Berwisata Ke Bandung, Yuk…Kunjungi Tempat Wisata Ini!

Tempat Wisata di Bandung- Bandung adalah salah satu kota besar yang biasanya menjadi pilihan untuk berlibur. Bandung adalah ibukota Jawa Barat dan biasanya dikenal dengan julukan Kota Kembang. Selain itu, Bandung juga sangat terkenal dengan berbagai tempat wisatanya yang sangat keren dan Instagramable.

Saat masih single, aku kerap berkunjung ke Bandung untuk sekadar jalan-jalan. Enggak ada kegiatan yang penting di sana selain Traveling atau mengunjungi tempat wisata. Pernah suatu ketika ada teman dari Jakarta mengajak berwisata di Bandung dengan stay cukup lama, kurang lebih satu minggu. Satu hal yang paling aku pikirkan saat itu adalah masalah penginapan. Hahaha. Ya gimana, satu minggu bertualang pasti butuh penginapan, dong. Harus menyusun dan menyiapkan anggaran untuk penginapan, tentu selain anggaran untuk transportasi dan masuk obyek wisata.

Eh…lagi serius mikir akan menggunakan post keuangan yang mana, ternyata teman aku punya saudara di Bandung. Kan itu informasi yang memberikan kesegaran banget. Hahaha. Nah, untuk kamu yang masih bingung mau ke mana, berikut adalah daftar-daftar pilihan tempat wisata di Bandung yang dapat dikunjungi.

Farmhouse Lembang, Wisata di Bandung yang Ramah Anak

Tempat wisata pertama yang menjadi pilihan favorit adalah Farmhouse Lembang. Letak tempat wisata ini sangat strategis yaitu berada di Jl.Raya Lembang Nomor 108, Gudangkahuripaan, Lembang, Bandung. Farmhouse Lembang adalah salah satu wisata hits dan juga sangat Instagramable di Bandung. Hal ini dikarenakan kamu akan menemukan banyak sekali spot-spot foto yang tentunya sangat menarik.

Farmhouse Lembang adalah wisata yang bertemakan kota dengan gaya Negara Eropa. Oleh karena itu, dengan hanya berkunjung ke Farmhouse Lembang, kamu dapat merasakan suasana di Negara Eropa. Selain itu, Farmhouse Lembang juga menyediakan penyewaan baju-baju tradisional khas Eropa dan Belanda sehingga akan menambah kesan berlibur kamu menjadi lebih seru.

Farmhouse Lembang

Tidak hanya itu saja, Farmhouse Lembang juga menyajikan hal-hal menarik lainnya seperti Rumah Hobbit dan Jembatan Cinta. Di sana kamu juga dapat menikmati keindahan taman bunga dan pemandangan gunung, serta berinteraksi dengan berbagai hewan jinak dan lucu seperti kelinci, kuda, burung, Iguana, dan masih banyak lagi. Farmhouse Lembang dibuka setiap hari mulai pukul 9 pagi sampai 9 malam, sehingga kamu dapat menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berkeliling dan juga berfoto.

Baca tentang Terminal Cicaheum, Bandung.

Jalan Braga, Wisata Hits di Bandung

Untuk kamu yang sedang berlibur dengan kereta Bandung, Jalan Braga adalah salah satu lokasi yang wajib dikunjungi pertama kali. Hal ini dikarenakan lokasi Jalan Braga dengan stasiun sangatlah dekat dengan jarak hanya sekitar 0,8 KM.

Jalan Braga

Jalan Braga adalah wisata Bandung yang sangat sering dikunjungi oleh para wisatawan. Jalan ini bukan hanya sebagai wisata biasa saja, namun Jalan Braga juga merupakan wisata bersejarah. Oleh karena itu, kamu akan menemukan banyak bangunan-bangunan tua yang sangat klasik. Selain itu, disana juga terdapat sebuah terowongan yang di dalamnya tertulis kutipan-kutipan yang terkenal di berbagai sosial media. Jalan Braga sangat cocok bagi kamu yang hobi atau menyukai fotografi. Selain itu, kamu juga dapat menemukan tempat-tempat lain seperti took, coffeeshop, dan berbagai restoran-restoran ternama dengan sajian menunya yang lezat. Oleh karena itu, Jalan Braga adalah tempat yang seru untuk kumpul bersama teman-teman.

Orchid Forest Cikole, Buat Wisatawan yang Suka Bunga

Orchid Forest Cikole adalah wisata alam yang Instagrammable di Bandung.Tempat wisata ini dikelilingi dengan pohon pinus yang menjulang tinggi. Selain itu, Orchid Forest Cikole juga sangat dikenal dengan taman bunga anggreknya yang terbesar di Indonesia. Hal ini dikarenakan terdapat 157 spesies bunga anggrek yang berasal dari berbagai Negara di dunia. Dikarenakan udara di Bandung sangat sejuk, maka dari itu bunga-bunga anggrek disana tumbuh dengan baik. Selain itu, Orchid Forest Cikole juga menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh para pengunjung seperti outbound, taman bermain, area untuk piknik, taman membaca, coffee corner, dan lain-lain. Biasanya yang menjadi spot foto selfie yang menarik disana adalah jembatan-jembatan yang dihias dengan lampu warna-warni.

Trans Studio Bandung Juga Menjadi Alternatif Wisata Keluarga di Bandung

Bagi kamu yang ingin menikmati permainan-permainan menantang, Trans Studio Bandung adalah pilihan yang tepat. Trans Studio Bandung merupakan salah satu tempat wisata dengan berbagai wahana bermain. Trans Studio Bandung terletak di Jl.Jendral Gatot Subroto No.289 A, Cibangkong, Bandung.

Trans Studio

Tempat ini merupakan wisata indoor yang menyediakan wahana-wahana permainan mulai dari yang biasa sampai yang sangat menantang adrenalin kamu. Wahana-wahana yang disediakan sudah memenuhi standar keamanan sehingga kamu tidak perlu khawatir ketika mencoba permainan disana satu per satu. Trans Studio Bandung sangat cocok dihabiskan bersama keluarga, teman-teman, atau pasangan.

Baca lagi Wisata Floating Market Lembang

Kebun Bunga Begonia Rekomendasi Buat yang Suka Wisata Alam

Sebagai Kota Kembang, tentunya tidak lengkap jika kamu melewatkan salah satu wisata ini. Kebun Bunga Begonia merupakan wisata alam yang dipenuhi oleh berbagai jenis bunga yang cantik dan warna-warni. Wisata ini berada di Jl.Maribaya No.140 A, Lembang, Bandung, dan dibuka dari pukul 8 pagi sampai jam 5 sore. Selain sebagai tempat foto dengan pemandangan indah, kamu juga dapat membeli bunga-bunga yang segar disana. Harga tiket yang dikeluarkan sangat murah yaitu senilai Rp10.000 saja sehingga aman untuk kantong kamu.

Baca lagi tentang Wisata Gedung Sate, Bandung.

