untuk keluarga telah menjadi rutinasku tiap pagi hari. Satu gelas minuman teh tanpa gula atau teh tawar untuk Ayah Jasmine. Empat gelas minuman teh dengan gula sepucuk sendok makan untuk aku, adik, dan orang tua.
Untuk kebutuhan teh tiap harinya, kami memilih teh celup supaya lebih praktis. Tinggal celup, angkat. Celup lagi, angkat lagi. Celup terus, angkat bentar. Celup celup, angkat angkat. Eh, ini ngapain celup angkaat muluuuk? 😆 😆
“Kalau kalian nyeduh teh celup, jangan terlalu lama membiarkan teh tersebut di dalam gelas, ya.”
Tiap kali mencelupkan teh ke dalam gelas, kata-kata Pak Puji, tour guide dariPT. Perkebunan Teh Tambi, seperti sudah nempel banget di jidat.
Kenapa?
Pak Puji memberi informasi, bahwa bungkus dari teh celup yang berupa kertas putih kurang menyehatkan. Ada semacam zat apa gitu, aku lupa. Jadi, aku nyelupin tehnya cukup bentar, ngga lebih dari tiga detik. Terpenting airnya panas supaya teh mudah larut. Ya, kaaan?
Ini salah satu oleh-oleh yang kudapat setelah dua jam keliling Perkebunan Teh Tambi yang luasnya kurang lebih 2 hektare.
Tea walk di perkebunan Teh Tambi lebih asyik dan menarik jika dilakukan di bawah jam 10.00 WIB. Selain karena terik matahari yang kadang begitu menantang, pengunjung dapat berkomunikasi dengan Ibu-ibu pemetik teh. Jadwal mereka petik teh itu mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Setelahnya, istirahat. Kemudian dilanjut lagi siang hari habis dzuhur.
Melihat, sekaligus belajar memetik teh baik secara manual, menggunakan gunting, maupun mesin, langsung dari para Ibu-ibu tangguh. Ini yang aku idamkan. Ngrecokin para pemetik Teh ngga apa-apa, lho. Asal ngga kelamaan, soalnya mereka punya tarjet memetik teh tiap harinya. 😉
Perkebunan teh yang terletak di lereng sebelah barat daya Gunung Sindoro memang menyediakan paket wisata tea walk. Kamu ngga harus menyambangi seluruh hamparan pohon teh yang terbagi menjadi tiga area. Ada pilihan rute yang ditawarkan: rute pendek (1-2 km), rute menengah (2-3 km), dan rute jauh (3-9 km).
Mengambil rute terpendek, yaitu dari pintu masuk yang terletak di samping kanan front office Tambi, sampai pintu keluar yang cukup dekat dengan Pabrik Teh Tambi, sudah cukup mengeluarkan banyak energi. Apalagi, sambil mendengarkan penjelasan dari Pak Puji tentang dunia dalam sepucuk teh yang ternyata ada banyak cerita yang pada akhirnya menambah pengetahuan seputar perjalanan daun teh sampai teh tersebut siap saji.
Famtrip bareng Blogger dan Dinpar Jateng…
“Jalannya pelan-pelan, ya.” Pak Puji seperti menuntun langkahku bersama teman-teman blogger yang mengikuti famtrip. Memang, hujan sempat mengguyur Tambi semalaman, namun jalan ngga begitu licin. Kami pun bebas berjalan tanpa takut terpleset. Tapi tetap sih, hati-hati itu perlu.
Melihat hamparan perkebunan teh yang begitu rapih, rasa-rasanya ingin segera pepotoan. Menghabiskan baterai kamera, atau menghabiskan space memory card. Hihihi. Sayangnya, tea walk di Tambi tuh betul-betul terarah. Ada saatnya jalan-jalan sambil narsis, menyapa para pemetik daun teh, ada juga sesi serius seperti sedang menimba ilmu di bangku sekolah.
Sebelum menyapa Ibu-ibu yang tengah sibuk dengan peralatan petik teh, kami diajak Pak Puji ke bagian tengah perkebunan. Kami santai sejenak sembari melihat, dan menyentuh dedaunan teh segar.
Berdiri di antara pepohonan teh ternyata dapat menambah energi. Masih dalam bentuk daun saja sudah menyegarkan, ya. Pantas saja, tubuh pun menjadi lebih segar ketika menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari.
“Tiga pucuk ter atas adalah daun teh terbaik. Pucuk Peko, namanya.”
Di sini, Pak Puji mulai berbagi pengetahuan sekaligus praktik cara memetik teh dengan benar. Kali ini, Pak Puji mengambil sampel pucuk peko. Bahwa tiga daun ter atas atau ujung pucuk daun dengan kuncup tunas aktif yang berbentuk runcing adalah pucuk peko yang nantinya akan menghasilkan teh berkualitas baik.
Pucuk Peko, nih. . .
Kenapa pucuk peko berkualitas baik? Karena di dalam pucuk peko mengandung banyak senyawa katekin yang belum mengalami degradasi. Pucuk Peko akan mengalami dormansi setelah menghasilkan 4-7 pucuk. Makanya, saat menjumpai Pucuk Peko, para pemetik akan lebih berhati-hati memetiknya supaya dapat tumbuh lagi dengan cepat.
Ini oleh-oleh kedua. Bahwa pucuk teh yang bagus itu yang runcing. Terlihat jelas, bahwa yang masih runcing itu daunnya masih muda banget. Jika diolah, hasilnya pun ngga pekat. Bening, tapi tetap lah mengarah pada beningnya teh, bukat nening putih. Hihihi. Dan ini lah teh yang bagus, dan memiliki harga jual lebih tinggi ketimbang jenis daun teh lainnya.
Famtrip bareng Mbakyu Blogger Wonosobo…
Selain Pucuk Peko yang mempunyai kualitas teh bagus, ada juga pucuk teh yang menghasilkan kualitas buruk. Yaitu Pucuk Burung. Untuk mendapat sampelnya, Pak Puji mengajak kami ke area atas. Ini oleh-oleh ketiga.
