Menyambangi Wisata Unggulan Dieng, Banjarnegara

Enam destinasi wisata Dieng Plateau mejeng cantik di Peta Wisata Jawa Tengah. Bersebelahan dengan destinasi unggulan Borobudur. Artinya, Dieng menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Tengah yang recommended. Menawarkan pesona alam, seni, budaya,  yang menarik dan tiada duanya. Keren banget, kan? *jawabkeren* *segelasdawetuntukmu*

Kompleks Candi Arjuna, Bukit Scotter, Kawah Sikidang, UD. Tri Sakti sebagai pusat Oleh-oleh Khas Dieng, Bukit Sikunir, dan Telaga Warna. Itulah enam destinasi yang terpampang di peta wisata Jateng.

Dari keenam destinasi, empat diantaranya adalah milik Banjarnegara. Ini yang membuatku bangga. Tepatnya, turut bangga karena secara administratif, keempat objek tersebut berada di tempat tinggalku, Banjarnegara. Duuh…gimana lagi, ya. Sudah terlanjur demen banget sama Banjarnegara. Apalagi, potensi wisatanya begitu banyak. Gue makin bangga, dong. 😆

Di hari ketiga Blogger Trip Plesir Maring Banjarnegara, kami diajak keliling KWDT (Kawasan Wisata Dataran Tinggi)  Dieng, Banjarnegara. Sekadar informasi, pada tiap postingan tentang Dieng, aku kerap menyertakan “Banjarnegara” di belakangnya karena KWDT Dieng terbagi menjadi dua kawasan, yaitu kawasan Banjarnegara dan Wonosobo. *catatyaks*

Jika tadi melihat Peta Wisata Jateng, kini aku tercengang saat membaca pamflet Pesona Alam Dieng yang dibagikan oleh Dinbudpar Banjarnegara. Pada pengantarnya tertulis prosentase KWDT Dieng yang ternyata 80% #PesonaDieng adalah milik Banjarnegara. Catet lagi, ya. DELAPAN PULUH persen, Sist! Sebelumnya, aku kira kisaran enam puluh prosen saja. 😛 Sementara sisanya, milik Kabupaten Wonosobo.

kompleks-candi-arjuna-dieng-banjarnegara
Mendung, tapi tetap anggun…

Sekarang aku akan mengajak kalian turut menyambangi Wisata Unggulan Dieng, Banjarnegara. Cukup meluangkan waktu sepuluh menit, kalian akan sampai objek wisata unggulan Dieng (dalam tulisan) berikut ini. 😛

Kompleks Candi Arjuna

Kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan kompleks Candi Arjuna. Ke Dieng tanpa mengunjungi Candi, rasanya kurang greget. Selain dikenal dengan negeri di atas awan, Dieng juga terkenal dengan warisan situs purbakala, Candi Dieng.

Candi Dieng merupakan kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa. Candi-candi ini terbagi menjadi beberapa kelompok dan lokasinya pun menyebar. Ada yang berdekata, seperti Candi Arjuna dan Candi Gatotkaca.

Saat kami berkunjung ke sini (16/11), sedang ada pemugaran candi di kompleks Candi Arjuna. Kalau tidak salah ingat, Candi Puntadewa sudah mulai dipugar. Meski demikian, kami tetap tur Candi dengan didampingi pihak Dinbudpar dan seorang pemandu wisata kompleks candi dan museum kailasa.

Untuk dapat masuk Kompleks Candi Arjuna, kalian cukup membeli tiket terusan senilai Rp 15.000 per orang. Tiket terusan ini sepaket dengan tiket masuk Kawah Sikidang. Catet, ya. Tiket terusan.

kompleks-candi-dieng

Berlokasi tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna, berdiri Candi Gatotkaca. Candi ini berada di dekat tempat parkir, atau pintu masuk Kompleks Candi Arjuna. Candi ini berdiri sendiri, bangunan candi terbilang masih kokoh, dan tempatnya cukup teduh kerena banyak pepohanan di sekitar candi.

A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on

 

Bagi kalian yang senang menelusuri jejak situs purbakala, bisa lanjut menyambangi Candi Bima, candi termuda, terbesar di Dieng dan sangat unik karena pada tiap tingkatan atap terdapat Arca Kudu. Kemudian, ada Kelompok Candi Setiyaki di mana lokasinya cukup dekat dengan Candi Gatotkaca. Terakhir adalah Candi Dwarawati. Candi ini lokasinya cukup jauh dari Kompleks Candi Dieng. Tepatnya di Desa Dieng Kulon, kaki Gunung Perahu.

Selanjutnya menyambangi Museum Kailasa!

Museum Kailasa

Menyambangi Museum tanpa pemandu? Apa jadinya? Mungkin bakal bengong, atau manggut-manggut sedikit paham karena terbantu dengan informasi yang tertera pada masing-masing benda. Kami, khususnya aku, merasa tertolong karena saat menyambangi Museum Kailasa, di mana lokasinya cukup tiga menit jalan kaki dari Kompleks Candi Arjuna, didampingi oleh pemandu wisata khusus bagian Museum dan Candi. Lumayan, menambah referensi dan pengetahuan.

Masuk Museum Kailasa, kami diajak nonton film terlebih dahulu. Film tentang peradaban masyarakat Dieng kala itu, sampai pembangunan candi-candi di Dataran Tinggi Dieng, berdurasi 20 menit.

“Orang zaman dulu memang unik, dan kreatif.” Batinku, saat film yang diputar mulai masuk bagian detil perancangan candi.

arca-arca-di-museum-kailasa

Museum Kailasa terbagi menjadi dua, yaitu bagian khusus peninggalan peradaban masyarakat kala itu yang berada di dalam Museum Kailasa. dan koleksi purbakala seperti Arca-arca yang berada di bangunan terpisah, tepatnya di depan Museum Kailasa.

Pemandu wisata menjelskan detil asal muasal ditemukan candi, dan berbagai Arca di dataran tinggi deing. Asli, kami larut dalam dongeng Bapak pemandu wisata yang betul-betul paham seluk beluk warisan yang berada Ganesha, arca-arca para Dewa dalam agama Hindu, arca lembu yang mirip dengan Situs Watu Lembu di Banjarmangu, dan masih banyak lagi koleksi benda di museum ini.

Cukup membayar Rp 6.000 per orang, kalian dapat masuk, dan melihat bermacam koleksi yang ada di dalam Museum. Aku saranin untuk minta pendamping saat menyambangi Museum Kailasa, ya. Banyak manfaatnya, kok.

Kawah Sikidang

Usai berkeliling Museum Kailasa, kami melanjutkan tur ke Kawah Sikidang. Kami masih ditemani Pak Daryo yang setia banget mendampingi kami selama perjalanan. Dengan mengendarai minibus, tidak sampai 15 menit dari Kompleks Candi Arjuna, kami tiba di Kawah Sikidang.

Di lokasi ini, aku memilih untuk jalan-jalan di “pasar” yang berada di kanan jalan karena Si Kecil masih peka sama aroma belerang. Aku mengatakan pasar karena banyak macam yang dijual di sini. Dari camilan Kentang Goreng, Sembako, Oleh-oleh khas Dieng, Bumbu Dapur, sampai dengan Opak juga ada! Pasar Sikidang, nih. 😀 Selain pasar, tempat parkiran makin luas, bersih, ternyata sudah ada fasilitas flying fox!

A photo posted by Pungky Prayitno (@pungkyprayitno) on

Fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk mencapai Kawah. Hanya sekedipan mata, pengunjung bisa sampai bibir kawah. Seperti Mbak Lia dan Pungky. Mereka menjajal flying fox karena memang ingin mencobanya, sekaligus menghemat tenaga.

Flying fox yang dibanderol dengan tiket Rp 20.000 per orang, hanya bisa sampai kawasan Kawah Utama saja, dan tiu satu kali perjalanan. Pengunjung akan kembali berjalan kaki saat kembali.

tour-dieng-kawah-sikidang
Kepulan asap Sikidang. . .

HTM (Harga Tiket Masuk) Kawah Sikidang yaitu Rp 15.000 per orang. Ini merupakan tiket terusan  Candi Arjuna-Kawah Sikidang. HTM tiket terusan ini nampaknya kurang diindahkan oleh para pengunjung, nih. Ceritanya, saat aku sedang antre Toilet, ada beberapa pengunjung yang nampaknya kurang setuju dengan tiket terusan ini.

Kenapa ngga Candi dan Museum aja, sih. Kan lebih dekat, ya.” Ucap seorang perempuan kepada temannya yang duduk di sebelahku. Tapi, aku yakin, pihak Dinbudpar pasti punya tujuan lain atas tiket terusan ini. Ya kan, Pak Dwi? 😀

Bukit Scotter

Turun depan BRI, ya.

Aba-aba dari seorang laki-laki berkumis yang mendampingi kami tur selama tiga hari dua malam. Siapa lagi kalau bukan Pak Daryo! Ternyata, BRI Dieng menjadi ancer-ancer menuju Bukit Scotter. Ini bacanya ngindonesia saja, ya. Skoter, bukan Skuter.

Bukit ini belum lama menjadi objek wisata. Awal tahun 2016, mungkin. Sebenarnya, bukit ini tidak masuk wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Tapi, karena sudah masuk peta wisata Jateng,  aku pun -seperti- harus memasukkan bukit Scotter pada blog post ini.

Melihat lansekap Kawasan Dieng dari atas Scotter menjadi salah satu hal yang dapat kalian lakukan di sini. Tapi, apakah yakin hanya ingin melihat lansekap saja? Soalnya, bukit ini bisa dibilang instagramable banget! Asli.

A photo posted by Idah (@idahceris) on

Background Gunung Sindoro menjadi incaran kami saat itu. Yaa…abisnya hasil jepretan makin kece, siih! Kan sayang banget mengabaikan Sindoro yang gagah itu. Selain itu, berfoto dari atas gardu pandang yang terbuat dari bambu juga tak kalah menarik. Hijaunya rumput, cantiknya bunga-bunga di bawah gardu akan “mencetak” hasil foto yang bikin greget-greget pingin narsis terooos.

bukit-scotter

Untuk mencapai Bukit Scotter, kalian tidak perlu susah payah. Hanya butuh waktu 15 menit saja untuk trecking jalan utama. HTM masuk bukit ini yaitu Rp 5.000 per orang. Itupun jika ada yang menjaga loket. Hihihi Berlokasi di Desa Dieng Kulon, Bukit Scotter mudah banget dijangkau karena aksesnya sangat mudah. Kira-kira, 25 menit dari kompleks candi arjuna. Tentang Bukit Scotter, akan aku posting terpisah, ya. 😛

D’Qiano Spring HOT Waterpark

Jelas banget, ya. Kata HOT sengaja aku capslock karena waterpark ini begitu HOT! Air yang mengalir ke waterpark dengan ketinggian 2.000 m dpl ini bersumber dari Kawah Sileri, Kawah terbesar di Dieng.