Itulah beberapa wisata-wisata keren di Bandung yang wajib untuk didatangi. Selain wisata-wisata diatas, masih banyak tempat menarik lainnya yang tentunya tidak akan cukup untuk dikunjungi dalam sehari semalam saja. Untuk dapat menuju ke Kota Kembang ini, kereta Bandung adalah salah satu transportasi yang tepat dan nyaman bagi kamu dan juga keluarga.

Mengunjungi Destinasi Wisata Hits di Pekalongan

Destinasi Wisata Hits di Pekalongan – Berwisata ke suatu daerah biasanya yang dicari adalah destinasi wisata yang menarik dan terkenal di kota tersebut. Yaa…meski bisa dibilang mainstream atau biasa banget, tetap saja banyak dicari dan dikunjungi. Apalagi kalau destinasi wisata tersebut termasuk wisata hit atau bahkan menjadi ikon, pasti masuk dalam daftar kunjungan. Seperti halnya saat saya, teman-teman Blogger dan juga Media mengunjungi Kota Pekalongan beberapa waktu lalu dalam rangka Famtrip Jateng On The Spot 2019.

Kota Pekalongan adalah salah satu kota di pesisir pantai utara Provinsi Jawa Tengah. Kota yang terletak di jalur Pantura ini berbatasan dengan laut jawa di sebelah utara, Kabupaten Batang di sebelah timur, Kabupaten Pekalongan di sebelah selatan dan barat. Jarak dari Ibu kota provinsi Jawa Tengah, Semarang kira-kira 100 km dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam melalui jalan tol Trans Jawa.

Hari pertama acara Famtrip Jateng On The Spot 2019, kami mengunjungi Kota Pekalongan untuk menjelajahi tiga obyek wisata hit di sana, yaitu Museum Batik Pekalongan, Kedai Limun Oriental, dan Pasar Grosir Batik Sentono. Destinasi wisata tersebut bisa dibilang Pekalongan banget. Apalagi jika kita tahu bahwa Pekalongan dijuluki sebagai Kota Batik. Kemudian ada Limun, minuman ringan legendaris yang juga pernah hit pada zamannya.

Nah, karena tahu Pekalongan menjadi tujuan pertama famtrip, saya dan Ella izin kepada penyelenggara untuk langsung menuju kota tersebut. Emmh…daripada harus ke meeting point dahulu yaitu di Semarang, tuh, perjalanan akan lebih lama. Ya, kami dari Banjarnegara lebih dekat dengan Pekalongan ketimbang ke Semarang. Naik kereta dari Stasiun Purwokerto menuju Stasiun Pekalongan hanya membutuhkan waktu 3 jam saja. Lumayan hemat waktu lah. Pun dengan harga tiket kereta api yang tidak sampai 100 ribu, tambah lumayan. 😆 Dan ternyata, tidak hanya kami yang menunggu di Pekalongan, ada juga teman-teman Blogger dari Jakarta dan Pemalang. Alasan mereka pun kira-kira sama dengan saya, menghemat segalanya. 😛

Museum Batik Pekalongan

Ada banyak cara di mana kamu dapat melihat koleksi batik nusantara. Namun, hanya di Museum Batik Pekalongan kamu dapat melihat koleksi lengkap batik tersebut dengan jelas dan detail. Di sana juga ada beberapa koleksi batik yang bisa kamu sentuh untuk sekadar mengobati rasa penasaran.

Emmh..kira-kira batik tulis ini terbuat dari jenis kain apa, ya? Atau penasaran dengan detail batik karena saking banyaknya corak warna yang tertuang di dalamnya. Tapi ingat, tangan kamu musti steril, ya. Supaya kain batik tetap bersih, terjaga. 😉

Kain yang digunakan untuk membatik itu rupa-rupa. Antara lain, ada kain paris, kain doby, kain sutra, kaos katun, dll. Mulai dari sini, kamu akan tahu kualitas batik sebelum masuk pada jenis dan motif batik itu sendiri. Nah, untuk tahu perihal macam-macam kain batik, kamu harus masuk ruang pamer Museum Batik Pekalongan.

RUANG PAMER 1 MUSEUM BATIK PEKALONGAN

Ada tiga ruang pamer di museum ini, yaitu Ruang Pamer I yang bernama Ruang Perjalanan Batik. Ruang ini memamerkan alat dan bahan-bahan yang digunakan untuk membatik. Apa-apa saja yang dibutuhkan atau berkaitan dengan membatik ada di sini. Tidak hanya itu, ruangan ini tiap tahun update tema pameran batik. Jika sebelumnya ruang pamer I mengusung tema “Bhinneka Tunggal Ika“, akhir tahun tahun ini berganti tema menjadi “Satu Dasawarsa Batik Indonesia“. Koleksi batik di ruang pamer ini pun telah diupdate, mulai dari batik Nusantara sampai Mancanegara.

Kemudian di Ruang Pamer II yaitu Ruang Batik Nusantara. Koleksi batik nusantara semua dipamerkan di sini. Mulai dari Bengkulu, Papua, Kalimantan, pokoknya batik dari Sabang sampai Merauke. Ada kebanggan tersendiri ketika melihat koleksi batik di sini karena memang unik motifnya, punya motif yang kuat tiap daerah. Sementara di Ruang Pamer III yaitu Ruang Batik Pekalongan. Ruang ini memamerkan ragam motif Batik yang berkembang di Pekalongan sebagai sentara utama gaya Batik Pesisiran seperti batik Lunglungan atau Batik Terang Bulan.

FAMTRIP PEKALONGAN

Selain melihat koleksi batik di ruang pamer, kamu juga bisa belajar membatik karena di Museum ini disediakan Ruang Workshop untuk para wisatawan. Untuk belajar membatik, kamu cukup membayar mulai dari Rp 20 ribu-65 ribu sesuai ukuran. Oiya, Museum Batik Pekalongan telah mendapat sertifikat Best Practices dari UNESCO pada tahun 2009. Penghargaan ini diberikan atas upaya pelestarian budaya batik yang telah dilakukan melalui pelatihan untuk pelajar. Museum ini memang sering mengadakan batik goes to school, gitu. Jadi, pantas lah ya mendapat sertifikat tersebut. 🙂

Nah, jika kamu ke Museum Batik ada baiknya minta ditemani guide, ya. Gratis, kok. Kamu cukup membayar tiket masuk saja senilai Rp 5.000 per orang. Museum Batik Pekalongan berlokasi di Jl. Jatayu No.3 Panjang Wetan, Kec. Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Buka : Setiap Hari 08.00 – 15.00 WIB

Limun Oriental Cap Nyonya Silhuet

Limun merupakan minuman ringan berkarbonasi yang pernah hit pada zamannya. Sebagai generasi 90-an yang hidup di pedesaan, saya mengenal minuman ini sebagai minuman paling segar, nikmat, dan murah meriah. Minuman yang dulu dijual di warung-warung desa dan sekolah-sekolah. Namun kini, minuman Limun sudah jarang ditemui. Kabar baiknya, nih, di Pekalongan masih terdapat pabrik rumahan yang masih aktif memproduksi Limun Oriental dengan label Cap Nyonya Silhuet.