Pucuk burung adalah tunas tidak aktif yang berbentuk titik yang terletak pada ujung pucuk. Pada periode ini pucuk in-aktif mereduksi atau memperlambat pertumbuhan.
Pucuk burung sering terbentuk jika pemupukan tanaman kurang dan ketersediaan air yang kurang. Kalau tidak segera ditangani, bisa-bisa cepat diremajakan.
Memangnya ada peremajaan pada pohon teh, gitu?
Usianya sudah ratusan tahun. . .
Adaaaa banget! Peremajaan pohon teh dilakukan secara berkala. Pohon yang usianya puluhan tahun, atau puluhan tahun, bila dirasa sudah tidak produktif, maka segera dilakukan peremajaan.
Sebelum sampai peremajaan, ternyata ada aktifitas unik yang dilakukan oleh para karyawan perkebunan Teh Tambi. Adalah membersihkan lumut yang menempel pada batang pohon teh. Membersihkannya tanpa menggunakan porselen lho, ya. Hahaha. Cukup mengerok menggunakan alat khusus sampai si ijo lumut habis. Kegiatan ini juga dilakukan secara berkala, tiap empat tahun sekali.
Pakai gunting petik daun Teh…
Btw nih, ya. Dalam pemilihan teh, aku lebih suka teh dengan warna hitam pekat. Rasa-rasanya lebih mantap. Tapi oleh-oleh terakhir yang kudapat dari Pak Puji, makin pekat warna teh, berarti kulitasnya ngga semakin bagus. Justeru sebaliknya. Dan itu sudah aku buktikan saat kunjungan Pabrik Teh Tambi.
Saat filterisasi -semoga bahasanya betul-, daun teh akan memilih muara sendiri-sendiri. Berjalan di atas mesin, lalu masing-masing daun akan terpisah sesuai kualitasnya. Dan daun teh dengan kualitas yang kurang bagus rata-rata daunnya ngga muda. Makanya, jika diolah akan menghasilkan warna yang pekat. 🙂
Semenjak tahu kenyataan tersebut, aku dapat menerima teh yang yang ngga begitu pekat. Sudah ngga pernah beli teh corbang, teh yang saat dicor langsung abang (begitu dituang, langsung merah pekat).
Nah, supaya secangkir teh yang tiap hari diseduh memberi manfaat bagi tubuh:
Hindari minum teh dicampur dengan Es, atau yang lazim disebut Es Teh. Kalau udah seperti ini, teh sama sekali ngga ada manfaatnya bagi tubuh.
Campur dengan gula secukupnya. Ini dapat menambah tenaga, dan ngga menambah kada gula dalam darah.
Teguk lah saat teh masih dalam keadaan hangat agar tubuh mendapat reaksi. Karena teh hangat memang dipercaya dapat mengjangatkan tubuh.
Jangan diminum jika sudah lebih dari satu jam, atau sudah dalam keadaan dingin karena teh ngga akan memberi manfaat apapun. Teh sudah tergolong basi jika sudah dingin.
Sama Kecemut pas masih di dalam perut. . . 😛
Selain aktivitas tea walk, Tambi juga menawarkan paket outbound, tour Dieng, paket arung jeram, dll. Ada juga penginapan yang cukup recommended. Penginapan di Tambi ini semacam homestay, satu rumah bisa digunakan untuk beberapa orang. Cocok banget untuk wisata keluarga.;)
Makasih buat Mbakyu Blogger, dan juga Dinpar Jateng yang udah ngajakin jalan-jalan ke Perkebunan teh Tambi. Udah ngajak nginep di penginapan Tambi yang masih satu lokasi dengan Perkebunan Teh Tambi, dan juga jalan-jalam di Pabrik Teh Tambi. Makasih untuk pengalaman yang penuh manfaat, Pak Puji. 🙂
PT. Perkebunan Teh Tambi
Alamat: Desa Tambi, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo
Reservasi: (0286) 321077, 081 548 564 988
Tiga laki-laki duduk berjejer di sebelah kananku. Mas Nur, Mas Uje, dan Mas Castro, mereka adalah teman baikku yang kini makin asyik dengan pekerjaannya sebagai Jurnalis.
Tak ada hujan, apalagi pelangi, mereka tiba-tiba datang ke tempat kerjaku saat jam istirahat tiba. Artinya, aku harus prihatin dulu. Ngga kulineran sejenak. 😉
Ah…tak mengapa, karena saat itu belum ada rencana mau hunting kuliner apa, dan dimana. Tau sendiri, segala apa yang sudah direncanakan, dan ngga terlaksana, biasanya bikin batin perih. Apalagi kalau menyangkut kebahagiaan perut. Hayati bakal guling-guling tak berkesudahan. 😀
Bercerita, ngobrol asyik ngetan ngulon, ujung-ujungnya yang dibahas adalah kuliner. 😆 Ini memang pada doyan makan, ya. Alhamdulillaah dong, masih semangat makan tandanya sehat. 😉 Cuma bedanya, aku doyan makan, lalu dipamerin hasil buruan kuliner di media sosial, dan juga blog. Sementara mereka, ngga begitu doyan makan tapi hampir tiap hari mencari informasi kuliner untuk dijadikan bahan tulisan di koran. 😆 😆 Jadi, ngobrolnya memang punya tujuan, ya. Bermanfaat, ngga gosipin pilkada muluu. Wkwkwk
Disela-sela obrolan…
“Kamu masih setia pakai Smartphone ASUS untuk motret, Dah?” Tanya Mas Nur dengan ekspresi wajah tengil setengah meledek.
~Perjalanan ke Boyolali dan Soto Sedeep~ . Ada alasan-alasan pasti untuk kembali singgah ke Soto Sedeep. Yang pasti menu, rasa, harga, dan fasilitas umum menjadikan rumah makan ini salah satu langganan saat menuju timur , atau kembali ke barat lewat Jl. Jambu. . ? Soto Ayam Kampung ? Rp 9.500 per porsi ? Jl. Magelang Km. 5-Jl. Raya Jambu-Ambarawa . #RumahMakan #SotoSedeep #SotoGurih #KulinerSoto #SotoWAR #KulinerAmbarawa #Culinary #Icip2Cerdas #IdahnJajan
A post shared by Idah (@idahceris) on
“Oooooo tentuuuuuuuu…” Jawabku tanpa ragu. Beuuh…mentang-mentang kameranya level sepuluh *emangmakicih*, dia selalu saja punya cara untuk meledekku. Maaph bangeeeet, aku sudah terlanjur nyaman motret pakai smartphone ASUS baik saat piknik, maupun wisata kuliner. Aku lebih mengandalkan kamera smartphone.
