Enthog Gobyos, Kuliner Wonosobo yang Bikin Jegger!

Berniat kulineran di Wonosobo, jangan sampai melewatkan makanan khas Wonosobo yaitu Ènthog Gobyos, Kuliner Wonosobo yang Bikin Jegger! Ya, kuliner khas Wonosobo enggak hanya Mie Ongklok atau Mie Set. Masih ada beberapa makanan lainnya yang musti Teman-teman coba. 😉

Ènthog atau Itik Serati, adakah di antara Teman-teman yang mengenalnya? Bagi yang tinggal di Desa, mungkin tahu. Bukan berarti si Ènthog ini hanya hidup di Desa, lho, ya. Hanya saja, kita bisa dengan mudah menemukannya di kampung. Dan lebih mudah lagi menjumpainya di pasar unggas. 😀

Andai logo Itik putih yang eksis dengan jempolnya enggak terpampang di depan pintu masuk sebuah rumah makan bernama Ènthog Gobyos, mungkin aku bakal mikir lama tentang; “seperti apa, sih, si Ènthog?”. *loading…..*

Setahu aku, jenis unggas tersebut punya nama Èntok atau Mèntok, bukan Ènthog. Ternyata ada nama lain juga, ya. Pak Eko, pemilik Rumah Makan Ènthog Gobyos pun lebih memilih Ènthog, ketimbang Entok, untuk memantapkan pengucapan. Dan memang iya, kesannya lebih mantap.

ALAMAT ENTHOK GOBYOS WONOSOBO
Jempol si Ènthog seksi. . .

Enggak menyangka jika daging Ènthog yang dimasak bersama santan kental dan juga racikan rempah-rempah, begitu nikmat di lidah. Apalagi bumbunya benar-benar meresap sampai dalam serat. Enggak hanya santan dan rempah-rempah, pemilihan cabai rawit dari Dieng atau yang lebih dikenal dengan cabai setan juga turut diolah dan menjadi ciri khas si Ènthog Gobyos.

Ciri khas yang aku maksud yaitu pedas yang begitu istimewa, di mana tiap penikmat Ènthok akan dibuat gobyos gemobyos (keringat bercucuran) cukup dengan sekali suapan plus sambal. Ya, makan Ènthog langsung gobyos! *serius*

Siang itu, Gita, teman gawlku, mengajakku makan siang di Ènthog Gobyos. Dia paham banget selera masakan yang aku sukai: pedas yang membahana.

TEMPAT MAKAN ENTHOK GOBYOS WONOSOBO

Kamu bakal ketagihan makan di Ènthog Gobyos. Dagingnya empuk dan sama sekali enggak tercium aroma amis. Bumbunya sedap dan santannya juga segar, lho.” Testimoni dari Gita yang sudah beberapa kali makan Ènthog Gobyos, membuatku enggak sabar untuk segera mencicipi si Ènthog seksi yang jalannya megal-megol. 😀

Usai menyelesaikan segala urusan, kami pun mampir Ènthog Gobyos. Rumah makan ini enggak begitu besar. Pun dengan tempat makannya. Ruang depan hanya terdapat tiga meja di mana masing-masing meja terisi empat kursi. Sedangkan ruang belakang disetting lesehan dan lebih luas dari ruang depan.

ENTOG GOBYOS

KULINER ENTHOK GOBYOS WONOSOBO

Satu hal yang bikin nyaman makan di sini yaitu karena penyajiannya secara prasmanan. Para pelanggan bebas mengambil nasi beserta lauknya sendiri. Ini membuat pelanggan, khususnya aku lebih lega. Secara, yang tahu kadar kenyang, kan, diri sendiri. Iyaaa, kaaan? :mrgreen:

Btw, Teman-teman ada yang enggak suka pedas. Tapi sudah masuk rumah makan ini? Tenang saja, di sini tersedia dua pilihan masakan Ènthog, kok. Yaitu Ènthog yang pedasnya membahenol dan Ènthog yang manis asin nikmat. Lihat lah dua baskom di atas. Ada Ènthog yang diguyur cabai, kan? Itu yang pedasnya cethar! Satunya lagi dengan cita rasa biasa, cenderung asin.