Pabrik yang berada di bagian belakang rumah ini beroperasi sejak tahun 1920. Uniknya, bagian depan rumah ini juga dimanfaatkan sebagai kedai yang menjajakan Limun, snack, dan makanan berat seperti Ayam Geprek. Pemilik kedai yaitu Koh Bernardi yang merupakan generasi kelima terus berusaha mempertahankan produk Limun Oriental dan sekarang masih eksis bahkan telah berhasil mengekspor ke beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dll.

FYI, terdapat 8 varian rasa Limun Oriental Cap Nyonya Silhuet yaitu rasa Mangga, Nanas, Jeruk, Lemon, Kopi, Sarsaparilla, Sirsak dan Frambos. Untuk dapat meneguk Limun di kedai ini, kamu cukup membayar Rp 7.500 per botol untuk semua rasa. Kalau misal ingin dibawa pulang menjadi Rp 10.000 per botol. Satu dus isi 6 botol. Kedai Limun Oriental berlokasi di Jl. Rajawali Utara No.15, Panjang Wetan, Kota Pekalongan. Kedai dibuka mulai jam 08.00-17.30 WIB.

Pasar Grosir Batik Sentono, Pekalongan.

Setelah berwisata di Museum Batik Pekalongan, mencoba kuliner legendaris Limun, kini saatnya berwisata belanja untuk mencari oleh-oleh. Ya, terasa makin lengkap berkunjung ke Pekalongan jika kamu juga singgah ke Pasar Grosir Batik Sentono. Sudah sampai Kota Batik, pulang membawa oleh-oleh batik, tuh, lebih puas, kan. Apalagi harga di Pasar ini adalah harga grosir, tergolong murah meriah.

Ada ratusan toko batik yang bisa kamu singgahi. Tapi please, tidak usah semua didatangi karena akan membuat kaki kamu kram. 😆 Sebelum pergi ke sini, ada baiknya kamu merencanakan akan membeli apa saja untuk oleh-oleh. Kenapa? Soalnya kalau sudah melihat koleksi batik di pasar ini bisa kalap. 😆 Tapi tenang, jangan takut kehabisan uang di pasar sentono karena di depan pasar tersedia mesin ATM. Asalkan saldo uang di ATM buanyak, aman. 😆

Oiya, meski harga sudah grosir, kamu wajib melakukan tawar menawar di pasar batik ini, ya. Soalnya sudah murah sekalipun masih bisa ditawar. 😆 Pasar Grosir Batik Sentono berlokasi di Jl. Dr. Sutomo No. 1-2, Karangmalang, Pekalongan. Pasar ini buka mulai pukul 08.00-17.00 WIB.

Jadi, kalau kamu sudah sampai Pekalongan, lalu tidak punya banyak waktu untuk eksplorasi wisata di sana, sempatkan untuk mengunjungi minimal 3 destinasi wisata di atas, ya. 😉

Notes:

Jateng On The Spot 2019 adalah sebuah program wisata pengenalan pariwisata Jawa Tengah Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Provinsi Jawa Tengah. Program ini bertujuan untuk mengenalkan potensi pariwisata yang berada di Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah. Untuk sesi kali ini berlangsung selama 3 hari 2 malam (13-15 Desember 2019) dan saya mengeksplorasi Kota Pekalongan, Tegal dan Brebes, bersama 11 Blogger dan 5 media.

Gelar Budaya Wisata Dawuhan

Gelar Budaya Wisata Dawuhan – Halo, Gaesss! Rasa-rasanya lama syekali aku tidak mengabarkan pariwisata di daerahku, Banjarnegara. Mungkin karena aku terlalu sering piknik ke luar daerah atau ikut famtrip, gitu. Jadi, jarang menuliskan pariwisata Banjarnegara. ~uhui…ini sombong banget~ 😆

Eeits…meski tidak mengabarkan lewat blog ini, bukan berarti aku tidak update pariwisata atau event-event di sini, lho. Sebenarnya aku selalu mengagendakan dan hadir pada acara-acara yang diselenggarakan oleh pengelola obyek wisata di sini, hanya saja aku tidak langsung menuliskannya. 😀 Saat event Gelar Budaya Wisata Dawuhan, misalnya. Sebuah event yang mengenalkan, dan mengangkat potensi desa ini digelar pada bulan Maret lalu.

Gelar Budaya Wisata Dawuhan merupakan event perdana yang diselenggarakan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirta Panaraban, dan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kab. Banjarnegara. Event ini tidak masuk dalam kalender event Dinparbud setempat. Namun, dengan adanya dana aspirasi (bantuan dana dari komisi bla-bla bla untuk penyelenggaraan event pariwisata ini datang sebelum pemilu), Wisata Dawuhan masuk dalam daftar pariwisata yang masih membutuhkan dana aspirasi tersebut karena tergolong destinasi wisata yang masih dalam tahap rintisan.

Pada tahun 2017, aku bersama teman-teman Blogger Banyumasan pernah singgah di Desa ini untuk menjajal River Tubing di Sungai Panaraban dan mecicipi kuliner tradisional khas Dawuhan. Sayang sekali saat itu kami tidak dapat eksplorasi karena kami tidak menginap di sini. Jadi, aku tidak tahu potensi apa saja yang ada Desa Dawuhan.

Beruntungnya, aku dapat menghadiri Gelar Budaya Wisata Dawuhan, aku pun menjadi sedikit tahu potensi apa saja yang ada di desa Dawuhan. Sebelum ngomongib potensi desa, aku mau sharing gelar budayanya dulu, ya.

Gelar Budaya diikuti oleh masyarakat Dawuhan dari berbagai elemen yang jumlahnya lebih dari 1000 orang. Acara ini diawali dengan Kirab Budaya yang dimulai dari Balai Desa Dawuhan menuju obyek Wisata Dawuhan. Kirab yang diikuti oleh Perangkat Desa, Lembaga Desa, dan Masyarakat ini belum ada yang spesial. Hampir semua yang ikut kirab rata-rata berpakaian adat jawa biasa dan menurutku kurang adanya karakter budaya setempat. Namanya budaya, ya, tiap desa biasanya memiliki cerita atau sejarah yang dapat diangkat menjadi tema atau bahkan tokoh.

Berada pada barisan paling depan, terdapat dua gunungan yang dipikul oleh para pemuda berpakaian lengan pendek warna hitam. Kemudian diikuti barisan Perangkat Desa yang di belakangnya yaitu para penari Gambyong, penari Kuda Lumping, dan rombongan thek-thek. Lalu di barisan paling belakang yaitu para emak-emak menyunggi tenong yang berisi berbagai macam jajanan pasar berbahan dasar singkong yang merupakan produk unggulan Desa Dawuhan.