“Ooo…ternyata pakai smartphone ASUS. Bening juga hasil jepretannya, ya. Kirain pakai kamera model gini.“ Tambah Mas Castro sembari menyodorkan kamera SLR yang nyaris tak pernah lepas dari lehernya. Berasa kalung seberat satu kilo ya, Mas. 😛
Hari gini mau kulineran harus membawa kamera gede, gitu? Kelamaan. Iyaa kelamaan, soalnya aku belum punya. Hahaha. Lagipula, jepret kuliner pakai smartphone hasilnya ngga kalah bagus dengan kamera SLR, kok. Apalagi kalau smartphonenya ASUS ZenFoneseries. Kulineran terasa lengkap. Selesai jepret, tinggal nyalain paket data selular, langsung unggah makanan di Instagram.
Share hasilfoto kulinerdisertai caption yang informatif. Ini aku banget, deh. Coba follow instagramku @idahceris. Asli, itu hobiku banget. *promoterselubung* Hihihi
Saat melihat satu persatu hasil jepret kuliner di akun instagramku, Mas Uje pun mengomentarinya. Menurutnya, ada beberapa foto yang angle-nya kurang greget. Duuh, mana kupaham tentang angle, ya. Seketika, aku pun ingin belajar angle-angle syalalala kepada para Jurnalis itu. Qiqiqi
Belum mulai minta diajarin angle, mereka ingin melihat hasil jepretan kuliner secara langsung di smartphone ASUS. Woyoooooh! Yaudah, aku kasih lihat hasil jepretan kuliner menggunakan ASUS ZenFone 6 dengan menginformasikan mode-mode yang kupakai untuk motret kuliner.
Dari total 18 mode pada settingan kamera belakang ASUS ZenFone, aku lebih sering mengandalkan tiga mode ini untuk foto kuliner.
Mode Auto
Ini andalan banget. Mode yang kerap kupakai untuk foto kuliner. Tinggal jepret tanpa perlu nahan napas berdetik-detik, hasil sudah cukup bagus. Sekali kedip, hasilnya langsung dapat diunggah di sosial media, atau blog. Mudah banget, ya.
Pempek, kuliner khas Palembang favorit banget. . .
Kelebihan Mode Auto, pengguna tidak perlu mengatur pencahayaan, fokus, dan lain sebagainya karena semua pengaturan sudah dilakukan secara otomatis oleh kamera smartphone ASUS ZenFone.
Btw, potret di atas adalah Pempek, kuliner khas Palembang yang kini bisa juga dinikmati di Banjarnegara. Inu Pempek paling hits se Banjarnegara, lho. Memang, rasa tengiri kurang nampol, tapi gurihnya Pempek bikin aku kerap balik ke gerobak Mbah Badari. Hihihi
Mode Miniature
Mode Miniature dengan bentuk fokus memanjang…
Ini mode andalan kedua. Jika ada beberapa objek di meja, dan aku hanya ingin fokus pada kulinernya saja, aku cukup menggunakan Mode Miniature. Pengguna bisa dengan mudah mengatur luas area objek kuliner yang akan dibuat fokus. Coba perhatikan titik garis yang ada pada layar kamera.
Ada dua model fokus yang disediakan yaitu bentuk lingkaran dan bentuk memanjang. Keduanya bisa digeser menyesuaikan objek yang akan difokuskan. Selain fokus objek, terdapat juga pengaturan untuk ketajaman objek, dan pencahayaan.
Mie Aceh ada di Banjarnegara! 🙂
Omong-omong, mode miniature ini kerap bikin aku bahagia karena hasil jepretan dengan mode ini, tuh, seakan-akan udah jago jepret foto kuliner. Padahal cukup gonta-ganti mode saja. 😀
FYI, ini kuliner Nusantara khas Aceh. Mie Aceh, namanya. Dulu, pertama makan Mie Aceh tuh di Tebet. Mie Aceh Jali-Jali. Sekarang kalau lidah kangen Mie Aceh, cukup mampir ke warung Bang Alba yang standby di depan Masjid Agung An-Nur Banjarnegara.
Mode Depth Of Field
Waainiii…Mode Depth Of Field (DOF) kamera smartphone ASUS ZenFone yang nyenengin. Tanpa pengaturan rumit, pengguna bisa menciptakan efek latar belakang blur.
Perlu nahan napah kalau pakai mode ini. . .wkwkwk
Yang perlu diperhatikan ketika menggunakan mode ini, saat memotret sedapat mungkin tenang, karena kamera akan mengambil gambar sebanyak dua kali jepretan. Kenapa dua kali? Karena cara kerjanya juga dua kali. Jepretan pertama yaitu untuk menangkap objek dengan fokus, dan jepretan kedua untuk membuat latar belakang blur.
A post shared by Idah (@idahceris) on
Selain tenang, selama proses pemotretan, usahakan tangan jangan bergerak, tetap stabil agar hasil foto maksimal. Jika Mode Auto tetap bisa berjalan tanpa menahan napas, maka pada mode aku kerap menahan napas beberapa detik sampai kamera kembali pada posisi semula alias standby. Ngga lama kok, hanya 3-4 detik.
Kenapa harus menyematkan foto saat promosi kuliner?
Jawabannya simpel banget! Karena pastinya akan terasa hambar, kurang informatif, jika mengunggah informasi kuliner tanpa ada visualisasi. Kurang greget, dan kurang meyakinkan juga, kan.
Kalian mau ngomong Mie Aceh Bang Alba enak banget, tapi ngga memperlihatkan foto kulinernya, yang lihat ngga bisa turut menikmati, dong. 😛 Lagipula ASUS sudah mendesain smartphone canggih, kenapa ngga memanfaatkannya?
