Rekam Jejak 2015

Hei, tahun telah berganti dari 2015 menjadi 2016. Apakah kalian menikmati malam pergantian tahun baru? Kalau iya, pasti punya banyak kisah. Mulai dari para pasangan yang belum halal, sampai sepasang kakek nenek. Satu sama lain punya cerita masing-masing dan pasti asyik. Pada bagi cerita, dong!

Berbeda dengan kalian, aku bersama suami menghabiskan malam pergantian tahun dengan bobok berdua, sambil bercerita.

Cerita yang kami ciptakan di malam pergantian tahun 2016 tidak jauh dari keluh kesah, bahagia, cemas, was was, karena kami sedang menantikan buah hati yang diperkirakan lahir pada tanggal 25 Januari 2016. Tinggal hitungan hari. Hihihi

Karena insya allah aku melahirkan awal tahun ini, tentunya setahun yang lalu aku lagi sibuk-sibuknya menjadi Ibu Hamil, dong. Memangnya, Ibu hamil apa yang disibukin?

Eeee…jangan salah! Ibu hamil justru banyak kesibukannya, lho. Sok mencari kesibukan juga supaya tetap sehat dan waras. Xixixi. Apalagi ini hamil pertama, aku sibuk banget dengan calon bayiku ini. πŸ˜€ Makanya, jangan heran kalau yang menjadi #2015bestnine di instagramku bertabur bahagia bersama orang tersayang yang menjadikanku terus sehat dan waras. πŸ˜›

Omong-omong, rekam jejak yang lutulis ini sama sekali bukan tentang pencapaian apalagi prestasi di dunia Blogging. Karena, postingankj di 2015 sepertinya banyak ngejobnya. Wkwkwk. Etapi, ini perlu dibanggakan juga, ding. Karena job yang datang dari toko online bisa buat menambah persiapan persalinan nanti. Xixixixi. Alhamdulillaah, ya.

Sementara dalam dunia nyata, aktivitasku sebagai Ibu Pekerja alhamdulillaah makin baik dan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabku makin bertambah. Benar-benar harus bisa jaga kesehatan supaya bisa terus masuk kerja.

Best Nine
Ini menyenangkan!

Atas izin suami adalah salah satu rezeki tak terduga selama tahun 2015. Maksudku, setelah menikah tahunya suamiku akan memintaku untuk berdiam diri di rumah. Padahal, pada kenyataanya….santai, asyik, bahagia, dan woles bannget. πŸ˜†Β Aku terlalu serius membayangkan ini itu setelah menikah.

Merujuk ke akun instagramku, di mana aku kerap membaggikan kebahagiaan di sana, ternyata ada moment-moment bahagia yang kembali kurasakan dalam bingkai #2015bestnine.

#2015bestnine milikku, sebagian besar adalah aktivitas di luar rumah yang mana hanya bisa terlaksana atas izin suami. Asli, suamiku baik banget! Udah ngizinin aku camping, dan main sampai luar kota. Beruntungnya, saat itu aku belum tahu kalau lagi hamil. Wkwkwk.

Saatnya membaca 2015!

Pertama, foto yang paling hits di akun instagramku. Adalah foto nikahanku. Hahaha. Ini penting banget mengunggah foto pernikahan karena merupakan cara termudah untuk mengubah status dari gadis manis menjadi isteri cantik tanpa membuat post blog atau iNews. Xixixi. Makasih udah mau menikahi aku ya, Yaang. πŸ˜€

Kedua adalah padang savaba Telaga Dringo. Bersama lima teman blogger, aku camping, menginap semalam di telaga dringo. Ini atas izin suami dan pertama kalinya aku pergi, menginap, tanpa suami. Xixixi. Meski pas minta izin rada pesimis, alhamdulillaah selama camping di Dringo, kami Β bahagia, banyak lancar dan sedikit haru. πŸ˜€