Jika ada yang merasa pedasnya kurang, *ini masya allah* Teman-teman bisa menambahnya dengan sambel kosek yang cabainya rawit semua dan pedasnya tambah bikin gobyos. Mamfus teler huhaaah. . . 😛

SAMBEL KOSEK ENTHOK GOBYOS WONOSOBO

ENTHOK GOBYOS WONOSOBO
Serius lapar. . .

Ènthog ini seriusan pedas cethar. Kalau aku ngomong serius, berarti seriyes, ya. Pedasnya enggak main-main. Makanya, jika mau mulai makan, sediakan air putih atau minuman lain yang bisa bikin lidah agak tenang.

Selain pedasnya bikin keringat temetes tes tes, Teman-teman lebih hati-hati kalau makannya tanpa sendok alias telanjang menggunakan tangan. Soalnya, telapak tangan bisa panas karena sengatan cabai setan. Hahah Ini seriyes lagi, ya. Enggak bohong. Aku dan Gita telah merasakannya. 😆

Nah, bagi Teman-teman yang punya rencana ke Wonosobo, mampir lah ke Ènthog Gobyos. Nyobain sensasi makan Ènthog sambil ngelap keringat. 😉 And well, si Enthog Gobyos aku rekomendasikan khusus bagi Teman-teman yang suka daging Ènthog dan Pedas yang waaarbiasyah!

Rumah Makan Enthog Gobyos, Wonosobo

Lokasi:

  • Jl. Raya Dieng Km. 01, Rowopeni, Bugangan, Wonosobo.
  • Jl. Alternatif Kretek-Wonosobo, Semayu, Wonosobo.
  • Komplek Masjid Abdullah. Jl. Raya Kretek Km. 6.2, Kenteng, Kretek, Wonosobo.

Nomor Telephone:
0852 0081 5555, 0812 1550 1444
Jam Buka:
Pukul 09.00-21.00 WIB.
Fasilitas Umum:
Toilet, Mushala, Non WiFi.

Baca makanan pedas lainnya: Mie Set Pakde Har, Wonosobo.

RM. Sido Kumpul dan Seporsi Kentang Goreng

Sido Kumpul, Rumah Makan di daerah Wonosari yang terkenal dengan suguhan gemerlip Bintang saat malam tiba menjadi pilihan kami untuk mengawali rangkaian acara Family Gathering.

Ya, Family Gathering yang telah kami laksanakan bukan lah Gathering biasa. Ada acara pisah sambut pegawai dan pengantar purna tugas di dalamnya. Acara ini lah yang paling penting, sedangkan rekreasinya adalah bonus satu kali jalan menuju Gunungkidul.

Kami memilih Rumah Makan Sido Kumpul ini dengan mempertimbangkan dua faktor, yaitu ketersediaan tempat untuk acara, dan harga makanan murah meriah. Faktor terakhir ini paling penting. Tahu sendiri lah, ya. Acara Family Gatheringnya saja dikordinir secara mandiri. 😆

RM. Sido Kumpul menyediakan ruang yang bisa digunakan untuk acara dengan kapasitas kurang lebih 100 orang. Ruang ini bisa digunakan tanpa menambah biaya sewa jika tetamu memesan makanannya di sini.

Memang bukan ruangan khusus semacam aula, sih. Namun tempatnya ngga kalah memadai dan bikin mata lebih segar. Bagaimana tidak segar, ya. Suguhan bukit nan hijau yang berada di samping kiri membuat tempat ini makin sejuk. Kebayang jika malam hari, ya. Pasti tambah sejuk karena ada tambahan pemandangan dari bukit bintang sungguh indah.

SIDOKUMPUL

Fasilitas umum untuk para tetamu tergolong cukup. Cukup minim maksudnya. 😆 Tempat Wudhu, misalnya. Saat kami hendak melaksanakan ibadah shalat dzuhur, antrean toilet umum dan juga tempat wudhu cukup panjang. Begitu juga dengan mushalanya yang cukup untuk shalat berjama’ah tidak lebih dari delapan orang.

Meski demikian, kami merasa puas dan cocok dengan olahan masakan a la RM. Sido Kumpul. Cita rasanya masakan rumahan dengan harga yang ngga mahal. Saat itu, kami mengambil paket Rp 25.000 per orang dengan menu lauk ikan tawar. *slurp*

RM SIDOKUMPU;
Lesehan di bagian depan. . .