Selain itu, sekarang kuliner Nusantara dapat dijumpai hampir di tiap kota. Di Banjarnegara, misalnya. Cukup banyak kuliner khas Nusantara bertebaran di kota kelahiranku ini. Tapi, belum banyak orang tahu tempat atau lokasi yang menjual kuliner enak, baik kuliner khas Banjarnegara, maupun khas Nusantara. Padahal, sekarang makin beragam kuliner di sini, lho. Asli.
Nah, dengan menyematkan atau mengupload foto, baik di akun media sosial, blog, atau media online lainnya, kuliner khas Nusantara bisa lebih dikenal banyak orang. Ini salah satu cara mudah memperkenalkan kuliner Nusantara lewat dunia online.
Gimana? Ternyata semudah ini mempromosikan kuliner Nusantara, ya. Semudah ini juga cara pamer, sekaligus memperkenalkan kuliner ke khalayak followers khususnya, dan pengguna internet umumnya.
Kalau kuliner Nusantara makin banyak dikenal orang, turut bangga, kan? Apalagi ngehitsnya sampai kancah dunia. Uwwwh…;)
Lalu, kenapa pakai ASUS ZenFone Series?
Jawabannya juga gampang banget! Karena mode kamera pada ASUS ZenFone ngga bikin ribet pengguna. By the way, ASUS menyematkan teknologi yang sama di semua seri Zenfone, yaitu ASUS PixelMaster Camera.
PixelMaster adalah sebentuk teknologi yang dikembangkan ASUS untuk kamera smartphone dengan menggabungkan tiga unsur, yakni software, hardware, dan desain lensa. Nah, karena teknologi ini lah hasil foto dan video yang diambil menggunakan smartphone ASUS bisa dibilang memuaskan. Ngga pandang siang, maupun malam.
DELAPAN BELAS Mode Kamera milik ASUS ZenFone. KECEEE!
Selain tiga mode yang sudah kutulis di atas, 15 mode lainnya juga sering kupakai. Wefie bersama keluarga, dan atau teman, misalnya. Tentu hasilnya makcling banget dengan mode kamera beautification, dong. Mode lain juga bersahabat banget jika digunakan pas piknik. Buat pepotoan objek wisata dengan mode panorama juga cantik banget karena dapat menghasilkan foto seluas 360 derajat. *njerit*
Motret pas malam hari juga hasilnya tetap bagus dengan mode night dan low light. Pokokya, ngga bakal bingung motret kalau pakai kamera smartphone ASUS.
Ternyata promosi kuliner itu gampang banget, ya!
Betuuullll. Cukup berbekal smartphone yang mumpuni seperti ASUS ZenFone dan Internet, promosi kuliner makin mudah. Mengenalkan kuliner Nusantara lewat media online semudah minta uang kepada suami. 😛 Iyaaa kan, Ayaah? Awal bulan, lho. 😆 😆
Sate Gombong di Banjarnegara pake mode Depth Of Field. Ngeblur bekgrooon. . .
Btw, apakah aku juga cuap-cuap sepanjang ini di depan para Jurnalis? Kagak laaah! Bisa-bisa aku ngga makan siang, ngga kulineran. 😀 Aku ngasih tahu hasil foto-fotonya, sama penggunaan mode yang pas. Kalau tulisan panjang ini ya buat bacaan kalian yang mau pada baca. Hahaha. 😛 😛
Makasih atas sharingnya, Mas Castro, Mas Uje, dan Mas Nur. Kapan-kapan, hunting kulinerbareng seru kalik, ya. Sambil belajar jepret kuliner dengan angel syalala, gitu. 🙂
Artikel ini diikutsertakan pada Blogging Competition Jepret Kuliner Nusantara dengan Smartphone yang diselenggarakan oleh Gandjel Rel
“Bahagia dan susah. Kadang, mereka diciptakan untuk selalu berdekatan, berdampingan. Supaya kita tetap ingat kepada Sang Pencipta.” Tante mencoba menguatkan, saat Om sedang merasa terpuruk kala itu. Aku yang saat itu berada di samping mereka, turut mengambil hikmahnya.
Kenyataannya, tiap manusia pernah mengalami masa bahagia dan susah. Pun denganku. Susah dan bahagia pernah kualami secara bersamaan. Tepatnya saat usia Jasmine menuju delapan bulan dalam kandungan, dan setelah lahir.
Namanya perempuan sedang hamil, ya. Pasti merasa bahagia karena tak lama lagi akan menjadi seorang Ibu. Tapi saat itu juga, aku merasa susah. Bisa dibilang, kondisi mentalku cukup buruk. Ini karena penyakit hipertensi menghampiri Ibuku kala itu.
Sedang hamil besar, Ibuku, calon Embah dari bakal anakku, dirawat beberapa hari di RSUD. Gimana rasanya, coba? Nyaris tidak bersemangat hidup. Sedahsyat itukah? Iya, karena perempuan yang telah melahirkanku itu begitu istimewa bagiku. Meski tidak bisa full,aku berusaha menemani Ibu sampai waktunya istirahat malam, kira-kira jam 19.00 WIB. Cukup mengobati rasa rindu.
Kejadian sama kembali terulang saat Jasmine udah lahir, dan lagi-lagi saat usianya menjelang delapan bulan. Ternyata keadaanku jauh lebih buruk dari sebelumnya. Aku yang dulu masih bisa menemani, merawat Ibu, kali ini aku tidak bisa berada di sampingnya sewaktu-waktu. Bukan tanpa alasan tentunya. Di rumah ada Jasmine yang membutuhkan kehadiranku tiap hari. Ada suami, keluarga, yang tiap hari butuh makanan, dan segala hal untuk keperluan sehari-hari. Beruntung, Bapak, adik, beserta suami bisa menjaga Ibu secara bergilir.
Aku bersyukur karena Tuhan memberiku kesehatan terus menerus meski volume pekerjaan kantor dan rumah terus bertambah. Tapi di sisi lain, aku merasa susah karena daya tahan tubuh suami sempat drop. Mungkin karena kelelahan.
