Semangatnya terus menggebu meski mereka hanya bergerak dengan beberapa orang. Ruang geraknya pun tak terbatas, mereka dapat berdiskusi, dan mengahasilkan suatu karya kapan pun, di mana pun. Karena masing-masing berangkat dari passion, mereka menjalaninya dengan bahagia, tanpa beban apalagi tekanan.Uniknya, dari passion yang mungkin terlihat sederhana, mereka dapat memanfaatkannya sebagai ladang penghasilan.
Mereka adalah anak muda yang punya segudang ide, dan kreativitas. Dan perlu kamu tahu, di Banjarnegara juga banyak anak muda kreatif. Sebagian besar dari mereka telah tergabung dalam sebuah komunitas. Setelah karya tercipta, mereka punya tekad untuk mengenalkan karyanya kepada masyarakat luas.
“Ini karya anak muda Banjarnegara”. Seperti itulah yang ada di benak mereka, mungkin. Karya yang telah menjadi sebuah produk atau potensi memang patut diekspose. Sebut saja Kopi Banjarnegara.
Di Banjarnegara ada lebih dari sepuluh kedai kopi. Dan kopi yang diunggulkan mereka adalah kopi lokal Banjarnegara yang mana salah satu produk kopi Banjarnegara pernah mendapat juara 1 dalam suatu ajang festival kopi se Nusantara. Keren, kan? Memang, aku belum begitu paham tentang seluk beluk kopi dan apa yang membuat kopi Banjarnegara bisa go nasional.
Next, Kuliner Banjarnegara!
Nah, yang aku pahami bahwa, menyeduh kopi itu ngga semudah menyeduh teh yang tinggal ditabur atau dicelupin. Ada beberapa teknik menyeduh kopi dan itu harus dipelajari, ngga semua orang bisa. Mereka harus tahu karakteristik kopi, jenis kopi, belajar menyeduh, atau bahkan belajar memodifikasinya supaya orang yang ngga begitu doyan kopi bisa turut menikmati kopi lokal.
Stand Kopi Banjarnegara…
Dan tiga hari yang lalu, dari tanggal 14-17 Februari, kreativitas para Barista dalam menyajikan kopi unjuk kebolehannya di event Wing Craft Expo. Ada lebih dari lima stand kopi di sana. Kopi Sabin,Warung Stasun, Bara Api, dll dll. Stand mereka ada di belakang panggung.
Unjuk kebolehan di panggung…
Wing Craft Expo diselenggarkan oleh Indagkop UKM Kabupaten Banjarnegara dan Banjarnegara Community University (BCU) sebagai wadah komunitas di Banjarnegara. Expo yang bertemoat di gedung kuliner banjarnegara digunakan sebagai ajang untuk mengenalkan dan juga memamerkan hasil kreativitas anak muda Banjarnegara.
Di gedung kuliner ini, model stand letter U dan dikelompokan sesuai dengan jenis kreativitasnya untuk memudahkan pengunjung dalam melihat karya atau hasil kreativitas anak muda.
Apakah di Expo hanya ada stand Kopi?
Ngga! Ada lebih dari 70 stand yang bakal bikin kamu bangga kepada anak muda Banjarnegara.
Running Text, berawal dari hobi..
Sebut saja stand Bentala Engineering. Si empunya Bentala ini memang hobi mempelajari mikro controler. Dalam aplikasinya, banyak karya yang sudah mereka hasilkan. Lighting electro dalam bentuk running text, misalnya. Hampir semua running text yang terpampang di lampu merah Banjarnegara dan beberapa dinas di Kabupaten Banjarnegara adalah hasil karya Bentala. Arvin Meiyono bersama tiga temannya terus melakukan inovasi untuk produk-produk yang berkaitan dengan Micro Controler. Kamu dapat melihat hasil produk mereka di www.bentalaengineering.co.id.
Detail banget…Tak kalah unik karyanya…
Ini baru dua kreativitas anak muda Banjarnegara, ya. Masih banyak bentuk kreativitas lainnya. Berangkat mulai dari hobi seperti lukisan kayu Siluet Art, Kuliner Bento, sampai dengan memanfaatkan hasil pertanian seperti Salak dan Ketela Rambat di mana saat ini harga jualnya di sini turun drastis. Dengan berbekal ilmu dan pengalaman, para pemuda Banjarnegara memanfaatkan hasil pertanian tersebut dalam bentk produk yang unik, menarik, dan tentunya berdaya jual lebih.
Memanfaatkan ketela…
Event Wing Craftt Expo dengan tema Banjarnegara Youth Creativity Center memiliki tujuan dan harapan yaitu segala macam bentuk kreativitas pemuda Banjarnegara nantinya dapat terakomodir dan juga difasilitasi oleh pemerintah daerah baik dari tempat, maupun alat.
Oiya, Kuliner Banjarnegara yang berlokasi di eks. Kantor Pertanian Banjarnegara atau sebelah barat pom bensin kota nantinya akan dijadikan pusat kuliner Banjarnegara. Tepatnya kapan, belum ada informasi yang pasti. Ditunggu saja, ya.
“Tahun ini, aku betul-betul ingin kembali aktif ngeblog di blog ini, khususnya. Niatnya, sih, update seminggu dua kali. Hari lain, aku gunakan untuk update blog Kecemut dan Curhatan Kerja. Blog CERIS Wisata dan CERIS Tekno, karena sudah dibantu update sama Om Arman dan Tante, sedikit woles lah, ya. Hahaha. Doakan bisa kembali rutin ngeblog dan blogwalking ya, Temans!”
Tahun ini, 2016. Ya, petikan paragraf di atas aku ambil dari resolusi aku di tahun 2016. Sebuah keinginan atau bisa dibilang resolusi telah tertulis kala itu. Awalnya sudah kayak pejabat yang tiap harinya punya agenda kerja padat. Dari tanggal muda sampai tua, sudah tertulis jadwal buat ini itu. Dan lagi-lagi, implementasinya jauh dari apa yang sudah aku tulis. Meski tiap bulan sudah membuat jadwal untuk update blog, sampai pada waktunya eksekusi, ada saja kendala. Malas, misalnya. Atau alasan klise seperti ngga punya ide, mau nulis apa, dan capek. 😆 😆
Dan aku setuju banget dengan Mak Summayah bahwa, baiknya melakukan refleksi dulu sebelum resolusi. Ini yang menjadi tema #KEBloggingCollabkelompok Najwa Shihab.
Iya, rasa-rasanya kurang adil kalau harus terus-terusan menuliskan resolusi tiap tahun tanpa diimbangi dengan refleksi. Entah itu resolusi baru, atau resousi lanjutan dari tahun kemarin. Evaluasi, tuh, penting banget. Ya ngapain bikin resolusi muluk-muluk untuk rajin update blog atau Blogwalking, kalau pada kenyataannya masih nyaman scroll feed Instagram atau chit chat. Parahnya, aku masuk zona tersebut. Zona aman mentelengin Instagram dan terlalu asyik ngobrol sama teman lewat chat. 😀 Setelah kembali evaluasi, sebenarnya alasan punya bocah kecil, tuh, ngga begitu berpengaruh. Tapi tahun kemarin, itu aku jadikan alibi. Maafkan Ibu ya, Nak. 😉
Si Kecil asyik dengan dunianya… 😀
Alibi ngga hanya sampai pada si kecil, pekerjaan yang semakin menumpuk pun aku jadikan kambing hitam kala itu. Padahal kalau mau tahu, dalam kurun waktu satu tahun, satu pekerjaan yang aku tarjetkan bakal selesai, sama sekali ngga ada perkembangan. Aku selalu menunda-nunda untuk menyelesaikannya. Dudududuh…kalau sampai atasan tahu, aku bakal dikasih duit dua milyar. Dezeeg!