Omong-omong tentang menu makanan, cukup banyak menu yang disediakan. Ngga hanya makanan berat, camilan pun ada. Kentang Goreng, misalnya.

Namanya udah “pingin banget”, usai makan siang aku memesan kentang goreng dan jamur crispy. Sayang banget, jamurnya sedang kosong. Jadi, aku hanya memesan kentang goreng saja.

BUKIT BINTANG SIDO KUMPUL

Siapa sangka, memasak kentang goreng tuh membutuhkan waktu yang ngga sebentar. Salahku, sih, memesannya mepet. Ya, saat Temab-teman sudah siap di Bus untuk melanjutkan perjalanan ke Gua Pindul, aku masih menunggu kentang goreng yang belum juga matang. Hahaha

KENTANG GOERENG BMW

Paling parah, nih, ya. Harga satu porsi kentang goreng yaitu Rp 10.000. Membuka dompet, mencari selembar uang sepuluh ribu ngga nemu juga. Ngga ada uang pecahan kecil. Serius. Sedangkan, Teman-teman yang di Bus sudah memanggil dengan nada kesuh, wajah seram. 😆

Aku panik, aku panik. “Balikin saja kentang gorengnya!” Pikirku saat itu. Tapi, ngga mungkin lah, ya. Huuuh…rasanya seperti hendak didemo. :mrgreen: Mau pinjam uang punya teman, tapi harus naik Bus dulu. Agaknya takut dikatain ini itu. Jadi, aku putuskan untuk tidak membayar saat itu alias hutang. Iya, hutang kentang goreng sepuluh ribuuuu. 😆

KENTANG GOERENG BMW

Lalu, gimana kelanjutan hutang kentang gorengnya?

Seminggu kemudian, aku menghubungi owner RM. Sido Kumpul dan menjelaskan bahwa aku punya hutang kentang goreng. 😆 Aku memperkenalkan diri kepada si empunya rumah makan, minta maaf, dan kemudian pemilik RM. Sido Kumpul menyatakan kalau kentang goreng yang telah aku makan sudah dianggap lunas. Ngga perlu mentransfer uang untuk membayar kentang goreng. Iya, tadinya aku berniat untuk mentransfer uang guna membayar kentang goreng. Alhamdulillaah. 😆

Yang Spesial dari Ethnic Waroeng dan Cafe

Tiap rumah makan pasti punya ciri khas. Iya, kan? Berawal dari yang khas, kemudian turun ke hati dan bisa menjadi yang spesial. Seperti kamu, selalu menjadi yang spesial buatku. Wuwuwu…rumah makan euy, bukan menyoal tentang hati orang, Dah? 😛

Ada banyak sudut yang menjadikan rumah makan itu terasa spesial. Baik dari fasilitas, penyajian, pelayanan, atau apalah apalah. Aku merasa demikian. Seperti halnya Ethnic Waroeng dan Cafe.

Ethnic Waroeng dan Cafe telah menjadi salah satu warung langganan semenjak aku sering ditraktir oleh teman-teman sekolahku. Sering makan di sini dan merasa cocok karena beberapa sebab. Zaman masih kinyis piyik, pasti jejingkrakan jika mendengar kabar ada teman yang mau nraktir.

Aww…mental tangan di bawah, ya. Hmm…ngga, laa! Sewaktu membayar buku LKS dan ternyata ada sisa, aku gantian nraktir teman-teman, dong. Meski menu traktirannya beda jauh, antara Burger dan Mendoan, tetap aku usahakan. Aku ngga yakin, sih, mereka bahagia. Tapi, yang terpenting kami bisa duduk bersama, makan mendoan bareng, nyeplus lombok, minum teh botol, dan ngerumpiin kakak kelas yang ganteng-ganteng. *eh*

ETNIC CAFE
Tampak depan. . .