A photo posted by CERIS Family (@cerisfamily) on

Sama halnya dengan bukit scotter, D’Qiano juga tidak masuk wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Tapi gimana lagiiiih…! D’Qiano telah berhasil membuat kami betah berlama-lama di kolam hangat. Cukup membayar HTM Rp 20.000 per orang, kalian bisa renang, berendam dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB, sesuai jam operasional D’Qiano.

Jarak tempuh menuju D’Qiano dari Kompleks Candi Arjuna kurang lebih 35 menit. Ada banyak fasilitas umum yang disediakan, diantaranya: ruang ganti, kamar ganti, tempat jajan, dan yang tak kalah pentingnya yaitu penginapan. Tentang penginapannya seperti apa, nanti aku tulis terpisah saja, ya. 😀

dqiano-ember-tumpah

Jika berwisata ke Dieng, kalian HARUS menyambangi D’Qiano yang berlokasi di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur. Yaa…kapan lagi bisa berenang sampai puas, tapi tidak merasa dingin! Ingat, waterpark ini di Dieng, lho. DIENG KAWASAN BANJARNEGARA. *pentingbangetcaplockini*

Pusat Oleh-oleh Khas Dieng

Piknik ke Dieng tidak mampir pusat oleh-oleh khas Dieng. Yakin? Pengen jemuran yang udah kering, kembali basah karean kehujanan. Kembali basah karena tetangga kagak dibelikan oleh-oleh khas, tapi sempat pamit. Duuh…tetangga masa gitu, sih!!! HAHAHA

UD. Tri Sakti menjadi pelabuhan terakhir Blogger Trip Ayo Plesir Maring Banjarnegara. Bapak Saroji, pemilik UD. Tri Sakti ini ternyata giat banget mempromosikan oleh-oleh khas Dieng. Sesampainya di UD. Tri Sakti, seluruh Blogger mencicipi aneka jajan, oleh-oleh khas Dieng. Dan yang paling laku yaitu Keripik Kentang dan Carica! Juara banget kalau disuruh ngemil, ya.

oleh-oleh-dieng-banjarnegara

Oleh-oleh khas Dieng lainnya yang ada di UD. Tri Sakti diataranya: Keripik Jamur, Kerupuk Carica, Sirup Carica, Jenang Carica, Jus Terong Belanda, dan tentunya Purwaceng!

Kabarnya, beliau adalah orang pertama yang budidaya tanaman purwaceng di Dieng, mengolahnya menjadi minuman dalam bentuk serbuk, lalu memasarkannya dengan harga terjangkau karena produksi sendiri atau home industri. Pak Saroji ini meski sudah usia lanjut, inovasi tentang camilan cethar banget. Salut dengan beliau yang kini tinggal di Dieng Kulon, Banjarnegara.

Omong-omong, UD. Tri Sakti ini berlokasi di seberang jalan BRI Dieng atau seberang jalan masuk Bukit Scotter. Mudah banget dicari, harga juga bikin kita menari-nari. Ramah dompet, Sist. 😆 😛

Bagi kalian yang hendak berwisata ke Dieng, silakan menyambangi wisata unggulan Dieng, Banjarnegara. Aku yakin, kalian kagak bakal kuciwa! Asal dari rumah membawa bekal happy, sesampainya di Dieng makin happy!:mrgreen:

Seru Haru Rafting di Sungai Serayu Banjarnegara

Rafting di Sungai Serayu Banjarnegara – Suami menjadi satu-satunya orang yang khawatir banget saat tahu bahwa aku, istrinya, hendak “terjun bebas” ke Sungai Serayu Banjarnegara. Kekhawatirannya muncul lantaran hari itu hujan deras, debit air sungai tinggi, dan aku belum begitu lihai renang! 😆 😛

Pesan melalui WhatsApp yang bernadakan kekhawatiran terpaksa aku balas dengan bercandaan. Aku mengatakan terpaksa karena sebetulnya aku juga kurang percaya diri setelah melihat derasnya aliran sungai serayu pagi itu. Ya…meski pada akhir percakapan, dia menyemangatiku. *mungkin dia juga terpaksa menyemangati* 😆

Sebelum berkumpul untuk briefing, aku sempat bertanya kepada salah satu penanggungjawab rafting tentang cuaca pada hari itu yang tidak menentu. Menurutnya, meski pagi hari turun hujan, rafting tetap bisa berlanjut. Hujan yang turun di pagi hari tidak begitu membahayakan untuk olahraga arung jeram. Meski hujan, rafting tetap aman. Bahkan, akan lebih seru karena akan mendapat jeram yang tak biasa. Kecuali, hujan turun sedari malam. Ini tim rescue harus melihat kodisi lapangan terlebih dahulu.

Berbekal informasi yang kudapat, dengan didampingi guide dan tim rescue dari Bannyu Woong Adventure, aku berhasil mengarungi Sungai Serayu Banjarnegara sejauh 10 km, dengan durasi waktu selama kurang lebih 3 jam. Menerjang tiap jeram yang ada di depan mata. Ayye, berhasil…! Tak pernah kusangka! 😉

arung-jeram-banjarnegara
Tim heboh dari kiri: Mas Abi, Hanif, Mas Dodit, Mas Halim, iNyong dan Afri

Briefing singkat, namun padat telah kami diikuti sebelum rafting dimulai. Banyak pengetahuan dan istilah yang baru aku tahu. Asli. Tapi hampir semua teori betul-betul aku praktikkan selama arung jeram berlangsung.

“Jika ada batu di depan atau samping perahu, jangan dipeluk! Gunakan dayung untuk menghindari bebatuan itu.” Sedang asyik main dayung, sempat terpikir untuk memeluk batu, gitu. Ampun, deh. 😆 😛 :mrgren: Itu salah satu teori yang dibagikan saat briefing.

Baca lagi tentang Body Rafting di Green Canyon.

Berada dalam satu perahu karet, aku bersama Afri berada di bagian tengah. Lalu, Mas Halim dan Hanif menjadi benteng depan. Sementara Mas Abi, duduk di depan Mas Dodit, pemandu terkeren versi kami. Mas Dodit ini baru SEPULUH tahun menjadi pemandu rafting di Bannyu Woong, dan menurutnya belum lama. *merendah untuk meroket ya, Mas*

“Selama rafting berlangsung, ikuti komando dari saya, ya. Kurang lebih 2,5 jam, kita akan HIDUP BERSAMA.”  Baru lima kali dayungan, Mas Dodit mulai drama. “Lucu bener ini orang, ya.

Boom! Selain kata itu, abaikan bila sepanjang perjalanan hidup  kita, saya terus cas cis cus nyerucus. Jika aba-aba Boom (baca: buuum)  terucap, berarti kalian harus siap-siap masuk perahu karet dan dayung diangkat ke atas.” Persis teori yang dipaparkan saat briefing, Mas Dodit kembali menjelaskan lebih rinci.

Tidak lama kemudian, Mas Dodit menyuarakan: “Buuuuuuuuuum!”

Keseruan Rafting di Sungai Serayu dimulai dari sini…

Spontan, kami masuk ke dalam perahu karet, dengan posisi dayung tak beraturan. Hahahaha…Salahin Mas Dodit saja, ya. Memberi aba-aba mendadak. Menurutnya, ini bukan tiba-tiba, melainkan kejutan awal dari Mas Dodit dan Jeram Welcome. Jeram selamat datang sebagai jeram pemanasan, dimana para Pemandu Rafting mulai dapat menilai kesiapan peserta, katanya.

“Woow keren! asyik, Mas. Nanti kalau ada jeram yang lebih, kabar-kabar, ya. Ini hujan makin deras, nanti kita hajar bareng-bareng.” Mas Abi mulai nakal, nih. Mulai bertingkah.

Hujan deras, ditambah dengan aliran sungai yang deras pula. Betul-betul kolaborasi seru untuk rafting, karena matahari tidak menemani perjalanan. Artinya, kulit akan tetap stabil, tidak gosyong karena terik matahari. Selain itu, kolaborasi tersebut ternyata bisa menghangatkan badan. Meski hujan terus mengguyur badan, dingin selama rafting tidak begitu parah. Jika punya rencana rafting di sungai serayu Banjarnegara, ambillah waktu yang tepat supaya terasa raftingnya. Saat musim hujan, misalnya. Tapi, hujan yang sudah mulai slow, ya.

“Dayung ke depan…dayung ke depaan. Lebih semangaat. Ayoo dayung ke depan, dan Buuuuuum!”

Beberapa detik sebelum Buum, Mas Dodit menyemangati kami untuk lebih cepat lagi dalam mendayung. Ternyataa…kami akan melewati Jeram Trinil. Siapapun yang melewati jeram ini, akan terbalik. Makanya, Mas Dodit mengajak kami mendayung ke depan supaya perahu tidak larut dalam jeram, terus maju.

Sepanjang perjalanan, Mas Dodit memberi informasi tentang nama-nama jeram yang ada di Sungai Serayu Banjarnegara. Salah satu jeram yang kuingat yaitu Jeram Bethur. Jeram ini tidak ada hubungannya dengan si kelopak mata yang bendul, ya. Jeram ini cukup menantang karena terdapat beberapa batu besar yang tertutup arus. Gila ajaa, ya. Ada batu tertutup arus, semisal sampai menyentuh batu itu, apakabar kehidupan kita? 😆 Ya…namanya Jeram, kan, harus dilewati. Usahakan ikuti aba-aba dari guide, jangan sampai kelilit jeram ya, Kak. Karena lebih membahayakan ketimbang kelilit kenangan sama mantan.

“Mas, ini jembatan mana?” Tanyaku kepada Mas Dodit saat perahu karet kami melewati jembatan yang menurutku instagenic banget.

“Ini jembatan Desa Sered.”

“Asyiiik…masih lama untuk sampai finish.” Batinku bungah banget. Secara, perjalanan sungai itu lebih lama ketimbang darat. Yaa.., kaan? Dan ternyata betul. Kami masih punya sisa waktu 30 menit untuk mencapai finish.

