Belajar Melepas “Jam Karet”
Aku punya sepupu kisaran umur lima tahun hobi mengoleksi jam karet. Padahal, jika dipakai lama-lama, tuh, kadang bikin pergelangan tangan gatal. Pun dengan…
Aku punya sepupu kisaran umur lima tahun hobi mengoleksi jam karet. Padahal, jika dipakai lama-lama, tuh, kadang bikin pergelangan tangan gatal. Pun dengan…
Rabu (13/01) adalah hari kedua jadual rekonsiliasi atau rekon tingkat Korwil di Pengadilan Tinggi Agama Semarang. Namun masih banyak Satuan Kerja (SATKER) yang…
Punya banyak uang dan bukan dari kalangan artis. Kira-kira punya keinginan untuk operasi hidung mancung ngga, ya? Atau, ngga punya uang, tapi ada seorang dermawan yang mau membiayai operasi hidung mancung. Kira-kira Teman-teman ada yang mau, gitu? π
Angan melayang terlampau jauh. Aku, sih, ngga punya niat sedikitpun untuk operasi plastik yang dalam hal ini adalah hidung. Punya hidung mlenus macam ini sudah bersyukur wal hamdulillaah.
Hanya saja, aku teringat dengan ucapan beberapa teman kantorku sebelum aku cuti.
Teman-teman tahu artis yang bernama Shaheer Sheikh, Ravi Bhatia, dan Evan Senders, kan? Manusia yang gantengnya ngga ketulungan (versiku) dan nyaris sempurna dari segi rupa dengan hidung mancung dan dagu membelah benua. Ketiga lelaki yang aku sebut pernah bermain dalam satu sinetron berjudul Cinta di Langit Taj Mahal. Mungkin, hanya aku saja yang hobi banget nonton sinetron ini, ya. Hahaha
Gimana ngga bahagia, ya. Sinetron yang dulu tayang tiap pukul 20.00 WIB, menyuguhkan pemandangan yang begitu menyenangkan. Settingannya oke, pun dengan para pemainnya. Dan aku menyukai sinetron ini karena memang banyak pria-pria tampan di dalamnya. Tak hanya itu, aktris yang menjadi lakon pun aku suka. Nabila Syakieb, aktris keturunan Arab yang baru saja menikah dengan berondong ini berhidung mancung juga.
Demi apa aku demen banget nonton sinetron ini? Demi bisa melihat hidung-hidung mancung dan paras ganteng! *elus-elus perut* Saking senangnya menonton sinetron dengan pemeran utama yang ganteng dan cantik, aku ngga rela kalau sampai ketinggalan alur barang satu menit. Lagaknya sudah seperti anak abegeh saja, ya. Eh, abege atau dewasa (baca: tua), sih? Nontonnya sinetron. π

Jika dalam satu episode aku sampai ketinggalan cerita, sore hari pasti aku bela-belain nonton via youtube untuk melengkapi tiap episodenya. Niat banget, tiap sore hari, usai shalat ashar di kantor, aku memutar sinetron yang saat ini sudah THE END. Aku hanya menonton bagian yang terlewatkan saja, sih. Dan salah satu temanku, Mbah Pur, kerap meledekku.
“Aku perhatikan, semenjak hamil hidungmu jadi mancung dan pipinya alus. Pantaslah demikian, karena kamu suka sinetron itu, ya. Sampai berapa, sih, biaya operasi hidung mancung?“
Sungguh ini ledekan yang luar biasa. Boro-boro mikirin operasi hidung mancung, ya. Nyium lutut sendiri saja sudah mahir. Menciumnya dengan hidung. π
“Itu juga seperti ada bekas tindik, ya. Biayanya pasti mahal berarti, tuh.” Tambahnya serius, sembari memandangku tanpa senyum.
Heyloow…ini bekas jerawat, Mbah! Jerawat yang dulu belum saatnya memudar, tapi sudah aku usilin. Lagi pula, aku anak solehah kalik. Ngga berani operasi macam operasi plastik. Ya…jangankan operasi, tanya biaya operasi hidung mancung saja mulut ini ngga bakal sanggup. 
Hanya sekadar senang melihat hidung Mamas Ravi yang mancung dan dagu yang membelah benua, bukan berarti harus memaksakan agar hidungku mancung, dong. Apalagi sampai operasi hidung mancung. Ngga lah, ya. π
Baca juga Perhatian khusus untuk Ibu Hamil.