Sebenarnya sistem imun suamiku, tuh, terbilang kuat. Tapi, karena selama tujuh hari full ikut jagain Ibu, disuruh pakai masker selama di RS tidak mau, makan dan tidur tidak teratur, akhirnya dia pun ikut tumbang. Fufufu
Sebelum jatuh sakit, tiap habis sarapan, dia aktif konsumsi Stimuno Forte. Menurutnya, ini termasuk salah satu cara menjaga kesehatan tubuh. Semisal sampai lupa, dia bisa minum Stimuno lempengan yang tak pernah absen nongkrong di dompetnya. Mengkonsumsinya pun bisa kapan saja, asal sudah makan. Tapi, saat mulai tidak sehat, suamk konsumsi Stimuno Forte tiga kali sehari untuk membantu mempercepat proses penyembuhan.
Kenapa Stimuno Forte?
Pertama, karena satu-satunya imunomodulator yang memperoleh sertifikasi Fitofarmaka, sebentuk standar tertinggi yang diberikan oleh BPOM untuk produk herbal yang sudah memenuhi standar proses dan kualitas sesuai dengan masyarat dari BPOM. Informasi ini kudapat di http://www.serbaherba.com/daya-tahan.
Kedua, karena bentuknya kapsul. Baik aku maupun suami, lebih memilih suplemen dalam bentuk kapsul karena mudah ditelan. Tidak terasa pahit.
Ketiga, karena herbal. Terbuat dari ekstrak tanaman meniran (Phyllanthus niruri) yang sudahteruji klinis dan aman digunakan secara rutin dalam jangka panjang, jika dikonsunsi sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
Keempat, karena bekerja langsung memperbaiki sistem imun dengan memperbanyak produksi produksi antibodi.
Omong-omong, Stimuno Forte ini bisa dikonsumsi untuk anak mulai usia 12 tahun dengan dosis yang dianjurkan 3×1 kapsul. Stimuno Forte belum bisa diminum oleh wanita hamil dan menyusui. Stimuno belum mengeluarkan produknya yang aman bagi wanita hamil dan menyusui.
Dengan bekal empat alasan di atas, suami udah yakin minum Stimuno setiap hari untuk memperkuat dan memperbaiki daya tahan tubuhnya. Jadi, tetap stay calm meski berada di lingkungan orang yang sakit, ya. Udah ada Stimuno Forte, lho.
Kemarin aku baru posting tentang #AlasanGantiBaru. Ada satu barang yang kupunya, dan kondisinya sudah memprihatinkan. Kalian bisa baca cerita lengkapnya di alasanku ingin ganti yang baru, ya.
Ganti Notebook belum terlaksana, tapi ini udah merencanakan beli gadget lagi. Ya apa susahnya bikin daftar kebutuhan atau keinginan, sih, ya. Orang tinggal nulis aja. Hihihi. Apalagi, ini Tahun Ayam. Pas banget kalau banyak “berkokok”. Biar hidup makin sehat, dan semangat. 😀
Gadget yang rencananya akan kami beli yaitu Tablet. Ini kebutuhan suami banget yang rajin streaming film malam hari. Bisa dibilang udah menjadi hobi, nih. Betah banget kalau udah streaming film. Beeeuh…
“Istriku yang manis-manis ngangenin, pinjam ponselmu, dong. Buat streaming film. Kan layarnya cukup lebar. Mantap.”
Ini, nih, yang membuatku “berkokok”. Mau dipinjami, kadang lagi asyik chat. Ngga mau dipinjami, kasihan. Hahaha. Makanya, aku nyaranin ke Suami buat beli Tablet.
Nah, kalau udah punya Tablet sendiri, kan dia bisa nonton film dengan nyaman, tanpa mengganggu dan diganggu siapapun. 😀
Karena Tabletnya mau dipakai buat streaming film, akupun merekomendasikan tablet-tablet ini:
Lenovo Tipe A7-50 A3500
Tablet yang aku rekomendasikan pertama adalah merek Lenovo dengan tipe A7-50 A3500. Tablet ini didukung dengan teknologi IPS pada layar dengan resolusi cukup tinggi sebesar 1280×800 Pixel. Lumayan lah, ya.
Jaringan yang digunakan 3G dengan kapasitas memori ada 2 pilihan yaitu 8 dan 16 GB. RAM dengan ukuran 1 GB ditambah prosesor dari MediaTek 8382. Ukuran kamera belakang 5 MP dan untuk kamera depan sebesar 2 MP, tablet ini dijual dengan harga sekitar 1,8 juta rupiah. Cukup terjangkau, nih.
Asus Tipe Memo Pad 7
Tablet kedua yang aku rekomendasikan untuk streaming film adalah Asus dengan tipe Memo Pad 7. Tablet ini memiliki banyak kelebihan, yang pertama adalah sudah menggunakan jaringan 4G LTE dengan resulosi yang baik. Ini termasuk mumpuni untuk streaming film. Apalagi dengan adanya speaker stereo. Makin nyaman. Tablet ini harganya 3 jutaan. Duuuh…cukup mahal ya, Yah. Hahaha
Lenovo Tab 2 Tipe A7-10
Tablet berikutnya yang bisa menjadi pilihan yaitu merek Lenovo Tab tipe A7-10 yang terbukti murah karena harganya hanya berkisar 800 ribuan saja. Pas aku merekomendasikan ini, suamiku langsung ngepoin. Berbekal informasi harga di bawah 1 Juta. Wkwkwkw
Sekalipun murah, tablet ini tetap memiliki spesifikasi yang mumpuni mulai dari RAM sebesar 1 GB, prosesor MT8127, CPU quad core. Kira-kira, cukup dengan ini ngg? Hahaha.
Asus Tipe Fonepad 7
Dari Brand Asus lagih, nih. Selain Memo Pad 7, masih ada lagi tablet Asus yang mempunyai spesifikasi hebat yaitu Fonepad 7.
Keunggulan utama dari tablet yang satu ini adalah jaringannya sudah 4G LTE. Selain itu, ditambah dengan RAM sebesar 1GB, prosesor Intel Z2560, dan kamera utama 5 MP. Dengan spesifikasi tersebut, tablet Asus ini dijual dengan harga 1,7 juta rupiah. Yang ini cukup menarik.