ETNIC CAPFE BANJARNEGARA

Ngakunya, sih, sudah langganan. Tapi, kenyataannya sampai saat ini aku ngga tahu kapan Ethnic Cafe mulai beroperasi. *kejam* *ngga perhatian*

Tampak depan, sebentuk Cafe ini khas banget dengan segala ornamennya yang terbuat dari bambu wulung. Pintu, Dinding, sampai dengan alas yang digunakan untuk lesehan. Tapi, bergeser ke kanan kurang lebih 1 km, terdapat sebentuk kedai yang senada dengan Ethnic dari segi bangunan. Jadi, ngga bisa dijadikan ciri khas. Kecuali ada tambahan kata kunci, yaitu berlokasi di Ex. Stasiun Banjarnegara. 😉

FYI, Ethnic Cafe 2 merupakan cabang dari Warung Ethnic yang berlokasi di Purworejo Klampok. Sebuah Kecamatan yang berada di ujung kulon Banjarnegara. Lalu, apa sih spesialnya dari warung yang tidak terlalu luas ini?

ETHNIC CAFE BANJARNEGARA
Iga bakarnya cucok. . .

Harga

Banyak anak sekolah yang sering “parkir” di sini. Tak sedikit dari mereka menjadikan Ethnic sebagai tempat untuk berkumpul atau mengadakan syukuran. Aku pernah bertanya kepada seorang pelanggan berseragam putih abu-abu, kenapa memilih Ethnic Cafe sebagai tempat syukuran. Alasannya tak lain karena harga menu makanannya cukup terjangkau dengan isi dompet anak sekolah, tanpa mengurangi cita rasa dan juga porsi makan pada umumnya.

Tempat

Lokasi strategis? Sudah jelas, karena berada dekat dengan Kota. Tempat yang aku maksud yaitu lesehan untuk menikmati sajian berupa ruang terbuka dengan pola membentuk persegi. Asbes hanya terpasang di atas tempat lesehan, sedangkan tengah ruang benar-benar lepas. Sirkulasi udara segar tak ada hambatan. Jadi, ngga terlalu panas.

RM ETHNIC CAFE BANJARNEGARA
Lesehannya. . .
ETNIC CAPFE
Menuju Aula. . .

Aula

Baik pemilik, maupun pelayan Ethnic, tuh, ramah. Mereka memasyarakat dan melayani tiap pelanggan dengan penuh tanggungjawab. Jika rumah makan lain menyediakan Aula berbayar untuk suatu event, berbeda dengan Ethnic. Mereka menyediakan Aula untuk kapasitas kurang lebih 50 Orang. Aula ini bisa digunakan secara cuma-cuma oleh pelanggan yang ingin mengadakan acara di Ethnic, dengan syarat mereka memesan menu makanan di Ethnic. Kalau rumah makan lain (di Banjarnegara), pesan di tempat atau ngga, tetap terkena charge. 😉

SUP IGA ETNIC CAFE
Sup Iganya cucok juga. . .

Cita rasa

Banyak variasi menu makanan di sini. Pingin sate kelinci? Ada! Menu serba Iga? Ethnic punya! Aku suka masakan a la Koki Ethnic. Meski seringnya asyin, tapi selalu saja cocok dijadikan lauk. Asinnya ngga parah banget, kok. Hanya saja, karena masakanku cenderung manis. Jadi, selalu saja merasa asin saat mencicipi lauknya. Hahaha

MENU ETHNIC CAFE
Paket hemat!

Fasilitas penting lainnya seperti Tempat parkir, Toilet dan Mushala cukup memadai. Namun, satu hal yang kadang bikin Ethnic menjadi kurang greget adalah minumannya. Khususnya untuk Jus.

Yups…jus a la Etchnic yang rata-rata mulai harga Rp 5.000, tuh, jarang ada yang memuaskan. Jusnya terlalu lunak, Cint. *kamu kira daging* *plak* Terlalu cair maksudku. Rasa buahnya menjadi kurang, dan lebih terasa airnya. Jika memang kendala utama adalah harga buah yang mahal, maka ada baiknya Ethnic menambah harga untuk segelas Jus agar lebih terasa jus buahnya. 😉

Teman-teman punya rumah makan favorit, kan? Apa yang spesial di sana? Share, yuk!