Tiap rumah makan pasti punya ciri khas. Iya, kan? Berawal dari yang khas, kemudian turun ke hati dan bisa menjadi yang spesial. Seperti kamu, selalu menjadi yang spesial buatku. Wuwuwu…rumah makan euy, bukan menyoal tentang hati orang, Dah? π
Ada banyak sudut yang menjadikan rumah makan itu terasa spesial. Baik dari fasilitas, penyajian, pelayanan, atau apalah apalah. Aku merasa demikian. Seperti halnya Ethnic Waroeng dan Cafe.
Ethnic Waroeng dan Cafe telah menjadi salah satu warung langganan semenjak aku sering ditraktir oleh teman-teman sekolahku. Sering makan di sini dan merasa cocok karena beberapa sebab. Zaman masih kinyis piyik, pasti jejingkrakan jika mendengar kabar ada teman yang mau nraktir.
Aww…mental tangan di bawah, ya. Hmm…ngga, laa! Sewaktu membayar buku LKS dan ternyata ada sisa, aku gantian nraktir teman-teman, dong. Meski menu traktirannya beda jauh, antara Burger dan Mendoan, tetap aku usahakan. Aku ngga yakin, sih, mereka bahagia. Tapi, yang terpenting kami bisa duduk bersama, makan mendoan bareng, nyeplus lombok, minum teh botol, dan ngerumpiin kakak kelas yang ganteng-ganteng. *eh*

Ngakunya, sih, sudah langganan. Tapi, kenyataannya sampai saat ini aku ngga tahu kapan Ethnic Cafe mulai beroperasi. *kejam* *ngga perhatian*
Tampak depan, sebentuk Cafe ini khas banget dengan segala ornamennya yang terbuat dari bambu wulung. Pintu, Dinding, sampai dengan alas yang digunakan untuk lesehan. Tapi, bergeser ke kanan kurang lebih 1 km, terdapat sebentuk kedai yang senada dengan Ethnic dari segi bangunan. Jadi, ngga bisa dijadikan ciri khas. Kecuali ada tambahan kata kunci, yaitu berlokasi di Ex. Stasiun Banjarnegara. π
FYI, Ethnic Cafe 2 merupakan cabang dari Warung Ethnic yang berlokasi di Purworejo Klampok. Sebuah Kecamatan yang berada di ujung kulon Banjarnegara. Lalu, apa sih spesialnya dari warung yang tidak terlalu luas ini?

Banyak anak sekolah yang sering “parkir” di sini. Tak sedikit dari mereka menjadikan Ethnic sebagai tempat untuk berkumpul atau mengadakan syukuran. Aku pernah bertanya kepada seorang pelanggan berseragam putih abu-abu, kenapa memilih Ethnic Cafe sebagai tempat syukuran. Alasannya tak lain karena harga menu makanannya cukup terjangkau dengan isi dompet anak sekolah, tanpa mengurangi cita rasa dan juga porsi makan pada umumnya.
Lokasi strategis? Sudah jelas, karena berada dekat dengan Kota. Tempat yang aku maksud yaitu lesehan untuk menikmati sajian berupa ruang terbuka dengan pola membentuk persegi. Asbes hanya terpasang di atas tempat lesehan, sedangkan tengah ruang benar-benar lepas. Sirkulasi udara segar tak ada hambatan. Jadi, ngga terlalu panas.


Baik pemilik, maupun pelayan Ethnic, tuh, ramah. Mereka memasyarakat dan melayani tiap pelanggan dengan penuh tanggungjawab. Jika rumah makan lain menyediakan Aula berbayar untuk suatu event, berbeda dengan Ethnic. Mereka menyediakan Aula untuk kapasitas kurang lebih 50 Orang. Aula ini bisa digunakan secara cuma-cuma oleh pelanggan yang ingin mengadakan acara di Ethnic, dengan syarat mereka memesan menu makanan di Ethnic. Kalau rumah makan lain (di Banjarnegara), pesan di tempat atau ngga, tetap terkena charge. π

Banyak variasi menu makanan di sini. Pingin sate kelinci? Ada! Menu serba Iga? Ethnic punya! Aku suka masakan a la Koki Ethnic. Meski seringnya asyin, tapi selalu saja cocok dijadikan lauk. Asinnya ngga parah banget, kok. Hanya saja, karena masakanku cenderung manis. Jadi, selalu saja merasa asin saat mencicipi lauknya. Hahaha

Fasilitas penting lainnya seperti Tempat parkir, Toilet dan Mushala cukup memadai. Namun, satu hal yang kadang bikin Ethnic menjadi kurang greget adalah minumannya. Khususnya untuk Jus.
