Bakso, Mie Ayam dan Soto. Teman-teman pasti ngga asing dengan tiga makanan, di mana dua diantaranya sering disebut dengan camilan. Secara, banyak yang bilang, bahwa perut orang Indonesia tuh perut nasi. Baru dikatakan makan kalau sudah menelan nasi. Iya, kan? 😆
Bakso, Mie Ayam dan Soto. Makanan cepat saji menjadi menu alternatif saat di rumah ngga ada lauk atau ngga masak. Aku menyebutnya makanan cepat saji yang super simpel. Mulai dari cara mendapatkannya, cukup dengan mengulurkan uang kepada penjual. Penyajiannya pun amat sederhana. Jarang banget aku menemui penyajian yang spesial, apalagi unik. Terlebih cara menyantapnya, sambil merem saja bisa habis. 😛
Dulu, saat ditanya atau menulis tentang makanan favorit di biodata, Bakso tak pernah lupa untuk kutulis. Makanan yang menurutku ngga bosenin ya Bakso. Apalagi bakso tulang yang selalu ngangnin. Beeeuuh…seminggu sekali harus membelinya.
Dulu, aku bisa langganan mie ayam dan kwie tiaw. Mie Ayam Telkom, di mana dari zaman aku MTs sampai sekarang istiqomah berjualan di samping SPBU kota, yang mana mienya merupakan home made adalah mie langgananku. Sedangkan Kwie Tiaw pojok selatan alun-alun Banjarnegara adalah mie favoritku.
SOPING Krandegan. . .
Sekarang, perlahan aku mulai meninggalkan dua jajanan yang dulu menjadi makanan favorit. Ngga meninggalkan secara serius, sih. Hanya mengurangi konsumsi Bakso dan juga Mie. Paling banyak seporsi dalam sebulan. Malah kadang sampai lupa rasa mie bakso tuh seperti apa. *bohong banget*
Aku merasa agak malas makan Bakso dan Mie Ayam semenjak hamil. Melihat dua makanan tersebut tuh rasanya ngga menggairahkan. 😀 Mulai saat itu pula, aku lebih sering memilih SOTO atau SUP jika ngerasa lapar.
Soto Broto. . .
Kuah Soto dan Sup tuh lebih segar ketimbang Bakso. Menurutku, sih. Hingga kini, aku makin suka dan demen banget kulineran Soto. Tiap kali singgah ke luar kota atau masih dalam kota, makanan yang aku cari terlebih dahulu adalah Soto. *ndeso banget, ya* Ini bukan sekadar pelarian semata, tapi memang makin menjadi, nih, tresno sama Soto. Jadi, jangan pada bosan kalau nantinya banyak bertebaran aneka Soto di blog ini, ya. Hihihi
Dua kali aku piknik rame-rame menggunakan biro perjalanan yang berbeda. Pertama, saat wisata keluarga ke Jawa Timur selama 3 hari 2 malam bersama rekan kantor, kami menggunakan biro perjalanan yang -maaf- pelayanannya kurang memuaskan. Penasaran dengan nama biro perjalanannya ngga? Japri, deh, kalau penasaran, ya. 😀
Kedua, ketika acara pisah sambut rekan kerja yang bertempat di RM. Sidokumpul, Yogyakarta. Shanum Tour &Travel menjadi pilihan kami untuk mengantar sampai tujuan. Biro perjalanan ini lah yang aku rekomendasikan buat Teman-teman yang hendak melakukan perjalanan wisata menggunakan transportasi darat.
Kenapa aku merekomendasikan Shanum Tour & Travel? Berikut alasanku merekomendasikan biro perjalanan wisata “Shanum Tour & Travel” terlepas dari fasilitas.
Legalitas.
Teman-teman mendambakan perjalanan wisatanya aman, kan? Hari gini penting banget yang namanya legalitas. Ngga hanya legal pada bironya saja, tapi mencakup semua yang berhubungan dengan perjalanan itu sendiri. Alat transportasi, misalnya. Harus benar-benar lengkap dokumennya. Begitu juga dengan sopir dan kondektur. Harus mempunyai kartu tanda anggota biro tersebut atau tanda pengenal.
Dari mana kita bisa tahu biro tersebut legal? Biasanya, ada beberapa biro perjalanan yang menawarkan jasanya menggunakan proposal. Seperti halnya Shanum Travel & Travel. Pada proposal tersebut, perhatikan data penting seperti: Nama pemilik, Izin usaha, Berkekuatan hukum dan NPWP. Jika sekiranya data lengkap, bisa menjadi bahan pertimbangan.
Sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa dari biro perjalanan, ada baiknya mencari testimoni atau keterangan pendukung lain lewat internet. Sekiranya data dukung yang dibaca bisa meyakinkan calon pengguna jasa. Seperti data biro perjalanan milik Shanum Tour & Travel yang lengkap dan layak.
Budget atau Anggaran.
Aku ngga menitik beratkan pada biaya, melainkan pada budget. Sekiranya, Teman-teman memberi batasan anggaran berapa rupiah untuk jasa biro? Jika memang hanya cukup untuk membayar alat transportasinya saja, maka sewa lah.
Ya, Shanum Tour & Travel bisa menyewakan hanya alat transportasi saja. Tanpa fasilitas tour guide, paket makan, snack, dan fasilitas lain pada umumnya. Karena keterbatasan anggaran saat ke Jogja, kami hanya menyewa alat transportasinya saja yang sudah include dengan sopir dan satu kondektur.
Paling nyaman, ya, seperti ini. Kalau ada satu peserta yang sudah paham arah tujuan, mending sewa transportasi saja. Lebih murah, Sist. Shanum Tour & Travel bisa menjadi teman perjalanan meski kita ngga punya banyak anggaran. Tentunya harga masih realistis lah, ya.
Salah satu Bus-nya. . .