Mulai dari jembatan ini, kami cukup santai. Bisa berfoto dengan latar belakang jembatan, hutan, pohon bambu, air terjun alami, atau air terjun buatan yang sengaja diciptakan oleh para petani sebagai muara pengairan sawahnya. 😀

“Dayung lagi yoook. Dayung depan…dayung depaan.” Mas Dodit mulai menyemangati kami lagi.

Bersama Mas Abi, aku merasa teriakan kita paling membahana. Mas Halim, Hanif, dan Afri, teriaknya sedikit diumpet. 😆 Sedari awal, aku semangat banget mendayungnya karena memang sedang belajar mendayung dengan benar. Saat briefing dijelaskan, jika mendayungnya benar, maka beban hidup tidak akan terasa berat. Lha ini, aku masih merasa susah dan berat. Lengan pegal banget, Kaaak. 😆 Tapi, sekalinya sudah benar dan lancar mendayung, iseng banget nyipratin air sungai ke teman-teman menggunakan dayung. Sedaaaap penuh stamina!

Semangat mendayung yang diikuti terikan juga sukses membuat badan hangat. Perasaan takut akan derasnya air hujan perlahan hilang. Ternyata, teori ini berhasil. Aku begitu menikmati rafting sungai serayu Banjarnegara. Sampai tiba pada Jeram Tsunami, kami, khususnya aku, tidak merasa bahwa ada Buuum di depan! Tahu-tahu, kami sudah terpisah.

Jeram Tsunami sukses membuatku terharu…

Betapa nyawa ini sudah kupasrahkan kepada Sang Pencipta. Menerjang hujan di darat kerap kulakukan. Lha ini, menerjang hujan dan jeram di Sungai Serayu Banjarnegara yang punya tingkat jeram grade 3+. Sekali lagi, zona rafting yang kami ambil mempunyai tingkat jeram grade 3+ ini dimulai dari The Pikas dan berakhir di Surya Yudha Park.

Mas Dodit tidak memberi aba-aba Buum saat sampai Jeram Tsunami. Ini sengaja tidak berkabar, katanya. Karena sedang asyik mendengar cerita Hanif tentang game-game yang biasa dilakukan saat rafting, kami tidak memperhatikan ada jeram di depan. Hanya mempercayai Mas Dodit. Tapi yang diberi KEPERCAYAAN malah enak-enakan menjebak kami!

Apa-apaaaaan kamu, Maaaas! Aku BERHASIL MINUM AIR SUNGAI SERAYU! Satu liter, mungkin. 😀 Dan sinisnya, saat sedang berada di bawah perahu, aku mendengar teriakan Mas Dodit.

rafting-serayu-banjarnegara
Ternyata, digoyang ombak itu seruuu…!

“Tenang…tenang…jangan panik…jangan paniik.” Astaga, dikira gue kagak punya perasaan, Mas? Begh!

Beruntung, safety rafting ini oke banget! Jaket pelampung, khususnya. Ada baiknya memeriksa jaket pelampung sebelum rafting. Termasuk mengencangkan tali jaket. Mengecek pelampung antar teman termasuk yang dipraktikkan saat briefing. Berjaga-jaga untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi saat rafting. Jika pelampung melekat dengan baik, kecil kemungkinan tenggelam. Tentang pertolongan saat perahu terbalik, atau peserta tenggelam, ada berbagai macam cara. Pertolongan yang paling aku ingat yaitu menarik pelampung teman bagian atas.

Baca tentang Bannyu Wong, Operator Rafting di Banjarnegara.

Saat itu, pelampung yang pertama kudapati adalah milik Mas Abi. Ya, aku melihat Mas Abi yang sama-sama sedang berusaha naik ke perahu. Aku tarik pelampung bagian belakang atas. Aku memegang pelampung Mas Abi dengan kencang!

“Halim manaa…Hanif manaaa?” Aku yang nyawanya belum terkumpul penuh, hanya bisa geleng-geleng.

“Balik badan, Mbak. Siap-siap saya tarik, ya.” Aba-aba itu datang dari Mas Dodit. Pemandu kami yang keren banget dan menjadi satu-satunya orang yang tersisa di atas perahu karet. Asli, orang ini ngeselin dan tidak setia kawan. 😆 😛

“Bentar, Mas. Nyawaku urung balik iki.” Mas Dodit pun tertawa puas, sambil ngasih kode apa itu laah, kepada tim rescue. Jeram Tsunami bikin gila-gila sedaaaap!

Tak lama setelah aku berada di atas perahu bersama Afri dan Mas Abi, dua teman kami DIKEMBALIKAN ke asalnya. Hanif diselamatkan oleh tim rescue. Mas Halim, ternyata ada di depan perahu, namun tidak nampak, karena ternyata Mas Halim sedang mengatur napas di sana. 😀 Sementara si Go Pro milik Hanif, alhamdulillaah sudah diselamatkan terlebih dahulu oleh Mas Dodit.

“Go Pro, Mas. Go Pro punyaku.” Hanif sempat takut Go Pro kesayangannya hanyut. Sebelum menyelamatkan kami, ternyata Mas Dodit terlebih dahulu mengambil Go Pro yang nyantol di tali perahu bagian depan. Tuh kan, Mas Dodit JAHAT! Go Pro dulu, baru Manusia. 😆

rafting-di-banjarnegara
Andai Go Pro ini hanyut, ya…HAHAHA

Beberapa kali, aku memohon kepada Mas Dodit untuk tidak menceburkan tim kami dengan alasan karena aku belum lihai renang. Mas Abi pun mendukungku. Namun, Si Hanif kerap bertanya tentang game-game yang dapat dinikmati. Sesekali Mas Dodit menjawab “Nanti di sana.” Namun, tidak memberi perincian game-nya seperti apa. Mungkin, ini yang membuat Mas Dodit gemas.

“Kayaknya ini anak pada memang minta diceblungiin ke Sungai.” Begitu gumam Mas Dodit, mungkin.

Dari 19 blogger (karena minus Mbak Olipe), terpisah menjadi 5 perahu karet, hanya perahu kami yang mendapat kejutan Jeram Tsunami. LUAR BIASAAA LUAAAR BIASAA ASYIK TENAN! Rasanya…terharu bangeeet! Tidak bisa berenang, tapi diberi kesempatan untuk menjajal Jeram Tsunami. Wuwuwuw…Mas Dodit, makasih, ya. Dikau mancen hebat!

Omong-omong, permohonanku sengaja tidak dikabulkan oleh Mas Dodit lantaran timku HEBOH, menurutnya. Dari semangat dan kehebohan yang tercipta, layak diberi kejutan Jeram Tsunami.

Selalu selfie di depan Air Terjun Serayu…

Di sini aku merasa terharu (lagi). Betapa Mas Dodit begitu percaya kepada kami. Atas ini semua, ternyata Mas Dodit sudah mempersiapkan segalanya, sudah memikirkan risiko-risiko yang bakal terjadi, melakukan kontak dengan tim rescue untuk siaga.

Rafting mulai dari The Pikas sampai Surya Yudha Park, teriak sekuatnya, pacu adrenaline di jeram-jeram yang menantang, sudah include jamuan Mendoan, Sebutir Kelapa Muda (setibanya di finish), penjemputan dari SYP sampai The Pikas lagi, cukup membayar rP 205.000 per orang. Masih banyak paket yang bisa dijajal mulai dari jarak tempuh 7-26 km, dengan harga mulai Rp 150.000 – Rp 375.000 per orang.

Aku merekomendasikan Bannyu Woong Adventure sebagai pemandu rafting Sungai Serayu Banjarnegara. Pertimbangannya adalah sebagai berikut:

  1. Akses menuju base camp  Bannyu Woong yang berada di kompleks The Pikas sangat mudah.
  2. Pemandu Rafting dan rescue  sudah berpengalaman, handal, profesional, ramah dan lucu-lucuuuw.
  3. Harga terjangkau.
  4. Terdapat Penginapan The Pikas Resort, lengkap beserta Resto yang bernama Pikasto.

AAAAAAA…PINGIN RAFTING LAGI BARENG BLOGGERS DAN TERIAK-TERIAK LAGIIIII …..! KAPAN YOOOK!

Bannyu Woong Adventure

  • Alamat: Jl. Raya Madukara No. 1, Ds. Kutayasa, Kec. Madukara, Kec. Banjarnegara, Jawa Tengah 53482
    Provinsi: Jawa Tengah;
  • Jam buka: 08.00–17.00 WIB;
  • Telepon: (0286) 593000;
  • Reservasi: +628122662155 (Mas Fajar), +6281327143559 (Mas Firdaus), +6281585386575 (Mas Gundul);
  • Email: banyuwong@yahoo.com;
  • Website: http://banyuwong.com/;

Pengalaman Menginap di Cottage The PIKAS Resort

The Pikas menjadi titik kumpul bagi 20 Blogger yang mengikuti Blogger Trip bertajuk “Blogger Plesir Maring Banjarnegara.” Tema yang khas banget! Ngapak-ngapak kepenak. 😆

Sekadar informasi, tema yang diusung kali ini merupakan tagline dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Mereka yang memberi kesempatan kepada kami untuk explore wisata Banjarnegara.

Ayo Plesir Maring Banjarnegara, atau dalam bahasa Indonesia Ayo Berwisata ke Banjarnegara. Itulah tagline aslinya. Berhubung pesertanya adalah para Blogger, jadilah kami masuk frame. 😆

Membaca rundown yang dikirim oleh Dinbudpar Banjarnegara, pemilihan The Pikas Resort sebagai tempat penginapan adalah pilihan yang tepat. Kenapa? Karena, lokasi The Pikas Resort mudah dijangkau dari arah mana saja. Dekat dengan jalan raya propinsi, yang mana beberapa teman Blogger ada yang menggunakan transportasi umum. Mas Halim, Blogger dari Kota Solo, misalnya. Dia menggunakan Bus.

Selain itu, kegiatan pertama yaitu rafting di sungai serayu yang didampingi oleh Guide dan tim rescue Bannyuwoong, start from The Pikas. Jadi pagi harinya, peserta cukup kucek-kucek mata, sarapan, dilanjut memakai pelampung, helm, bawa dayung, pemanasan, kemudian masuk boat! 

Pilihan yang tepat, bukan?

penginapan-pikas-resort
Jembatan menuju Balai The Pikas

Sore itu, aku datang bersama Si Kecil, dan langsung menuju Pendopo atau Balai The Pikas untuk mencari informasi tentang keberadaan Teman-teman Blogger. Menjadi peserta dengan jarak tempuh terdekat dari The Pikas Resort, tapi terlambat. Luar biasa banget.