Ethnic Waroeng dan Cafe, Banjarnegara

Alamat: Jl. Bambang Sugeng, Ex. Stasiun Banjarnegara. (Semarang Kidul)
Telephone: (+62286) 593272

Baca juga 5 Hal yang Bikin Betah Kongkow di Warung Stasiun

4 Sehat, 5 Sempurna a la Pamiluto Restaurant

4 Sehat 5 Sempurna a la Pamiluto Restaurant, MagelangPamiluto Restaurant menjadi alternatif untuk sarapan, makan siang, makan malam, saat aku menginap di Atria Hotel, Magelang. Restaurant yang berada di dalam Atria Hotel menyajikan masakan dengan cita rasa Indonesia dan juga Western dengan berbagai macam inovasi. Iya, koki yang kebanyakan masih muda itu pandai berkreasi masakan.

Aku lebih mengutamakan makan di restaurant hotel, ketimbang mencari makan di luar. Selain sudah termasuk fasilitas, setidaknya bisa tahu menu masakan khas restaurant tersebut dan juga cita rasanya. Magelang, sudah pasti masakannya nJawanisme, ya. Sesuai seleraku, lidah jawa.

Tepat pukul 07.00 WIB, aku menuju Pamiluto Restaurant yang berada di lantai satu atau lobi hotel. Masih pagi, tapi kursi hampir terisi penuh oleh tetamu. Di papan kecil yang berdiri di depan pintu masuk restaurant tertulis tiga nama Instansi yang saat itu mengadakan acara di Atria Hotel. Pantas saja ramai.

“Maaf dari instansi mana ya, Mbak?” Tanya seorang perempuan yang berdiri di dekat meja camilan dan dessert.

“Aku dari Planet Pluto, Mbak. Kenapa, ya?” Tanganku yang hendak mengambil combro terpaksa turun dahulu untuk menjawab pertanyaan Mbak Gina.

1 TEMPAT MAKAN ATRIA HOTEL
Rapih. . .
MENU MAKAN ATRIA HOTEL MAGELANG
Camilan umum. . .

“Ooooh…ini camilan khusus untuk Planet Mars, Mbak. Punya Planet Mbak ada di sana.” Kelima jarinya mengantarkan mataku ke arah kiri. Beberapa teman yang ada di belakangku, yang tak lain adalah teman satu planet cengingisan puas! Hahaha

Salah mengambil jatah, tapi bukan kesalahanku, dong. Swear! 😀 Seandainya di meja ada label “Planet Mars”, misalnya, maka tetamu dari planet lain ngga akan mengambilnya, kan? Tetamu bisa tertib. Tapi, bisa jadi memang Atria tidak memberi label karena sudah ada yang petugas yang mengawasi makanan. KZL.

Daripada terbawa suasana, aku mendekati Mbak Tian (bukan nama sebenarnya), yang jualan jamu dan bubur. 😀 Aku menempatkan diri di depannya, kemudian meminta seporsi bubur sum-sum kesukaanku. Asyiknya di sini, kursi panjang yang terbuat dari rotan belum banyak yang menempatinya.

3 TEMPAT MAKAN ATRIA HOTEL
Ramah. . .

“Mbak, minta satu porsi bubur kacang hijau dan bubur sum-sumu, dong?” Aku memesan dua porsi sekaligus. Dua bubur kesukaanku. Bubur sum-sum aku makan di tempat, sedangkan bubur kacang hijau aku bawa ke meja makan.

Melihat camilan a la western, aku terpesona. Tapi, cukup terpesona. Karena, masih banyak menu lokal yang ingin aku cicipi. 😀 Karena baru mendapat satu porsi bubur, akupun berkeliling untuk mencari menu lain yang mengenyangkan. Aku harus makan nasi, kasihan dede yang sudah menanti asupan makanan.

Nasi goreng menjadi pilihank, meski sebenarnya ingin mencicipi Bakmi Jawa yang udah melambai-lambai di gubugan sana. 😀

SARAPAN PAGI ATRIA HOTEL MAGELANG
Tinggal pilih. . .

Gubugan menjadi tempat untuk menyajikan menu tambahan yang banyak dilirik oleh para tetamu. Tiga gubugan di Pamiluto Restaurant ini masing-masing menawarkan masakan dengan berbagai macam kreasi. Menu dari telor, misalnya. Tetamu bisa memesan telor untuk dibuat apa saja. Selain dadar, ceplok, gulung, banyak juga yang memesan telor orak-arik, kerak telor, dan omelet.