Ketiga, alhamdulillaah aku bisa melihat Kota Tua Jakarta! Aku bisa sampai sini karena saat itu ada undangan dari Mister Aladin. Undangan ini bertepatan dengan acara suami bersama teman-teman. Yaudah, daripada di rumah sendirian, aku memilih untuk menghari undangan. Jauh-jauh ke Jakarta cuma ke Kota Tua? Uhuuy…kagak laah! Pokoknya, makasih buat Sitti! Makasih untuk kebaikannya. πŸ˜€

Keempat, tiba-tiba banget aku pingin nginep di rumah Tante. Yaudah, aku ninggalin suami lagi, deh. Bhahaha. Solehah banget, ya. Tapi ya gimana lagi, suami baik bangeeet! Jadi ya diizinin.

Bersama Tante, aku menyaksikan matahari tenggelam dan menikmati jingga di sawah dekat rumah Tante. Gini dowang udah bisa membuatku bahagiaa. πŸ˜€

Kelima, ini memang acting. Aku meminta sepupuku, Hosea, untuk memegang jemariku. Di depan kami ada Ayahnya Si Hose yang siap banget mengambil beberapa kali jepretan. Aku ada niat, moment ini akan kembali terulang jika aku punya anak, kelak. Yang motoin nanti Mr. Blur, dong. πŸ˜€

Keenam, Adlaah Sup. Nyaris tiap hari, selama hamil, aku harus makan sup. Entah kenapa, aku merasa tidak bergairah makan jika tidak ada sup. Kebayang kalau sampai tidak napsu makan, kasihan anakku di dalam. Fufufu. Sup favoritku yaitu sup brokoli campur wortel dan bakso tahu. Yummi banget!

Ketujuh, berwisata ke Putbalingga bersama Tante dan Umi. Ini awal-awal setelah menikah. Bukannya main sama suami, malah minta izin main sama teman. Xixixi. Error banget, ya. Goa Kereta adalah salah satu tempat yang kami singgahi. Eternyata, pas dolan ke sini, aku udah hamil. Xixixi. Padahal, aku sempat jalan sejauh 1 km, lho. Ngos-ngosan, pasti. Tambah sehat, jelas. Dorong motor karena ban bocor, cuy. Xixixixi. Kenangan manis banget bersama Umi. Thanks ya, Mil.

Kedelapan, satu moment yang paling membuatku bahagia pada tahun 2015, setelah pernikahan, Tuhan mengabulkan doa yang aku panjatkan tiap hari, tiada henti. Yaitu mempunyai keturunan yang soleh atau solehah. Sebentuk rezeki yang bagiku belum ada tandingannya. Bahagianya luar biasa. *elus-elus perut*

Kesembilan, adalah Blogcamp2015! Siapa sangka suami bakal ngizinin aku ikut camping saat perut udah kelihatan seksi? Xixixixi. Pas aku ngajak ikut acara ini, suami malah menanggapi dengan uwowow. Dan dia memutuskan untuk ikut acara. Puji syukur banget. Jadi punya tambahan cerita buat ana, kelak. Xixixixi

Terima kasih tak terhingga kepada suami yang sudah memahami aku dengan segala tingkahku yang kadangΒ kerap membuat detak jantungmu lebih kencang dari biasanya. πŸ˜† Atas izinmu, alhamdulillaah Tuhan meridhoi, melindungi tiap langkahku, langkah kita. ^-*

Nostalgia Dieng Theater Wonosobo

“Haai…aku sudah sampai di Bioskop, dong. Mau nonton bareng film ini itu sama teman-teman.” Selain piknik, di beberapa group whats app yang aku ikuti sering memperlihatkan tiket nonton film baru. Atau, foto selfie di loket pembelian tiket. Beeuuh…aku cuma bisa sirik tak terhingga. πŸ˜€

Terlebih sekarang, cukup banyak film karya anak bangsa baik yang diangkat dari sebuah novel, atau bukan, dan menurutku layak untuk ditonton. Belum lagi film luar yang bagus-bagus banget, di mana aku hanya bisa nonton trailernya melalui internet. -_- Dan dengar-dengar, film yang pernah ngehits pada tahun 2000-an, katanya mau ada lanjutannya. Apalagi kalau bukan AADC yang ada mamas cakep Nicholas. Hahaha…tetep, ya, susah move on.