Transportasi.
Ngga usah muluk-muluk ingin tansportasi yang mewah jika memang budgetnya minim, ya. Terpenting, sebelum memutuskan untuk menggunakan biro perjalanan wisata, kita harus memastikan dahulu Bus yang akan mengantarkan kita berwisata. Minta lah foto Bus kepada biro, kemudian catat nomor polisinya.
Mencatat nomor polisi ini penting banget. Untuk memudahkan dalam mencari Bus dan juga komplain jika saatnya berangkat ternyata Bus tidak sesuai dengan yang ada di foto. Tenang saja, hal ini ngga akan terjadi jika menggunakan Shanum Tour & Travel. Sebab, sebelumnya pemilik biro akan memastikan alat transportasi yang akan digunakan oleh kantor si A.
Mengirim foto, kemudian mengkonfirmasikannya. Jika secara tampilan fisik kurang berkenan, maka pihak biro akan segera menggantikannya. FYI, armada yang disediakan oleh Shanum Tour, tuh, tergolong baru. Transportasi di atas tahun 2014 semua, tahun pembeliannya.
Pelayanan.
Harusnya pelayanan ditulis pada urutan pertama, ya. Secara, pelayanan yang memuakan atau sebalikanya bisa menjadi tolak ukur keberhasilan suatu bisnis. Tapi, kembali pagi pada keamanan seluruh penumpang, apa artinya pelayanan yang bagus tapi legalitas ngga ada. Biro ngga mementingkan identitas. Ada, lho. Sekadar punya nama, tapi ngga mempunyai data lengkap. Prinsipnya, yang penting bisa jalan dan menghasilkan. Jadi, ngga masalah pelayanan biro aku masukkan pada urutan keempat, ya. 😉
Mulai dari pemilik, sampai dengan kondektur, Shanum Tour & Travel bisa dibilang cekatan dalam memberi pelayanan. Para sopirnya juga ramah dan ngga menuntut hatus diberi ini itu. Aku sering menjumpai sopir yang minta tambahan, entah materi atau lainnya di luar kesepakatan. Etapi, kalau kita ikhlas memberi, sih, ngga masalah, ya.
Paham Tujuan.
Akan menjadi hal aneh dan lucu andai biro wisata ngga paham arah dan tempat yang akan dituju, khususnya sopir. Ini bisa jadi akan menghabiskan waktu lebih banyak lagi kalau sopir belum paham arah. 😀
Tapi, itu ngga akan terjadi di Shanum Tour. Pada biro tersebut, sudah ada spesialisasi. Misalnya, sopir yang benama Arman hanya akan mengantarkan tour ke daerah Jawa Timur. Sebab, dia sudah sering menjelajahi Jawa Timur dan paham arah serta destinasi wisata di Jawa Timur.
Nah, itu lah 5 alasanku merekomendasikan biro perjalanan wisata “Shanum Tour & Travel” yang berkantor pusat di Purbalingga. Kini, Shanum Tour & Travel memiliki cabang di Banjarnegara dan Wonosobo. Bagi yang berdomisili di Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Cilacap, Purwokerto, dan sekitarnya, aku rekomendasikan biro perjalanan wisata Shanum Tour untuk mengantar kamu piknik. Pilih lah biro yang dekat dengan tempat tinggalmu, ya. Karena akan lebih efisien. 😉
Kira-kira, apa yang menjadi bahan pertimbangan Teman-teman dalam memilih biro perjalanan wisata selain fasilitas?
Bandeng Juwana, Ngga Hanya Duri Lunaknya yang Bikin Enak – Oleh-oleh khas Semarang ngga melulu Tahu Bakso atau Lunpia. Ada yang lebih memikat dan juga nikmat, yaitu Bandeng Juwana. Teman-teman udah pada kenal dengan Bandeng yang paling hits di Semarang, kan?
Bandeng yang terkenal dengan duri lunaknya mulai diproduksi pada tahun 1981. Salah satu alasan, kenapa aku menjadikan Bandeng Juwana sebagai lauk favorit? Tak lain karena saat makan, aku ngga perlu repot-repot mengambil duri yang ada di dalam daging Bandeng. Karena sudah dipresto, duri telah lunak dan bisa turut dimakan.
Selain kering kentang dan abon yang sudah aku tulis di blog post sebelumnya, Bandeng juga termasuk lauk favoritku. Tapi, sayangnya hanya Bandeng Juwana saja yang memang sudah ngga diragukan lagi gurihnya. Bandeng lain kalau belum mencobanya, ya, ngga tahu berhasil menggodaku apa ngga. 😀
Harus Bandeng Juwana! Sombong banget, ya? Hahaha…jangan sombongnya yang disorot, dong. Ini hanya soal rasa dan selera. 😉 Aku pernah beberapa kali nyobain Bandeng lain, tuh, beneran belum nemu yang cocok.
Aku sering membeli Bandeng di Pasar Banjarnegara. Mencoba, siapa tahu ada yang cocok! 😉 Bandengnya memang ngga sebesar Bandeng Juwana yang isi sampai enam biji dalam satu bungkusnya. Hanya ukuran sedang, malah kadang menurutku termasuk kecil. Saat membeli, sih, masih dalam keadaan segar. Begitu juga dengan aromanya.
yang bikin napsu makan bertambah…
Sesampainya di rumah, aku menggorengnya dengan campuran telur. Olahan Bandeng yang mainstream banget! *pingin bisa membuat otak-otak Bandeng.* 😆 Tapi, setelah matang, kemudian dinikmati untuk lauk, aroma tanah baru terasa! Nyebelin, kan? Hiks…mungkin aku yang ngga bisa masak Bandeng kalik, ya.