Etapi di tahun 2017, aku ngga ngenes-ngenes amat, kok. Masih rutin update blog Kecemut. Sesekali update CERIS Tekno meski sering menelantarkan blog CERIS Wisata yang sekarang berganti domain menjadi Minggatan. Selain itu, meski tarjet pekerjaan kantorku ada yang gagal, atasan tetap menambah pekerjaan untukku. Satu aplikasi dowang, sih. Tapi agaknya serius dan mungkin akan menambah jam terbang. 😆 😛 😛 #somboong
Masih di tahun 2017, ini hampir di penghujung tahun, aku kembali bisa meyakinkan Dinpar Kabupaten Banjarnegara untuk mengadakan famtrip dengan jumlah peserta dua kali lipat dari tahun lalu. Bahagia banget, kan. Apalagi dapat bonus space untuk pengukuhan GenPI Banyumasan. Kan rasanya tambah bahagiaaaaa tauuuuuk. 😆
Pengukuhan GenPI Banyumasan, sebelum Famtrip….
Sssst…btw, ada yang paling membuatku bahagia di tahun 2017. Yaitu tentang pertemanan. Iya, dari ikut acara tentang Pengembangan Pariwisata yang diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Pariwisata dan Kabupaten Banjarnegara, aku dapat banyak teman baru. Dari sini lah sekarang tiap akhir pekan, aku melakukansemacampemetaan wisata Kabupaten Banjarnegara bersama beberapa kawan. Ada lagi yang bikin aku semangat untuk turut memajukan pariwisata Banjarnegara, yaitu tentang GenPI Banjarnegara. Ya, setelah dikukuhkan tanggal 10 Nopember lalu, sekarang sudah mulai gerak, gitu. Kan tambah semangat kalau bertemu banyak teman satu passion. 😉
Lalu, apa kabar keluargaku? Ada Bojo, Kecemut dan Orang tua! Alhamdulillaah mereka mengerti. Asal ngga Sabtu-Minggu atau hari libur kerja kepakai buat pemetaan semua, ya. Aku tetap harus menyisakan waktu untuk keluarga, khususnya untuk Yasmin. Memang, semenjak bulan Juli, aku putuskan untuk hidup dengan ART. Tapi bukan berarti aku bisa terbang bebas karena keluarga udah ada yang ngurus. Kapasitas ART, kan, membantu, ya. Jadi ngga sepenuhnya pekerjaan ditangani olehnya. Tetap gotong royong lah.
Akrab banget, ya…
Eh iya, tahun ini aku resolusiku ngga semuluk-muluk tahun lalu. Dari awal niat banget konsisten, tapi pada akhirnya ngga greget. Hahaha.
😛 Quality timedengan keluarga adalah saat sedang di rumah. Mendampingi Syaquita Yasmin tanpa pengang gadget. Menemainya bermain atau bercerita sebelum dia ke alam mimpi. Suamik? Aaaah…dia, mah, supportable apa yang aku kerjakan. Terpenting adalah kebersamaan. Berapa pun sisa waktu dalam sehari, kami berusaha untuk pacalan. #euuh #celup
😛 Update blog terus berjalan semampu aku. Apalagi sekarang Om Arman, yang ikut ngadmin CERIS Tekno, sudah kerja di sebuah Rumah Sakit Swasta. Ngga jamin bakal bisa bantu update blog secara rutin. Pun dengan Tante. Sekarang makin sibuk dengan kegiatan di Sekolah, makin banyak yang dipikiran juga. Maklum, usia terus bertambah. Hahaha. #apahubungane. Eeits, mari ngumpulin tenaga buat blogwalking lagiiiiiii! #ikatperutsekencangmungkin
😛 Pekerjaan yang sempat tertunda tahun lalu, akan segera aku eksekusi. Berhubungan lebih baik dengan atasan, atasannya lagi, atasan atasannya lagi, dan seterusnya supaya data-data yang akan aku eksekusi cepat turun! #syemangat #pantangmenyerah
😛 Mapping wisata Banjarnegara juga tetap berjalan, lho. Dan tentunya, ber-iring-an dengan kegiatan-kegiatan GenPI Banjarnegara yang insya allah juga turut mempromosikan pariwisata Banjarnegara. #gasssss
Hasil berburu…
Yasudah lah, rasanya sudah sangat lengkap harapan yang bakal aku wujudkan di tahun 2018 ini. Kalau misal masih terlihat ada yang kurang, paling kurang piknik. Belum ada rencana untuk ini, ngalir saja mau kemana. 😆 😆 Selamat tahun baru 2018 di tanggal 3 Januari, Temans! Semoga makin semangat untuk berkarya dan juga berbagi, ya. 😉 😉 Baca jugaRekam Jejak 2016. 😀
Ps. Nulis ini hasil begadang sampai jam 01.00 WIB. Asli, aku kangen begadang untuk update blog. Uuwwwh…biasanya jam 21.00 WIB udah tefaaaaar. 😆
Kecantol Grab di Semarang – Aku pernah punya pengalaman yang tak mengenakan tentang pemesanan travel jurusan Semarang-Banjarnegara. Saat itu, aku sedang ada tugas dinas ke Semarang. Dalam kurun waktu dua jam, aku memesan travel sampai tiga kali di agen yang sama. Dududu…
Pertama, karena prediksiku bakal pulang lebih awal kira-kira jam 13.00 WIB, aku menelpon agen travel jam 12.00 WIB. Alhamdulillah masih tersisa dua kursi. Ada rasa takut akan kehabisan tiket, aku pun langsung memesannya. Dan benar, jam 12.00 aku dapat menyajikan laporan yang sudah kubuat. Setelah diteliti oleh pihak korwil, ternyata ada kesalahan input data untuk beberapa akun. Sungguh di luar dugaan. Tanpa berpikir lama, aku menggeser jadwal pemberangkatan travel. Dari yang tadinya berangkat jam 13.00, menjadi jam 14.00 WIB. Hanya selisih satu jam dari pemesanan sebelumnya.
Setelah aku pikir ulang, estimasi yang kubuat asal banget karena aku ngga memperhitungkan waktu ishoma. Sampai jam istirahat selesai, penyajian laporan pun tak kunjung selesai. Duuuh…
Tempat untuk mengenyangkan perut… 😀
Sepuluh menit lagi menuju jam dua. Ketimbang gugup sendiri, aku kembali memutuskan untuk menggeser jam pemberangkatan travel. Betul-betul ngga enak hati sama cs-nya, takut dikatain plin-plan. Tapi mau gimana lagi, risiko dinas luar tanpa diantar mobil dinas ya seperti ini. Dan perlu kalian tahu, aku menggeser pemberangkatan ini sampai tiga kali. Pada akhirnya, dengan berat hati aku membatalkan pemesanan tiket dan pasrah akan sampai rumah jam berapa. Dududuuh…rasanya ngga enak banget. Meski pihak travel ngga mempermasalahkan, tapi rasanya memalukan. Hiks.
Baca cerita tentang Traveling di Semarang.
Waktu itu otak memang lagi ngga fokus kerja. Selain kondisiku sedang kurang fit, Kecemut pun sedang sakit. Makanya saat mengerjakan ulang di sebuah hotel, kerap salah. Beruntung, teman-teman operator satu karesidenan juga ada beberapa yang harus perbaikan. Rasa-rasanya seperti tertolong, antara ada teman seperjuangan dan ada teman bareng saat pulang nanti.
Ya, mereka semua cowok dan sudah sepakat akan pulang malam. Dudududuh…kembali putar otak, ya. Kali ini aku memilih alternatif lain yaitu memesan shuttle. Meski nanti ngga diantar sampai rumah, yang penting bisa sampai Banjarnegara dengan selamat dan lebih cepat.
“Pak, masih ada sisa kursi untuk pemberangkatan jam 18.00 WIB? Turunnya di Banjarnegara.” Lewat telepon, aku kembali memesan transportasi untuk pulang. Kali ini aku optimis kalau pekerjaan akan terselesaikan tepat waktu. Semangat menyelesaikan pekerjaan bisa dibilang menggebu-gebu karena ingin cepat pulang dan ketemu Kecemut lagi.