Grebek Gunungan Potensi Desa

KIRAB WISATA DAWUHAN WANAYASA (11)

Satu yang menyita perhatian dan unik yaitu gunungan yang berisi tempe. Kenapa ada gunungan tempe? Karena tempe menjadi salah satu produk unggulan Desa Dawuhan. Menurut Supriyanto, Ketua Panita Gelar Budaya produksi tempe mencapai 5000 buah tiap harinya. Meski hanya dua Dusun yang memproduksi tempe, Dusun Dawuhan I dan Dawuhan II, namun permintaan konsumen selalu terpenuhi.

Tempe yang diproduksinya pun tidak hanya tempe kedelai, ada tempe dages yang diproduksi secara unik yaitu menggunakan pelepah pisang dan juga bambu sepanjan 1.5 meter. Tempe dages juga ternyata banyak peminatnya di sana.

Camat Wanayasa, Yogo Pramono yang hadir dalam event tersebut memimpin acara grebeg gunungan. Dengan menghitung mundur dari angka lima hingga satu, grebeg Gunungan pun dimulai dan ramai sekali sampai tak bersisa.

Pasar Kuna (Pasar Tradisional)

Sementara masyarakat dan wisatawan sedang asyik berebut gunungan, para emak-emak yang menyunggi tenong sibuk menata tenong yang berisi dagangan. Ya, tenong yang di dalamnya berisi beragam olahan jajanan khas yang berbahan dasar singkong dijual di Pasar Kuna. Sebuah pasar bertema tradisional yang mengangkat produk unggulan ini langsung ramai diserbu para pembeli.

Jajanan tradisional non msg, pengawet, dan juga pewarna ini dijual dengan harga mulai dari Rp 500. Ada gethuk, combro, lapis, cenil, dan masih banyak jajanan lainnya. Wadah yang digunakan untuk membungkus jajan juga eco friendly yaitu menggunakan daun pisang.

Penampilan Kesenian Thek-thek

Gelar Budaya tidak hanya menyuguhkan produk unggulan atau potensi lokal, kesenian thek-thek juga turut meramaikan event yang digelar dari pagi hingga petang. Ketika alat musik thek-thek mulai dibunyikan, pengunjung terus bertambah dan Pasar Kuna pun makin ramai. Terlihat banyak transaksi di sana. Alhamdulillaah…

Obyek Wisata Dawuhan

Fakta paling mengagetkan yaitu ketika dalam sambutan Ketua Panitia, Pak Supriyanto mengatakan bahwa Desa Dawuhan merupakan desa termiskin di Kecamatan Wanayasa. Melihat suasana dan lingkungan desa yang nampaknya tumbuh subur, aku tidak percaya. Melalui event Gelar Budaya, Pak Supri mewakili seluruh masyarakat menyampaikan tekadnya untuk bangkit dari keterpurukan dan berharap pariwisata Dawuhan bisa maju sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Selain river tubing Sungai Panaraban, Pak Supri juga megenalkan obyek wisata baru berupa kolam renang alami non kaporit yang mana airnya bersumber dari belik atau air kali yang sangat jernih. Di sekitar kolam renang juga terdapat gazebo, area bermain, warung-warung yang dapat digunakan untuk ngopi-ngopi, tempat-tempat untuk swa foto dan tersedia juga lokasi khusus untuk outbound.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Dawuhan, Sakim sangat mengapresiasi Geralan Budaya ini. Dia sangat senang dan optimis dengan pengembangan pariwisata Dawuhan khususnya potensi unggulan desa taitu trmpe dan gethuk. Potensi unggulan ini telah dibuat paket wisata minat khusus. Wisatawan yang memilih paket wisata ini nantinya akan menginap di rumah waga atau homestay dan dapat belajar bagaimana cara membuat gethuk dan juga tempe.

Pemerintah Desa bersama Pokdarwis telah serius membuat paket Wisata Dawuhan. Didukung dengan akses jalan menuju Desa Dawuhan yang sudah cukup bagus, rasanya sudah menambah nila jual wisata. Hanya saja, kendaraan yang menuju Wanayasa, khususnya Desa Dawuhan belum begitu banyak dan hanya ada pada jam tertentu saja.

Ada baiknya Wisata Dawuhan dibuat paketa wisata bekelanjutan dengan wisata yang satu arah dengan Kecamatan Wanayasa. Wisata Dieng, misalnya. Tersedia banyak transportasi menuju Dieng baik transportasi umum maupun rental mobil. Ketersediaan rental mobil lebih banyak, seperti halnya Wisata Jakarta dengan rental Jakarta yang saat ini makin mudah untuk menyewanya hanya dan bisa disewa via online.

Jasa transportasi khususnya sewa mobil dalam dunia pariwisata sangat penting. Apalagi untuk generasi millennials yang saat ini lebih memilih untuk serba praktis, tidak ribet saat hendak traveling. Persiapan mulai dari transportasi sampai dengan penginapan sebagian besar dipesan melalui online. Bukan begitu, gen Millennials? 😉

Melunasi Heaven Of Asia, Batang

Melunasi Heaven Of Asia, Batang – “Batang berani betul menciptakan tagline Heaven Of Asia ya, Mas.” Ucapku kepada Mas Erwin, teman lawas yang juga peserta fam trip Batang asal Wonosobo saat kami mulai eksplorasi Sikembang Park yang merupakan destinasi wisata pertama untuk dikunjungi.

Ucapanku ini bukan bentuk dari nyinyir, bukan. Dari awal tahu tagline tersebut, aku penasaran banget dengan pariwisata yang ada di Batang. Apalagi tiga destinasi wisata yang menjadi kunjungan fam trip merupakan wisata unggulan Batang. Artinya, paling tidak aku bisa melihat heaven of asia, dong.

Tagline Heaven Of Asia seringkali diucapkan oleh Pak Wabup Batang, Pak Dinparpora, dan juga teman-teman GenPI Batang selama kegiatan fam trip berlangsung. Tidak hanya diucapkan, tagline tersebut  pun menjadi hastag yang harus disematkan pada tiap foto dan video yang diunggah melalui media sosial.

Tagline dalam bidang pariwisata atau bidang lainnya bisa dibilang doa, sebuah keinginan,  dan cita-cita. Sebelum membuatnya pun pasti sudah digodok sampai matang dengan bumbu sedap. Tidak asal-asalan, apalagi hanya untuk sekadar mencari sensasi. Ya, ada suatu bentuk tanggung jawab untuk hal ini.

Jujur, saat aku tiba di Batang, lalu mengunjungi 3 destinasi unggulannya yaitu Sikembang Park, Forest Kopi, dan Kebun Teh Pagilaran, aku merasa destinasi wisatanya masih standard karena aku belum mendapati “surga” yang telah melekat dalam sebuah tajuk Visit Batang Year 2022.

Eits…wait! Saking penasarannya dengan program pariwisata Kabupaten Batang yang sudah mulai diumbulkan sejak dua tahun yang lalu, pada akhirnya aku dapat melunasi Heaven Of Asia! Namun terlebih dahulu, aku akan berceloteh. Hahaha.