Aku yang hidup di kota kecil hanya bisa gigit stick es cream, kalau teman-teman sedang cerita film baru. πŸ˜€ Secara, di Banjarnegara belum dibangun bioskop lagi semenjak Cahyana, sebuah bioskop zaman Emak dan Babe aku muda, telah runtuh. *kembalikan Cahyana*

Aku ngga tahu persis tahun berapa Cahayana runtuh. Sebab, sejak tahu apa itu Film dan Bioskop, aku hanya mengenal Dieng Theater (DT) sebagai tempat untuk nonton film indie. Sebuah bioskop yang lokasinya cukup dekat dengan pusat kota ASRI, Wonosobo. Atau, kurang lebih enam puluh menit dari tempat tinggalku jika ditempuh dengan kendaraan umum.

Saat masih SMK, Dieng Theater ini laris banget, melebihi orang yang jualan Mie Aceh. Antreannya beeuh…! Antrean kantor pos saat awal bulan saja kalah. Banyak anak SMP dan SMA yang “mengular” di depan pintu masuk, padahal jam buka masih lama. πŸ˜€ Apalagi, kalau filmnya adalah film beraroma romantis, horror, atau film yang lagi anget-angetnya. Di Wonosobo masih anget, di kota sana mah udah basih.

 

Persiapan tea wal Tambi. Berkumpul di Dieng 3D Cinema! Dahulu kala, Dieng Theater namanya. ???????????? #TeaWalk #KebunTeh #Tambi #DiengCinema #ExploreWonosobo #PesonaWonosobo

A photo posted by Idah Ceris (@idahceris) on

 

Zaman SMK, beberapa tahun yang lalu dan udah lama banget. Sampai aku kuliah, Dieng Theater masih cukup ramai. Ketika melewati jalan ku sering melihat update film pada banner yang terpampang di gang masuk DT. Aku juga pernah, sesekali nonton. Meski kualitas filmnya ngga sebagus dulu. Layarnya juga kurang jelas. Tapi, meski demikian, aku tetap menikmati popcorn film dari tempat duduk yang sebenarnya sudah ngga nyaman karena kursi telah melebihi batas usia pakai. πŸ˜€

Dieng Theater Wonosobo yang dulu penampilannya amat sederhana, kini telah bertransformasi menjadi Dieng 3D Cinema Wonosobo di mana penampakan dari luar cukup wah. Lagi-lagi aku ngga tahu tepatnya kapan DT mengubah namanya menjadi Dieng Cinema (DC).

Aku tahu perubahan ini beberapa bulan yang lalu, saat aku mengikuti tea walk ke Tambi bareng pemenang lomba blog yang diselenggarakan oleh NJF Wonosobo.

“Seluruh peserta berkumpul di depan Dieng Cinema Wonosobo pukul 08.00 WIB.” Seperti itu keterangan yang tertera pada undangan. Aku agak bingung, dong. Di mana lokasi Dieng Cinema? Dan ternyata, Dieng Cinema adalah Dieng Theater yang dulu sering aku jadikan tempat kencan nongkrong. Sebuah bioskop yang kini menyajikan film 3D juga. Sedangkan disekitar DC, tepatnya di kawasan parkir terdapat lapangan futsal yang membuat DC terlihat ramai.