Akhirnya berguna juga aplikasi ini…
“Ikut shuttle Sindoro mau? Masih sisa dua kursi.” Mendengar masih ada kuota kursi, rasanya ingin segera terbang sampai agen shuttle. Ngga sabar banget, ya. Hahaha.
Yuhuui…karena shuttle, mereka ngga bisa jemput di tempat. Aku harus ke Terminal Sukun Banyumanik (kalau ngga salah), tempat agen shuttle Sindoro. Ngga masalah karena di Semarang banyak transportasi yang bisa dipesan melalui aplikasi. Dan satu-satunya aplikasi transportasi online yang aku punya saat itu adalah Grab.
Aku download aplikasi ini seperti buat pajangan dowang di handphone. Belum pernah aku pakai sama sekali karena di Banjarnegara belum ada Grab. Navigasinya mudah dipahami, menggunakannya pun mudah. Berasa langsung klik seperti ketemu jodoh, gitu. Apalagi pas lagi butuh, kebetulan ada Grab Car yang sedang jalan menuju hotel tempat acara. Ya sudah, aku langsung gebet mobil Honda Brio warna hitam yang dikemudikan oleh Mas Heri. Saking ngga sabarnya, aku sempat telpon dan beberapa kali chat lewat aplikasi Grab. Idiih…penumpangnya lebih agresif, ya.
Biaya tambahan akan dimasukan nota juga, bila perlu….
Pelayanan transportasi dari Mas Heri ini terbilang memuaskan. Soalnya dia bisa mengkondisikan dan paham betul kebutuhan penumpang. Sebelumnya aku sampaikan bahwa, shuttle yang telah kupesan akan berangkat jam 18.00 WIB. Tahu waktunya cukup mepet, dia menambah kecepatan berkendara, tanpa meresahkan anak gadis yang ada di dalam mobilnya. Udah gitu, dia memilih lewat tol supaya ngga ketemu dengan yang namanya macet.
“Betul, lewat tol saja, Pak. Nanti aku yang bayar e-tol.” Aku mencoba meyakinkan Mas Heri supaya lebih cepat sampai shuttle. Hati ini udah rada panik, Brey.
“Iya, pasti mbak yang bayar, kok. Tapi nanti kalau perlu tak tambahin di nota biar Mbak ngga nombok buat laporan ke kantor.” Aaah..tahu banget kebutuhan laporan buat kantor, ya. Padahal lewat tol cukup membayar 5 ribu saja, tapi Mas Heri tetap menambahkannya di tagihan pembayaran. Gimana ngga kecantol sama Grab, coba? Pengalaman pertama pakai Grab dan mendapat sopir yang pengertian. 😉
Aplikasi yang suka ngasih cash back… 😉
Bisa jadi aplikasi dari jasa transportasi online ini akan menjadi andalanku jika pergi keluar kota karena aku lebih sering memanfaatkan transportasi umum. Terlebih kalau ngga dapat pendampingan dari sopir kantor. Kabar baiknya, di Harbolnas tahun ini, ShopBack nawarin Voucher Grab.Tiap pembelian voucher Grab, kamu akan mendapat cashback, potongan harga dan atau diskon sesuai penawaran yang tercantum dalam website. Asyik, kaaaan?
Udah kecantol Grab di Semarang, kira-kira bakal kecantol di mana lagi, yaaaa? 😆
Siapa yang tidak tergiur dengan kata-kata diskon ataupun potongan harga pada setiap label produk yang ada diberbagai toko konvensional maupun toko online. Hal itu akan menjadi pandangan umum setiap tahun, seperti halnya diskon akhir tahun 2017 yang baru akan dimulai ini. Jadi bagi Anda yang gemar berbelanja, mulai dari sekarang bisa siapkan catatan barang dan juga anggaran yang dibutuhkan. Karena penghujung tahun merupakan salah satu moment diskon besar-besaran jadi sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.
Tetapi seiring perkembangan jaman antusias masyarakat dalam menyambut kemeriahan diskon akhir tahun disetiap mall sudah semakin berkurang. Apalagi saat ini banyak bermunculan berbagai toko online yang menyediakan berbagai barang dan juga promo lebih menarik.
Orang lebih tertarik untuk melakukan belanja melalui gadget dari pada harus susah-susah ke mall. Tapi dibalik banyaknya kelebihan tentu berbelanja online juga mempunyai kekurangan. Bahkan kekurangan tersebut dapat menjadikan Anda tidak bisa sukses menikmati diskon akhir tahun pada sebuah toko online.
Namun, berikut ini ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk tetap dapat memeriahkan keseruan berburu diskon pada situs jual beli online dengan cara:
1. Gadget yang mendukung.
Pertama yang perlu Anda perhatikan adalah kemampuan gadget yang stabil untuk mendukung kegiatan berburu diskon pada penghujung tahun. Sekarang ini banyak smartphone canggih yang menawarkan berbagai kelebihan masing-masing. Dalam hal ini Anda harus mempunyai salah satu kelebihan pada ponsel pintar supaya lebih lancar dan tidak ketinggalan promo ataupun diskon yang berlangsung gara-gara handphone yang jadul.
2. Internet stabil.
Yang kedua adalah adanya internet yang stabil, ini merupakan salah satu hal yang terpenting. Sekarang bisa Anda bayangkan sendiri jika ada sebuah smartphone canggih tetapi internet tidak stabil tentu kegiatan berburu diskon akhir tahun 2017, yang gila-gilaan akan tertinggal jauh. Padahal seperti yang diketahui jaringan internet yang luas akan menjadikan barang promo banyak peminatnya dan cepat habis.
Gadget yang mumpuni, yaa…
Jika hal tersebut dilakukan dengan internet yang tidak stabil tentunya barang yang Anda impikan gagal untuk didapatkan.
3. Paket data cukup.
Pastikan kuota Anda dapat digunakan untuk berburu diskon dari awal sampai dengan akhir, sayangkan jika baru setengah perjalanan pemesanan tiba-tiba kuota sudah habis. Makanya dari itu sangat disarankan untuk membeli atau memenuhi kuota internet dari awal dari pada kehabisan ditengah jalan.
4. Pastikan pilihan.
Sebelum Anda berburu diskon lebih baik pastikan terlebih dahulu barang apa yang Anda incar. Dalam hal ini Anda harus mencari informasinya terlebih dahulu sebelum diskon harbolnas berlangsung. Cara ini untuk mengantisipasi adanya keterlambatan atau pertimbangan yang banyak memakan waktu.
5. Gerak cepat.
Kemudian saat datang waktunya diskon Anda sudah siap dengan segala perlengkapan dan juga barang yang dituju. Dengan begitu Anda bisa langsung gerak cepat dengan gadget yang sudah disiapkan sebelumnya. Jangan sampai produk yang Anda inginkan soldout sebelum Anda mendapatkannya.
Nyari apa di Buka Lapak?
Dari beberapa tips di atas dapat Anda gunakan untuk melakukan pemburuan jenis promo pada toko online lainnya. Jadi semua yang bersifat terbatas itu perlu adanya strategi untuk mendapatkannya, seperti halnya diskon harbolnas yang hanya ada pada beberapa hari dalam satu tahun. Setelah mendapatkan barang yang diinginkan rasa puas akan keseruan berburu diskon akhir tahun 2017 terbayar sudah. Mendapatkan barang impian, kualitas yang bagus pastinya dengan harga yang istimewa.
Salah satu hal yang menjadi perhatianku saat hamil adalah tentang ASI (Air Susu Ibu) Sebagai calon Ibu baru, aku terus belajar tentang bagaimana cara yang benar memberikan ASI kepada si kecil. Bagaimana caranya agar ASI yang keluar dapat memenuhi kebutuhan harian si kecil. Ini mulai aku perhatikan semenjak hamil lima bulan, hingga akhirnya saya mengadakan evaluasi sebagai Ibu menyusui yang juga bekerja.