Tepat di depan Balai, lelaki yang mengenakan kaus oblong warna biru memberi informasi, bahwa Teman-teman sudah datang.

Teman-teman cowok yang berjumlah dua belas, menempati Cottage Lumbir 4 dan 5. Sementara, delapan Perempuan di Cottage Lumbir 2.

Nama masing-masing cottage tidak terlihat dari jalan masuk cottage, makanya aku minta tolong kepada salah satu karyawan The Pikas untuk mengantar sampai Lumbir 2. Manja banget, ya. Hahahaha

For your information, The Pikas Resort menawarkan 10 cottage yang masing-masing punya nama: Lumbir 1-5, Sabin Timur, Sabin Barat, Jawa Mini, Jabar dan Jatim. Cottage terluas yaitu Sabin Timur dan Barat dengan kapasitas 7 orang. Sedangkan yang paling kecil yaitu Jawa Mini yang dapat dihuni 2 orang.

Cottage Lumbir hampir semua berkapasitas enam orang, kecuali Lumbir 1 yang berkapasitas empat orang. Tempatku bermalam, yaitu Lumbir 2 yang biasanya berisi enam orang, malam itu dihuni tujuh orang, dan satu bayi. 😆 Betapa The Pikas Resort ramah dompet, ya. Cocok banget untuk menginap a la backpacker yang ngetripnya rombongan. 😛

Memasuki area Cottage, aku terpana dengan suguhan alam yang segarnya luar biasa. Hamparan sawah, pemandangan penuh hujau, dipadu dengan udara segar. Aku yang tinggal di desa melihat hamparan sawah saja sampai terpukau, ya. Ya maklum, sih. Ini pemandangan alamnya lain, Sist. Sawah, Pepohonan, Bunga, ada di antara Cottage. Kebayang sehatnya, kan?

Dua cottage yaitu Jawa Mini, dan Sabin, betul-betul berada di tengah sawah. Sementara kompleks Lumbir, begitu rindang dengan aneka pepohonan hijau. Kompleks ini cocok banget buat jogging pagi hari. Ya…meski bukan jogging track, tapi udara pagi sekitar Cottage sayang banget dibiarkan begitu saja. Minimal, keliling Cottage, sambil jeprat-jepret pemandangan sekitar yang begitu memikat.

Kira-kira jam 23.00 WIB, hujan turun dengan derasnya, dan aku masih terjaga. Jadi teringat beberapa jam lalu sebelum hujan, kami makan jagung bakar yang telah disediakan oleh panitia. Andai bisa menggigit jagung dikala hujan, tambah hangat, dan nikmat. 😀

penginapan-di-banjarnegara2
Kawasan Lumbir yang memikat…

Etapi, saat jagung mulai dibakar, dan ada suguhan supermoon kira-kira jam 20.00 WIB, suasana di Balai The Pikas juga tidak kalah hangat. Terlebih alunan musik, dan suara Bapak Dwi, Kepala Dinbudpar, yang serak-serak sedap terus menemani para Blogger yang tengah asyik berpesta jagung bakar.

Di luar, hujan boleh turun dengan derasnya. Tapi, bagi kami yang ada di dalam Lumbir, tidur berjejer di atas matras, merasa makin hangat. Selimut cukup tebal, suara katak saling bersahutan, aliran kali serayu makin terdengar jelas. Syahdu. Tidur di samping si kecil, memeluknya erat, menambah hangat suasana malam itu.

Awalnya, aku sempat kaget dengan hujan yang tiba-tiba turun karena sebelumnya kami telah menikmati supermoon. Selain itu, aku cukup was-was, andai Lumbir 2 sampai bocor. 😀 Kebayang, dong, ada Si Kecil di sampingku. Kasihan.

 

A photo posted by Sii Olipe (@olipe_oile) on

 

Perasaan was was itu wajar, melihat desain cottage yang unik, dengan bentuk rumah panggung. Dinding dan lantai semua berbahan kayu. Dinding kanan kiri didesain miring, kira-kira 30 derajat. Sementara, bagian atap cottage itu plong. Pemandangan ke atas langsung tertuju pada genting, beserta kayu-kayu. The Pikas Resort, desain penginapan khas pedesaan.

Pihak The Pikas Resort pasti sudah melakukan pengecekan sebelumnya. Itu pasti. Mereka akan memberi pelayanan terbaik untuk para Tetamu. Termasuk adanya lotion anti nyamuk.

Kelihatannya memang sepele, tapi mereka sadar bahwa cottage berada di sekitar Kolam, Kali Serayu, Sawah, dan Perkebunan. Makanya, mereka menyediakan lotion anti nyamuk buat persediaan. Beruntung banget yang mereka sediakan adalah lotion, bukan obat nyamuk semprot atau listrik. Jadi, Si Kecil aman karena lotion lebih ramah.

Alamat The Pikas Resort
Yang segar gini menambah semangat!

Sampai pada fasilitas penting sebuah penginapan, Cottage di The Pikas Resort menyediakan dua macam kamar mandi, yaitu kamar mandi utama dan kamar mandi bersama.

Adanya fasilitas rekreasi seperti Outbound, Rafting, The Pikas Resort seperti sengaja menyediakan kamar mandi bersama di dalam Cottage. Memang, tidak jauh dari Balai The Pikas terdapat empat toilet mandi umum, namun kamar mandi bersama dengan sekat gorden yang ada di dalam Cottage memberi kenyamanan tersendiri bagi Tetamu yang punya rencana menginap, sekaligus rafting di The Pikas. Tidak perlu antre untuk masalah mandi.

penginapan-resort-banjarnegara
Kamar mandi bersama. . .

Kamar mandi utama yang disediakan oleh The Pikas Resort cukup sederhana. Satu closet, dan satu set peralatan mandi. Perlengkapan mandi seperti: sabun, shampo, sikat gigit, pasta gigi, handuk, dll dll, belum disediakan. Ada baiknya, dimanapun akan menginap, bawalah perlengkapan mandi. Tidak ada salahnya lebih siap, kan. Okay? 😉

Omong-omong, air di The Pikas Resort hanya ada air dingin. Air hangat belum disediakan. Tapi, mengingat Banjarnegara tidak selalu dingin, air hangat tidak begitu dibutuhkan. Apalagi lokasi The Pikas Resort tidak begitu jauh dari kota. Kerap panas di sini. Semisal membutuhkan air hangat, Tetamu bisa langsung ke Pikasto. Resto milik The Pikas yang berada di sebelah kanan Balai.

penginapan-pikas-resort-2
Kamar mandi dalam, nih. . .

Ya, The Pikas mempunyai resto yang bernama Pikasto. Tetamu yang menginap di The Pikas Resort dapat memanfaatkan resto ini. Jika menginap di sini, menikmati masakan khas Desa di pagi hari sudah termasuk fasilitas. Menu masakan di Pikasto berragam. Nasi Bakar menjadi menu andalan di sini. Tetamu boleh memesan nasi bakar jika mau, dan mungkin berbayar. Karena, menu masakan include yang disediakan biasanya menu ayam rica-rica, atau nasi goreng.

Seperti sarapan, dan makan malam yang telah kami nikmati. Menu makanannya memang biasa, standard. Yang menjadi beda, dan spesial yaitu suasana. Sarapan nasi goreng di tepi kali serayu dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Atau, sarapan bisa dibawa ke Cottage, duduk di kursi yang disediakan di teras depan Cottage. Suasana serta pemandangan di depan Cottage juga tidak kalah asyik.

penginapan-pikas-resort-banjarnegara
Mbak Olip makannya sedumil banget. . .

Oiya, Wi-Fi di penginapan ini belum sampai Cottage. Provider internet yang paling bagus dipakai di sini yaitu Indosat dan Telkomsel. Tidak ada salahnya siap siaga membawa modem, atau mengisi paket data selular jika ada dateline pekerjaan.

Fasilitas penunjang lainnya yaitu ada tempat parkir yang luas di dekat pintu masuk The Pikas, mushala, kamar mandi, paket outbound, dan paket rafting.

Untuk mencapai The Pikas Resort, dari lampu merah pertigaan Desa Singamerta, Kecamatan Sigaluh, ambil arah kiri, ikuti jalan raya. The Pikas Resort ada di sebelah kiri jalan setelah jembatan yang melintasi sungai serayu.

Alternatif lain, jika menggunakan transportasi umum, dari pertigaan Singamerta, pilih angkutan umum warna biru dengan abjad “B” jurusan Madukara, atau Minibus jurusan Pagentan. Naik angkutan umum sampai depan The Pikas cukup bayar Rp 2.000.

Bagi yang suka olahraga, bisa jalan kaki. Jarak tempuh dari pertigaan Singamerta kurang lebih 700 meter. Cukup dekat, bukan?

the-pikas-resort-banjarnegara
Angetnya bobok di Cottage ini…

Ayo plesir maring Banjarnegara, dan pilih The Pikas Resort menjadi bagian dari perjalanan wisata ke Banjarnegara. Penginapan dengan konsep alam, nuansa khas pedesaan, akan membuat betah berlama-lama di sini. Asli. ^-*

The Pikas Resort Banjarnegara

  • Alamat: Jl. Raya Madukara, Desa Kutayasa, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
  • Rate: Rp 400.000-Rp 750.000,-
  • Extra bed: Rp 100.000
  • Include: Air Mineral, Kamar Mandi Dalam, Kasur Busa, Selimut dan Makan Pagi.
  • Reservasi: (0286)593000|081585386575

20 Blogger Ini #PlesirMaringBanjarnegara

Hari Blogger Nasional hampir sebulan berlalu. Namun, keinginan para alumni Ketenger untuk merayakan hari spesial bagi para Blogger justeru tambah memanas, ganas. Harapan untuk bersilaturrahim juga makin menggebu.

Beberapa Blogger Ketenger memang punya hobi jelajah wisata. Mengingat beberapa member berdomisili di Banjarnegara, dan daya tarik objek wisata di Banjarnegara luar biasa banyaknya, kami pun memutuskan untuk mengexplore rindu di sini, di kota yang adem, ayem, tenang, aman dan damai. 😛 Ini gimana ceritanya bisa sampai explore rindu? 😆

Prosedur untuk kembali explore wisata kota tertentu, dalam hal ini yaitu Banjarnegara, ternyata tidak sesulit memecah telor dalam botol. Hahahaha Sekali datang ke Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara bersama teman-teman Blogger Banjarnegara, mereka welcome dengan niat kami untuk jelajah objek wisata unggulan Banjarnegara. Tentunya syarat dan ketentuan akan berlaku, dong.