Aku sempat berkeliling bentar di area DC. Sayang banget ngga tersedia kursi untuk duduk di luar area DC. Jadi, aku mlaku-mlaku tak terarah sembari mengingat-ingat tiap sudut yang dulu pernah aku singgahi. Nostalgia gitu, deh. πŸ˜‰

Dieng 3D Cinema Ex. Dieng Theater Wonosobo

Alamat: Jl. Sruni, Karangkajen, Wonosobo
Tiket Masuk: Rp 20.000,- per orang
Jam Tayang Film: Pukul 11.00, 14.00 dan16.00
Telephone: +62 286 6128159

Camilan Favorit di Akhir Pekan

“Yaelaah…tiap kali ke sini pasti pesannya itu lagi…itu lagi! Ngga ada bosannya, ya.” Kebiasaan memesan satu menu yang sama saat singgah di resto, kadang menjadi bahan bully teman lainnya. Entah itu makanan, minuman, atau camilan. Tapi, namanya SUKA, ya, mau gimana lagi.

Aku sering memesan camilan yang itu lagi…itu lagi jika mendatangi resto atau rumah makan yang menyediakan camilan kentang goreng. Ngga ada yang spesial dengan camilan ini. Namun, aku SUKA. Tiap kali memesannya, aku selalu request tanpa penyedap rasa. Padahal, yang membuat gurih justru penyedap rasa, ya. πŸ˜€

Omong-omong tentang camilan, semenjak hamil, tepatnya ngga tahu kapan, aku punya camilan favorit di mana sampai sekarang masih ada yang trial. Maksudnya, belum ada yang pas di lidah. Camilan tersebut yaitu; Pisang Goreng, Arem-arem dan Cilok. Ini bukan ngidam, lho, ya. Cuma pengin saja, dan waktu yang tepat untuk mencari camilan tersebut hanya di akhir pekan.

Ngga lucu, dong, jam kerja digunakan untuk ke pasar hanya mencari camilan favorit. :mrgreen: Seorang perempuan yang berjualan camilan di kantor, kadamg beliau membawa camilan pisan goreng dan arem-arem. Tapi, belum cocok di lidahku. Jadi, aku ngga pernah membelinya di sana.

Maksud hati ingin higienis, membuat camilan sendiri. Beberapa kali sudah aku coba juga, tapi belum juga cocok. Padahal buatan sendiri, ya. Menandakan belum berhasil membuat camilan enak. Hahaha

Tiap melihat gerobak gorengan yang menjual pisang goreng, aku selalu berhenti di depannya, kemudian membelinya. Pisang goreng, camilan yang bisa dibilang biasa banget, tapi menurutku wah. Sampai saat ini belum ada yang cocok di lidah. Masih trial and trial dari gerobak to gerobak, dari wajan sendiri, sampai wajan tetangga. πŸ˜€

1 CAMILAN FAVORIT
Enak bingits, tapi belum cocok. . . πŸ˜€

Lanjut camilan arem-arem di mana kalau sudah ada yang cocok kayaknya bisa bikin merem-merem. πŸ˜€ Setelah memutuskan untuk ngga membeli di Mbah Jajan yang di kantor, aku mempercayakan camilan arwm-arem kepada Mbak Admi, pedagang sayur keliling di kampungku. Beliau tiap akhir pekan selalu membawa arem-arem. Sebenarnya aku bisa, sih, membelinya di pasar. Sama halnya Mbak Admi. Tapi, aku lebih memilih untuk menunggunya.

Kadang COCOK, kadang beda. Itulah arem-arem yang di bawa Mbak Admi. Menurutnya, sih, beliau mengambil dari satu pedagang. Tapi, entah karena apa, cita rasa arem-aremnya kadang berbeda. Ya…menimbang diri sendiri saja lah. Tiap hari membuat sup, tapi cita rasanya selaly berbeda. Kadang enak, kadang hambar karena lupa ngga dikasih garam. πŸ˜€

Camilan terakhir adalah camilan yang saat ini makin langka yang jual. Bisa dikatakan hampir punah. Adalah cilok atau aci dicolok, camilan kenyal yang berasal dari Bandung. Beberapa kali aku membuatnya, dan beberapa kali juga aku gagal membahagiakan lidah sendiri. πŸ˜€

Sampai aku merasa kesal, aku keliling alun-alun Banjarnegara untuk mencari cilok. Dan hasilnya nihil. Ngga ada seorang pun yang menjual cilok. *peluang*

Gerobak merah yang dipikul oleh seorang lelaki paruh baya mengelilingi kampungku, aku mengira beliau menjual bakso ayam yang kini sedang naik daun. Cocok! Bukan bakso ayam yang Beliau jajakan, melainkan cilok dengan ukuran kecil yang dijual Rp 50 per butir.