Berbeda dengan Bandeng Juwana. Bandeng yang punya nama produk ELRINA serius ngga tercium aroma tanah. Aku pernah mencari tahu tentang cara menghilangkan aroma tanah pada Bandeng. Tapi, malas mempraktikkannya. Yakali…ada yang sudah jadi. Pun lebih praktis.
kemasan Bandeng Juwana
Omong-omong soal aroma, bukan hanya duri lunaknya yang bikin Bandeng Juwana makin enak. Aromanya yang sedap juga bikin kangen. Tentunya bukan aroma tanah. Bukan pula aroma anyir. Tercium aroma daun kemangi pada Bandeng Juwana. Ini yang bikin Bandeng makin enak.
Selain aroma, daging Bandeng Juwana lebih tebal ketimbang Bandeng lainnya. Terasa penuh dan mantap ketika menikmatinya. Makan setengahnya saja rasanya sudah cukup.
Duri lunak, ngga bau tanah, dagingnya tebal, ditambah dengan sambal. Paketan Bandeng yang lengkap dan selalu bikin aku pingin makan lagi dan lagiiii. 😛
yummi banget…
Aku merasa beruntung punya “orang tua” yang berdomisili di Semarang. Bapak, yang tiap minggu mudik acap kali membawa oleh-oleh. Entah itu oleh-oleh khas semarang, ataupun oleh-oleh lain titipan dari Ibu.
“Ini termasuk oleh-oleh khas Semarang. Kesukaan Bapak juga. Diterima, ya.”
“Ini ada titipan dari Ibu, semoga suka.”
“Ibu tadi bawain Bapak ini. Dicoba dulu, ya.”
“Ibu kemarin baru jalan-jalan, beli oleh-oleh ini. Bagikan buat Teman-teman juga, ya.”
Bapak, pimpinan kantor bisa banget bikin aku bahagia. 😀 Melalui beliau, pesan dari Ibu sampai. Melaui beliau, buah tangan dari Ibu selalu sampai ke tanganku. Beneran nikmat tak terkira. Makasih banget buat Bapak dan juga Ibu. 😉
Bandeng Juwana, ngga hanya duri lunaknya yang bikin enak. Karena datang dari tangan tertentu, Bandeng Juwana makin terasa enaknya. ^-*
Bandeng Juwana, Oleh-oleh Khas Semarang
Alamat: Jl. Pandanaran 57, Semarang
Telephone : +62248311488.
Fax : +6224841 2086
Website : http://www.bandengjuwana.com
Pin BB : 2B07911A
HP : +62811277575
Harga: Silakan cek di website.
Lauk yang Dapat Menambah Nafsu Makan – Melihat Ibuku makan dengan lauk ikan mujahir dan irisan berambang serta cabai rawit, tuh, nampak banget nikmatnya. Mulutnya yang penuh menjadikan pipinya ngga seimbang. Lebih besar pipi kanan, karena makanan yang masuk mulut memang dikunyah di sisi kanan semua. Mengunyahnya pun ngga pelan. Tapi bukan karena lapar, lho. Melainkan merasakan nikmatnya makan dengan lauk yang cocok.*semangat mengunyah*
Bahagia, tuh, memang sederhana banget. Hanya dengan nikmat sehat, kemudian makan dengan lauk yang pas di lidah, porsi makan pun kadang bisa bertambah. Ya..seperti Ibuku ini. Nasi yang biasanya cukup satu centong, dengan lauk yang pas menjadi dua kali lipatnya. Seperti masa pertumbuhan, ya. Sayangnya sudah ngga masuk masa-masa gold. 😆
Berbeda dengan Ibuku yang kian hari makin lahap makan. Ini ketiga kalinya aku kehilangan napsu makan. Makan sayur bayam yang termasuk sayur kesukaanku saja bisa mual. Makan dengan lauk telor bebek yang didadar, lalu aku kasih kecap, mual juga. Parahnya, makan buah pear yang biasanya bisa habis dua tiap harinya, mual parah. Sampai huek. Duuh…jangan-jangan aku mau hamil lagi, ya. Hahaha
Ini menakutkan banget. Serius. Secara, saat ini aku sedang menjadi BuSui alias Ibu Menyusui. Untuk menghasilkan ASI yang melimpah ruah, kan, harus banyak makan makanan yang bergizi, sayuran dan juga buah. Ini malah aku kehilangan napsu makan saat usia Jasmine menuju 20 hari. *late post*
Kehilangan napsu makan ini mengharuskan aku ke Dokter karena menyebabkan perut ngga enak banget. Harus konsumsi obat disaat sedang menyusui. Nyebelin banget, ih! Ngga biasanya aku merasa sakit perut yang teramat. Sehabis makan pedas saja, aku jarang sakit perut. Lha ini, ngga makan pedas, tapi perut sakit. -_- Ini gegara doaku yang ngga benar saat Jasmine demam di usianya ke 10 hari.
Usai diperiksa, ternyata lambungku sedikit bermasalah. Masalah tersebut datang karena aku sering telat makan. Ya ampuun…padahal semenjak menyusui, pukul 06.00 WIB, aku sudah harus sarapan karena lapar banget. Padahal, tiap kali Jasmine bangun, aku ngemil roti mini. 😀 Maklum lah, kan, aku sedang diminta terus oleh Jasmine. Harus memberi ASI tiap kali ia pingin.
Sarapan boleh lebih awal, tapi selebihnya kalau telat ya sama saja. Ya, beberapa hari kemarin aku memang sering telat makan siang, sore dan malam. Tanpa disadari, aku telat makan karena lauk yang biasa aku konsumsi sudah ngga menggairahkan lagi. 😆 PayBet alias payah banget.