Permisi, Bu Widhi. Kami mau ini itu di Banjarnegara. Niatnya, kami akan meryakan Hari Blogger Nasional, meski nanti waktunya tidak tepat pada tanggal 27 Oktober 2016. Kami datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pasti bisa ya, Bu. Pasti bisaaa!

Ya, kami langsung menemui Bu Widhi, Kasi Pemasaran Dinbudpar Banjarnegara. Penuh harap, langkah yang kami ambil tidak salah.

“Pertengahan Nopember, rencananya kami akan mengadakan Famtrip………….”

Deeegh!

Baru sampai kata rencananya, aku bahagia banget mendengarnya. Ini semacam ada kesempatan buat kami unjuk gigi untuk BANJARNEGARA, tanah kelahiranku yang banyak potensi wisatanya. Asli, aku tidak membohongi kalean.

Alhamdulillaah, rencana Famtrip TERWUJUD! Selama tiga hari dua malam, kami explore rindu wisata Banjarnegara, tanpa drama. Rintik hujan yang membasahi bumi The Pikas kami terima dengan hati riang. Rafting tetap berlanjut dengan seru. Pun dengan wisata tur wisata Dieng. Blogger Trip berjalan cantik, nggemesyin, dan sukses menyisakan rindu (lagi). 😛

Untuk mengeksiskan wisata Banjarnegara melalui media sosial, kami sepakat menggunakan tagar atau hastag #AyoPlesirBanjarnegara dan #PesonaBanjarnegara. 20 Blogger ini #PlesirMaringBanjarnegara,  dan explore #PesonaBanjarnegara yang sempat menjadi trending topic di twitter. *Peluuk Martin*

1. NYONG dan Si Kecemut | www.idahceris.com

A photo posted by Idah (@idahceris) on

 

2. Nelitanzila | www.ceriswisata.com

A photo posted by CERIS Wisata (@ceriswisata) on

3. Mas Halim | https://jejakbocahilang.wordpress.com

A photo posted by Halim San (@halimsantoso) on

4. Mbak Lidya | www.fitrian.net

A photo posted by @fitrian on

5. Mas Jujun | www.eventbanjarnegara.com

A photo posted by Jujun Afiat (@jujun_afiat) on

6. Mbak Olip | www.olipeoile.com

A photo posted by Sii Olipe (@olipe_oile) on

7. Pungky | www.pungkyprayitno.com

A photo posted by Pungky Prayitno (@pungkyprayitno) on

8. Mbak Rian | www.kulinerwisata.com

A photo posted by Atanasia Rian (@atanasia_rian) on

9. Mas Ganjar | www.banjarnegaraku.com

A photo posted by Ganjar Swasono Gumilar (@gsgumilar) on

10. Pakde Topan | www.surgakecil.com

A photo posted by PURWOKERTO, INDONESIA (@surgakecil) on

11. Agil | www.agilyanuar.com

A photo posted by Agil Yanuar (@agil_yanuar) on

12. Mas Pradna | www.bloggerbanyumas.or.id

A photo posted by Pradna Paramita (@pradna) on

13. Vandy | www.sastraananta.com

A photo posted by Fandhy Achmad Romadhon (@vandy_ar) on

14. Afri | www.afriantipratiwi.com

A photo posted by Afrianti Eka Pratiwi (@afriantipratiwi) on

15. Lutfi | https://fahrezy.wordpress.com

A photo posted by Lutfie Achmad Fahrezy (@lutfiachmadfahrezy) on

16. Mbak Tika | www.otwblog.com

A photo posted by Kartika Dwi Yuliastuti (@tikaskus) on

17. Hanif | www.insanwisata.com

A photo posted by insanwisata (@insanwisata) on

 

18. Mas Erwin | www.erwinabdillah.com

A photo posted by Erwin Abdillah (@erwinabcd) on

19. Mas Abi | www.kompasiana.com/abihasantoso

A photo posted by Abi Hasantoso (@abi_hasantoso) on

20. Mas Imam | www.acarakita.net

A photo posted by Lij Imam Nurrokhman (@lijimam) on

 

Terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang sudah memfasilitasi, dan mendampingi Famtrip ini. Makasih juga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah atas supportnyaKepada pelaku usaha: RM. Sari Rahayu, @thepikasresort, Bannyuwoong Rafting, D’Qiano Waterpark, UPT Dieng, dan Oleh-oleh Tri Sakti. Makasiiih semuanyaa. Love you all, and Miss you all. #TerMasAbi

Btw, Ada yang belum kenal dengan Blogger di atas? Ada yang belum follow akun Instagram mereka? Kenalan dulu dengan cara follow mereka. Temukan hastag #PesonaBanjarnegara di Instagram dan jangan lupa #AyoPlesirBanjarnegara! Banyak bahagianya, ketimbang dramanya. Asli. 😉

Tanoto Foundation Turut Mendukung Indonesia Sebagai Poros Maritim

Ngomongin kekayaan bumi pertiwi, tuh, tidak ada habisnya, ya. Apalagi kekayaan laut, yang mana Indonesia menjadi negara Kepulauan terbesar di dunia. Tentunya banyak hasil yang didapat dari sektor yang satu ini, kan.

Memang, aku tidak mengikuti perkembangan berita tentang Negeri yang kaya akan pulau ini. Namun, beberapa kali pernah mendengar berita tentang permasalahan yang terjadi di dunia maritim.

Indonesia memiliki potensi besar menjadi poros maritim dunia. Poros maritim merupakan sebuah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektifitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut serta fokus pada keamanan maritim.

Saat ini Pemerintah Indonesia tengah menjalankan sebuah misi penting terkait dengan dunia maritim. Pemerintah ingin menjadikan negeri kita sebagai poros maritim di dunia.

Presiden Joko Widodo menegaskan keseriusan pemerintah. Menurutnya Indonesia sudah terlalu lama memunggungi laut yang sejatinya merupakan potensi terbesar negara.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia sudah lama melupakannya bahwa dua pertiga wilayah kami terdiri dari air. Air yang kaya sumber daya maritim, seperti ikan, gas, minyak, dan keragaman hayati,” kata Jokowi.

Untuk mengembalikan jati diri Indonesia sebagai negeri maritim, Presiden menandaskan Pemerintah akan melakukan berbagai upaya.

Kami akan membangun infrastruktur maritim, menjaga sumber daya laut kami dari eksploitasi ilegal dan merusak. Kami hendak memanfaatkan kekayaan laut untuk rakyat kami, menjaga keamanan dan keselamatan laut sebagai urat nadi perdagangan dunia. Kami juga ingin melestarikannya untuk anak cucu kami dan untuk dunia,” tegas Jokowi.

Langkah yang diambil pemerintah itu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, tak terkecuali dari pihak swasta. Partisipasi dalam bentuk apa pun sangat dibutuhkan bagi keberhasilan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Hal ini menggugah pengusaha sukses Indonesia, Sukanto Tanoto, untuk ikut andil. Dengan memanfaatkan kegiatan Tanoto Foundation yang didirikannya. Sukanto Tanoto hendak membantu meningkatkan kemampuan maritim negeri kita ini.

Teman-teman sudah tahu tentang Tanoto Foundation, kan?

FYI, Tanoto Foundation adalah lembaga filantropi yang didirikan oleh Sukanto Tanotodan Tinah Bingei Tanoto yang memiliki fokus pada penanggulangan kemiskinan melalui dukungan terhadap pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan kualitas hidup.

Salah satunya diwujudkan dalam dukungan terhadap sejumlah penelitian kelautan. Satu di antaranya dilakukan oleh tim dari Unversitas Indonesia  (UI) yang mendapat dana hibah dari Tanoto Student Research Award.

Mahasiswa UI menciptakan kapal robot yang dapat dimanfaatkan untuk laut Indonesia. Mereka menamainya sebagai Makara 05 dan Makara 06. Makara 05 berbentuk kapal yang berfungsi sebagai drone di permukaan laut. Sementara itu, Makara 06 punya fungsi berbeda. Alat ini mampu menyelam hingga kedalaman 100 meter dan bertahan di dalam air selama empat jam.

Makara-06 dan Makara-05 dirancang untuk misi yang spesifik, yaitu sebagai pengganti kerja manusia di permukaan maupun dalam air guna menunjang aktivitas di bidang seperti keamanan, penelitian bawah laut, serta penanganan bencana sehingga bermanfaat untuk negeri kita sendiri,” ujar Ketua Tim Makara-06 Zulfah Zikrina.

Zulfah menyatakan, Indonesia membutuhkan banyak sarana seperti Makara pada masa depan. Hal ini penting demi menjaga keamanan lautan Indonesia dari ancaman penyusupan kapal asing ilegal.

Tanoto Student Research Award merupakan salah satu kegiatan Tanoto Foundation untuk merangsang kehadiran peneliti andal di Indonesia.

Tanoto Foundation yang didukung oleh keluarga Sukanto Tanoto mewujudkannya dengan memberi hibah Rp100 juta per tahun ke sejumlah perguruan tinggi yang menjadi mitra. Dana itu nantinya yang dimanfaatkan untuk membiayai sejumlah penelitian seperti yang dilakukan di UI tersebut.

Semoga dengan adanya dukungan dari keluarga Sukanto Tanoro, dunia Maritim Indonesia makin baik, ya.

Membuat Kue Kering dari Kulit Pisang yang Kaya Manfaat

Kulit pisang menjadi salah satu bahan kue kering. Kebayang enaknya, uniknya, atau anehnya? 😀 Awas…jangan merinding, dulu. Karena kulit pisang yang akan menjadi bahan kue kering di sini bukan kulit pisang utuh, melainkan kulit tersebut diolah terlebi dahulu. 😉

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, kulit buah yang mempunyai kandungan vitamin dan kaya akan manfaat dapat dijadikan bahan makanan atau bahkan obat. Ini tidak masalah, ya. Selagi kulit buah tersebut tidak membahayakan.

Membuat kue kering dari bahan kulit pisang ini solusi banget bagi Bu Ibu yang ingin berkreasi membuat camilan, tapi memaksimalkan bahan. Setelah menggoreng pisang, lalu kulitnya dimanfaatkan untuk membuat kue kering.