Masuk ke dalam Whats App Group Fam Trip yang diselenggarakan oleh teman-teman GenPI Batang membuatku terus update berita terkait rundown kegiatan tersebut. Demi apa cobaaaa? Demi tidak ingin ketinggalan informasi sedikitpun. Padahal, tuh, aku tidak ikut Fam Trip, lho. Hanya saja, aku merasa harus tanggungjawab karena ada dua member GenPI Banjarnegara yang mengikuti kegiatan tersebut. Baiq banged, ya. 😆

Akhirnya aku mendadak dolan Batang.

Keputusan final karena pada tanggal yang sama yaitu 31 Agustus-1 September 2019, aku sudah membuat janji dengan keluarga untuk suatu acara. Namun, karena agenda bersama keluarga ada pergeseran, hati ini pun ikut geser! 😛 Langsung saja berandai-andai, jika ada yang aku tebengin, aku bakal ke Batang! 😉 Tidak ingin terjebak dalam hastag #WeekendNganggur, aku mencoba merancang kegiatan apa yang menarik untuk quality time bersama Kecemut.

Dua hari menuju akhir pekan, Rois tiba-tiba mengirim pesan melalui whats app yang intinya mengajak aku ikut Fam Trip Batang. Okedeh kalau begitu, akhirnya hastag pun berganti menjadi #MendadakDolanBatang.

Perjalanan dari Banjarnegara menuju Batang kami tempuh kurang lebih 2 jam dengan mengendarai sepeda motor. Kami mengambil rute Batur-Dieng-Batang yang ternyata tidak jauh-jauh banget. Waktu tempuh sama saja dengan perjalan ke Baturraden, Banyumas. Hanya saja setelah masuk Batang, jalan dari cor beton di beberapa titik sudah rusak. Agak was-was karena menggunakan motor matic. Apalagi saat direm seakan tidak mempan. Hahaha.

Dan aku telat gabung! Sedih, tapi masih bisa tenang.

Seluruh peserta fam trip harusnya bertemu di Kantor Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Batang yang sudah ditetapkan menjadi meeting point. Karena datang terlambat, aku langsung menuju lokasi destinasi wisata pertama yang dikunjungi sesuai rundown yaitu Sikembang Park. Dan tepat sekali, ternyata Sikembang Park ini lebih dekat dengan Banjarnegara. Sementara dari Kota Batang atau Disparpora Kabupaten Batang kurang lebih 45 menit. Lumayan jauh, kan.

OLEH-OLEH BATANG

Karena aku datang terlambat, sudah pasti tertinggal banyak kebersamaan bersama teman-teman, dong. Hasilnya, keakrabannya pun kurang. 😆 Nasib anak yang datang terlambat, ya. Sampai-sampai tidak mendapat teman tidur di tenda. Kasian. Hahaha…ini sok iba, padahal sudah ditawari panitia untuk bergabung dengan teman-teman lain yang satu tenda baru isi 2 orang. Tapi tetap ada hikmahnya tidur sendiri, sih, lebih lepas dan mandiri. Ehhh…songong amat. Hahaha.

Ini dia 3 Destinasi unggulan Batang.

Seperti yang aku tulis di awal bahwa, destinasi Wisata yang dikunjungi oleh para peserta fam trip adalah destinasi wisata unggulan Kabupaten Batang. Aku ulang lagi ya, ada Sikembang Park, Forest Kopi, dan Kebun Teh Pagilaran. Tiga destinasi wisata tersebut semakin dikenal banyak wisatawan karena sempat ramai di Media Sosial. Tidak hanya masyarakat lokal, banyak wisatawan dari berbagai daerah yang menyengajakan datang ke Batang hanya untuk ngopi-ngopi di Forest Kopi. Merasakan sensasi ngopi di ketinggian dan berkabut.

Kecuali Perkebunan Teh Pagilaran, dua destinasi wisata yang kami kunjungi bisa dibilang wisata baru. Satu baru bukan tahun ini, satunya lagi buka tahun 2016 (kalau tidak salah ingat). Masih rintisan namun ramainya luar biasa. Pun dengan Kebun Teh Pagilaran, ramai banget. Mulai dari sini, aku mulai mencari tahu tentang heaven of asia. Aku merasa harus mencari tahu saat itu juga, tepatnya saat sedang makan siang di Pagilaran. Lagi-lagi ini penting banget supaya saat pulang dari Batang nanti tidak ada lagi rasa penasaran. 😛

MOBIL DALMAS

Melunasi Heaven Of Asia!

Visit Batang Year 2022 dengan tagline Heaven Of Asia telah dilaunching oleh Bupati Batang pada tahun 2017. Artinya, sudah dua tahun berlalu dan masih ada sisa tiga tahun lagi untuk mewujudkan tagline tersebut.

Kabupaten Batang menjadi surganya Asia adalah salah satu bentuk spirit, sebuah pengharapan yang ditawarkan kepada wisatawan, melalui pembuktian program-program wisata yang dapat menarik pengunjung. Informasi ini saya baca di website resmi milik Pemerintah Daerah Kabupaten Batang.

Tiga destinasi wisata alam yang telah aku kunjungi bisa dibilang gerbangnya wisata Kabupaten Batang. Pantas saja kalau aku belum bisa menikmati surga di sana.

FYI, Kabupaten Batang miliki kombinasi daerah pantai, dataran rendah dan pegunungan sehingga potensinya sangat besar untuk di kembangkan menjadi agroindustri, agrowisata dan agrobisnis. Sebut saja wisata Sikuping atau Paralayang yang berlokasi di Kecamatan Banyuputih. River Tubing di Kali Lampir Kecamatan Tersono. Belum lagi wisata pantainya yang masing-masing memiliki keindahan dan suguhan yang berbeda. Uniknya, nih, hampir di tiap Kecamatan di Batang mempunyai Wisata Curug atau Air Terjun. Dengan banyaknya destinasi wisata, tidak menutup kemungkinan untuk memudahkan wisatawan nantinya dibuatkan paket wisata terusan dengan harga terjangkau, paket wisata a la backpacker, atau paket honeymoon murah.

SIKEMBANG PARK

Sebuah fakta yang menjadi potensi kuat Kabupaten Batang yaitu adanya PLTU terbesar se-Asia Tenggara, pelabuhan tingkat nasional, pabrik cokelat terbesar di Indonesia yang sedang dibangun di Tulis, dan Kampung Inggris di Wonotunggal. Gilaaaa, ya, banyak banget potensi Kabupaten Batang. Pantas saja doanya melambung tinggi. Belum lagi potensi Kuliner dan Ekonomi Kreatifnya, pasti lebih beragam.

Wabup Batang saat membuka kegiatan Fam Trip juga yakin, sektor pariwisata akan turut serta meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), menjadi pusat perekonomian baru, dan penyerapan tenaga kerja. Ini lah salah satu yang membuat Batang yakin dengan tagline Heaven Of Asia.

Jadi, Kapan kalian ke Batang? Ayo Dolan Batang!