Penjual cilok yang mengaku tinggal di Desa Sered ini hanya datang saat akhir pekan; Sabtu atau Minggu. Hari lain, beliau berjualan keliling di desa lain. Tapi, sayang seribu sayang, beliau datang ke kampungku hanya dua kali.

Beliau mengatakan kalau kampungku sepi anak kecil. Ngga banyak cilok yang laku. Padahal, anak-anak kecil di kampungku, tuh, ngga sedikit dan terkenal doyan jajan. Selain datangnya terlalu pagi, kisaran pukul 07.00 WIB, minggu itu memang lagi jarang terlihat anak kecil. Belum rejekinya kalik, ya. Padahal ciloknya enak! πŸ™ Eeuumh. . .sekarang jadi lebih sering buat cilok sendiri. Soal rasa, nomor sekian. Terpenting bisa makan cilok. πŸ˜€

Baca juga Camilan Enak dari Umbi Talas

Ini Aktivitasku Saat Libur Natal

Melihat tanggal merah yang berjejer, kaki ini rasanya harus melangkah lebih jauh dari hari biasanya. Mencari teman buat piknik bareng! Itu yang terlintas dalam pikiranku. Merencanakan piknik dengan siapapun, orang yang aku kenal, dan biasanya adalah teman Blogger. πŸ˜€

Ya, piknik menjadi pilihanku saat long weekend tiba. Tapi…itu hanya terjadi pada zama dahulu kala. Saat aku masih unyu-unyu single. Berhubung sekarang sedang double dengan usia kandungan makin berumur, aku sudah ngga berani bepergian jauh, dong. Lalu, punya rencana apa? Tukar kado natalkah? πŸ˜‰ Ngga! Ini, nih, aktivitasku saat libur hari raya natal.

Liburan dalam rangka memperingati Maulud Nabi SAW dan Hari Raya Natal tahun 2015, bertepatan pula dengan libur anak sekolah, memberi peluang kepada dua ponakanku; Abang Nugie dan Kakak Ibrahim, untuk menginap di rumah. Mereka tahu kalau aku libur kerja sampai akhir pekan. Bahagianya, tuh, libur yang jatuh pada hari Jum’at. Secara, hari efektif kerjaku hanya lima hari kerja.

Kamis, 24 Desember, menjelang siang ponakans diantar oleh Ayahnya. Rencana menginap hanya satu hari, tapi bekal yang dibawakan oleh Mamahnya waaar biyasah. Takarannya seperti mau menginap tiga hari. πŸ˜€ Sedari siang sampai malam, mereka asyik bermain di rumah. Mendirikan tenda, bermain lego, dan aktivitas lainnya yang membuat rumah jauh dari kata sepi. Ya, hari itu, mereka full bermain di rumah.

Pagi harinya, aku bersama suami, dede dan juga ponakans jalan-jalan ke kota. Ini sudah direncanakan dari semalam. Ponakans minta bubur ayam yang dijual di alun-alun kidul dekat dengan perempatan lampu merah. Mereka memintanya sesaat setelah malamnya makan mie kuah. πŸ˜€ “Ya ampun…baru selesai makan, eh udah punya rencana untuk makan lagi.” Batinku sambil senyum-senyum bahagia. Roso banget makannya.