Berikut bahan, peralatan, dan cara membuat kue kering yang dibutuhkan cukup sederhana, yaitu:

  • Kulit pisang 10 buah,
  • Tepung terigu 1 kg,
  • Tepung maizena ¼ kg,
  • Telur 4 butir,
  • Gula ½ kg,
  • Vanili,
  • Mentega,
  • Susu bubuk,
  • Keju, Chococips,
  • Plastik,
  • Cetakan,
  • Loyang,
  • Baskom,
  • Oven.

Cara membuat kue kering berbahan dasar kulit pisang ini juga sangat mudah. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Potong kulit pisang kecil-kecil agar lebih mudah saat di hancurka;
  2. Blender kulit dan usahakan jangan terlalu banyak kadar air. Karena adonan akan sulit matang dan kering;
  3. Campur tepung terigu, maizena, kulit pisang yang sudah halus, susu bubuk, gula, mentega, vanili, dan telur lalu aduk sampai benar-benar rata dan tercampur sempurna;
  4. Siapkan meja yang sudah diberi alas plastik, taburi dengan tepung terigu agar tidak lengket saat mencetak;
  5. Bagi adonan tersebut menjadi 4 bagian. Ambil bagian pertama, lalu gilas dengan alat penggilas atau jika tidak punya anda bisa menggunakan botol kaca. Gilas hingga pipih dan rata;
  6. Kamu bisa mencetak dengan menggunakan cetakan dengan cara menekan di atas adonan tersebut. Letakkan dan tata hasil yang sudah dicetak pada loyang;
  7. Lakukan hal yang sama hingga adonan habis;
  8. Tabur keju atau chococips di atasnya;
  9. Masukkan ke dalam oven sekitar 20 menit;
  10. Tata dalam toples saat sudah dingin;
  11. Camilan kue kering siap dinikmati.

Kue kering yang terbuat dari kulit pisang ini rasanya manis dan lezat. Cocok untuk menemani saat santai pagi atau sore, sambil minum teh. Selain rasanya nikmat, camilan ini juga sangat sehat karena berbahan dasar buah berkhasiat.

kue-kering-pisang
pict: teropongbisnis.com

Sama seperti buahnya, kulit dari buah berwarna kuning dan hijau ini memiliki manfaat dan kandungan gizi yang sangat melimpah. Salah satu diantaranya adalah kaya akan nutrisi bagi kesehatan kulit. Semua bahan yang terkandung di dalam kulit pisang, mampu menangkal radikal bebas dan bisa digunakan sebagai UV Protector.

Banyak manfaat yang bisa didapat dari kulit pisang, tentunya dengan cara diolah terlebih dahulu. Meskipun demikian, ternyata kulit pisang juga bisa digunakan tanpa diolah, fungsinya untuk mengobati jerawat dan memutihkan gigi. Sebagai pengganti pasta gigi. Sudah pernah mencoba? 😉

Vitamin B6, Vitamin C, Magnesium, Fosfor yang terkandung di dalam bagian terluar dari pisang ini sudah tidak perlu diragukan lagi, khususnya untuk menghaluskan wajah.

Begitu banyak manfaat dari kulit pisang, ya. Khususnya untuk camilan ini. Hayuuk…coba resep dan cara membuat kue kering berbahan dasar kulit pisang. Begitu mudah untuk praktikkan. 😉

Cara Asyik Menikmati Telaga Paling Memesona di Jawa Tengah

Jawa Tengah, sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa mempunyai segudang destinasi wisata menarik. Asli. Tidak sedikit kota di Jawa Tengah mempunyai warisan Budaya yang tmasih terrekam sampai sekarang. Wisata Sejarah, Kuliner dan objek wisata yang saat ini makin banyak dicari, dikunjungi wisatawan. Adalah Wisata Alam.

Sebutlah Banjarnegara, salah satu Kabupaten di Jawa Tengah dimana destinasai Wisata Alamnya makin banyak. Tidak sedikit objek wisata alam yang baru-baru ini bermunculan di Banjarnegara, Jawa Tengah. Curug-curug tersembunyi di Desa-desa bagian atas, misalnya. Menambah daftar deretan wisata alam yang layak dikunjungi ketika singgah di Banjarnegara. Pun termasuk telaga yang paling memesona di Jawa Tengah. Memang, telaga ini bukan telaga baru, hanya saja gaungnya mulai terdengar.

Sore itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur jalan Selomerto, Wonosobo. Kami yang tengah asyik menambah kecepatan laju sepeda motor, tanpa kompromi, menepi ke deretan Rumah Toko yang berada di pingir jalan raya.

Pakai mantel, dan amankan barang bawaan, ya. Kita akan menerjang hujan sampai lokasi.” Mas Ganjar, lelaki yang memimpin perjalanan menuju Telaga, mengambil keputusan yang luar biasa. Nampak tidak ada rasa was was , atau takut, sedikitpun.

Ya…gimana lagi, menuju telaga paling indah di Jawa Tengah adalah salah satu napsu yang sempat memuncak dari zaman jahiliyah. Kebanyang lah, ya. Makanya jangan heran, Mas Ganjar sampai mengeluarkan jurus kuda lumping.

Tidak sampai sepuluh menit persiapan, kami kembali melaju. Alhamdulillaah… hujan deras hanya sampai Dieng Wetan, Wonosobo. Ya, untuk mencapai Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah, kami memilih jalur Wonosobo dengan waktu tempuh kira-kira 90 menit dari tengah kota Banjarnegara. Alasan memilih akses ini tak lain karena jalan menuju Dringo lebih mudah dijangkau. Akses lainnya yaitu lewat jalur Banjarnegara kira-kira selisih 15 menit perjalanan. Memang lebih cepat, tapi kondisi jalan kurang bagus. Sejauh ini, akses menuju Telaga Dringo lebih nyaman melalui jalan Wonosobo-Dieng.

1 TELAGA DRINGO BANJARNEGARA
View dari depan tenda…

Melihat suguhan Telaga Dringo yang tidak hanya sekadar memesona, sekaligus perjalanan yang bisa dibilang cukup nekat ini menjadi moment yang susah dilupakan.

Mengendarai sepeda motor matic di jalan yang belum beraspal. Naik, temurun, dan beberapa kali sempat tidak percaya diri ketika menjumpai kelokan yang mana membuat gerogi. Nanjak, berkelok, dengan medan masih berupa tanah, dan bebatuan yang kurang tersusun.

Satu motor sempat terselip, motor matic yang dikendarai Mas Eko dan Lulu. Sementara motor satunya yang dikendarai Mas Ivan dan Winda sempat ngetril heboh karena KELEBIHAN MUATAN. HAHAHAHAHA *ngelirik Winda* Sedangkan motor Mas Ganjar aman, karena aku lebih memilih jalan kaki sampai lokasi meski bikin betis makin mlentis, tungkak pegal, dan si pahe makin kuat. Ini moment banget! Asli. Makanya, ke Telaga Dringo sampai tidak bermalam itu rugiiiii. Asli, rugiii banget. Kareba ada banyak cara asyik untuk menikmati keindahan alam Dringo.

Berikut cara asyik menikmati Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah. Cara asyik yang pernah kami lakukan bersama.

Jogging

Udara Dringo di pagi hari khas banget. Belum banyak Petani berlalu lalang di sekitar Telaga. Pemandangan alam nan hijau, perbukitan kanan-kiri, hamparan rumput, serta banyaknya pohon di antara perbukitan, menggugah semangat pagi hari untuk jogging. Cukup satu putaran, sukses membuat napas ngos-ngosan, baju basah karena keringat. Memori kamera juga ikut fresh kareana full dengan lanskap pemandangan alam.

2 SISI LAIN TELAGA DRINGO
Sayap kanan Dringo…

Ya…bagaimana tidak. Baru mau start jogging, sudah dihadapkan dengan pesona bukit Dringo yang segarnya melebihi Kang Al Ghazali abis mandi. Gunung yang berada di seberang, seakan berbisik: “jepret aku, jepret aku, dong. Jepret aku yang gagah, maskulin. Please.”

Telaga yang berada di perbatasan antara Kabupaten Batang dan Banjarnegara, dan lebih dikenal milik Banjarnegara ini asyik banget buat jogging. Jalan setapak yang kerap digunakan Petani sebagai akses menuju ladang, cukup membantu untuk olahraga Jogging. Sambil mencari embun, atau menanti Sunset. Jogging disekitar Dringo begitu mengasyikkan. Apalagi, teman seperjalanan pada semangat jogging. Nular, deh.

Camping

Telaga yang berada di ketinggian 2.222 m dpl merupakan telaga tertinggi di Pulau Jawa. Kebayang asyiknya camping di Dringo, kan? Camping di kawasan hutan yang -semoga- seterusnya akan terjaga kelesatariannya (aamiin), hutan heterogen, hutan yang membuat kami betah karena banyak pohon yang asyik banget buat pepotoan. Lha, ini pepotoan lagiii. 😆

“Cukup dengan tiga sampai empat jam di Dringo tanpa menginap!”

1 TELAGA DRINGO CAMPING

telaga-paling-memesona-di-jawa-tengah

Duuh…serius? Camping laah…CAMPING! Meski Telaga ini belum ada yang “ngejagain”, tapi camping di sini aman. Panggil saja Mas Ivan via udara, jika ingin merasa lebih aman jiwa, raga dan juga perut. Dia akan siap menjaga kalian dengan syarat dan ketentuan berlaku. Qiqiqiqi

Penduduk setempat yaitu penduduk Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara, sepertinya belum tergugah untuk andil mengelola Telaga sebagai objek wisata. Telaga ini sepenuhnya dikelola oleh Dinas Kehutaanan dan sampai sekarang belum dijadikan objek wisata. Hanya menitip jejak, atau camping sepuasnya di sini, tidak dikenakan biaya.

Naik Bukit!

Sist, kalau sudah sampai Telaga Dringo dan camping, please jangan cuma boboan di tenda, ya. Jangan hanya numpang makan dan minum di tenda. Naiklah ke Bukit. Ada kado spesial di atas sana.

Perjalanan menuju Telaga saja sudah penuh perjuangan, ya. Dari kompleks Candi Dieng, kurang lebih 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Belum lagi, treckkingnya yang membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dari jalan masuk, sesampainya kawasan hutan. Sayang banget kalau hanya menikmati dengan cara duduk di tepi Telaga.

Duuuh…galau ya, Sist? Qiqiqiqi

telaga-dringo-3-dieng
Bukit Dringo sebelah selatan. . .