Aku bangga dengan Batang. Kabupaten di Jawa Tengah, kabupaten yang tidak jauh dari tempat tinggalku, kabupaten yang terlihat “tenang-tenang” saja, tapi ternyata banyak potensi pariwisatanya. Aku juga salut dengan sinergi antara pemerintah setempat, para pemuda, stakeholder, dan masyarakat, untuk mewujudkan #HeavenOfAsia. Dan yang paling mengesankan ketika berkunjung ke sana yaitu tentang keramahan dari teman-teman GenPI, Pak Wabup, serta Pak Kadin Parpora. Mereka semua ramah, mereka tidak canggung menyapa kami, mereka mudah akrab. 😉

GENPI JATENG

Nah, karena aku sudah berkunjung ke Kabupaten Batang dan telah mendapat banyak informasi mengenai Heaven Of Asia, aku akan turut menyukseskan #VisitBatangYear2022. Sukses untuk Batang. Spesial untuk teman-teman GenPI Batang, terus semangat mempromosikan pariwisata Batang.

notes: seluruh informasi tentang heaven of asia didapat dari website resmi pemda Kab. Batang.

Piknik ke Kota Solo Sambil Bernostalgia Ternyata Seru

Piknik ke Kota Solo – Tidak terasa hampir penghujung tahun, ya. Masih tiga bulan, sih. Tapi perjalanan menuju tiga bulan pasti akan terasa sangat cepat. Apalagi bagi para pekerja yang akrab dengan deadline, tahu-tahu sudah ganti bulan, tahu-tahu sudah ganti tahun, namun masih juga bersahabat dengan deadline karena tanpa deadline hidup kurang asyik. *baca: kurang duit. 😆

By the way, apakah kalian selalu punya agenda atau rencana tiap akhir tahun? Sudah dua tahun ini, aku menikmati malam pergantian tahun di rumah saja, berkumpul bersama keluarga. Rasanya sudah di level malas keluar rumah ketika akhir tahun karena pasti lalu lintas macet. Maka dari itu, tiap punya rencana apapun bersama keluarga yang intinya agenda tahunan piknik bareng keluarga, aku mengambil bulan ke sepuluh atau sebelas, tergantung bisa nego kerjaannya pas bulan apa. 😆

Tahun ini, aku ada rencana piknik ke Solo. Piknik keluarga satu tahun sekali dan ambil kota yang bisa dibilang dekat dengan tempat tinggal aku yaitu Banjarnegara. 😆 Bukan tanpa sebab aku memilih Kota Solo. Ibuku, tuh, ingin kembali menikmati kota Solo dalam waktu yang tidak sebentar. Mungkin ada rencana menginap nantinya. Aku lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum ketika sudah ada rencana untuk menginap. Supaya tidak repot, kereta api menjadi transportasi pilihan. Apalagi sekarang tarif kereta api sangat terjangkau, termasuk kereta dari solo ke semarang murah. Yaaa…siapa tahu Ibuku juga ingin lanjut piknik ke Semarang, kan.

Yuk baca Destinasi Wisata Batang yang Begitu Asyik

Nostalgia di Kota Solo

Kota Solo dan Jakarta pernah menjadi tempat tinggal Ibuku selama bertahun-tahun. Namun, lebih banyak menghabiskan masa mudanya di Solo ketimbang Jakarta. Tak heran kalau Ibu punya banyak kenangan di sana, khususnya di pasar gede Solo.

KERETA API

Tiap pagi aku diajak Ibu pergi ke pasar. Kami lebih suka jalan kaki. Kalau sendirian, lha, baru naik sepeda.

Sosok Ibu yang dimaksud oleh Ibuku yaitu Ibu Bos. Ceritanya, Ibuku dulu sempat kerja di  rumahan, gitu. Katanya, Bu Bosnya kaya raya dan baik banget. Tidak pernah sekalipun Ibuku kena marah meski beberapa kali bikin kesalahan. Teguran, sih, tetap ada. Hanya saja karena orang Solo, menegurnya pun dengan suara lembut dan bahasa yang halus. Selain itu, orangnya perhatian dan sering memberi uang tambahan, membelikan baju, jajan, dll. Asyiknya, nih, Ibu bosnya juga akrab banget dengan Ibuku. Tiap kali hendak pulang kampung, pasti Ibu bos menangis. Apalagi saat Ibuku dijemput Bapakku untuk pamitan karena mau nikahan, diantar lah sampai rumah. Hahaha.

Memang baik banget, ya. Pantas saja Ibuku ingin sekali ke Solo. Katanya, Ibu ingin silaturahim ke rumah Ibu Bos karena setelah pamit, Ibuku tidak pernah lagi silaturahim ke rumah Ibu Bos.

“Memangnya Ibu masih hafal lokasinya di mana?” Aku bertanya kepada Ibu, memastikan sebelum akhirnya nanti ke Solo.

“Tidaaaaak. Tapi kalau sudah sampai Solo, Ibu Bakal paham jalan menuju rumahnya”.

Hahaha…terdengar aneh memang. Mungkin dulu, Ibu tidak terpikir untuk sekadar mencatat alamat, ya. Aku juga maklum, dulu masih jarang yang namanya alat komunikasi handphone. Berbekal ingatan Ibuku saja, nih. Kalau sampai tidak ketemu rumahnya, yang penting Ibuku sudah sampai Solo sesuai dengan keinginannya.

Eeeh…aku juga pingin nostalgia juga. Naik Sepur Jaladara atau ke Loji Gandrung. Aku terakhir ke sana pada tahun 2013. Sudah lama banget, ya. Hahaha.

Sudah Sampai Solo, Pikniknya ke mana?

Nah, ini yang harus disusun dengan rapih. Kenapa? Karena kami menggunakan transportasi umum. Jadi, susunan rundown betul-betul rapih supaya tidak terjadi arus bolak balik. Hahaha. Bagiku pemilihan kereta api menjadi pilihan tepat karena seingat aku, Ibuku belum pernah naik kereta api. Sementara kalau naik mobil dengan jarak yang lumayan jauh, dikhawatirkan mabok darat. Hahaha.

Kami rencananya akan stay di Solo selama dua hari satu malam atau dua malam tiga hari. Sementara untuk destinasi wisata Solo, aku pingin ke Kebun Binatang Taru Jurug, Pandawa Water World, Taman Sriwedari, pokoknya wisata ramah anak dulu, deh. Setelahnya baru menuju Keraton, Mangkunegaran, Museum, dan tentunya Pasar Gede Solo yang pastinya bikin Ibuku nostalgia. 😛 Rencana wisata yang simpel dengan destinasi wisata yang maenstream banget. Hahaha. Aku perlu tanya-tanya kepada teman di Solo perihal perjalanan wisata selama di Solo supaya lebih efekif dan efisien.