Yups…jus a la Etchnic yang rata-rata mulai harga Rp 5.000, tuh, jarang ada yang memuaskan. Jusnya terlalu lunak, Cint. *kamu kira daging* *plak* Terlalu cair maksudku. Rasa buahnya menjadi kurang, dan lebih terasa airnya. Jika memang kendala utama adalah harga buah yang mahal, maka ada baiknya Ethnic menambah harga untuk segelas Jus agar lebih terasa jus buahnya. π
Teman-teman punya rumah makan favorit, kan? Apa yang spesial di sana? Share, yuk!
Alamat: Jl. Bambang Sugeng, Ex. Stasiun Banjarnegara. (Semarang Kidul)
Telephone: (+62286) 593272
Hei, tahun telah berganti dari 2015 menjadi 2016. Apakah kalian menikmati malam pergantian tahun baru? Kalau iya, pasti punya banyak kisah. Mulai dari para pasangan yang belum halal, sampai sepasang kakek nenek. Satu sama lain punya cerita masing-masing dan pasti asyik. Pada bagi cerita, dong!
Berbeda dengan kalian, aku bersama suami menghabiskan malam pergantian tahun dengan bobok berdua, sambil bercerita.
Cerita yang kami ciptakan di malam pergantian tahun 2016 tidak jauh dari keluh kesah, bahagia, cemas, was was, karena kami sedang menantikan buah hati yang diperkirakan lahir pada tanggal 25 Januari 2016. Tinggal hitungan hari. Hihihi
Karena insya allah aku melahirkan awal tahun ini, tentunya setahun yang lalu aku lagi sibuk-sibuknya menjadi Ibu Hamil, dong. Memangnya, Ibu hamil apa yang disibukin?
Eeee…jangan salah! Ibu hamil justru banyak kesibukannya, lho. Sok mencari kesibukan juga supaya tetap sehat dan waras. Xixixi. Apalagi ini hamil pertama, aku sibuk banget dengan calon bayiku ini. π Makanya, jangan heran kalau yang menjadi #2015bestnine di instagramku bertabur bahagia bersama orang tersayang yang menjadikanku terus sehat dan waras. π
Omong-omong, rekam jejak yang lutulis ini sama sekali bukan tentang pencapaian apalagi prestasi di dunia Blogging. Karena, postingankj di 2015 sepertinya banyak ngejobnya. Wkwkwk. Etapi, ini perlu dibanggakan juga, ding. Karena job yang datang dari toko online bisa buat menambah persiapan persalinan nanti. Xixixixi. Alhamdulillaah, ya.
Sementara dalam dunia nyata, aktivitasku sebagai Ibu Pekerja alhamdulillaah makin baik dan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabku makin bertambah. Benar-benar harus bisa jaga kesehatan supaya bisa terus masuk kerja.

Atas izin suami adalah salah satu rezeki tak terduga selama tahun 2015. Maksudku, setelah menikah tahunya suamiku akan memintaku untuk berdiam diri di rumah. Padahal, pada kenyataanya….santai, asyik, bahagia, dan woles bannget. πΒ Aku terlalu serius membayangkan ini itu setelah menikah.
Merujuk ke akun instagramku, di mana aku kerap membaggikan kebahagiaan di sana, ternyata ada moment-moment bahagia yang kembali kurasakan dalam bingkai #2015bestnine.
#2015bestnine milikku, sebagian besar adalah aktivitas di luar rumah yang mana hanya bisa terlaksana atas izin suami. Asli, suamiku baik banget! Udah ngizinin aku camping, dan main sampai luar kota. Beruntungnya, saat itu aku belum tahu kalau lagi hamil. Wkwkwk.
Saatnya membaca 2015!