ASI dapat keluar setelah bayi lahir. Makanya, aku ngga bisa memastikan ASI-ku akan berlimpah atau ngga nantinya. Sebenarnya agak was was. Apalagi aku seorang pekerja yang berangkat pagi, pulang sore. Apakah aku bisa memberi ASI penuh untuk si kecil? Agaknya ragu. Beruntung, keluargaku berhasil meyakinku untuk hal ini. Mereka terus menyemangatiku, dan memintaku untuk berpikir positif. Alhamdulillaah…sampai blog post ini terbit, aku masih memberi ASI untuk Yasmin.
Sebagai Ibu pekerja yang ingin memberikan ASI full kepada si kecil, ternyata ada babak baru sebagai harus dilalui. Adalah memerah ASIP (Air Susu Ibu-Perah) dan menyajikannya untuk si kecil. Inilah yang menjadi evaluasi pertamaku.
Aku ingin memberikan ASI sampai si kecil usia dua tahun, sementara aku seorang ibu pekerja. Bagaimana agar keinginanku dapat terwujud? Jawabannya tak lain adalah stok ASIP. Mulai dari sini, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi.
Pertama adalah Pompa ASI
Pemilihan pompa ASI menjadi prioritas utama. Sebulan menjelang persalinan, aku masih galau memilih pompa ASI. Antara pompa ASI manual atau Elektrik. Aku ngga mungkin beli keduanya karena masih banyak perlengkapan bayi yang musti dibeli. Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli pompa ASI manual.
Seminggu berjalan, ternyata hasil perahanku belum memuaskan. Bertanya kepada teman-teman yang pernah menjadi Ibu perah, ternyata memang kurun waktu seminggu hasil perah belum begitu banyak.
“Makin sering memerah, makin banyak hasil yang didapat.” Begitu kata temanku yang saat itu sedang punya baby juga. Cuma bedanya, dia anak ke dua, sementara aku anak pertama. Dia lebih banyak pengalaman. Aku pun mengikuti sarannya, makin rajin memerah.
Saat masih cuti, aku bisa memerah sampai lima kali. Namun setelah jatah cuti habis dan masuk kerja, cukup banyak pekerjaan yang musti diselesaikan tepat waktu, belum lagi jika ada teman kantor minta tolong ini itu, aku harus segera membantunya. Pada akhirnya, waktu untuk memerah berkurang.
Ternyata menyisihkan waktu lima belas menit untuk memerah ASI itu cukup susah. Dan karena aku menggunakan pompa ASI manual, rasa-rasanya belum memerah sudah capek. Untuk kedepannya, memilih pompa ASI elektrik mungkin menjadi pilihan terbaik. Nabung duluuuu. 😆
Kedua adalah Botol ASIP
Sedar awal, aku lebih mantap memilih botol ASIP kaca. Aku membeli botol ASIP ini secara online dibantu Mbak Noe. Saat itu, aku membeli botol ASIP dengan kapasitas 100 ml. Ternyata kebutuhan ASI saat Yasmin usia 3 bulan, tuh, cukup 50 ml sekali minum dan ini sampai usianya 4 bulan.
Beli yang 50 ml….
Aku rasanya eman-eman kalau botol ukuran 100 ml hanya diisi setengahnya saja. Sementara Mbah Utinya kurang telaten kalau harus menghangatkan ASIP hanya setengah botol. Adanya 100 ml, ya dihangatkan semuanya. Kadang mubadzir. Untuk kedepannya, perlu membeli botol ASIP kapasitas 50 ml. Aku sudah membelinya, sih, tapi saat itu hanya beli 12 biji dowang dan itu kurang.
Ketiga adalah Penghangat ASIP dan Sterilizer
Sejauh ini, aku masih menggunakan penghangat ASIP manual. Yaitu gelas dan air hangat. Ternyata menghangatkan ASIP dengan cara ini kadang bikin gugup. Apalagi kalau si kecil mintanya dadakan. Kadang Mbah Kakung harus turun tangan ikut menenangkan cucunya karena Mbah Uti harus menghangatkan ASIP. 😆
Kedepannya, mungkin aku membutuhkan penghangat ASIP sekaligus sterilizer. Selain meringankan tugas, alat ini ada pengatur suhunya. Jadi lebih aman lagi untuk kualitas ASIPnya. Maunya, nanti beli yang sekaligus bisa untuk sterilisasi botolnya. Harganya memang lumayan mahal, makanya perlu nabung dulu. 😆
Tiga hal di atas adalah sebagian evasluasi aku sebagai Ibu menyusui sekaligus Ibu pekerja yang ingin memberikan ASI penuh kepada si kecil. Niata awal yang ingin aku kerjakan secara manual, seperti menghangatkan ASIP atau membersihkan botol ASIP memang sudah terlaksana. Tapi ternyata kadang tenaga ngga sampai. Sok banyak yang diurus. 😀
Eh btw, perlengkapan ASIP yang kusebut di atas sekarang mudah didapatkan. Apalagi sekarang ada toko online yang menyediakan perlengkapan bayi. Seperti perlengkapan yang kubutuhkan tadi, sekarang ready dan dapat beli di sini. Tinggal klik, langsung ketemu barang yang dibutuhkan. 😉
Haii…siapa yang sudah follow akun instagram dan twitter @genpijateng? Ada banyak informasi penting yang telah dibagikan melalui akun tersebut, lho. Open recruitmen volunteer baru, misalnya. Atau, kegiatan yang sedang berjalan sekarang yaitu kuis #pesonaramadan2017 yang berhadiah pulsa seatus ribu tiap harinya dan lomba vlog dan blog yang berhadiah smartphone. Kece banget, kan?
Nah, untuk mempersiapkan kegiatan di atas, ternyata ngga cukup dengan hanya ngobrol melalui online saja. Meet up yang dikemas dalam bentuk buka bersama a la GenPI pun akhirnya diselenggarakan pada hari Minggu (4/6) bertempat di Gallery Radja Pendapa, Ungaran, Semarang.
Aku berangkat dari Banjarnegara pukul 10.00 WIB menggunakan travel favorit yaitu Tri Kusuma. Sengaja lebih awal karena acara akan dimulai pukul 16.00 WIB. Sesampainya di Semarang, aku turun di ADA Banyumanik untuk mokah di McD. *eh. Yawla…aku anak solehah dan ngga mungkin mokah. Hahaha.
Bukan. Bukan untuk mokah, melainkan untuk menunggu Pak Ketua untuk berangkat bersama menuju Radja Pendapa. Tapi karena sampai ADA masih terlalu siang, aku pun jalan-jalan dulu. Itung-itung cuci mata, melihat dan meraba baju. 😀
Pukul 14.30 WIB, Pak Ketua bersama isterinya menjemput aku dan teman-teman lain yang masih di rumah. Ada Mas Hyudee, Mas Vicky, dan Mbak Dedew bersama kedua anaknya. Ini pertemuan kedua dengan mereka setelah acara pembentukan GenPI Jateng. Kali ini aku betul-betul paham dengan yang namanya Mas Shafig (Pak Ketua), Mas Hyudee dan Mas Vicky karena dulu saat FGD hanya say hello. Hahaha. Kalau sama Mbak Dedew, sih, udah cukup kenal. 😛
Selamat datang di Gallery Radja Pendapa!
Ungaran sore itu ngga begitu ramai. Jalan raya pun ngga begitu padat. Perjalanan dari ADA menuju Radja Pendapa dengan bantuan Google Maps ngga lebih dari tiga puluh menit.