Rencana ke Solo ini, aku tidak hanya mengajak Ibu. Ada Syaquita juga yang mau aku ajak, plus bosku yang selalu siap yaitu Tante. Ini kalau dia mau, ya. Soalnya aku pernah mengajak Tante ke Solo, tapi dia menolak. Ugh…syakitnya…. 😆

Baca dulu 5 Destinasi Wisata Lasem yang Wajib dikunjungi

Rekomendasi Obyek Wisata di Batang yang Lagi Hits

Rekomendasi Obyek Wisata di Batang – Tren pariwisata “zaman now” terus dimanfaatkan oleh para pelaku wisata di Indonesia karena dapat mendongkrak angka kunjungan wisatawan. Salah satunya yaitu para pelaku wisata di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Batang mengangkat tren Natural Tourism atau Wisata Alam yang dikonsep secara menarik sesuai kebutuhan wisatawan khususnya generasi milenial.

Kenapa memilih wisata alam?

Kabupaten Batang menyimpan banyak potensi wisata alam. Mulai dari deretan perbukitannya yang indah, air terjun yang menyegarkan, pantai-pantai yang menawan, hingga hutan pinus yang telah disulap menjadi destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi. Bisa dibilang hampir 90% destinasi wisata di Batang adalah berbasis alam.

Aku mengatakan layak untuk dikunjungi atau merekomendasikan beberapa destinasi wisata di Batang karena sebelumnya aku sudah mengunjunginya saat kegiatan Fam Trip bersama teman-teman GenPI se Jawa Tengah selama dua hari satu malam. Waktu yang tidak lama memang, tapi setidaknya aku tahu kalau Batang memiliki destinasi wisata ramah anak dan keluarga namun bertempat di alam! Pingin tahu apa nama destinasinya? Baca artikel ini sampai tuntas, ya. 😉

Wisata Alam Sikembang Park

Nah, ini yang aku katakan destinasi wisata ramah anak, keluarga, dan juga kawula muda. Sikembang Park merupakan wisata alam yang berdiri pada bulan November 2016, di atas lahan hutan pinus milik perhutani. Rute menuju Sikembang Park cukup mudah. Dari Banjarnegara, kalian bisa memilih jalur Batur-Batang yang mana jalannya sudah lumayan baik, hanya di beberapa titik saja yang rusak karena cor beton mulai rapuh. Ya, sebagian besar jalan menuju Batang ini bukan aspal, melainkan cor beton. Waktu tempuh dari Banjarnegara bagian kota sampai Sikembang Park yaitu kisaran 2 jam.

Kemudian, jika dari tengah kota Batang yaitu melalui Jl. Pemuda dengan jarak tempuh kira-kira 30 KM dengan estimasi waktu 60 menit. Begitu juga dari jalur pantura, hampir sama yaitu 60 menit. Nyalakan google maps, lalu cari titik  tujuan Sikembang Park jika kalian masih ragu atau tidak paham jalan, ya.

Wisata Alam yang berlokasi di Dukuh Kebaturan, Desa Kembanglangit, Blado, buka mulai pukul 08.00 WIB-17.30 WIB dengan harga tiket masuk senilai Rp 3.000 per orang. Nah, berikut 4 hal yang dapat kalian eksplor di Sikembang Park.

1. Area Outbound Anak

Bravo Kids Warrior, namanya. Untuk dapat masuk area ini, pengunjung harus membayar tiket masuk senilai Rp 35.000 per anak. Terdapat dua area di dalam kawasan ini yaitu area yang digunakan untuk outbound dan area yang digunakan untuk bermain.

Sikembang Park menyediakan lahan outbound bertema fun and educative. Terlihat beberapa wahana yang dicat warna-warni ini tidak sekadar wahana outbound biasa yang mungkin hanya membuat anak-anak capek, namun dapat melatih mereka untuk belajar keseimbangan dengan melompati bebatuan menuju lorong. Atau, melatih keberanian dan juga mengambil keputusan saat mereka melewati lorong-lorong taman labirin. Tidak hanya itu, pengelola juga menyediakan peraga edukatif di mana anak-anak harus berjalan di atas tambang yang terbentang diantara besi-besi. Sayang sekali tidak semua alat peraga diberi nama, jadi untuk menyebutkannya susah karena minimnya pengetahuan. 😛

2. Area Bermain Anak

Mungkin di awal ada yang berpendapat jika harga tiket masuk kawasan ini terbilang mahal. Yaa….coba saja jika punya tiga anak, habis seratus ribu lebih hanya untuk HTM saja. Namun jika sudah masuk lokasi dan tahu fasilitasnya, pendapat tersebut akan terpatahkan. Yakali, di Mall mandi bola saja Rp 10.000 per anak. Kemudian, terapi ikan paling tidak Rp 10.000 per orang. Lalu ada kolam renang yang pasti di atas Rp 10.000. Lha di sini, tiga puluh lima ribu udah dapat banyak wahana. Subhanallah, ya. Coba di mana lagi bisa mandi bola di tengah hutan, ih! 😆

Sebenarnya wahana permainan anak di alam terbuka seperti ini bisa dibanderol dengan harga yang lebih mahal, lho.  Apalagi ada flying fox. Tapi karena dibuat oleh warga setempat, pasti mereka tidak mengutamakan provit semata. Namun lebih pada keberlanjutan destinasi wisata dan juga kesejahteraan warga sekitar. Biasanya, sih, gituuuu. Pingine kecipratan kabeh!

3. Spot Swa Foto di Tengah Pohon Pinus

Ini nih, destinasi wisata alam yang kekinian, tuh, paling banyak diserbu oleh kaum milenial. Maklum, mereka masih butuh yang namanya pengakuan. Tidak hanya generasi milenial, mamak-mamak yang aktif di sosial media juga pasti demen banget foto-foto cantik di kawasan hutan pinus seperti ini. Terlebih spot selfie di tempat ini, tuh, lebih banyak yang natural ketimbang noraknya.

Payung-payung yang buka penuh, kemudian dicantelin di antara pohon pinus. Spot selfie ini sering banget dijumpai di destinasi wisata pinus-an. Susah rasanya jika menjadi ikon suatu destinasi wisata kecuali desain payungnya lebih unik. Tapi, kalian akan tetap cantik jika foto-foto di sini. 😉 Atau, geser ke bagian bawah di area Kids Warrior, ada semacam gazebo yang didepannya adalah taman bunga. Gazebo dengan atap melengkung ini sangat unik, instagramable banget! Kalian wajib foto di sini, deh. Sepertinya gazebo model seperti ini baru ada di Batang. 😆

Btw, Sikembang Park ini termasuk juara banget soal spot selfie karena spot-nya tidak hanya di dalam kawasan saja, tapi sampai dengan tempat parkir. Dan itu hampir 80% spot selfienya tidak alay. 😛

4. Camping Ground dan Kedai Pinus Kopi 

Ini asyik! Camping masa kini, tidur di tenda tapi ada fasilitas khusus yaitu kedai kopi di sekitar lokasi. Berasa ada di kawasan glamp camp. Hahaha Aku punya pengalaman camping di Sikembang Park selama satu malam. Aku menikmati tidur malam satu tenda sendiri dan itu ternyata bebas banget, tenang banget, bisa bobok pules banget. Ya, satu tenda yang biasanya diisi sampai 3 orang, kali ini diisi hanya 1 orang. Nikmat! Untuk dapat camping di sini, kalian harus reservasi dulu. Bisa datang langsung atau melalui direct message akun @sikembangpark. Harga untuk camping mulai dari Rp 50.000 per malam, menyesuaikan include fasilitasnya.