LG Pad Tipe V410
Merek terakhir yang aku rekomendasikan yaitu merek LG Pad tipe V410 yang memiliki desain comfortable.
Banyak keunggulan pada tablet ini mulai dari prosesor Snapdragon Qualcomm, jaringan sudah 4G LTE, kamera utama 5 MP, dan kapasitas baterai yang besar.
Mumpuni banget buat streaming, nih. Jadi jangan heran jika tablet LG ini dijual dengan harga 3 juta rupiah. Qiqiqi.
Aku nyari Tablet di atas cukup lewat online di MatahariMall.com, Toko Online aman dan terpercaya. Koleksi Tabletnya makin banyak. Penyajian informasinya juga makin detail.
Kalian punya rekomendasi Tablet yang nyaman buat streaming film? Kasih info sini, Gan! 😆
Tahun baru, haruskah ganti yang baru? Mengapa tidak, ya. Kalau memang ada yang perlu diganti, selagi ada anggaran, dan memang kebutuhan, bagiku ngga masalah. #SokSugih
Tapi sebelum mengganti dengan yang baru, biasanya harus ada alasan-alasan kuat sebagai bahan pertimbangan. Ya tahu sendirilah, karena ujung-ujungnya pasti berhubungan dengan dana, duuuuiiiiit. Hihihi.
Kurang lebih enam bulan, Notebook yang biasa kupakai kerja di kantor dalam keadaan mencemaskan. Bunyi beep tiada henti kerap terjadi saat aku akan menyalakannya. Semisal sedang selow, aku membiarkan Notebook “sembuh” dengan sendirinya. Sebaliknya, kalau lagi gugup, notebook kumatikan paksa. Tak lama kemudian berulah berhasil masuk Windows.
Untuk menunggu bunyi beep berhenti, membutuhkan waktu agak lama. Makanya, aku kurang sabar. Belum lagi, bunyinya melengkiiiiiing bangeeet, kasihan telinga para rekan kerja, kan. Bisa jadi, mood kerja mereka hilang hanya gara-gara beep beep. Qiqiqi
Bunyi beep tanpa jeda adalah pertanda bahwa harddisk sudah tidak normal. #AlasanGantiBaru. Ya…meski sebenarnya bisa cukup dengan hanya ganti harddisk, sih. Tapi, pengadaan harddisk, tuh, nanggung. Apalagi hanya satu biji. Wkwkwk. #AlasanKuatGantiBaru
Selama enam bulan, aku bertahan dengan notebook yang kadang bikin was was itu. Alhamdulilaah, selama itu notebook masih bisa diajak kerjasama, masih mampu di bawa keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan. Luar biasa!
Tapiiiiiii, saat awal tahun tiba, rasa-rasanya aku ngga bisa mempertahankan notebook itu untuk tetap bekerja denganku. Apalagi sampai memaksakan notebook andalanku untuk kerja lebih keras (lagi). Rasa-rasanya, ngga tega. Takut ngamuk, kemudian meledak. Hahaha. #IniLebay.
Belum lagi, kegiatan di luar kantor terus bertambah. Gimana kalau tiba-tiba harddisk tidak berfungsi sama sekali? Mati total. Sementara, data-data di dalamnya belum aku amankan. Beeeuh…ini masih di dunia ya, Sist. 😀 #SokPuyeng
Pengadaan atau belanja barang semacam notebook di instansi, tuh, ngga mudah. Harus membuat daftar rencana kebutuhan, pengajuan anggaran kepada negara, dan masih banyak step by step yang harus dilalui untuk mendapat barang sesuai kebutuhan.
Beruntung, di semester dua tahun lalu, satker menerima bantuan dua notebook khusus untuk Dua operator aplikasi aset negara. Duilee…aku, sang Operator, bahagia banget. Asli. Operator lagi ketiban durian montong, nih. MARI JOGED! 😀
Untuk kenyamanan BERSAMA, awal tahun, aku langsung mengajukan pengadaan harddisk eksternal dengan kapasitas Satu Tera. Emmh…sudah diberi notebook dengan spesifikasi yang mentereng gonjreng, masih juga minta lebih, ya. Duileee…ini namanya ngelonjak, bukan? 😛
Ampuun deh…kalian kira harddisknya buat pribadi, gitu? Senang amaaat. Qiqiqi. Harddisk yang kupesan, rencananya akan aku gunakan untuk memindahseluruh data yang ada di notebook lama supaya cepat ngebackupnya. Yakali, data dengan size ratusan giga, mau dicopy pelan-pelan lewat flash disk, ya. Pegal, dong. #AlasanGantiBaru
Hal serupa terjadi dengan notebook yang selama ini menemaniku berkarya, ngeblog. #CryMaksimal. Belum lama, sih. Mungkin baru dua bulan notebook kesayanganku ngebeep beep.
Rasanya lebih was was lagi saat mendengar suara beep dari notebook pribadi. Lebih sedih lagi, lebih bikin lemas lagi, dan lebih bingung lagi. Data-data, sih, bisa diamankan dengan nebeng harddisk kantor, ya. #EhCurang. Tapi ya gitu, lebih bingung karena ujung-ujungnya duiiiit. Wkwkwk
Semenjak ada Kecemut, aku sudah jarang buka notebook di rumah. Tapi, kupikir notebook ini barang penting banget. Apalagi kalau menyangkut hobi dan profesiku sebagai Blogger. Bakal sering nabok suami pastinya laaah. #IsteriKDRT
Sesuai dengan rencana anggaran, kami sudah merencanakan untuk membeli notebook bulan Mei atau Juni. #IniIkutInstansiBanget. Wkwkwk. Ngga hanya instansi saja yang butuh proses, kami pun butuh menabung, mencari referensi harga notebook murah dengan spesifikasi mentereng. Syukur-syukur, duit yang terkumpu bisa dapat yang seperti punya kantor. Hihihi. #BerharapLebihBaik.