Sesampainya di Radja Pendapa, ternyata kami datang paling awal, dong. Tuan rumah, Pak Don, belum sampai. Kami pun langsung bersantai layaknya di rumah sendiri karena emang homey banget. Duduk sambil main gadget di pinggir kolam yang berisi ikan koi. Nostalgia ke masa kecil dengan bermain congklak. Foto-foto di rumah adat karena gebyoknya emang asyik buat pepotoan. Bisa juga ngadain acara bareng teman-teman, rekan kerja, atau para mantan, karena sudah disediakan dua pendapa di bawah rumah adat.
Selang beberapa menit, Pak Don beserta keluarga akhirnya datang. Btw, Radja Pendapa ini bukan rumah Pak Don. Hanya saja, beliau kerap menjamu tetamunya di sini. Isteri Pak Don yang ramah dan cantik banget hadir dengan membawa bunga-bunga untuk ditaruh di pot meja. Beragam bunga segar yang telah tertata rapih di atas meja menambah suasana pendapa makin hidup.
Satu per satu teman-teman GenPI Jateng akhirnya mulai berdatangan. Acara diskusi pun dimulai pukul 16.30 WIB, sembari menunggu waktu bukber. Acara bukber a la GenPI Jateng ini lain dari bukber pada umumnya. Lebih produktif karena banyak yang kami diskusikan. *uhuuuk
Pemetaan itu penting!
Tindak lanjut dari open recruitmen menjadi topik yang membuatku dag dig dug. Pendaftaran volunteer baru dibuka selama lima hari dan aku ngga yakin teman-teman se eks karesidenan Banyumas banyak yang daftar atau ngga. Hahaha. Ini penting banget, asli. Takut embrio-embrio ngga banyak bermunculan di karesidenanku ini. Berat, Sist. 😀
“Paling ngga, kita punya dua bagian penting untuk promosi wisata di Jawa Tengah. Ada yang ‘cek ombak’, dan fokus pada bagian konten. Pemetaan itu penting.” Ungkap Pak Don saat diskusi.
Bagian ini, nih, yang membuatku makin ngga yakin dan baper. Hahaha. Karesidenan Banyumas terdiri atas empat Kabupaten: Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap. Sementara ini, aku belum pernah bebarengan dengan netizen Purbalingga dan Cilacap dalam suatu acara. Kalau Banyumas, sih, ada banyak teman di sana. Blogger dan pegiat sosial media di Banyumas kece-kece banget.
Ukiran rumah adatnya bagus, ya.
Mestinya aku ngga perlu was was, sih. Karena GenPI, kan, wadah buat para volunteer nih, ya. Jadi yang ikut bergabung ya memang hanya yang mau saja. Ngga boleh ada unsur pemaksaan, apalagi iming-iming untuk mendapat “materi”. Selain itu, sesama korwil, kami saling membantu untuk gaaaas polll. 😆 Saling support juga untuk kemajuan pariwisata Jawa Tengah.
Diskusi berlangsung hingga bedug maghrib, dan dilanjutkan dengan buka puasa dengan takjil yang menggoda, dan menu-menu spesial yang tiada duanya. Empek-empek, urab, sohun, sate lilit, sambel matah, ikan terbang, ayam betutu. Yuuumm…aku kalaaap! Hahaha.
Buka bersama GenPI Jateng di Radja Pendapa. Ini dia menu buka spesial kami hari ini ? #GenPIJateng #KulinerRamadhan #PesonaRamadan2017
A post shared by GenPI Jawa Tengah (@genpijateng) on
Usai buka bersama dan ibadah, diskusi kembali dilanjutkan dengan pemetaandan makin terperinci. Tanpa disadari, PR pun makin banyak tentang promosi wisata Jawa Tengah dan bikin gereget. 😆 Bukber ditutup pukul 19.30 WIB. Aku pun kembali ke Banjarnegara diantar oleh Mas Don Suke, Mbak Uniek, Tina dan Mia. 😉
Btw, terima kasih buat teman-teman yang sudah mendaftarkan diri menjadi volunteer GenPI Jateng. Semoga bisa bareng-bareng ngeGAAAAAS pariwisata Jawa Tengah, ya. ^-*
Radja Pendapa, Ungaran
Leyangan, Jl. Leyangan Raya, Ungaran Timur, Desa Jetis, Kab. Semarang
Berita tentang Banjarnegara pernah beberapa kali tayang di televisi. Lebih sering berita sedih, sih. Tanah longsor, misalnya. Pada saat tertentu, aku kerap terharu ketika mendapat colekan dari teman-teman Blogger di media sosial. Ini bukan sekadar colekan biasa, karena kurasa lebih ke perhatian.
Teman-teman Blogger yang kukenal mention aku di jejaring sosial, menanyakan kabarku beserta keluarga, dan tentunya tanah Banjarnegara. Apakah kami baik-baik saja? Dekat atau jauh dari TKP? Deeegh! Siapa yang ngga bahagia punya teman-teman Blogger yang care? Belum pernah berjumpa sekalipun, mereka memiliki rasa khawatir yang begitu dalam. Rasa-rasanya sudah seperti keluarga.
Saat itu, mungkin blogger dari Banjarnegara yang mereka kenal baru aku, Idah. Mereka belum kenal dengan blogger lain yang berdomisili di Banjarnegara. Jangankan mereka, aku pun merasa belum punya teman di sini. Sampai akhirnya, aku tekadkan untuk mengikuti acara Pesta Blogger kala itu, tahun 2013.
Saking pinginnya punya teman Blogger dari daerahnya sendiri, rasa malu betul-betul kusingkirkan. Kupikir, dengan punya teman yang sama-sama punya hobi ngeblog akan menambah semangat. Akupun mendaftar secara online. Sesampainya di acara, ternyata hanya ada satu orang yang kukenal, itupun tetangga, dan dia menjadi MC sekaligus moderator acara. 😀
Pesta Blogger Banjarnegara adalah acara yang diselenggarakan oleh Ruang Belajar Masyarakat (RBM). Aku ngga paham siapa yang ada di balik RBM, dan dimana “tempat nongkrongnya”. 😀 Maklum, aku belum begitu gawl saat itu. Hahaha.
Inti acara pesta blogger, RBM mengajak Blogger Banjarnegara untuk turut mempromosikan produk unggulan dan potensi daerah. Ajakan yang menyenangkan, bukan? Apalagi bagiku, Blogger yang begitu sayang dengan tanah kelahiran. Jangankan potensi daerah, Pak Bupati minta dibuatkan Blog aja akan kubuatkan, kok. 😆 😛 😛
Btw, apa kabar RBM? Masih ada atau sudah ganti nama, ya? Mungkin hanya para pengurus dan anggota yang tahu, karena setelah Pesta Blogger yang meriah banget, aku ngga pernah mendengar ada pertemuan lagi.
Tidak hanya Pesta Blogger, aku juga pernah ikut lomba blog dengan tema wisata Banjarnegara. Lomba ini diikuti kurang lebih 15 Blogger Banjarnegara. Lagi-lagi acaranya meriah, pun dengan hadiahnya. Bertempat di The Pikas, teman Blogger mulai bertambah, meski kami ngga sampai membuat forum.
Baca juga: Lomba Blog di The Pikas.
Beruntunglah, Dinas Pariwisata Banjarnegara pernah mengadakan acara Blog Competition. Jadi sedikit tahu blogger-blogger yang berdomisili di Banjarnegara. Berbekal dari pengumuman lomba, akupun mulai kepoh cantik, yang kemudian memberanikan diri untuk japri mereka satu per satu melalui Twitter.
Malu? Nggaaaaa laaah! Jangankan cuma DM, ngajak ketemuan saja aku jabaniiiin. 😛
Aku, Hendi, Mas Ganjar, Mas Jujun (yang saat itu berhalangan hadir), memutuskan untuk meet up. Dalam hal blogging, aku merasa tujuanku dengan mereka hampir sama, yaitu ingin membagikan isu positif di Banjarnegara lewat media Blog, dan jejaring sosial. Semoga sama. Semoga. 😀
Pertemuan yang cukup singkat memberanikan kami untuk mengumpulkan lebih banyak lagi blogger-blogger di Banjarnegara dengan membuat pertemuan di Culinary “Iwak”.