Beruntung syukur alhamdulillaah, aku ngga punya riwayat sakit magh. Tapi, semisal telat makan ini berlanjut, waspada aja, deh! *elus-elus lambung*
Seketika, aku berpikir keras supaya Jasmine makin sehat dengan ASI. Aku harus mencari, mengingat lauk apa yang sekiranya bikin napsu makan bertambah. Teringat sebelum hamil, aku senang makan dengan lauk kering kentang dan abon sapi. Tanpa banyak pertimbangan, aku langsung membuat kering kentang! Beruntung, kentang sekarang mudah didapat. Aku pun stok banyak kentang. Niat banget.
Sedangkan abon sapi, seperti biasa aku beli di toko pak Haji Surya. Toko langgananku yang menyediakan aneka olahan daging sapi. Alhamdulillaah…dengan dua lauk tersebut, kini napsu makanku terus bertambah. Dikit-dikit makan. Dikit-dikit cekreeek! 😆 Napsu makan bertambah, tapi berat badan terus berkurang. KZL, ih. Takut dikira kekurangan gizi. 😉
Penginapan yang dekat dengan tempat wisata rata-rata banyak dicari oleh para wisatawan. Tujuan memilih penginapan ini, tak lain supaya lebih hemat waktu. Jarak tempuh dari penginapan menuju tempat wisata ngga terlalu jauh. Aaww…jangankan penginapan, pacar saja pinginnya cukup lima langkah dari rumah.
Hemat waktu sudah pasti. Karena, bisa ditempuh dengan jalan kaki untuk sampai objek wisata. Tapi, ngga mesti bisa hemat biaya. Tahu sendiri lah, karena lokasinya yang strategis, menjadikan pemilik penginapan tega memberi harga lebih tinggi. Belum lagi, jika weekend atau hari besar tiba, bisa jadi harga naik sekian prosen. *lagu lama* *kejam*
Tinggal pilih: hemat waktu atau hemat biaya? 😀 Memang risiko, sih. Risiko menjadi tukang jalan yang pinginnya ngirit waktu dan juga uang. Hahaha *aku banget* Jika ingin dua-duanya dapat, gunakan fasilitas penginapan ramai-ramai. Jadi, bayarnya lebuh ringan. Seperti yang pernah aku praktikkan saat berwisata ke Kota Batu, Malang, Jawa Timur.
“Jangan khawatir, satu rombongan ini akan menginap di satu homestay yang sama. Malamnya akan makin hangat.” Tour guide dari travel agent, Pak Bimo, seakan menjanjikan penginapan yang begitu luas. Padahal, rombongan kami ngga sedikit. Ya, secara berwisata ke Kota Batu ini dalam rangka family gathering. Orang satu kantor, sepaket suami-istri. Adakah penginapan di dekat Batu Night Spectacular (BNS) untuk kapasitas 80 orang?
Mungkin ada! Mencarinya juga gampang. Kan kami pakai travel agent, pasti mereka punya langganan homestay. Tapi, ngga tahu karena apa, Pak Bimo memisahkan kami! *drama* Aku yang saat itu masih sebatang korek api, hanya bisa pasrah. Sesampainya di Batu, rombongan kami dibagi menjadi dua kelompok untuk menempati dua homestay. Dan aku kebagian tinggal di Homestay Wulansari atau yang dikenal dengan Villa kamaran.
Penginapan tampak depan. . .
Wulansari menyediakan delapan kamar dalam satu homestay. Enam kamar di lantai bawah dan dua kamar di lantai atas. Karena termasuk peserta paling energik, aku diminta untuk bobok di lantai atas. Maklum, orang tua pada ogah-ogahan naik tangga hanya untuk bobok. Padahal, BNS bisa diteropong dari lantai atas, lho! Surprisenya, kalau malam hari, kecenya BNS dan kota malang nampak syantik bingits.
Nah, berikut ulasan dariku tentang penginapan Wulansari, homestay yang dekat dengan Batu Night Spectacular (BNS) berdasarkan pengalamanku yang menginap satu malam di sana.
Kamar Tidur.
Homestay Wulansari menyediakan kamar tidur double bed dan triple bed. Di lantai bawah, tersedia dua kamar yang bisa diisi tiga orang. Cocok banget bagi yang mau ngirit, nih. Sekamar bertiga! 😀 Sementara empat kamar, adalah double bed. Termasuk kamar yang aku gunakan.
Aku merasa cukup nyaman dan nyenyak tidur di penginapan ini. Selain karena capek, kamarnya juga bersih. Adanya teras di depan kamar lengkap dengan dua kursi dan satu meja, membuat pagiku lebih semangat untuk menjemput sunrise sembari ngeteh. Sayangnya, fasilitas pendukung seperti televisi, AC dan kursi santai belum ada di dalam kamar.
Kamar Mandi.
Masing-masing kamar disediakan kamar mandi dalam. Namun, ngga ada yang spesial dengan kamar mandi di homestay ini. Fasilitas yang ada di kamar mandi standard seperti pada umumnya.
Kamar mandi yang berada di kamarku ngga ada showernya. Tanpa air hangat pula. Padahal Batu dinginnya brrr… Padahal, kamar mandi yang lain ada shower plus air hangatnya. Nasibku kurang beruntung. Kloset duduknya juga lancar dan bersih. Yang jelas, aku lihat kamar mandinya terawat semua, meski sederhana.
Oya, di homestay ini ngga menyediakan perlengkapan mandi. Sabun mandi, misalnya. Jadi, Teman-teman yang mau menginap di sini harus membawa perlengkapan mandi sendiri.
Ruang Santai.
Adanya ruang santai di penginapan bagiku adalah bonus. Memang, adanya ruang santai ini bisa mengakrabkan atau bahkan menambah teman. Tapi, bagiku ngga harus ada. Ruang santai untuk para tetamu ini biasanya dimanfaatkan untuk ngobrol, atau sekadar nonton acara televisi jika memang disediakan.
Di Homestay Wulansari, ruang santainya cukup luas. Adanya televisi dengan ukuran 14″ menjadikan ruang ini makin hangat. Secara, para BuIbu PakBapak yang tadinya di kamar, niat mau langsung istirahat, tetiba pada keluar dan berkumpul di ruang santai sambil ngopi-ngopi ganteng.