1 LIBUR NATAL
NgeBuryam. . .

“Budey, nanti habis ini kita ke pasar, ya. Aku pingin beli roti pukis sama ikan ayam kampung. Nanti buat sup ayam, ya.” Pinta Kakak kepadaku yang katanya udah seminggu ngga makan sup ayam kesukaannya. Padahal, belum lama ini, Mamahnya nganter sup ayam ke rumah. Katanya, sih, masaknya terlalu banyak. :mrgreen: Sehari ngga makan sup ayam, serasa seminggu kalik, ya.

Usai makan bubur ayam yang kata Abang cucok bangeeed, kami melanjutkan perjalanan ke pasar. Sudah hampir jam 08.00 WIB, tapi yang jualan ayam kampung tak kunjung tiba. “Mamah beli ayam kampungnya ngga di sini, Budey. Ini pasarnya aneh. Ngga kayak pasar yang biasa Mamah datengin.” Suamiku dan Abang ketawa tengil saat Kakak Ibrahim mulai berceloteh.

“Hmmm…yaiyalah. Mamah kan kalau belanja ke pasar Bukateja, sedangkan ini pasar Banjarnegara!” Abangnya menjawab ketus, sementara Kakak nampak bingung melihat sekitar pasar. Terlebih saat kami membeli beberapa bungkus roti pukis. Dia ngga mau mengambilnya. Bete banget, deh, wajahnya. πŸ˜€

Tak lama setelah membeli roti pukis, kami kembali ke lapak ayam kampung. Alhamdulillaah penjual sudah datang. Surprise banget saat Kakak meminta untuk membeli dua ekor ayam. Satu ekor untuk sup dan satunya lagi untuk pendamping nasi kuning. πŸ˜† Ya, selain sup, dia juga minta dibuatkan nasi kuning, tumpeng, lengkap dengan ingkung. Katanya, pingin makan nasi kuning di dalam tenda yang sudah mereka buat tadi malam di dalam rumah. *emejing beud*

Karena sudah siang, kami pun kembali pulang ke rumah untuk masak bersama. Ponakans telihat bahagia membantuku masak. Sambil ngecemal-ngecemil jajan, dan cerita-cerita tentang teman sekolahnya. ^-*

Baca jugaΒ Asyiknya naik Ontang-anting Menuju Kawah Putih

4 Sehat, 5 Sempurna a la Pamiluto Restaurant

4 Sehat 5 Sempurna a la Pamiluto Restaurant, Magelang – Pamiluto Restaurant menjadi alternatif untuk sarapan, makan siang, makan malam, saat aku menginap di Atria Hotel, Magelang. Restaurant yang berada di dalam Atria Hotel menyajikan masakan dengan cita rasa Indonesia dan juga Western dengan berbagai macam inovasi. Iya, koki yang kebanyakan masih muda itu pandai berkreasi masakan.

Aku lebih mengutamakan makan di restaurant hotel, ketimbang mencari makan di luar. Selain sudah termasuk fasilitas, setidaknya bisa tahu menu masakan khas restaurant tersebut dan juga cita rasanya. Magelang, sudah pasti masakannya nJawanisme, ya. Sesuai seleraku, lidah jawa.

Tepat pukul 07.00 WIB, aku menuju Pamiluto Restaurant yang berada di lantai satu atau lobi hotel. Masih pagi, tapi kursi hampir terisi penuh oleh tetamu. Di papan kecil yang berdiri di depan pintu masuk restaurant tertulis tiga nama Instansi yang saat itu mengadakan acara di Atria Hotel. Pantas saja ramai.

“Maaf dari instansi mana ya, Mbak?” Tanya seorang perempuan yang berdiri di dekat meja camilan dan dessert.

“Aku dari Planet Pluto, Mbak. Kenapa, ya?” Tanganku yang hendak mengambil combro terpaksa turun dahulu untuk menjawab pertanyaan Mbak Gina.