Di sini aku memilih menu telor yang paling simpel, yaitu telor gulung. Soalnya, antreannya banyak banget. Meski antrean berlaku, tapi makin simpel yang dipesan, semakin cepat. 😀 Dua gubugan sebelahnya; menu serba mie dan bebek, terpaksa aku cuekin. Takut kekenyangan. 😀

Berikut makanan yang aku pilih di Pamiluto Restaurant. Makanan 4 Sehat, 5 Sempurna a la Pamiluto Restaurant. Sebuah restaurant yang masuk The Best 10 Restaurant di Magelang versi Trip Advisor.

A photo posted by Idah Ceris (@idahceris) on

Hanya beberapa yang masuk frame. Beberapa irisan buah dan camilan lainnya ngga masuk frame, karena aku terlalu banyak mengambilnya. *takut dikatain* Ya ampun…baru ngerasa kalau orang hamil emang doyan banget makan. *pembelaan*

Masih banyak macam menu makanan yang bisa dipilih di Pamiluto Restaurant. Semua menu yang sudah aku intip, tuh, bikin meleleh. Apalagi dessert dengan porsi yang serba imut. Rasanya ingin mengambilnya satu per satu, kemudian melahapnya dengan cepat. *elus-elus perut*

Baca juga: Pengalaman menginap di Atria Hotel, Magelang.

Nyaoto di Pinggir Hutan, Gimana Rasanya?

Berencana piknik ke hutan atau naik gunung dalam keadaan perut kosong, kini ngga perlu khawatir kelaparan. Sebelum masuk kawasan hutan (bagian dalam), banyak para penjual yang menjajakan makanan di pinggir jalan atau di sekitar pintu masuk. Khususnya hutan dan atau gunung yang sudah ramai dikunjungi para petualang.

Saat berkunjung ke Bukit Sikunir beberapa bulan yang lalu, misalnya. Surprise banget melihat banyak penduduk setempat yang berjualan di pinggir jalan menuju bukit. Bahkan, sampai di puncak pun ada beberapa pedagang yang menjual makanan serta minuman hangat. Ngga seperti dulu, di mana hanya ada dua penjual minuman hangat dan mie instant di puncak bukit.

Lebih waah lagi, ketika aku kembali berkunjung ke Gunung Prau. Selain jalan menuju puncak prau sudah seperti jalan tol, banyak berderet warung mini yang menjual camilan khas Wonosobo, seperti Tempe Kemul. Warung tersebut berdiri di kaki gunung prau.

Sama halnya saat aku piknik ke Bogor. Usai menunjungi Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Bogor, aku bersama seorang teman merasa perlu menyantap makanan yang hangat dan menyehatkan. Cukup lama berkeliling mencari makan di sekitar pura, tapi ngga menjumpai warung yang menjual makanan sehat. Kami membutuhkan nasi, bukan yang instan, gitu. 😀

TAMAN HUTAN RAYA GUNUNG SALAK BOGOR
Segeer banget di sini. . .

Karena memang ngga ada makanan yang langsung bikin kenyang perut, kami memutuskan untuk melanjutkan piknik ke Curug, di mana lokasinya ngga begitu jauh dari Pura.

Dalam satu kawasan terdapat tiga Curug yang -niatnya- akan aku singgahi. Iya, aku dowang, karena temanku malas naik menuju dua curug di mana lokasinya cukup jauh dari curug pertama yang berada di bawah.

Awal malasnya karena perut dari pagi belum terisi apa-apa. Meskipun dia bisa betah ngga makan, tapi yang namanya habis perjalanan tetap saja lapar, ya. Tapi, setelah menjumpai warung makan yang berada di pinggir hutan, dekat pintu masuk, kok, aku ikut malas “menghabiskan” curug. 😀 Pinginnya makan!

CAMILAN WARUNG DI CURUG NANGKA
Camilannya tinggal pilih…

Warung yang kami singgahi menyediakan nasi rames, soto dan mie rebus. Sudah pasti aku memilih soto; kuahnya hangat, begitupun dengan nasinya.

Sajian Soto Bogor beda banget dengan soto yang sering aku makan. Kuah soto terpisah dengan nasi, irisan daging ayam ngga nangung. Ini paling penting, kan? 😀 Segarnya udara hutan tersamarkan dengan irisan tomat yang menjadi campuran kuah soto. Aroma daun serainya juga bikin soto ini makin segar, harum.