Tempat duduk berupa sofa hanya disediakan satu dowang. Bukan satu set, melainkan satu biji hanya bisa buat tiduran satu orang. Sedangkan lainnya lesehan tanpa karpet. Brrr…Tadinya kami mau pinjam karpet, tapi yang punya penginapan belum punya karpet. 😆 *lendotan Nicholas*
Jamuan Makan.
Jamuan makan: sarapan, makan siang, dan makan malam, ngga mesti ada di penginapan. Karena kami menginap secara rombongan, dan mengambil paket menginap plus makan, ya sudah pasti mereka menyediakan makanan buat kami. 😀
Masakan a la homestay Wulansari termasuk tipe masakan rumahan. Pecelnya enak banget, sop dan lauknya juga demikian. Menu makanannya sederhana, namun citarasanya bikin pingin nambah. Terlebih ada krupuknya. Beeuuh! Makin gurih. . .
Jika Teman-teman menginap di sini tanpa rombongan, alias sendiri dalam rangka backpackeran, bisa juga mendapat jamuan makan asal memesan terlebih dahulu. Ya, jamuan makan ini by request. 😉
Pengalamanku menginap di Homestay Wulansari cukup puas. Bagiku, ngga ada kekurangan suatu apa untuk fasilitas utama suatu penginapan. AC, air hangat, televisi di dalam kamar, bagiku merupakan fasilitas penunjang. Ya, menunjang kesejahteraan para penginap. 😆 Toh, aku masih bisa bobok nyenyak tanpa mereka. 😛
Oya, di homestay yang dekat dengan wisata BNS ini disediakan dapur untuk para tamu. Tetamu bisa memaksimalkan dapur ini untuk masak atau merebus air. Jika butuh bumbu untuk masak, bisa minta kepada penjaga homestay.
Berencana wisata ke BNS dan sekitarnya? Coba survey Homestay Wulansari. Siapa tahu cocok! Penginapan ini dekat dengan wisata Batu Night Spectacular (BNS), lho. Cukup dengan jalan kaki untuk sampai BNS yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari pengipan.
Homestay Wulansari, Kota Batu, Malang.
Alamat:
Jl. Gondorejo No.157, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa Timur 65316. Nomor Telephone:
0341-596443 atau 0813-3249-1570. PIN BBM:
5A3093A0 atau 5A4A04BB. Harga:
Mulai Rp 175.000 – Rp 250.000 per kamar.
L O V E! Rangkaian abjad tersebut tersusun rapih di depan pintu masuk Usman Janatin City Park. Ngga hanya itu, lambang LOVE juga terpampang manis di antara abjad dengan warna yang cerah. Bisa diartikan, bahwa taman tersebut penuh cinta. Iyaaa, kaaaan?
Usman Janatin, adakah diantara Teman-teman yang mengenalnya? Jujur, aku NOL banget kalau ngomongin tentang orang-orang yang berjasa bagi tanah air, Indonesia. Seperti halnya Usman Janatin. Ngga banyak tahu latar belakang mereka, apalagi kisah detilnya. *ya nasiib* Makanya, aku senang dengan munculnya nama-nama tempat wisata atau apapun yang menggunakan nama pahlawan. Ngga hanya ingin sekadar tahu, tapi juga akan menambah daftar bacaan dan pengetahuan baru bagiku.
Membaca di beberapa situs online, blogdetik salah satunya, bahwa Usman Janatin adalah pahlawan nasional yang dihukum gantung di Singapura pada 17 Oktober 1968. Sebagai prajurit Angkatan Laut, Usman menjadi bagian dari prajurit perang yang dicanangkan pemerintah RI terhadap Malaysia kala itu. Dihukum gantung! Perjuangannya luar biasa banget.
Aku termasuk perempuan yang betah berlama-lama di taman hanya untuk sekadar menunggu bayangan Mamas Nicholas. Ngga heran, saat tahu ada Taman yang tergolong baru di Purbalingga, kota kelahiran Usman Janatin, aku mengajak Tante untuk duduk-duduk syantik di sana.
Taman yang lokasinya kurang lebih 1,5 km dari alun-alun Purbalingga, dulunya adalah ex pasar kota dengan luas kurang lebih 16.000 meter persegi. Berbeda dengan taman terbuka lainnya yang pernah aku singgahi, Taman Usman Janatin memiliki konsep yaitu taman rekreasi keluarga. Yups, rekreasi bersama keluarga dengan prinsip yang penting anak-anak senang!
Anak-anak bisa betah di taman ini karena ada wahana permaianan meski belum banyak. Empat permainan yang rutin beroperasi yaitu kereta mini, bom bom car, istana balon, happy swing, worm coaster dan sepeda roda tiga. Tiket wahana tersebut bisa dibeli di loket permaianan dengan harga mulai Rp 5.000-Rp 10.000 per wahana.
Saat itu, kami datang cukup pagi, kisaran pukul 10.00 WIB. Wahana permainan belum ada yang mulai beroperasi. Hanya nampak para karyawan yang santai bebersih di sekitar kawasan taman. Beberapa warung dan cafe juga belum ada yang dibuka. Kami benar-benar hanya narsis di sini, tanpa cemal cemil.
Setelah bertanya kepada salah satu penjaga wahana, ternyata taman mulai ramai pengunjung sekitar pukul 14.00 WIB. Pada jam tersebut, wahana sudah mulai dijalankan. Begitu juga dengan warungnya sudah mulai dibuka.
Untuk bisa masuk taman ini, pengunjung harus melewati portal yang berada di sebelah kiri kawasan taman. Portal tersebut merupakan pintu masuk sekaligus pintu keluar taman. Melalui portal, pengunjung cukup mengulurkan uang sebesar Rp 2.000 kepada penjaga untuk biaya parkir sepeda motor. Sedangkan biaya tiket masuk ngga ada.