Omong-omong, kalian punya rencana ganti baru? Di atas, tuh, alasan ganti baru versiku, mana versimu? Share, yuk!
Gimana kalau BuIbu yang tiap hari langganan masakan catering, tiba-tiba suami atau anak minta dimasakin sesuai keinginan mereka? Kalau suami yang minta, sih, bisa kubelokkan ke ranjang. Nah ini, kalau nantinya Jasmine sudah mulai minta dibikinin makanan, atau camilan, sepertinya susah untuk menolak. 😀
Yakali…anak minta dibuatin makanan pasti ngga setiap hari. Apalagi kalau sudah kenal sama cikimiki, rotaro, toscito, yang bumbunya saja bikin nagih, gurihnya tak tertandingi. Bisa jadi akan berbalik, orang tua gigih menawarkan camilan homemade dengan dalih pingin anaknya makan makanan yang higienis. Qiqiqi
“Jasmine pingin Fuyunghai, tapi Ibu yang buat. Bukan koki Dapoer Central.” Entah mengetest Ibunya, atau memang ingin dimasakin. 😛 Ketika anak minta dimasakin makanan yang tak biasa, pusing, ngga?
Ya ngga laaah, ya! Sorry, sekarang kan udah zamannya #okegoogle, ngapain sampai pusiang hanya karena ngga tahu cara buat Fuyunghai. Hanya bakwan gedee, gituuu? Keciiiil! Ngga usah sampai terlihat bingung, apalagi gemetar di depan anak karena minta dibuatin camilan atau makanan favoritnya. Manfaatkan internet, tanya ke google atau langsung cari situs resep masakan lengkap. Syukur-syukur situsnya bisa digunakan sebagai acuan tiap hari. Sebagai rujukan.
Omong-omong, situs website yang bagus biasanya akan menjadi rujukan para pembacanya. Ya…meski kriteria bagus itu beragam, tapi setidaknya mudah dipahami dan simpel. Seperti situs website yang menyajikan informasi resep makanan. Untuk rujukan resep makanan, aku memilih website Resepkoki.co.
Foto kiriman CERIS Family (@cerisfamily) pada
Resepkoki.co adalah situs kumpulan resep-resep masakan Indonesia dan dunia. Resep Koki ini mengedepankan resep masakan yang mudah dan praktis. Cocok banget buat remaja, BuIbu yang lagi senang-senangnya belajar masak. Buat yang ngga terlalu suka dengan penyedap rasa, resep-resep di Resep Koki ini pas banget menjadi rujukan karena mereka meminimalkan penggunana penyedap rasa. 😉
Kenapa Resep Koki?
Pertama, karena praktis.
Cukup pekerjaan kantor saja yang kadang susah dicari solusinya. Usahakan mencari resep makanan yang praktis. Baik dari segi bahan, maupun cara membuatnya. Di ResepKoki, resep-resep yang ada tuh serba praktis. Namun, hasilnya tidak kalah dengan menu masakan cateringan lah, ya. Bahan minimalis, hasil maksimal.
Yang praktis gini yang dicari…
Kedua, banyak variasi menu masakan dan camilan.
Di rumahku, lauk yang bernama Tahu, Tempe, hampir tiap hari ada di meja makan. Sejauh ini, sih, apa yang ada di meja makan, diambil. Apapun hasilnya. Tapi setelah melihat variasi menu masakan, lauk yang ada di Resep Koki, rasanya pingin berkerasi. Ya…meski bahan dasarnya masi seputar tahu, tempe, telor, daging, tapi kalau bentuknya makin menarik, kan, lebih enak dilihat. *eh*
Ketiga, ada menu untuk anak-anak.
Yeeees! Resep koki bakal menjadi rujukan banget. Secara, di websitenya tersedia kreasi menu masakan dan camilan untuk anak-anak. Resep kue, puding, misalnya. Beragam banget. Udah gitu, bahan yang dibutuhkan mudah dicari. Coba saja klik halaman resep untuk anak. Ada banyak pilihan menu makanan untuk si kecil.
Keempat, website Resep Koki “ramah”.
Ini paling penting. Tampilan website sebagus apapun, kalau tidak didukung dengan keramahan kasihan para pembaca dong, ya. Masuk ke situs Resep Koki, pembaca akan diberi pilihan untuk berlangganan resep. Ini bisa yes or no. Kalau ngerasa butuh referensi resep makanan, silakan yes!
Hal lain yang kusmaksud dengan ramah adalah tentang navigasi atau petunjuk bagaimana pembaca bisa dengan mudah mengakses website. Pembaca ngga merasa bingung mencari resep makanan di Resep Koki melalui menu search yang ada di pojok atas kanan, atau sidebar kanan.
Kelima, ikut nimbrung di Resep Koki!
Ini paling menyenangkan. Silakan langsung cus ke menu Kirim Resep di website Resep Koki. Ada kejutan di sana! Ini sepesial banget bagi kamu yang suka masak, menciptakan menu masakan baru, atau modifikasi menu. 😉
Yang lebih menyenangkan lagi nih, ya. Resep Koki punya Toko Online yang menjual alat-alat dapur & rumah tangga berkualitas dengan harga terjangkau. Resep Koki Shop, namanya. Perlatan yang ada di etalase, tuh, dari berbagai macam brand. Ini yang menjadi pertimbangan penting. Sebelum membelinya, bisa melihat peralatan lain yang sejenis, tapi beda brand. Membandingkan lah, ya.
Hal lain yang patut menjadi bahan pertimbangan, Resep Koki Shop kerap memberi diskon besar dan promo! Ampun deh, ya. Sumpah, ini godaan banget. Apalagi warna barangnya sebagian besar warna cerah, kan makin menggodaaaaa. Fufufufu.
Nyontek resep masakan di Resep Koki. Beli peralatan masak di Resep Koki Shop. Jodoh banget, ya. 😆 😀
Sebelum tahu tentang Kota Tua Jakarta, aku terlebih dahulu dikenalkan dengan sosok pangeran yang berhasil mengusir bangsa Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa. Adalah Pangeran Fatahillah.