Pertama, foto yang paling hits di akun instagramku. Adalah foto nikahanku. Hahaha. Ini penting banget mengunggah foto pernikahan karena merupakan cara termudah untuk mengubah status dari gadis manis menjadi isteri cantik tanpa membuat post blog atau iNews. Xixixi. Makasih udah mau menikahi aku ya, Yaang. π
Kedua adalah padang savaba Telaga Dringo. Bersama lima teman blogger, aku camping, menginap semalam di telaga dringo. Ini atas izin suami dan pertama kalinya aku pergi, menginap, tanpa suami. Xixixi. Meski pas minta izin rada pesimis, alhamdulillaah selama camping di Dringo, kami Β bahagia, banyak lancar dan sedikit haru. π
Ketiga, alhamdulillaah aku bisa melihat Kota Tua Jakarta! Aku bisa sampai sini karena saat itu ada undangan dari Mister Aladin. Undangan ini bertepatan dengan acara suami bersama teman-teman. Yaudah, daripada di rumah sendirian, aku memilih untuk menghari undangan. Jauh-jauh ke Jakarta cuma ke Kota Tua? Uhuuy…kagak laah! Pokoknya, makasih buat Sitti! Makasih untuk kebaikannya. π
Keempat, tiba-tiba banget aku pingin nginep di rumah Tante. Yaudah, aku ninggalin suami lagi, deh. Bhahaha. Solehah banget, ya. Tapi ya gimana lagi, suami baik bangeeet! Jadi ya diizinin.
Bersama Tante, aku menyaksikan matahari tenggelam dan menikmati jingga di sawah dekat rumah Tante. Gini dowang udah bisa membuatku bahagiaa. π
Kelima, ini memang acting. Aku meminta sepupuku, Hosea, untuk memegang jemariku. Di depan kami ada Ayahnya Si Hose yang siap banget mengambil beberapa kali jepretan. Aku ada niat, moment ini akan kembali terulang jika aku punya anak, kelak. Yang motoin nanti Mr. Blur, dong. π
Keenam, Adlaah Sup. Nyaris tiap hari, selama hamil, aku harus makan sup. Entah kenapa, aku merasa tidak bergairah makan jika tidak ada sup. Kebayang kalau sampai tidak napsu makan, kasihan anakku di dalam. Fufufu. Sup favoritku yaitu sup brokoli campur wortel dan bakso tahu. Yummi banget!
Ketujuh, berwisata ke Putbalingga bersama Tante dan Umi. Ini awal-awal setelah menikah. Bukannya main sama suami, malah minta izin main sama teman. Xixixi. Error banget, ya. Goa Kereta adalah salah satu tempat yang kami singgahi. Eternyata, pas dolan ke sini, aku udah hamil. Xixixi. Padahal, aku sempat jalan sejauh 1 km, lho. Ngos-ngosan, pasti. Tambah sehat, jelas. Dorong motor karena ban bocor, cuy. Xixixixi. Kenangan manis banget bersama Umi. Thanks ya, Mil.
Kedelapan, satu moment yang paling membuatku bahagia pada tahun 2015, setelah pernikahan, Tuhan mengabulkan doa yang aku panjatkan tiap hari, tiada henti. Yaitu mempunyai keturunan yang soleh atau solehah. Sebentuk rezeki yang bagiku belum ada tandingannya. Bahagianya luar biasa. *elus-elus perut*
Kesembilan, adalah Blogcamp2015! Siapa sangka suami bakal ngizinin aku ikut camping saat perut udah kelihatan seksi? Xixixixi. Pas aku ngajak ikut acara ini, suami malah menanggapi dengan uwowow. Dan dia memutuskan untuk ikut acara. Puji syukur banget. Jadi punya tambahan cerita buat ana, kelak. Xixixixi
Terima kasih tak terhingga kepada suami yang sudah memahami aku dengan segala tingkahku yang kadangΒ kerap membuat detak jantungmu lebih kencang dari biasanya. π Atas izinmu, alhamdulillaah Tuhan meridhoi, melindungi tiap langkahku, langkah kita. ^-*
“Haai…aku sudah sampai di Bioskop, dong. Mau nonton bareng film ini itu sama teman-teman.” Selain piknik, di beberapa group whats app yang aku ikuti sering memperlihatkan tiket nonton film baru. Atau, foto selfie di loket pembelian tiket. Beeuuh…aku cuma bisa sirik tak terhingga. π
Terlebih sekarang, cukup banyak film karya anak bangsa baik yang diangkat dari sebuah novel, atau bukan, dan menurutku layak untuk ditonton. Belum lagi film luar yang bagus-bagus banget, di mana aku hanya bisa nonton trailernya melalui internet. -_- Dan dengar-dengar, film yang pernah ngehits pada tahun 2000-an, katanya mau ada lanjutannya. Apalagi kalau bukan AADC yang ada mamas cakep Nicholas. Hahaha…tetep, ya, susah move on.