Pertemuan perdana cukup membuatku (khususnya) optimis untuk bersama berbagi tentang Banjarnegara karena yang datang lebih dari tarjet, yaitu 14 Blogger. Meet up ini juga dihadiri oleh teman-teman media, ada Mas Acil dan Mas Nur. Terasa makin lengkap, dan gereget.
Sesuai kesepakatan, meet up perdana kami manfaatkan untuk perkenalan, berdiskusi ringan perihal nama, pembuatan akun official, dan tata laksana rumah tangga. 😀 😆 Nama Blogger Banjarnegara ngga kami gunakan karena berbagai pertimbangan. Kami justeru memilih nama Blogger Serayu. Meski nama tersebut pernah dipakai oleh Pangeran Antah (bukan nama sebenarnya), namun untuk seluruh akun socmed masih available.
Permisi melalui Pangeran Antah, nama Blogger Serayu akhirnya fix kami gunakan untuk nama komunitas kami. TOK…TOK…TOK…!
Dan inilah yang kemarin turut meet up Blogger Serayu:
Mas Jujun ( http://eventbanjarnegara.com)
Mas Ganjar (http://www.banjarnegaraku.com/)
Mas Doni (http://komikselonjor.com/)
Mas Ipong (http://www.indiegigsmedia.com)
Hendi (https://ndayeng.wordpress.com)
Lutfi (https://fahrezy.wordpress.com/)
Havid (http://www.northbackpacker.com)
Razin (http://www.blogx.id/)
Faiz (http://www.niguradev.id/)
Mad Solihin (http://www.madsolihin.com)
Mei (http://blekkedet.blogspot.com)
Ella (https://ellafitria.blogspot.co.id)
Ira (https://pandanwangi156.wordpress.com)
Alhamdulillaah, udah punya banyak teman bloger di Kota kelahiran. ^_*
Alasan memilih nama Blogger Serayu tentunya bukan asal. Sungai Serayu yang melintasi lima kabupaten, termasuk Banjarnegara, bagi kami merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Terlebih, Banjarnegara kerap menggunakan kata “Serayu” untuk berbagai acara. Festival Serayu Banjarnegara, misalnya. Selain itu, arus sungai serayu Banjarnegara juga cukup potensial untuk olahraga Arung Jeram, dan Tubing. Makanya, kami memilih Serayu untuk nama komunitas Blogger.
Aku (khususnya) punya banyak harapan bersama Blogger Serayu. Salah satunya, dapat bersama membagikan informasi positif tentang Banjarnegara di berbagai bidang, karena Banjarnegara adalah Kabupaten yang -insya allah- kaya. Asli. Meski sampai sekarang masih pelan-pelan beradaptasi, aku (khususnya) yakin teman-teman Blogger Serayu akan berusaha membagikan yang terbaik untuk Kabupaten yang memiliki banyak potensi lewat media digital. Doakan kami, teman-teman. ^-*
Aku termasuk tipe perempuan yang ngga bisa rajin kalau harus menjahit manual. Meski hanya memasukkan benang ke dalam jarum, dan lanjut menjahitnya. Sesederhana itu, tapi aku susah rapih untuk hal yang satu ini.
Menjahit yang kumaksud di sini tuh sekadar menjahit baju sobek barang sepuluh centi meter. Bukan menjahit bahan menjadi pakaian utuh. Hihihi. Ya bayangin saja, rok kerja sobek bagian saku, harus ke penjahit. Celana Jasmine sobek cuma sepuluh centi meter, musti nunggu tukang jahit keliling. Duuuuh…dikit-dikit penjahit, ya.
Memang, seberapapun panjang sobekan kalau menjahitnya di Penjahit pasti ada tarifnya. Tapi semisal Penjahit lagi pada sibuk, rasa-rasanya gombelan tidak akan langsung diperhatikan. Kalau udah gini, kadang aku ingin menambah peralatan rumah tangga berupa Mesin Jahit Mini.
Di Indonesia ada beberapa jenis mesin jahit terkenal seperti mesin jahit mini. Jenis mesin jahit ini biasanya digunakan oleh para pemula dalam hal menjahit. Karena bentuknya yang mini atau kecil dan ringan, maka mesin ini menjadi banyak disukai oleh orang-orang. Simpel, dan tidak membutuhkan banyak ruang.
Secara umum, mesin jahit ukuran mini ini terbagi menjadi dua macam yaitu:
Mesin Jahit Tangan.
Mesin jahit tangan merupakan jenis mesin jahit dengan ukuran mini yang sering disebut dengan mesin jahit staples karena memiliki bentuk yang hampir mirip dengan staples. Jenis mesin jahit ini memiliki ukuran yang sangat kecil dengan hasil jahitan yang sangat standar.
Jahitan yang dihasilkan hampir mirip seperti rantai karena hanya menggunakan satu benang saja. Dengan ukurannya yang hanya segenggam tangan, jenis mesin jahit ini memiliki harga yang sangat terjangkau yaitu hanya sekitar puluhan ribu rupiah saja. Pingin nyoba beli yang ini.
Mesin Jahit Portable.
Mesin jahit ini merupakan jenis mesin jahit yang memiliki ukuran mini atau kecil dengan pengoperasian mesin yang hampir mirip dengan mesin jahit pada umumnya. Bedanya adalah jenis mesin ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan ringan.
Secara umum, hasil jahitan dari mesin jahit ini hampir mirip dengan mesin jahit besar karena jenis mesin jahit ini menggunakan 1 benang spool dan 1 benang sekoci.
Jenis mesin jahit portable ini memiliki harga yang bervarian sesuai dengan mereknya. Beberapa diantarnya menggunakan baterai dan juga tenaga listrik. Jadi, jika sedang mati listrik maka tidak perlu khawatir karena mesin ini memiliki baterai, namun penggunaannya dalam waktu tertentu saja.
Uuuh…ingin punya mesin jahit yang ini. Musti nabung dulu, ya.
Penggunaan mesin jahit mini dalam kegiatan jahit menjahit memberikan banyak kelebihan dan juga kekurangan yang dapat dirasakan oleh penggunanya.
Nah, berikut beberapa kelebihan dan kekurangan jenis mesin jahit ukuran mini:
Kelebihan:
Secara umum semua mesin jahit yang memiliki bentuk mini atau kecil di pasaran memiliki harga yang sangat murah dan terjangkau oleh siapa saja.
Semua jenis mesin jahit ukuran mini memiliki bentuk yang kecil dan ringan sehingga sangat mudah untuk dibawa kemana saja.
Memiliki dynamo atau baterai sehingga saat terjadi mati listrik maka tidak perlu khawatir karena penggunaannya bisa menggunakan daya baterai.
Merupakan jenis mesin jahit yang memiliki pola pengoperasian yang sangat mudah sehingga sangat cocok untuk digunakan oleh para pemula maupun anak-anak. Untuk itu jenis mesin jahit ini sangat baik digunakan sebagai sarana belajar menjahit.
Beberapa jenis mesin jahit ini memiliki desain jahitan yang cantik dan menarik.
Kekurangan:
Merupakan jenis mesin jahit yang menggunakan bahan dasar plastik sehingga lebih body mesin relatif ringkih.
Dalam penggunaannya kurang bisa digunakan untuk menjahit pakaian yang menggunakan bahan tebal seperti jeans, tas dan lain sebagainya.
Mesin jahit dengan ukuran mini biasanya tidak memiliki garansi resmi seperti jenis mesin jahit portable.
Jika digunakan untuk kebutuhan bisnis seperti konveksi maka jenis mesin jahit ukuran mini kurang cocok untuk digunakan.