Dringo cukup dekat dengan obyek wisata Kawah Candradimuka dan Sumur Jalatunda. Pernah mendengar dua objek wisata tersebut, kan? Kalau belum pernah, browsing dulu, deh. Atau, langsung ke sini aja, merasakan sensasi medan off-road untuk melihat Kawah Candradimuka dan tentunya Telaga yang paling memesona di Pula Jawa. *serius, paling memesona di Pulau Jawa* *tidak hanya di Jawa Tengah* *tidak percaya* *makanya ke Dringo*

Salah satu objek wisata yang kusebut, yaitu Sumur Jalatunda, dapat dilihat diameternya dari bukit Dringo, dan itu nampak unik syekali. Lihat, tuh, foto di atas. Nampak ada lubang dekat kepalaku, kan? Itu Sumur Jalatunda yang dipercaya bisa membuatmu berhasil keliling dunia jika bisa melempar batu sampai seberang Sumur.

Hah? Ini serius? 

Ya…coba saja tanya kepada penjaga objek wisata Sumur Jalatunda, ya. HAAAAAAP!

Di dekat bukit sebelah selatan, banyak tanaman Kentang yang mana perairannya mengambil dari Telaga Dringo. Bukit paling unik, dan sempat membuatku berpikir keras yaitu bukit yang berada di sebelah kanan, atau utara Telaga. Selain banyak pohon yang instagenic, di atas bukit ada pemakaman yang sama sekali tidak horror. 😆 😛

telaga-dringo-2-jawa-tengah
Kalau malam-malam, mana bisa deketan gini, ya. Hahahaha

Uwoooo…semalam tenda kita, tempat bobok kita, ternyata dekat dengan pemakaman, ya! Sedaap benar!😛

Tidak usah menghayal, atau berpikir macam-macam, ya. Pemakaman ini bukan pemakaman pada umumnya, kok. Menurut penduduk setempat, beberapa tahun silam pernah ditemukan tulang-tulang di sekitar Bukit. Wara memilih untuk menguburnya. Tulang-tulang tersebut entah tulang manusia atau hewan, aku tidak ingat. Padahal, Lulu dan Winda sempat menanyakannya kepada salah seorang Petani yang sedan memanen Kentang di Ladang dekat bukit. Tapiii…aku lupa. 😆

Pepotoan!

Ini wajib banget dilakukan. Apalagi sebagai Blogger, tidak cukup dengan lima puluh jepretan. Meski hasil jepretaku biasa-biasa saja, tapi setidaknya punya dokumentasi di Dringo yang akan menjadi kenangan sepanjang masa. Dan yang paling penting, foto-foto yang diambil bisa dijadikan blog post, sekalipun itu foto narsiiiis. 😛

TELAGA DRINGO BANJARNEGARA
Anak Pohon pasti betah di sini!

Ada banyak spot menarik di Telaga Dringo. Makanya, saat piknik ke Dieng, sempatkan untuk datang ke Telaga Dringo, telaga paling memesona di Pulau Jawa! 😉

Eiya…di kawasan Dringo ini masih bersih, dan akan terus bersih dari yang namanya sampah. Makanya, perlu banget menyiapkan wadah untuk membawa pulang sampah-sampah yang telah diciptakan manusia. Atau, korek api juga bisa. Siapa tahu ada plastik-plastik yang tertinggal di Dringo. Kita sama-sama menjaga Dringo supaya terus dan makin memesona.

telaga-dringo-1-banjarnegara
Berkabut, dan tetap memesona. Dringo!

Sekali lagi, jika sudah sampai kawasan Dataran Tinggi Dieng, atau Kawasan Candi Arjuna, Banjarnegara, singgah lah di Telaga Dringo, telaga paling memesona di Jawa Tengah. Jangan lupa, ceritakan pengalaman terbaikmu. Ceritakan kepada Dunia melalu media blog, instagram, twitter, facebook, atau media sosial lainnya. Ya ya ya…

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah

Hari Blogger Nasional, Merdeka (Sejenak) di Pagi Hari

Hari Blogger Nasional pada tahun ini jatuh pada hari kerja. Kamis, 27 Oktober 2016. Artinya, aku tidak bisa merayakannya meski hanya bersama suami, atau si kecil. 😀 Meski demikian, aku seperti tidak ingin melewatkan hari ini tanpa aktivitas Blogging. Maksa, ya? Merdeka sejenak laaaaah! HALAL. 😛

Usai mengisi daftar hadir, aku “parkir” di bangku panjang dekat kolam ikan, sebelah kiri kantin. Bangku yang biasanya digunakan oleh Bapak-Bapak untuk santai setelah makan, udud bareng, atau sekadar melamun entah memikirkan apa.

Banyak berita acara yang belum diketik. Atau, ternyata besok hari Jum’at. Pulang kagak, ya?.” Mungkin itu termasuk bagian yang menghiasi pikiran mereka.

Pagi ini, tidak seperti pagi kemarin, kemarin-nya lagi, pagi biasanya saat sampai di tempat kerja. Bangku panjang itu aku kuasai. Hanya ada aku di situ. Sebentuk kesengajaan aku melakukan aktivitas yang membuat banyak teman banyak bertanya.

Kamu sakit?

Pagi-pagi udah “pacaran” sama bojo. Semalam kagak ketemu, ya?

Handphone baru, ya

Merdeka menjadi Blogger sudah kurasakan sejak menjadi Blogger. Apalagi sekarang, makin merdeka, dong. Makin makmur dan sejahtera. 😛

Sekali lagi, pagi ini tidak seperti pagi biasanya saat sampai di tempat kerja. Duduk santai sembari di dekat kolam sambil memerdeka-kan diri (sejenak) sebagai Blogger karena hari ini adalah Hari Blogger Nasional. Merdeka sejenak yang kumaksud yaitu meluangkan waktu untuk kegiatan Blogging yang selama ini nyaris tidak pernah kulakukan kecuali by request. Merdeka sejenak di pagi hari. Lanjut saat pulang nanti.

Memang, kegiatan apa, sih?

Adalah BLOGWALKING! 😆 😀 :mrgreen:

Parah banget! Ya…gimana lagi, Kawans. Ternyata aku belum bisa membagi waktu untuk silaturahim seperti dulu, zaman masih single. Lebih parahnya lagi nih, ya. Setelah aku tinjau, belakangan ini, aku NgeBlognya sekadar update job atau placement. Jarang curhat, apalagi curcols. HAHAHAHA…*yagimanalagi* *anak kos pingin punya rumah susun*

Tanpa melihat linimasa yang pastinya banjir update-an perayaan Hari Blogger Nasional, aku membuka blog list, dan mulai blogwalking. Rasanyaaaaaaaa…pagi ini istimewa banget, merdeka banget, nyenengin banget, sampai pingin nyebur ke kolam ikan. *ini lebay dan bohong banget* Pagi-pagi bisa nyentuh Blog, dan Blogwalking. Asli, baru pagi ini sejak setahun yang lalu. 😛

Jujur dari hati yang terdalam, aku kangen silaturrahim ke blog Teman-teman, nih. Kurang update keseharian Teman-teman Blogger membuatku kurang pergaulan. KUPER. Apalagi, sekarang sudah tidak update berita di facebookBeuuh…tambah KUPER. Tidak update berita Tante Jupe yang katanya mirip masa mudanya Gusti Nurul sih biasa saja, ya. Lha ini, ngakunya Blogger tapi tidak hapdet di dunai per-blogger-an. HAHAHAHA…Wis…PAYAH.

hari-blogger-nasional

Tapii…yoben waelah. Terpenting pagi ini aku sudah Blogwalking sambil ngucapin selamat Hari Blogger Nasional kepada beberapa teman Blogger lewat kolom komentar. Ya…memang hanya beberapa teman Blogger saja, sih. Tapi, setidaknya aku jadi tahu kabar mereka dan keluarga.

Hari Blogger Nasional tahun lalu, aku ada bersama Teman-teman  Ketenger. Pagi-pagi sudah diajak senam EZEGEZEG! Tahun ini, aku merayakan Hari Blogger Nasional bersama ikan-ikan seksi. Yanasib, terus bersyukur dan bahagia menjadi BLOGGER! :mrgreen:  :mrgreen:  :mrgreen: 😆 😛 😛

KALAU KAMU, BLOGGERS?

UDAH NGAPAIN SAJA DENGAN SI BLOG?

Kenapa Check-Up Tahunan itu Penting?

Sebelum nulis ini, aku mencoba cari inforamsi tentang berapa banyak masyarakat Indonesia yang rutin melakukan check up tahunan. Informasi yang kucari lengkap banget dibahas oleh Kompas. Bahwa kesadaran masyarakat Indonesia untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan masih tergolong rendah.

Hayook…siapa yang sama sekali belum pernah health check-up

Aku pernah sekali melakukan pemeriksaan kesehatan, yaitu pas lagi progam hamil. Itu pun tidak menyeluruh. Asli. Sampai aku menulis tentang health check-up ini, aku belum pernah melakukan health check-up full version. 😆 😀 😛

Melihat minimnya masyarakat Indonesia yang melakukan health check-up, ternyata ada beragam alasan yang membuat mereka enggan melakukan tes kesehatan tahunan. Mulai dari biaya tes atau pemeriksaan yang dirasa mahal, ketidakbiasaan dengan perawatan medis, hingga ketakutan karena jadi tahu masalah kesehatan.

Menjadi tahu masalah kesehatan! Ini yang bikin aku sendiri takut memeriksakan kesehatan tahunan. Tidak haran, jika hanya 1 dari 3 responden di kota besar yang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin tiap tahun. Padahal pemeriksaan kesehatan tahunan adalah hal yang penting.

Kenapa Pemeriksaan Kesehatan Tahunan Penting?

  • Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Check-up secara rutin dapat membantu Dokter untuk mengetahui masalah kesehatan sejak dini. Jika ada masalah ditemukan, Dokter bisa langsung memberi informasi mengenai pilihan pengobatan yang tersedia. Masalah kesehatan yang diatasi secara dini dapat mencegah komplikasi.

Sudah tahu risikonya, tapi tetap saja aku enggan melakukan pemeriksaan kesehatan secara tahunan, ya. Padahal baik banget jika pemeriksaan kesehatan tahunan ini menjadi tradisi.