Aku yang hidup di kota kecil hanya bisa gigit stick es cream, kalau teman-teman sedang cerita film baru. π Secara, di Banjarnegara belum dibangun bioskop lagi semenjak Cahyana, sebuah bioskop zaman Emak dan Babe aku muda, telah runtuh. *kembalikan Cahyana*
Aku ngga tahu persis tahun berapa Cahayana runtuh. Sebab, sejak tahu apa itu Film dan Bioskop, aku hanya mengenal Dieng Theater (DT) sebagai tempat untuk nonton film indie. Sebuah bioskop yang lokasinya cukup dekat dengan pusat kota ASRI, Wonosobo. Atau, kurang lebih enam puluh menit dari tempat tinggalku jika ditempuh dengan kendaraan umum.
Saat masih SMK, Dieng Theater ini laris banget, melebihi orang yang jualan Mie Aceh. Antreannya beeuh…! Antrean kantor pos saat awal bulan saja kalah. Banyak anak SMP dan SMA yang “mengular” di depan pintu masuk, padahal jam buka masih lama. π Apalagi, kalau filmnya adalah film beraroma romantis, horror, atau film yang lagi anget-angetnya. Di Wonosobo masih anget, di kota sana mah udah basih.
Persiapan tea wal Tambi. Berkumpul di Dieng 3D Cinema! Dahulu kala, Dieng Theater namanya. ???????????? #TeaWalk #KebunTeh #Tambi #DiengCinema #ExploreWonosobo #PesonaWonosobo
Zaman SMK, beberapa tahun yang lalu dan udah lama banget. Sampai aku kuliah, Dieng Theater masih cukup ramai. Ketika melewati jalan ku sering melihat update film pada banner yang terpampang di gang masuk DT. Aku juga pernah, sesekali nonton. Meski kualitas filmnya ngga sebagus dulu. Layarnya juga kurang jelas. Tapi, meski demikian, aku tetap menikmati popcorn film dari tempat duduk yang sebenarnya sudah ngga nyaman karena kursi telah melebihi batas usia pakai. π
Dieng Theater Wonosobo yang dulu penampilannya amat sederhana, kini telah bertransformasi menjadi Dieng 3D Cinema Wonosobo di mana penampakan dari luar cukup wah. Lagi-lagi aku ngga tahu tepatnya kapan DT mengubah namanya menjadi Dieng Cinema (DC).
Aku tahu perubahan ini beberapa bulan yang lalu, saat aku mengikuti tea walk ke Tambi bareng pemenang lomba blog yang diselenggarakan oleh NJF Wonosobo.
“Seluruh peserta berkumpul di depan Dieng Cinema Wonosobo pukul 08.00 WIB.” Seperti itu keterangan yang tertera pada undangan. Aku agak bingung, dong. Di mana lokasi Dieng Cinema? Dan ternyata, Dieng Cinema adalah Dieng Theater yang dulu sering aku jadikan tempat kencan nongkrong. Sebuah bioskop yang kini menyajikan film 3D juga. Sedangkan disekitar DC, tepatnya di kawasan parkir terdapat lapangan futsal yang membuat DC terlihat ramai.
Aku sempat berkeliling bentar di area DC. Sayang banget ngga tersedia kursi untuk duduk di luar area DC. Jadi, aku mlaku-mlaku tak terarah sembari mengingat-ingat tiap sudut yang dulu pernah aku singgahi. Nostalgia gitu, deh. π
Alamat: Jl. Sruni, Karangkajen, Wonosobo
Tiket Masuk: Rp 20.000,- per orang
Jam Tayang Film: Pukul 11.00, 14.00 dan16.00
Telephone: +62 286 6128159
Beberapa hari lagi, aku akan menikmati cuti besar. *joged ubur-ubur* Cuti yang sudah lama aku idamkan semenjak ada My PiPo di dalam perut.…
“Yaelaah…tiap kali ke sini pasti pesannya itu lagi…itu lagi! Ngga ada bosannya, ya.” Kebiasaan memesan satu menu yang sama saat singgah di resto, kadang menjadi bahan bully teman lainnya. Entah itu makanan, minuman, atau camilan. Tapi, namanya SUKA, ya, mau gimana lagi.