Setelah tahu kelebihan dan kekurangan, sekarang makin tahu tentang dunia penjahit. ?? Btw, sekarang mesin jahit mini dapat dengan mudah ditemukan, dan dibeli di toko alat khusus mesin jahit. Tapi ya gitu, kalau udah punya duit, kadang ada saja kebutuhan lain yang lebih primer. Hahaha.
Di ruang tengah atau ruang keluarga yang biasa kami jadikan untuk nonton teve sembari bersantai, ada satu kursi sofa yang usianya lebih tua dari aku. Ya…kalau tahun ini usiaku 17 tahun, mungkin kursi sofa itu usianya 27 tahun. Secara ya, kursi sofa dengan warna hijau pekat, dibeli oleh Almarhum Mbah Kung sebelum aku lahir. Udah lama banget lah, ya.
Konon, untuk membeli kursi sofa, Mbah Kung harus menjual seekor pedhet, atau anak sapi. Menurutku perjuangan banget. Kata Bapakku, kursi sofa yang bersudut ini tergolong sofa paling bagus pada masa itu. Namanya di Desa, orang zaman dulu ngga pada mentingin kursi sofa. Bagi mereka, perut isteri, anak, cucu, bisa kenyang saja sudah lebih dari cukup. 😀
Perjuangan ngga hanya sampai pada jual anak sapi. Soalnya, setelah kursi sofa terbeli, beberapa anak dari Simbah yang sudah menikah pun naksir. Memang, kursi sofa berbalut kain tanpa motif nampak manis, dan juga kokoh. Awet pula. Siapa yang ngga tertarik, ya. Simbah pun mulai nabung lagi, tentunya dibarengi anak-anaknya juga. Berusaha bersama.
Usia kursi sofa boleh dibilang udzur, tapi masih nampak kuat, dan masih layak dimanfaatkan. Hanya saja, dua kaki kursi sudah patah. Tepatnya kaki kursi sofa yang letaknya di paling kanan. Selain kaki, busanya juga sudah tidak begitu penuh, kalau dipakai buat duduk, ngga mental alias ambles. Hihihi.
Orang rumah sih sudah tahu, makanya jarang duduk di kursi yang paling kanan. Cuma, kalau ada tamu, dan langsung masuk ke ruang tengah, biasanya mereka memilih untuk duduk di paling kanan. Posisi saat hendak duduk semangat banget, saat landing malah makbles. Kenaaaa, deh! Qiqiqi.
Karena punya nilai history yang begitu kuat, Bapakku pinginnya memperbaikinya saja. Tapi menurut Ibu, ada baiknya nyari yang baru karena modelnya sama sudah ngga usum. Aku ngga bisa banyak komentar, takut dimintai pertanggungjawaban. 😛
Aku sempat bilang ke Bapak, buat nyari kursi sofa murah, dan elegan. Murah, dan awet. Murahh, dan bagus. Ini prinsip banget. Ngga pakai tapi. 😆 Memang ada, gitu? Pasti ada, karena selalu ada jawaban untuk tiap pilihan. Yaaaa, kaaan? 😛
Akupun mulai bantu mencari referensi kursi sofa murah yang modelnya simpel, murah, dan elegan.
Kursi Sofa Model “L”
Ini paling aku rekomendasikan. Panjangnya tidak melebihi kursi sofa yang sekarang. Namun, hanya ada satu dengan tipe memanjang. Pas buat bersantai sambil nonton teve, atau kruntelan sama bojo, dan Jasmine. Uuffh…Orang lain yang mau duduk di sini kayaknya juga mikir-mikir. Karena kursi sofa yang kurekomendasiksn ini hanya muat dua sampai tiga orang dalam satu tempat. Kurang nyaman kalau buat ngobrol bareng tetamu.
Selain itu, dari model udah nampak private banget. Aaak…ternyata harganya cukup terjangkau. Satu jutaan! Uuuwh…
Kursi Sofa Model Sudut.
Kursi Sofa ini memang akan ditempatkan di ruang tengah, namun Mbah Kung kerap mempersilakan para tetamu untuk duduk di bersama di ruang ini. Banyak alasan, sedang nanggung nonton suatu acara, sambil nonton berita, atau merasa ngga nyaman di ruang tamu. *kapan-kapan perlu posting ruang tamu yang kayak gudang* Hihihi.
Jadi yaaa, kursi sofa yang biasanya hanya ditempati keluarga, bisa sekaligus dijadikan kursi tamu. Multi fungsi, gitu. Kursi sofa model sudut yang aku rekomendasikan ini tidak membutuhkan space yang luas. Kalau beneran tertarik dengan model ini, space ruang tengah akan tetap.
Kursi sofa model sudut ini ternyata harganya juga terjangkau, yaitu dua juta-an. Aku kira bakalan mahal karena nampak elegan.
Kursi Sofa Model “L”
Waaainiiii…cocok banget ditaruh di depan televisi. Model simpel, desain menarik, nampak elegan, harganya terjangkau pula. Ini menjadi kursi sofa idamanku banget, nih. Bakal betah berlama-lama di depan televisi. Kenapa? Sembari nonton teve, pasti nyaman buat nenenin Jasmine, sampai kami tidur pulas. 😀 😆
Keliatannya kecil, ya? Padahal ngga lho. Ini cukup lebar. Nyaman buat bobok juga karena bahan kainnya adem, dan busanya empuk. Siapa yang ngga pingin bobok di atas sofa macam ini, coba? Sesekali dalam seminggu bisa jadi Puteri Tidur lah, ya.
Membaca lewat kolom detail informasi, ketiga kursi sofa di atas tergolong murah, elegan, dan sepertinya awet. Ini dengan pertimbangan bahan yang digunakan. Tapi, kembali lagi pada anggaran ya, PakBuk. 😉
Omong-omong, kalian suka kursi sofa model yang mana untuk nyantai di ruang tengah? Atau, ada rekomendasi lain? ??
Komunitas GenPI Jawa Tengah – Sebelum tulisan ini sampai tiga ribu kata, aku mau norak dulu, yaaa. 😀 😛 😆 Jum’at (10/03), aku dapat telepon dari Mas Artadi, salah satu Staff Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Ngga tahu kenapa, setelah menutup telepon, aku giraaang banget karena aku diundang untuk suatu event.
Norak berkelanjutan saat menerima undangan perihal pembentukan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah yang direncanakan pada hari Senin (13/03). Ini nih event yang kumaksud. Membaca daftar nama yang bakal hadir di acara GenPI Jateng. Soalnya sedulur Banyumasan: Mas Pradna, Pungky, Tante Neli, dan Afri, juga tercantum sebagai peserta. Qiqiqi. Mereka adalah Blogger wilayah Banyumas yang sudah kukenal lama, dan cukup sering berkomunikasi. Ya…meski pada akhirnya Mas Pradna dan Pungky ngga bisa hadir karena suatu hal. Fufufu.
Makin tinggi level noraknya ketika acara sudah dimulai. Kenapa? Karena Banjarnegara dimention oleh Pak Urip Sihabudin, Kadis Porpar Provinsi Jawa Tengah. Kemudian lanjut dimention oleh Bapak Don Kardono, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi. Secara, peserta yang datang kan ngga hanya dari Banjarnegara saja, ya. Qiqiqi. Gini aja dinorakin, ya. 😆
Memang sih, aku menghadiri undangan ini atas nama Blogger. Namun karena GenPI dibentuk per wilayah, dalam hal ini adalah wilayah Jawa Tengah, maka aku dan Banjarnegara akan terus berdampingan untuk GenPI. 😀 😀 Yaudah Pamernyaaaa. 😛
GenPI Wilayah Jawa Tengah merupakan tindak lanjut dari pembentukan komunitas GenPI yang sudah dilaksanakan di lima wilayah yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Barat dan Maluku yang dimaksudkan untuk mengembangkan promosi wisata nusantara dengan melibatkan generasi muda khususnya penggiat sosial media.