Taman Usman Janatin yang dikelola dibawah manajemen Owabong memang mempunyai konsep taman rekreasi keluarga, namun ngga sedikit pengunjung remaja yang berdatangan. Termasuk kami, remaja unyu-unyu bathok. Kebanyakan, sih, anak sekolah. Sepulang Sekolah, mereka sengaja mampir Taman untuk menghabiskan siang, atau mengerjakan tugas di bawah tenda yang telah disediakan.
Selain wahana permainan, Taman ini juga menyediakan panggung hiburan untuk perform para pelajar dan juga umum saat akhr pekan tiba. Kata Mas Widi, salah satu karyawan, panggung hiburan selalu ramai meski hanya band indi yang mengisi.
Melihat panggung yang cukup luas itu, kaki aku gatal pingin melangkah, naik ke atas panggung. Kemudian nggebugi drum. Sayangnya, ngga ada alat musik satupun yang tertinggal. Hahaha *nggebugi Tante baen* Yaaaa…karena merasa sudah terjamah semua, aku bersama Tante meninggalkan Taman tepat pukul 13.00 WIB, saat wahana permaianan mulai pemanasan. 😀
Btw, di daerah Teman-teman ada taman rekreasi keluarga macam Usman Janatin City Park? Baca juga tentang Perwira Art Museum. 🙂
Usman Janatin City Park, Purbalingga.
Lokasi:
Jl. A. Yani No. 57, Purbalingga, Jawa Tengah. Jam Buka Wahana Permainan:
Senin-Sabtu: Pukul 14.00-22.00 WIB.
Minggu: Pukul 08.00-23.00 WIB.
Tiap kali menghadiri resepsi pernikahan, sejauh ini aku belum pernah mendapat souvenir pernikahan yang terbuat dari keramik. Kebanyakan souvenir yang aku dapat yaitu kipas, ketokan kuku, dompet mini, cermin kecil, dan masih banyak lagi souvenir lainnya yang standard Indonesia. 😀
Aku ngga tahu kenapa para mempelai ngga memilih souvenir dari keramik. *termasuk aku, dulu* Padahal menarik dan banyak manfaatnya bagi Tetamu.
Tetamu yang hadir atas sebuah undangan adalah Raja. Sepakat, dong? Makanya, yang mengundang harus benar-benar memperhatikan, dan menghargainya.
Mereka ngga hanya meluangkan waktu saja untuk sekadar menghadiri resepsi. Ada hal lain yang mungkin bisa dikatakan lebih penting dalam mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadiri undangan. Kostum yang harus mereka kanakan, misalnya. Teman-teman pernah mengalami ribet dalam memilih kostum pesta, kan?
Makanya, sudah sepantasnya mereka mendapat penghargaan. Bukan penghargaan semacam award lho, ya. Melainkan souvenir sebagai salah satu bentuk nyata menghargai Tamu sekaligus sebagai kenang-kenangan, ucapan terima kasih kepada para tetamu yang telah meluangkan waktunya untuk hadir.
Saat menghadiri resepsi pernikahan, tak sedikit dari mereka yang -seperti- mengharap adanya souvenir unik, bermanfaat dan kalau bisa yang anti mainstream. 😀 Seperti souvenir dari keramik ini. Masih jarang, kan? Ini kalau bisa lho, ya. Karena yang paling penting dari sebuah souvenir yaitu bermanfaat dan dibeli sesuai budget! Ngga kayak pernikahanku, souvenirnya gelas. Mainstream banget.
Nah, ini ada 3 pilihan souvenir pernikahan dari keramik. Yaitu:
1. Hiasan Dinding
Ada yang berpendapat hiasan dinding ini kurang bermanfaat. Alasannya, karena tidak bernilai guna. Tapi, bagi Teman-teman yang suka dengan aksesoris, hiasan ini bisa ditempel di dinding ruang tamu bersama hiasan dinding lainnya.
Ada banyak macam hiasan dinding yang bisa dibuat by request. Salah satunya yaitu kura-kura. Mulai dari ukuran mini, kira-kira diameter punggung 5 cm.
Kura-kura seksi. . .
Sebagai kenang-kenangan, nama mempelai bisa ditulis di dada kura-kura atau punggungnya. Cantik, bukan? Harga hiasan dinding mulai Rp 7.000 per biji. dengan diameter punggung 5 cm.
2. Teko Poci
Melihat Poci yang berjejer ini, ingatanku justru mengarah pada kota Tegal. Kota yang memang terkenal dengan teh pocinya. Padahal, tempat seduh teh ini yang membuat adalah orang Banjarnegara. Tegal impor. 😀
Belum lama ini, aku menemani sepupuku memesan poci yang berukuran sedang. Ia hanya memesan poci dan satu gelas mini saja tanpa lambar. Sengaja ngga memesan full seperti foto di atas, karena masih banyak keperluan yang belum dibeli. 😉
Satu poci sedang bisa dibeli dengan harga Rp 15.000 per set. Cukup mahal atau terlalu mahal untuk sebuah souvenir pernikahan? Hmmm…jika memang budget ada, akan terasa ringan. Btw, tersedia juga poci dalam ukuran mini. Seperti poci yang buat memenjarakan Jin di tipi-tipi. Hahaha
Poci ini akan dimanfaatkan sebagai pajangan atau menyeduh teh tiap pagi-sore, itu tergantung Teman-teman yang memilikinya. Mending buat nyeduh teh, ya. Sedap tauuuuk.
3. All about tempat
Tempat yang aku maksud yaitu bisa asbak, tempat pulpen, atau tempat lilin. Banyak alternatif tempat. Tempat atau wadah ini paling bermanfaat dan paling banyak dipesan oleh pembeli.