1 TEMPAT MAKAN ATRIA HOTEL
Rapih. . .
MENU MAKAN ATRIA HOTEL MAGELANG
Camilan umum. . .

“Ooooh…ini camilan khusus untuk Planet Mars, Mbak. Punya Planet Mbak ada di sana.” Kelima jarinya mengantarkan mataku ke arah kiri. Beberapa teman yang ada di belakangku, yang tak lain adalah teman satu planet cengingisan puas! Hahaha

Salah mengambil jatah, tapi bukan kesalahanku, dong. Swear! πŸ˜€ Seandainya di meja ada label “Planet Mars”, misalnya, maka tetamu dari planet lain ngga akan mengambilnya, kan? Tetamu bisa tertib. Tapi, bisa jadi memang Atria tidak memberi label karena sudah ada yang petugas yang mengawasi makanan. KZL.

Daripada terbawa suasana, aku mendekati Mbak Tian (bukan nama sebenarnya), yang jualan jamu dan bubur. πŸ˜€ Aku menempatkan diri di depannya, kemudian meminta seporsi bubur sum-sum kesukaanku. Asyiknya di sini, kursi panjang yang terbuat dari rotan belum banyak yang menempatinya.

3 TEMPAT MAKAN ATRIA HOTEL
Ramah. . .

“Mbak, minta satu porsi bubur kacang hijau dan bubur sum-sumu, dong?” Aku memesan dua porsi sekaligus. Dua bubur kesukaanku. Bubur sum-sum aku makan di tempat, sedangkan bubur kacang hijau aku bawa ke meja makan.

Melihat camilan a la western, aku terpesona. Tapi, cukup terpesona. Karena, masih banyak menu lokal yang ingin aku cicipi. πŸ˜€ Karena baru mendapat satu porsi bubur, akupun berkeliling untuk mencari menu lain yang mengenyangkan. Aku harus makan nasi, kasihan dede yang sudah menanti asupan makanan.

Nasi goreng menjadi pilihank, meski sebenarnya ingin mencicipi Bakmi Jawa yang udah melambai-lambai di gubugan sana. πŸ˜€

SARAPAN PAGI ATRIA HOTEL MAGELANG
Tinggal pilih. . .

Gubugan menjadi tempat untuk menyajikan menu tambahan yang banyak dilirik oleh para tetamu. Tiga gubugan di Pamiluto Restaurant ini masing-masing menawarkan masakan dengan berbagai macam kreasi. Menu dari telor, misalnya. Tetamu bisa memesan telor untuk dibuat apa saja. Selain dadar, ceplok, gulung, banyak juga yang memesan telor orak-arik, kerak telor, dan omelet.

Di sini aku memilih menu telor yang paling simpel, yaitu telor gulung. Soalnya, antreannya banyak banget. Meski antrean berlaku, tapi makin simpel yang dipesan, semakin cepat. πŸ˜€ Dua gubugan sebelahnya; menu serba mie dan bebek, terpaksa aku cuekin. Takut kekenyangan. πŸ˜€

Berikut makanan yang aku pilih di Pamiluto Restaurant. Makanan 4 Sehat, 5 Sempurna a la Pamiluto Restaurant. Sebuah restaurant yang masuk The Best 10 Restaurant di Magelang versi Trip Advisor.

A photo posted by Idah Ceris (@idahceris) on

Hanya beberapa yang masuk frame. Beberapa irisan buah dan camilan lainnya ngga masuk frame, karena aku terlalu banyak mengambilnya. *takut dikatain* Ya ampun…baru ngerasa kalau orang hamil emang doyan banget makan. *pembelaan*

Masih banyak macam menu makanan yang bisa dipilih di Pamiluto Restaurant. Semua menu yang sudah aku intip, tuh, bikin meleleh. Apalagi dessert dengan porsi yang serba imut. Rasanya ingin mengambilnya satu per satu, kemudian melahapnya dengan cepat. *elus-elus perut*

Baca juga: Pengalaman menginap di Atria Hotel, Magelang.