Keuntungan jika ternyata keadaan tubuh sehat, tidak ada masalah, hasil ini akan membantu mengetahui kondisi kesehatan tubuh. Meski tidak ada masalah, Dokter biasanya tetap memberikan tip apa yang harus diperhatikan, bagaimana pola makan yang baik, olahraga apa yang sebaiknya dilakukan, dan lain-lain.

  • Memotong Biaya Rumah Sakit

Memang, biaya checkup cukup besar. Tapi tanpa disadari, ini bisa menyelamatkan tabungan dalam jangka panjang. Semisal ada penyakit serius dalam tubuh dan tidak diketahui sejak awal, lama kelamaan penyakit tersebut berkembang dan membutuhkan penanganan khusus. Pastinya, biaya untuk penanganan tersebut jauh lebih mahal. Ya, kaaan?

Sebenarnya, apa Saja yang Dilakukan dalam Pemeriksaan Kesehatan Tahunan?

Jenis-jenis pemeriksaan yang dilakukan dalam pemeriksaan tahunan, antara lain: tes tekanan darah, pemeriksaan kadar kolesterol, pemeriksaan indeks massa tubuh dan tes kegemukan, tes diabetes, dan pap-smear (khusus bagi perempuan). Paket pemeriksaan tahunan yang ditawarkan rumah sakit berbeda-beda. Apalagi pemeriksaan detil sampai organ tubuh seperti Jantung. Masih sangat jarang untuk paket ini.

Biasanya sebelum pemeriksaan kesehatan secara tahunan, pasien diminta untuk puasa paling tidak 12 jam. Ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat dan maksimal. Mulai saja berjaga-berjaga. Ini hampir akhir tahun, lho.

Teman-teman pasti rutin untuk periksa keehatan tahunan, kan? Yuuk..sama-sama jaga kesehatan, Kawans! 😉

Rekomendasi Waterpark yang Asyik di Banjarnegara

Semenjak masih berdua, aku dan suami kerap mengisi akhir pekan yang tidak cukup panjang dengan kegiatan renang. Salah satu olahraga menyenangkan yang dapat kami lakukan bersama. Menyenangkan karena dapat menyehatkan badan, dompet dan yang tak kalah asyik tuh karena Banjarnegara mempunyai waterpark lebih dari satu.

Ini lah yang membuat kami tidak pernah bosan untuk renang. Terlebih saat ini ada si kecil, renang makin menyenangkan dan menjadi salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu. Cuma bedanya, dulu hampir tiap akhir pekan, sekarang satu bulan cukup sekali. Ini kalau mood kami lagi normal. Kalau mood sedang terjun, bisa sampai lupa rasanya main perosotan di kolam renang. 😛

Memang, waterpark di Banjarnegara belum setenar Owabong, waterpark di Purbalingga. Tapi, waterpark yang ada di Banjarnegara tidak kalah KEREN! Asli. Serius. Yakin.

Kagak percaya? Mari buktikan sekarang juga! 😆 😛 :mrgreen:

1. Surya Yudha Park

Sedari masih sendiri, aku memilih waterpark ini karena lebih mudah dijangkau dengan transportasi umum dan dekat dengan rumah, yaitu di Jl. Raya Karang Kobar KM. 1, Desa Rejasa, Madukara, Banjarnegara. Meski bukan waterpark favoritku, aku merekomendasikan SYP (Surya Yudha Park) sebagai pilihan pertama karena di sini tersedia berbagai jenis kolam untuk usia anak-anak sampai dewasa.

SYP ini waterpark favorit suami. Menurutnya, dia merasa nyaman dan betah renang di sini karena banyaknya wahana dan fasilitas yang disediakan. Seramai apapun, dia bisa menikmati. Lebih puas, katanya.

surya-yudha-park-banjarnegara

Fasilitas pendukung yang ada di SYP diantaranya yaitu Hotel bintang tiga, Cafe, Bioskop, Tempat fines, Berbagai spot menarik untuk berfoto, dan fasilitas lainnya seperti family karoke. Btw, si kecil juga suka banget kalau diajak ke sini. Soalnya banyak visualiasi yang membuatnya gemas. Seperti Onta yang ada di taman, atau patung merlion.

Meski HTM (Harga Tiket Masuk) cukup terjangkau, yaitu Rp 25.000 per orang, tapi waterpark ini kurang ramah untuk bayi sampai usia satu tahun. Kenapa? Karena SYP belum menyediakan air hangat yang dibutuhkan oleh bayi. Ya, supaya tubuh lebih fit dan nyaman, si kecil biasanya kumandikan dengan air hangat setelah renang.

2. D’Qiano Hot Spring Waterpark

Renang di Dataran Tinggi Dieng yang mana udara di sana dingiiiiiine pwoool. Pernah kebayang?

Ini kolam renang favoritku! Meski tidak begitu luas, tapi puas banget renang sekaligus berrendam di dalam air hangat alami. Iya, hangatnya kolam renang di D’Qiano ini alami dari aliran Sileri Dieng.

Kebayang nikmatnya, kan? Renang di waterpark tertinggi se Indonesia raya.

dqiano-dieng-banjarnegara

Seramai apapun D’Qiano, aku tetap betah berlama-lama di sini. Selain suguhan alamnya yang cakep abis, ada dua kolam dengan suhu lebih hangat dari kolam renang utama yang dapat digunakan untuk terapi. Kolam terapi ini airnya agak samar-samar aroma belerang, gitu.

Btw, di sekitar D’Qiano juga terdapat penginapan. Ya, menginap di sekitar D’Qiano, lalu paginya berrendam di kolam hangat. Asyik banget! Fasilitas penunjang seperti tempat makan, kamar ganti, toilet, dan mushala, telah disediakan.

HTM D’Qiano ini sangat terjangkau. Cukup membayar Rp 30.000, pengunjung bisa mulai renang dari jam 09.00 sampai jam 17.00 WIB. Renang sampai kulit keriput. Hahaha

Kami belum pernah mengajak si kecil ke sini karena lokasinya cukup jauh dari rumah. Tepatnya di Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara. Kurang lebih 90 menit dari rumahku. Padahal kalau dekat, tidak perlu repot-repot memesan air hangat untuk mandi si kecil karena air kolam sudah hangat, ya. 😛

3. Kolam Renang Serulingmas

Ini belum masuk waterpark. Masih sebatas kolam renang biasa. Kolam renang paling sederhana versi kami, tapi menjadi kolam renang andalan keluarga. Memang, tidak banyak mainan dan tipe kolam di sini, tapi kami nyaman di Kolam Renang Serulingmas.

Kolam renang ini satu lokasi dengan TRMS (Taman Rekreasi Marga Satwa) Serulingmas yaitu di Jalan Selamanik No. 35, Kutabanjarnegara. Ini salah satu alasan, mengapa kolam tersebut menjadi kolam favorit keluarga. Jika sedang punya banyak waktu, kami memilih untuk  keliling taman terlebih dahulu, melihat koleksi satwa TRMS.

seerulingmas-banjarnegara

Fasilitas yang disedakan sebanding dengan HTM yang murah meriah yaitu Rp 5.000 per orang, dan anak sampai usia 1 tahun gratis. Di sini serba sederhana, termasuk tempat ganti, toilet dan beberapa warung kecil yang menjajakan minuman dan makanan ringan. Sederhana, tapi pelayanan cukup memuaskan, baik dari bagian loket sampai warung-warung.

Selain satu lokasi dengan TRMS, alasan lain kenapa waterpark ini menjadi favorit kami yaitu karena ada satu warung yang menyediakan air hangat untuk mandi. Tidak hanya untuk bayi saja, orang dewasa juga boleh membeli air panas di warung.

Ya, air panas dijual dengan harga Rp 1.000 per gayung. Nyenengin banget pokoknya. Cukup beli tiga gayung, badan si kecil nampak lebih fit. Bapake sama Mamake cukup pakai air segar di kamar mandi. 😛

4. Serayu Park

Baik weekday maupun weekend, waterboom ini serasa milik pribadi. Suasananya tidak terlalu ramai. Meski banyak anak-anak yang menikmati kolam ini, tapi suasana SP (Serayu Park) tetap saja adem. Sebenarnya, aku suka banget renang di sini, di waterpark yang lokasinya cukup dekat dengan Kolam Renang Serulingmas. Namun, suami agak malas-malasan kalau diajak ke sini, nih.

Kira-kira karena apa malasnya? Padahal, kolamnya sama bersih dengan ke tiga kolam di atas.

serayu-park-banjarnegaraBagi suami, kolam renang dewasa di SP kurang greget. Padahal, aku suka banget dengan kolam arusnya. Tapi, suami suka alasan banget, nih. Padahal, pelayanannya okejos. Pengalaman, aku pernah minta air hangat untuk mandi si kecil, tapi karena tidak ada fasilitas tersebut, karyawan SP yang berada di sekitar kolam menawarkan satu liter air mineral untuk dimasak. Baik banget kan, ya. Peduli.

Air hangat tersebut tentunya tidak gratis. Maklum, sih, air mineral saja beli. Masa mau gratis muluuuu, ih. Cukup membayar Rp 5.000 tanpa tips, si kecil bisa mandi dengan air hangat, yey!

Eh, pingin tahu alasan lain, kenapa Ayahnya Jasmine malas-malasan kalau diajak renang di SP?

“HTMnya sih murce, Rp 15.000 per orang. Tapi, makanan di restonya mihil-mihil. Males ah!”

Hihihi…biasanya yang malas masalah duit itu perempuan, ya. Tapi ini laki-laki punya rasa malas juga. Uhuy…yaiyalaaah, orang yang bayarin untuk renang beserta embel-embelnya kan Ayaaaaah! HAHAHAHA…Suami juga paham banget dengan kebiasaanku setelah renang di sini. Yaitu mampir ke Resto Bumbu Alam yang berada di dalam satu lokasi, gitu. Dan aku selalu memesan makanan dan camilan dobel dobel dobel yang harganya memang lumayan. 😆 😛 😛

Dasar susah ngirit kalau pergi sama suami. Apalagi kalau tahu dibayarin. Ambiil…ambiill..pesaan…pesaan! 😆 Oiya, di sini juga ada tempat karokenya. Cukup ramai karokenya. Dulu pas masih suka jeng-jeng sama Sekawan, tempat karoke di SP ini merupakan tempat karoke favorit! Duuh…jadi kangen karokean bareng kalian, Kawan. 😛

Kalau disuruh milih, kamu lebih suka waterpark yang mana dari keempat waterpark di atas. Pilih saja, gratis. Kagak bayar. Tenang, aku tidak akan mengajakmu renang kok. 😛