Meski modelnya biasa, sudah banyak yang punya, tapi banyak manfaatnya dan pasti dipakai. Yaa…masak asbak mau disimpen saja, sih. Pun dengan tempat lilin. 😉 All about tempat harga mulai dari Rp 5.000 per biji.
Pagi-pagi ngeteh sama mendoan cocok! 😀
Bagaimana? Souvenir pernikahan dari keramik cukup menarik dan kaya akan manfaat, bukan? Masih banyak pilihan souvenir lainnya. Kartun karakter, misalnya. Kartun yang dibuat daru keramik, tuh, lucu. Seriyes. Aku pernah melihat di rumahnya. 🙂
Jika ada yang tertarik dengan pilihan souvenir pernikahan dari keramik, Teman-teman bisa memesannya melalui nomor +6285647945005. Pemesanan bisa via SMS atau telephone. Minimal pembelian 100 set, dengan waktu pemesanan minimal tiga bulan sebelum tanggal pakai. *ujung-ujungnya jualan* *UUJ*
Berniat kulineran di Wonosobo, jangan sampai melewatkan makanan khas Wonosobo yaitu Ènthog Gobyos, Kuliner Wonosobo yang Bikin Jegger! Ya, kuliner khas Wonosobo enggak hanya Mie Ongklok atau Mie Set. Masih ada beberapa makanan lainnya yang musti Teman-teman coba. 😉
Ènthog atau Itik Serati, adakah di antara Teman-teman yang mengenalnya? Bagi yang tinggal di Desa, mungkin tahu. Bukan berarti si Ènthog ini hanya hidup di Desa, lho, ya. Hanya saja, kita bisa dengan mudah menemukannya di kampung. Dan lebih mudah lagi menjumpainya di pasar unggas. 😀
Andai logo Itik putih yang eksis dengan jempolnya enggak terpampang di depan pintu masuk sebuah rumah makan bernama Ènthog Gobyos, mungkin aku bakal mikir lama tentang; “seperti apa, sih, si Ènthog?”. *loading…..*
Setahu aku, jenis unggas tersebut punya nama Èntok atau Mèntok, bukan Ènthog. Ternyata ada nama lain juga, ya. Pak Eko, pemilik Rumah Makan Ènthog Gobyos pun lebih memilih Ènthog, ketimbang Entok, untuk memantapkan pengucapan. Dan memang iya, kesannya lebih mantap.
Jempol si Ènthog seksi. . .
Enggak menyangka jika daging Ènthog yang dimasak bersama santan kental dan juga racikan rempah-rempah, begitu nikmat di lidah. Apalagi bumbunya benar-benar meresap sampai dalam serat. Enggak hanya santan dan rempah-rempah, pemilihan cabai rawit dari Dieng atau yang lebih dikenal dengan cabai setan juga turut diolah dan menjadi ciri khas si Ènthog Gobyos.
Ciri khas yang aku maksud yaitu pedas yang begitu istimewa, di mana tiap penikmat Ènthok akan dibuat gobyos gemobyos (keringat bercucuran) cukup dengan sekali suapan plus sambal. Ya, makan Ènthog langsung gobyos! *serius*
Siang itu, Gita, teman gawlku, mengajakku makan siang di Ènthog Gobyos. Dia paham banget selera masakan yang aku sukai: pedas yang membahana.
“Kamu bakal ketagihan makan di Ènthog Gobyos. Dagingnya empuk dan sama sekali enggak tercium aroma amis. Bumbunya sedap dan santannya juga segar, lho.” Testimoni dari Gita yang sudah beberapa kali makan Ènthog Gobyos, membuatku enggak sabar untuk segera mencicipi si Ènthog seksi yang jalannya megal-megol. 😀
Usai menyelesaikan segala urusan, kami pun mampir Ènthog Gobyos. Rumah makan ini enggak begitu besar. Pun dengan tempat makannya. Ruang depan hanya terdapat tiga meja di mana masing-masing meja terisi empat kursi. Sedangkan ruang belakang disetting lesehan dan lebih luas dari ruang depan.
Satu hal yang bikin nyaman makan di sini yaitu karena penyajiannya secara prasmanan. Para pelanggan bebas mengambil nasi beserta lauknya sendiri. Ini membuat pelanggan, khususnya aku lebih lega. Secara, yang tahu kadar kenyang, kan, diri sendiri. Iyaaa, kaaan?
Btw, Teman-teman ada yang enggak suka pedas. Tapi sudah masuk rumah makan ini? Tenang saja, di sini tersedia dua pilihan masakan Ènthog, kok. Yaitu Ènthog yang pedasnya membahenol dan Ènthog yang manis asin nikmat. Lihat lah dua baskom di atas. Ada Ènthog yang diguyur cabai, kan? Itu yang pedasnya cethar! Satunya lagi dengan cita rasa biasa, cenderung asin.
Jika ada yang merasa pedasnya kurang, *ini masya allah* Teman-teman bisa menambahnya dengan sambel kosek yang cabainya rawit semua dan pedasnya tambah bikin gobyos. Mamfus teler huhaaah. . . 😛
Serius lapar. . .
Ènthog ini seriusan pedas cethar. Kalau aku ngomong serius, berarti seriyes, ya. Pedasnya enggak main-main. Makanya, jika mau mulai makan, sediakan air putih atau minuman lain yang bisa bikin lidah agak tenang.
Selain pedasnya bikin keringat temetes tes tes, Teman-teman lebih hati-hati kalau makannya tanpa sendok alias telanjang menggunakan tangan. Soalnya, telapak tangan bisa panas karena sengatan cabai setan. Hahah Ini seriyes lagi, ya. Enggak bohong. Aku dan Gita telah merasakannya. 😆
Nah, bagi Teman-teman yang punya rencana ke Wonosobo, mampir lah ke Ènthog Gobyos. Nyobain sensasi makan Ènthog sambil ngelap keringat. 😉 Andwell, si Enthog Gobyos aku rekomendasikan khusus bagi Teman-teman yang suka daging Ènthog dan Pedas yang waaarbiasyah!