Guru mata pelajaran IPS semasa MTs, Bu Kustantinah, beliaulah yang mengenalkan. Tidak, kami tidak berkenalan langsung dengan pangeran yang gagah berjambang itu, ya. Yaa…lu kira gue hidup sebelum Doraemon, gitu. 😀
Melalui sebentuk buku materi pegangan guru dan juga siswa, ada satu pembahasan yang menceritakan tentang Pengeran Fatahillah. Beruntung, pada salah satu halaman terdapat foto berukuran seperempat folio yang menampilkan wajah Pangeran Fatahillah. Cukup ada gambaran dan tidak menghayal terlalu dalam. 😀
Di buku tersebut, pembahasan tentang sosoknya tidak begitu detail. Aku cukup tahu, bahwa Pangeran Fatahillah adalah pemimpin tertinggi gabungan pasukan tiga kesultanan yaitu Demak, Cirebon dan Banten. Selanjutnya, ada Sunda Kelapa, Batavia dan Kota Tua Jakarta yang kini telah dimanfaatkan sebagai kawasan wisata juga menggerakan bolpoinku untuk sekadar mencatat harapan.
“Kota Tua Jakarta, besok aku ke sana.”
Iya, besok yang kumaksud itu entah kapan, waktu itu. Qiqiqi. Kalau ngebayangin zaman cupu-cupu gemas, bikin ketawa sendiri. Asli. Ya…seperti saat menulis postingan ini.
Kompleks ini ngangenin…
Dulu, aku membayangkan Kota Tua Jakarta tuh sereeeem. Namanya kota tua, pasti identik dengan bangunan kuno, tidak banyak penghuni, sepi, angker, pokoknya bayangan yang sama sekali tidak indah. Semisal tiba-tiba ramai suara hentakan kaki, mungkin Pangeran Fatahillah beserta prajuritnya sedang nostalgia. 😆 Khayalan macam apa ini, ya. 😛
Namun, bayangan itu sirna seketika saat aku sudah mulai sedikit lihai memainkan Google dan Portal Wisata. *okegoogle* *marimainkan* Bersama Sitti, Blogger di www.sittirasuna.com yang kini mulai sibuk nyari pasangan ganteng berkacamata, kami jalan-jalan ke kawasan wisata kota tua. Sebentuk kawasan yang sarat akan nilai sejarah.
Tempat pertama yang kami singgahi adalah Cafe Batavia.
Dindingnya rapih-rapih ramai, euy….
“Acara si Mister bertempat di Cafe Batavia. Aku belum pernah ke sana. Dengar-dengar sih bagus. Penasaran dalamnya.”
Si anak kota saja penasaran, tuh. Kembang desa pun ikut-ikutan penasaran lah, ya. Yaudah, menghadiri undangan sembari menikmati Cafe Batavia yang nyentrik artistik. Cafe ini nampak sederhana dari luar. Namun saat masuk Cafe, tuh, tiba-tiba adem ngelihat desain interior yang elegan.
Full bar yang berada di lantai dasar cukup ramai pengunjung. Ya, banyak orang di dalam, tapi suasana hening. Aku sih maklum, yang ngobrol kan orang dewasa, tidak perlu teriak-teriak yang penting pesan tersampaikan. 😉 Tapi suasana akan beda saat weekend karena ditemani alunan musik dari band lokal. Berlama-lama di Cafe Batavia tidak akan bosan, ya. Apalagi, didukung dengan pencahayaan lampu yang tidak terlalu terang, bikin saturday night di cafe ini makin nyaman.
Ini di Toilet, lho. . .
Nah, kalau di lantai dua, biasa dipakai buat acara, gitu. Kami terlalu narsis di sini. Tidak hanya kami, sih. Teman-teman lain yang ikut acara si Mister juga tak kalah narsis. Dari lorong timur yang viewnya kota tua banget, pemandangan kota tua dari atas yang oke banget, sampai dengan Toilet unik yang bikin kami keranjingan pepotoan di mari. Yaaa gimana lagi, tempatnya asyik, menarik, rapih, bersih pula.
Lalu, gimana dengan makanan Cafe Batavia?
Karena kedatangan kami dengan sebentuk undangan, makanan pun prasmanan, dong. Agak menyesal karena tidak mencicipi menu khas Cafe Batavia. Eh..Yah…Ayaah, ini kode buat kamu, ya. Kembali ke Kota Tua lagiiih!
Selesai acara si Mister, kami mulai keliling kawasan Kota Tua Jakarta. Tentunya pelataran Museum Fatahillah menjadi tempat pertama yang kami tuju.
Waaaini….Pelataran Museum Fatahillah!
Lapangan Fatahillah yang penuh sejarah ini sepertinya ramai dengan orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Apalagi kalau weekend. Hampir tidak ada interaksi dengan pengunjung lain karena -mugkin- ada yang lebih mengasyikan. Yaitu gadget. Tidak beda dengan kami yang juga sibuk dengan kamera. 😀
Di depan Museum Fatahillah atau Museum Kesejarahan Jakarta, banyak obyek yang menarik untuk difoto. Selain itu, obyeknya bisa juga dijadikan background yang Kota Tua banget! Lihatlah sepeda di atas. Kota Tua banget, kan? Sayangnya kami tidak mencoba untuk sewa sepeda, nih. Soalnya, malas mengayuh. Maunya mbonceng semua. 😀
Berjalan di sekitar museum ini ternyata membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Aku terlalu asyik melihat apa saja yang ada di pelataran museum sampai tidak sempat masuk museumnya kaena waktu berkunjung yang terbatas. 😛 Ehm…ini kode lagi lho, Yah. Kecemut pasti mau kalau diajak masuk ke Museum Fatahillah. Nanti, kita ngajak Sitti lagi buat nemenin jalan. 😀
Yang seperti ini juga menarik…
Jalan-jalan di Kota Tua Jakarta tidak hanya sampai di Cafe Batavia dan Kompleks Museum Fatahillah saja. Kami melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Kota Intan yang lokasinya masih di Kota Tua Jakarta. Btw, malam hari di jembatan ini asyik juga, lho. Kapan-kapan kuposting foto-fotonya di insstagramku, ya. 😀