Aku sering memesan camilan yang itu lagi…itu lagi jika mendatangi resto atau rumah makan yang menyediakan camilan kentang goreng. Ngga ada yang spesial dengan camilan ini. Namun, aku SUKA. Tiap kali memesannya, aku selalu request tanpa penyedap rasa. Padahal, yang membuat gurih justru penyedap rasa, ya. π
Omong-omong tentang camilan, semenjak hamil, tepatnya ngga tahu kapan, aku punya camilan favorit di mana sampai sekarang masih ada yang trial. Maksudnya, belum ada yang pas di lidah. Camilan tersebut yaitu; Pisang Goreng, Arem-arem dan Cilok. Ini bukan ngidam, lho, ya. Cuma pengin saja, dan waktu yang tepat untuk mencari camilan tersebut hanya di akhir pekan.
Ngga lucu, dong, jam kerja digunakan untuk ke pasar hanya mencari camilan favorit.
Seorang perempuan yang berjualan camilan di kantor, kadamg beliau membawa camilan pisan goreng dan arem-arem. Tapi, belum cocok di lidahku. Jadi, aku ngga pernah membelinya di sana.
Maksud hati ingin higienis, membuat camilan sendiri. Beberapa kali sudah aku coba juga, tapi belum juga cocok. Padahal buatan sendiri, ya. Menandakan belum berhasil membuat camilan enak. Hahaha
Tiap melihat gerobak gorengan yang menjual pisang goreng, aku selalu berhenti di depannya, kemudian membelinya. Pisang goreng, camilan yang bisa dibilang biasa banget, tapi menurutku wah. Sampai saat ini belum ada yang cocok di lidah. Masih trial and trial dari gerobak to gerobak, dari wajan sendiri, sampai wajan tetangga. π

Lanjut camilan arem-arem di mana kalau sudah ada yang cocok kayaknya bisa bikin merem-merem. π Setelah memutuskan untuk ngga membeli di Mbah Jajan yang di kantor, aku mempercayakan camilan arwm-arem kepada Mbak Admi, pedagang sayur keliling di kampungku. Beliau tiap akhir pekan selalu membawa arem-arem. Sebenarnya aku bisa, sih, membelinya di pasar. Sama halnya Mbak Admi. Tapi, aku lebih memilih untuk menunggunya.
Kadang COCOK, kadang beda. Itulah arem-arem yang di bawa Mbak Admi. Menurutnya, sih, beliau mengambil dari satu pedagang. Tapi, entah karena apa, cita rasa arem-aremnya kadang berbeda. Ya…menimbang diri sendiri saja lah. Tiap hari membuat sup, tapi cita rasanya selaly berbeda. Kadang enak, kadang hambar karena lupa ngga dikasih garam. π
Camilan terakhir adalah camilan yang saat ini makin langka yang jual. Bisa dikatakan hampir punah. Adalah cilok atau aci dicolok, camilan kenyal yang berasal dari Bandung. Beberapa kali aku membuatnya, dan beberapa kali juga aku gagal membahagiakan lidah sendiri. π
Sampai aku merasa kesal, aku keliling alun-alun Banjarnegara untuk mencari cilok. Dan hasilnya nihil. Ngga ada seorang pun yang menjual cilok. *peluang*
Gerobak merah yang dipikul oleh seorang lelaki paruh baya mengelilingi kampungku, aku mengira beliau menjual bakso ayam yang kini sedang naik daun. Cocok! Bukan bakso ayam yang Beliau jajakan, melainkan cilok dengan ukuran kecil yang dijual Rp 50 per butir.
Penjual cilok yang mengaku tinggal di Desa Sered ini hanya datang saat akhir pekan; Sabtu atau Minggu. Hari lain, beliau berjualan keliling di desa lain. Tapi, sayang seribu sayang, beliau datang ke kampungku hanya dua kali.
Beliau mengatakan kalau kampungku sepi anak kecil. Ngga banyak cilok yang laku. Padahal, anak-anak kecil di kampungku, tuh, ngga sedikit dan terkenal doyan jajan. Selain datangnya terlalu pagi, kisaran pukul 07.00 WIB, minggu itu memang lagi jarang terlihat anak kecil. Belum rejekinya kalik, ya. Padahal ciloknya enak! π Eeuumh. . .sekarang jadi lebih sering buat cilok sendiri. Soal rasa, nomor sekian. Terpenting bisa makan cilok. π
Baca juga Camilan Enak dari Umbi Talas
Melihat tanggal merah yang berjejer, kaki ini rasanya harus melangkah lebih jauh dari hari biasanya. Mencari teman buat piknik bareng! Itu yang terlintas dalam pikiranku. Merencanakan piknik dengan siapapun, orang yang aku kenal, dan biasanya adalah teman Blogger. π
Ya, piknik menjadi pilihanku saat long weekend tiba. Tapi…itu hanya terjadi pada zama dahulu kala. Saat aku masih unyu-unyu single. Berhubung sekarang sedang double dengan usia kandungan makin berumur, aku sudah ngga berani bepergian jauh, dong. Lalu, punya rencana apa? Tukar kado natalkah? π Ngga! Ini, nih, aktivitasku saat libur hari raya natal.