Rumah Makan Enthog Gobyos, Wonosobo
Lokasi:
Jl. Raya Dieng Km. 01, Rowopeni, Bugangan, Wonosobo.
Jl. Alternatif Kretek-Wonosobo, Semayu, Wonosobo.
Komplek Masjid Abdullah. Jl. Raya Kretek Km. 6.2, Kenteng, Kretek, Wonosobo.
Nomor Telephone:
0852 0081 5555, 0812 1550 1444 Jam Buka:
Pukul 09.00-21.00 WIB. Fasilitas Umum:
Toilet, Mushala, Non WiFi.
Hujan semalaman yang mengguyur kota Kebumen membuat kami ngga yakin bisa melanjutkan rencana piknik esok harinya. Rintik hujan begitu awet sampai pagi. Aku,…
Mancing Mania di Kawah Sikidang bukan lah program acara baru di televisi. Judulnya saja yang persis banget dengan salah satu acara di stasiun televisi. *gue ngga kreatif* Tapi, semisal mau ditayangkan di televisi bagus juga, lho. Jarang-jarang, kan, ada aktivitas memancing di Kawah. 😛
Sebelum mulai memancing, aku mau cerita alkisah dulu. Agak serius, nih. Semacam legenda tentang Kawah Sikidang. Ya…biar postingannya panjang sebagai pelengkap, gitu. 😛
Alkisah, seorang Pangeran kaya raya, Kidang Gurangan, telah memberanikan diri untuk melamar Puteri cantik bernama Shinta Dewi. Namun, karena Shinta Dewi syok saat melihat wajah Pangeran yang ternyata ngga setampan yang ia bayangkan (tubuh manusia, namun kepala mirip hewan Kijang atau dalam bahasa jawa Kidang), maka sebelum lamaran berlangsung, Shinta Dewi mengajukan satu syarat yang sebenarnya syarat tersebut adalah niat jahat supaya lamaran tidak akan berlangsung.
Sepertinya, perempuan berparas jelita memang dari dulu suka jual mahal, ya. Terbawa sampai sekarang, lho. Hahaha *bercanda* Sebut saja Roro Jonggrang. Saat akan dipersunting oleh Bandung Bondowoso, ia meminta dibuatkan 1000 candi, di mana pengerjaannya harus selesai dalam kurun waktu satu hari.
Sama halnya dengan Roro Jonggrang, Puteri Shinta Dewi juga mengajukan syarat kepada Pengeran Kidang Garungan untuk membuat sumur dalam ukuran besar. Padahal, Shinta sudah tahu bahwa di tempat yang akan dijadikan sumur, tuh, ngga bakal keluar air. Secara, Desa tersebut memang terkenal sebagai daerah yang selalu kurang air.
Niat jahatnya dimulai! Yaitu dengan cara menimbun sumur yang sedang digali oleh Pangeran. Padahal, Pangeran hampir menyelesaikan syaratnya. Tapi apa daya, orang-orang suruhan Shinta mengembalikan tanah hasil kerukan ke dalam sumur sampai akhirnya Pangeran tertimbun. Aaaw…kasihan, ya.
Kidang Garungan ini punya kesaktian. Karena merasa ditipu oleh Puteri Cantik tapi jahat, ia pun mengamuk di dalam sumur! Byuuur byaaak duaaar….! Jadilah sebuah Kawah dan Pangeran tetap di dalam sumur yang sekarang bernama Kawah Sikidang. Percintaan yang tragis, ya. Mending, kalau mau menolak lamaran, sampaikan saja dengan baik-baik. Ngga kebanyakan dosa. 😛
Kembali ke acara Mancing Mania, ya. 😆 Kawah Sikidang merupakan salah satu objek wisata di Dataran Tinggi Dieng. Objek wisata tersebut berlokasi di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Dalam satu kawasan wisata, banyak terdapat kawah yang masih aktif. Namun, hanya ada satu kawah utama, kawah Pangeran Kidang, yang letaknya kurang lebih 1 km dari pintu masuk objek.
Saat ini, banyak masyarakat yang mencari rejeki di sekitar kawasan objek wisata. Selain jajanan khas, ada beberapa orang yang standby di pinggir kawah utama. Mereka membuka jasa pemancingan, yaitu memancing telur di Kawah Sikidang.
Ada dua jenis telur yang mereka tawarkan, yaitu telur ayam dan puyuh. Satu bungkus telur puyuh berisi 10 biji, dan 1 bungkus telur ayam berisi 2 biji dijual dengan harga Rp 5.000 per bungkus. Jumlah telur bisa dikurangi, apalagi ditambah. Sesuai dengan keinginan pembeli.
mancing maniaaak. . .
Kawasan kawah utama cukup berbahaya meski sudah dipagar kayu. Maka dari itu, bagi wisatawan yang ingin mencicipi “telur kawah”, bisa minta bantuan kepada penjualnya untuk memasukkan ke dalam keranjang kecil, kemudian merebusnya. Ya, pembeli tidak bisa masuk kawasan kawah bagian dalam. Jika ingin merasakan sensasi mancing mania di Kawah Sikidang, pembeli bisa minta tolong kepada penjual telur untuk mengganti pegangan pancing (ngga tahu namanya apa) yang lebih panjang.
Proses memancing telur ini ngga sampai lima menit sudah matang, untuk telur puyuh. Tapi, aku agak ngga tega mau makan. Soalnya, aroma belerang sudah tercium duluan. 😀 Berbeda dengan Ibuku yang bilang “Enak…enak…enaaak. Telur puyuhnya enak.”