Disaat GenPI Lombok Sumbawa telah berhasil mencapai kesuksesan dalam mempromosikan wisata secara digital, aku justeru baru tahu ada sebentuk komunitas yang didukung oleh Kemenpar untuk fokus mempromosikan pariwisata Indonesia. Hellow…kemana aja, Sist. Qiqiqi
Mbak Jhe adalah koordinator GenPI Lombok Sumbawa yang saat itu turut menghadiri acara Focus Group Discussion Pembentukan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Wilayah Jawa Tengah yang bertempat di Hotel Aston Semarang. Dia berbagi pengalaman perihal kegiatan GenPI yang membuat kami, para peserta FGD, makin gereget dan semangat menjadi relawan GenPI.
Selain Mbak Jhe, hadir pula perwakilan dari GenPI yang telah terbentuk sebelumnya: Bang Esmat (GenPI Mentawai), Bang Glen (GenPI Maluku), Bang Aswi (GenPI Jabar), dan Bang Siapa Bang (GenPI Sumbar) yang ternyata kami belum sempat berkenalan. 😆 Keren, ya!
Tentunya bukan tanpa sebab Kemenpar memilih Jawa Tengah menjadi chapter berikutnya. Dari banyaknya objek pariwisata di Jawa Tengah, ternyata jumlah kunjungan wisatawan, macanegara khususnya, masih tergolong rendah. Kalah saing dengan Jawa Barat. Padahal, Jawa Tengah mempunyai objek pariwisata yang sudah mendunia. Candi Borobudur, misalnya. Makanya, Kemenpar menggandeng para netizen yang berdomisili di Jawa Tengah untuk turut mempromosikan pariwisata Jawa Tengah dengan harapan
Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) merupakan generasi muda yang mempunyai kemampuan lebih dalam dunia internet berbasis komunitas yang memiliki aktivitas rutin dan aktif dalam mempromosikan pariwisata Indonesia baik melalui blog, media sosial, dan media digital lainnya kepada masyarakat luas.
Namanya komunitas di bawah payung Kementerian, punya niat sebaik apapun, biasanya timbul pro dan kontra, ya.
“Halaaaaaaaah…kalian mau-maunya dimanfaatin Kementerian Pariwisata untuk ikutan promosi pariwisata Indonesia. Kayak ngga punya kerjaan aja.”
Kira-kira ada yang berkomentar seperti itu, ngga? Semisal ada, berarti sifat gotong royong dalam diri telah luntur, mungkin. 😛 😛 Untuk mensukseskan pemasaran pariwisata Go Digital, Kemenpar ngga mungkin bisa bekerja sendiri. Menggandeng generasi Millennial: para Blogger dan pegiat sosial media, untuk turut mempromosikan pariwisata Indonesia yang sangat beragam menjadi solusi baik bagi kemajuan wisata Indonesia.
Yakali, pihak Kementerian mampu membagikan kekayaan pariwisata Nusantara yang jumlahnya seabreeeeg. Kemampuan mereka pasti terbatas lah, ya. Apalagi, saat ini banyak anak muda yang memanfaatkan sosial media untuk share kekayaan pariwisata Indonesia. Yaudah, anggap aja ini keuntungan bagi Kemenpar, kan.
Kenapa Generasi Milenial?
Karena generasi yang lahir pada tahun 80-an ke atas dianggap siap dan sanggup berlama-lama online, dan pegang gadget. Generasi ini juga dekat dengan teknologi, perangkat digital dalam gaya hidup, dan kesehariannya.
Adanya wadah bernama GenPI ini pas banget digunakan untuk menyatukan para relawan yang punya tujuan sama untuk Go Digital pariwisata Indonesia.
Lalu, kenapa harus ada GenPI?
Memang, tiap daerah kini sudah terbentuk komunitas: blogger, dan Instagram, khususnya. Namun, dalam komunitas tersebut masih gado-gado. Blogger Banjarnegara, misalnya.
Tulisan dari anggota komunitas tersebut sangat beragam: pendidikan, budaya, ekonomi, politik, wisata, dan masih banyak kategori sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Makanya, Kementerian Pariwisata membuat wadah atau komunitas bernama GenPI. Tujuannya, agar para netizen, Blogger, dan pegiat media sosial, yang telah bergabung dengan GenPI dapat fokus membagikan informasi Pariwisata Indonesia.
Pak Don Kardono ngomongin M-17. Qiqiqiqi
Dalam acara ini, hadir juga Kadisporapar Provinsi Jawa Tengah, Bapak Urip, dan tiga pemateri dari Kementerian Pariwisata: Taufik Rahzen (Budayawan dan Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Budaya), Don Kardono (Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Media dan Komunikasi), dan Taufan Rahmadi (Anggota Tim Percepatan Wisata Halal dan Tim Percepatan 10 Destinasi Wisata Prioritas).
Pematerinya keren-keren, ya. Materi yang disampaikan pun betul-betul berbobot kek yang nulis blog post ini. Wkwkwk. Pak Taufik Rahzen, misalnya. Beliau menyampaikan, bahwa rempah-rempah Indonesia bisa menjadi kekuatan global karena kekayaan ini ngga dimiliki bangsa lain. Perjalanan rempah di Indonesia pun sangat potensial untuk diangkat sebagai wisata tematik karena mempunyai potensi wisata budaya, alam, bahari, dan kuliner khas nusantara.
Dengan jalur ini, diharapkan wisatawan dapat menemukan dan memahami sejarah proses perjalanan menikmati keindahan alam, kelezatan kuliner, dan kehangatan dari beragam budaya Indonesia. Topiknya pas banget dengan tema dari GenPI yaitu “Peran Strategis Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Dalam Rangka Penyusunan Strategi Pemasaran Wisata Tematik Jalur Rempah.”
Semangatnya Pak Taufan luar biasaa!
“Netizen berusaha untuk berbagi gambar, tulisan, informasi yang bermanfaat, dan tidak menjatuhkan reputasi.” Seperti itu pesan dari Pak Don Kardono. Perihal dunia pariwisata, sebagai Blogger dan pegiat sosial media, ada baiknya menyampaikan informasi baik, dan juga menarik tentang pariwisata Indonesia. Ngga memposting informasi HOAX, apalagi sampai menjatuhkan reputasi pariwisata Indonesia. Semisal ada kekurangan, atau bahkan kejelekan tentang obyek wisata di Indonesia, ada baiknya menyampaikan dengan bahasa halus. Saling menjaga reputasi kalau ini, ya.
“Netizen pariwisata indonesia bersatu, bersama-sama menjadikan Indonesia pusat epicentrum pariwisata dunia.” Ini mimpi Pak Taufan. Apakah bisa terwujud? Bisa banget kalau kamu, para generasi milenial, turut menyukseskan program GenPI. 😉
Acara ini ditutup dengan pemilihan Ketua Koordinator untuk wilayah Jawa Tengah. Mas Safigh Pahlevi Lontoh, pegiat pariwisata Jawa Tengah terpilih menjadi ketua GenPI Wilayah Jawa Tengah. Selamat ya, Kaaak. Semoga Komunitas GenPI Jateng bisa mewujudkan harapan Kemenpar untuk menaikkan jumlah Wisatawan Nusantara dan juga Wisatawan Mancanegara.
Btw, saat ini GenPI Wilayah Jawa Tengah masih dalam tahap pembentukan kepengurusan. Buat kamu yang tinggal di Jawa Tengah, nanti ikut gabung dan menjadi bagian dari GenPI Jateng, ya. Menjadi relawan untuk Pariwisata Indonesia. Tunggu saja rekruitmennya. 🙂 Buat yang di luar Jateng, gabung aja dengan GenPI yang sudah terbentuk. Kalau belum terbentuk di Provinsimu, tunggu saja. Siapa tahu menjadi generasi berikutnya. ^_*