Liburan dalam rangka memperingati Maulud Nabi SAW dan Hari Raya Natal tahun 2015, bertepatan pula dengan libur anak sekolah, memberi peluang kepada dua ponakanku; Abang Nugie dan Kakak Ibrahim, untuk menginap di rumah. Mereka tahu kalau aku libur kerja sampai akhir pekan. Bahagianya, tuh, libur yang jatuh pada hari Jum’at. Secara, hari efektif kerjaku hanya lima hari kerja.
Kamis, 24 Desember, menjelang siang ponakans diantar oleh Ayahnya. Rencana menginap hanya satu hari, tapi bekal yang dibawakan oleh Mamahnya waaar biyasah. Takarannya seperti mau menginap tiga hari. π Sedari siang sampai malam, mereka asyik bermain di rumah. Mendirikan tenda, bermain lego, dan aktivitas lainnya yang membuat rumah jauh dari kata sepi. Ya, hari itu, mereka full bermain di rumah.
Pagi harinya, aku bersama suami, dede dan juga ponakans jalan-jalan ke kota. Ini sudah direncanakan dari semalam. Ponakans minta bubur ayam yang dijual di alun-alun kidul dekat dengan perempatan lampu merah. Mereka memintanya sesaat setelah malamnya makan mie kuah. π “Ya ampun…baru selesai makan, eh udah punya rencana untuk makan lagi.” Batinku sambil senyum-senyum bahagia. Roso banget makannya.

“Budey, nanti habis ini kita ke pasar, ya. Aku pingin beli roti pukis sama ikan ayam kampung. Nanti buat sup ayam, ya.” Pinta Kakak kepadaku yang katanya udah seminggu ngga makan sup ayam kesukaannya. Padahal, belum lama ini, Mamahnya nganter sup ayam ke rumah. Katanya, sih, masaknya terlalu banyak.
Sehari ngga makan sup ayam, serasa seminggu kalik, ya.
Usai makan bubur ayam yang kata Abang cucok bangeeed, kami melanjutkan perjalanan ke pasar. Sudah hampir jam 08.00 WIB, tapi yang jualan ayam kampung tak kunjung tiba. “Mamah beli ayam kampungnya ngga di sini, Budey. Ini pasarnya aneh. Ngga kayak pasar yang biasa Mamah datengin.” Suamiku dan Abang ketawa tengil saat Kakak Ibrahim mulai berceloteh.
“Hmmm…yaiyalah. Mamah kan kalau belanja ke pasar Bukateja, sedangkan ini pasar Banjarnegara!” Abangnya menjawab ketus, sementara Kakak nampak bingung melihat sekitar pasar. Terlebih saat kami membeli beberapa bungkus roti pukis. Dia ngga mau mengambilnya. Bete banget, deh, wajahnya. π
Tak lama setelah membeli roti pukis, kami kembali ke lapak ayam kampung. Alhamdulillaah penjual sudah datang. Surprise banget saat Kakak meminta untuk membeli dua ekor ayam. Satu ekor untuk sup dan satunya lagi untuk pendamping nasi kuning. π Ya, selain sup, dia juga minta dibuatkan nasi kuning, tumpeng, lengkap dengan ingkung. Katanya, pingin makan nasi kuning di dalam tenda yang sudah mereka buat tadi malam di dalam rumah. *emejing beud*
Karena sudah siang, kami pun kembali pulang ke rumah untuk masak bersama. Ponakans telihat bahagia membantuku masak. Sambil ngecemal-ngecemil jajan, dan cerita-cerita tentang teman sekolahnya. ^-*
Pengalaman Membeli Sepatu di Online Shop sempat membuatku was was. Ngga tenang bukan karena takut barang tidak sampai. Secara, aku membelinya di toko…