Nyaoto di Pinggir Hutan, Gimana Rasanya?

Berencana piknik ke hutan atau naik gunung dalam keadaan perut kosong, kini ngga perlu khawatir kelaparan. Sebelum masuk kawasan hutan (bagian dalam), banyak para penjual yang menjajakan makanan di pinggir jalan atau di sekitar pintu masuk. Khususnya hutan dan atau gunung yang sudah ramai dikunjungi para petualang.

Saat berkunjung ke Bukit Sikunir beberapa bulan yang lalu, misalnya. Surprise banget melihat banyak penduduk setempat yang berjualan di pinggir jalan menuju bukit. Bahkan, sampai di puncak pun ada beberapa pedagang yang menjual makanan serta minuman hangat. Ngga seperti dulu, di mana hanya ada dua penjual minuman hangat dan mie instant di puncak bukit.

Lebih waah lagi, ketika aku kembali berkunjung ke Gunung Prau. Selain jalan menuju puncak prau sudah seperti jalan tol, banyak berderet warung mini yang menjual camilan khas Wonosobo, seperti Tempe Kemul. Warung tersebut berdiri di kaki gunung prau.

Sama halnya saat aku piknik ke Bogor. Usai menunjungi Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Bogor, aku bersama seorang teman merasa perlu menyantap makanan yang hangat dan menyehatkan. Cukup lama berkeliling mencari makan di sekitar pura, tapi ngga menjumpai warung yang menjual makanan sehat. Kami membutuhkan nasi, bukan yang instan, gitu. πŸ˜€

TAMAN HUTAN RAYA GUNUNG SALAK BOGOR
Segeer banget di sini. . .

Karena memang ngga ada makanan yang langsung bikin kenyang perut, kami memutuskan untuk melanjutkan piknik ke Curug, di mana lokasinya ngga begitu jauh dari Pura.

Dalam satu kawasan terdapat tiga Curug yang -niatnya- akan aku singgahi. Iya, aku dowang, karena temanku malas naik menuju dua curug di mana lokasinya cukup jauh dari curug pertama yang berada di bawah.

Awal malasnya karena perut dari pagi belum terisi apa-apa. Meskipun dia bisa betah ngga makan, tapi yang namanya habis perjalanan tetap saja lapar, ya. Tapi, setelah menjumpai warung makan yang berada di pinggir hutan, dekat pintu masuk, kok, aku ikut malas “menghabiskan” curug. πŸ˜€ Pinginnya makan!

CAMILAN WARUNG DI CURUG NANGKA
Camilannya tinggal pilih…

Warung yang kami singgahi menyediakan nasi rames, soto dan mie rebus. Sudah pasti aku memilih soto; kuahnya hangat, begitupun dengan nasinya.

Sajian Soto Bogor beda banget dengan soto yang sering aku makan. Kuah soto terpisah dengan nasi, irisan daging ayam ngga nangung. Ini paling penting, kan? πŸ˜€ Segarnya udara hutan tersamarkan dengan irisan tomat yang menjadi campuran kuah soto. Aroma daun serainya juga bikin soto ini makin segar, harum.

KULINER BOGOR
Soto Bogor pakai tomat, ya….

Bukan karena sedang lapar saja, soto yang aku pesan ini hangat-hangat segar. Terlebih, ada tambahan lauk tempe bacem fresh from oven. Yups, lauk yang disediakan di warung ini serba hangat, karena memasaknya nunggu ada yang mau beli. Meski demikian, jeda antara pemesanan dengan antar makananya ngga begitu lama. Ngga sampai bikin pembeli uring-uringan. πŸ˜›

Teman-teman punya rencana ke Curug Nangka atau CuNang? Sempatkan makan soto di sini sebelum naik-naik ke Curug. Menikmati soto di pinggir hutan, tuh, terasa beda. Segarnya triple delapan belas. Suwer…. πŸ˜€

Baca juga; Saoto Bathok, Yogyakarta.