KULINER BOGOR
Soto Bogor pakai tomat, ya….

Bukan karena sedang lapar saja, soto yang aku pesan ini hangat-hangat segar. Terlebih, ada tambahan lauk tempe bacem fresh from oven. Yups, lauk yang disediakan di warung ini serba hangat, karena memasaknya nunggu ada yang mau beli. Meski demikian, jeda antara pemesanan dengan antar makananya ngga begitu lama. Ngga sampai bikin pembeli uring-uringan. 😛

Teman-teman punya rencana ke Curug Nangka atau CuNang? Sempatkan makan soto di sini sebelum naik-naik ke Curug. Menikmati soto di pinggir hutan, tuh, terasa beda. Segarnya triple delapan belas. Suwer…. 😀

Baca juga; Saoto Bathok, Yogyakarta.

Camilan Istimewa dari Umbi Talas

Camilan Istimewa dari Umbi Talas – Bahagianya hidup di kampung, tuh, banyak kerabat yang senang berbagi hasil bumi. Iya, meski ngga punya sawah, kami masih bisa ikut menikmati hasil panen mereka. Banyak saudara dan juga tetangga yang membagikan hasil panennya. Salah satunya yaitu Umbi Talas.

Umbi Talas atau aku biasa menyebutnya Kimpul (dalam bahasa Jawa) menjadi camilan istimewa bagi keluargaku. Mulai dari daunnya yang biasa diolah menjadi buntil. Kemudian, akar atau umbinya bisa dikreasikan dalam berbagai macam camilan. Seperti; keripik, perkedel, dikukus, dan atau digoreng tanpa tepung.

Saat akhir pekan tiba, aku bersama Ibuku betah berlama-lama di dapur. Usai aktivitas memasak, kami sering iseng-iseng membuat camilan. Kali ini isengnya bikin Perkedel Talas.

Ini adalah kali pertama kami membuat Perkedel Talas. Agak was was dan ngga yakin kalau perkedel ini akan menjadi lebih istimewa ketimbang Talas yang digoreng biasa. Tahu sendiri, kan? Talas ini ngga seempuk Umbi Cilembu ketika sudah dikukus. Meski sama-sama dikukus, tapi Talas kalah empuk menul-menul. :mrgreen:

Namanya mencoba, semisal ngga jadi pasti rasanya down banget. *mudah lelah* Ngga tahu kenapa, aku malas googlig. Padahal, biasanya apa-apa cari di google. 😀 Kali ini asal saja bikin perkedelnya. Tanpa panduan, hanya mengikuti alur pembuatan Perkedel Kentang. 😛 Lima buah Talas ukuran sedang, bumbu hanya garam dan merica, ditambah satu butir telor.

Lalu, apakabar hasilnya? WAAAAARBIYASAAAH!

PERKEDEL TALAS
Kalau dijadikan perkedel cepat laku…

Hanya yang makan camilan ini yang bisa berkomentar. *yaiyalaaah* Setelah dijadikan perkedel, Talas menjadi lebih empuk. Pun dimakan saat sudah dingin. Berbeda saat Talas dikukus. Baru enam puluh menit sudah dingin, dan menjadi agak sedikit keras. Tapi, meski ngga empuk seperti saat masih hangat, Bapakku tetap memilih Talas yang dikukus, dengan alasan mengurangi MINYAK, KOLESTEROL.

Alasan lain yang tak kalah penting menurut Bapak, bahwa zat kaliumnya lebih sempurna jika dikukus. Nah, kalau ini spesial banget buat Ibuku. Meski sudah ada yang digoreng, Ibu tetap menyisakan barang dua biji untuk dikukus. Tak lain karena Umbi Talas ini cukup membantu membantu menstabilkan dan menurunkan tekanan darah. Aku pernah berceloteh, kalau Ibuku punya riwayat tekanan darah tinggi.

Nah, olahan dari Umbi Talas ini termasuk camilan istimewa bagi kami. Semua camilan yang bisa membuat lidah dan mulutku susah untuk berhenti mengunyahnya. Itulah camilan istimewa menurutku. Kalau menurut Teman-teman?

Baca juga: Kreasi Perkedel Tahu