Bagaimana dengan kedai kopinya? Kedainya nyaman banget, bisa duduk-duduk di dalam atau di luar. Kapasitas kedai yang di dalam bisa sampai 20 orang. Sementara untuk harga kopi dan snack di @pinuskopisikembang lumayan terjangkau. Mulai dari Rp 10.000 per gelas.

Selain wahana di atas, Sikembang Park juga menawarkan wisata petualangan yaitu offroad. Terdapat dua paket offroad. Pertama yaitu jelajah Sikembang Park dengan jarak tempuh paling 5 KM dengan membayar Rp 50.000 per orang.  Kemudian, kedua yaitu jelajah Blado dengan jarak tempuh hampir 30 KM dengan biaya Rp 300.000 per orang. Untuk paket Blado ini start pagi dan bisa sampai malam. Fasilitas umum seperti MCK atau kamar mandi, mushola, tempat parkir yang luas, ini dimiliki oleh Sikembang Park.

Jika ke Batang, kalian musti mampir ke Sikembang Park, ya! Lokasinya tepat di pinggir jalan raya dengan jam operasional dari pukul 08.00WIB-17.30 WIB.

Forest Kopi dan Kedai Dahar Bumbu Kampung

Setelah berswa foto berlatar belakang tempat-tempat instagramable di Sikembang Park, kali ini gemerlap lampu di tengah hutan seluas e hektar menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Yaitu Forest Kopi yang berlokasi di Kembanglangit, Blado, Batang.

Aku punya pengalaman berkunjung ke Forest Kopi dan ngobrol bareng ownernya yang ternyata masih muda. Bisa dibilang pengusaha muda yang sudah berpengalaman dalam dunia bisnis dan sukses. Aku ceritain mau, yaaaaaaaaaa…!

Lebih dekat dengan Pemilik Forest Kopi

Mbak Intan dan Mas Nanang, namanya. Sepasang suami isteri ini memulai membangun Forest Kopi pada 11 April 2019. Bisa dibilang usaha ini masih rintisan. Awal berdiri, kedai ini hanya berisi 6 meja saja, hingga kini sudah ada lebih dari 50 meja dan masih terus membangun sampai lantai 6. Lantai di sini bukan seperti lantai pada hotel, ya. Karena lokasinya tidak datar, terus ke atas, maka disebutlah lantai.

Dalam sesi tanya jawab, aku bertanya perihal alasan memilih usaha warung kopi. Aku pingin tahu saja karena setahu aku di Batang ini justeru lebih banyak produksi Teh ketimbang Kopi. Dan jawaban Mas Nanang cukup simpel, yaitu sekadar mengikuti tren, memanfaatkan apa yang sedang hits saat ini. Meski demikian, Mas Nanang tetap mengangkat teh lokal untuk para pengunjung.

Satu pernyataan dari Mbak Intan yang membuatku salut, yaitu tiap ada menu baru atau untuk sekadar update di akun instagram @forest_kopiowner menyewa fotografer untuk membuat konten. Jadi, akun tersebut hanya berisi menu-menu yang ada di Forest Kopi, bukan akun repost dari pengunjung, dan feednya rapih banget! 😆 *pengabdi feed

Sensasi Ngopi dan Kulineran di Forest Kopi

Mengusung konsep alam dan tradisional, Forest Kopi memberi pengalaman ngopi yang berbeda untuk para pengunjung. Berada di ketinggian kurang lebih 1.000 meter di bawah permukaan air laut dengan suhu mencapai 15 derajat, akan ada rindu setelah nongkrong di sini. Belum lagi ditambah suasana akrab tanpa gadget, makin rindu.

Ya, dua kali Forest Kopi berusaha untuk mengadakan WiFi, namun gagal. Bukan putus asa, namun lebih pada menciptakan pengalaman unik, owner akhirnya memutuskan untuk tidak mengadakan jaringan WiFi sebagai fasilitas umum dengan harapan para pengunjung lebih intens mengobrol atau ramah tamah bersama keluarga dan juga teman.

Di sini kalian dapat memesan kopi lokal yang didapat dari Desa Kembang Langit dan juga Desa Pacet. Kebutuhan kopi rata-rata 50 kg per bulan. Harga kopi mulai dari Rp 13 ribu-Rp 18 ribu. Sementara untuk kuliner tradisional dengan bumbu kampung, seperti sayur lodeh, ikan asin, telur dadar, kluban, dibanderol dengan harga rata-rata Rp 20 ribu.

Berdiri di atas lahan milik PT. Perhutani, kalian bakal betah berlama-lama nongkrong di sini. Terlebih ada hiburan musik keroncong di panggung, menambah suasana romantis pastinya. 🙂

Kebun Teh Pagilaran

Setelah seharian dimanjakan dengan pemandangan Hutan Pinus yang bikin latah pingin swa foto terus menerus dan kedai kopi kekinian, kali ini ada hamparan pohon teh di Dusun Pagilaran, Desa Keteleng, Blado, Batang. Ternyata masih satu kecamatan dengan dua destinasi wisata sebelumnya, tapi perjalanannya luar biasa. Mungkin hampir 20 menit dari Sikembang Park menuju Kebun Teh Pagilaran.
PT. Pagilaran sebagai private company bergerak dalam bidang perdagangan, menjual produk andalannya yaitu Teh Hitam Ortodox, Teh Hijau serta Kakao yang telah tersertifikasi baik lokal maupun internasional. Hampir mirip dengan jenis kopi. Jika kopi memiliki jenis arabika dan robusta, teh juga memiliki varian yang berbeda, yaitu Camellia Sinesis dan Assamica. Tentu keduanya memiliki karakteristik dan rasa yang berbeda. Teh hitam biasanya dibuat dengan dengan metode orthodox (masih berbentuk daun) dan CTC (crush, tear dan curl) Kemudian di oksidasi, drying, grading dan packing. Pengolahan teh hitam CTC adalah metode pengolahan yang memerlukan tingkat layu sangat ringan dengan sifat penggulungan keras, sedangkan cara pengolahan orthodox memerlukan tingkat layu yang berat dengan sifat penggulungan yang lebih ringan. Source: website PT. Pagilaran.

Factory tour Kebun TehPT. Pagilaran

Mas Andy, namanya. Dia adalah guide yang biasanya menemani perjalanan wisata berkeliling Kebun Teh. Aku punya pengalaman yang cukup menarik saat factory tour ke PT. Pagilaran.

Sebelumnya, aku pernah mengikuti factory tour di Kebun Teh Tambi, Wonosobo. Rasanya banyak sekali perbedaan antara Teh Tambi dan Teh Pagilaran ini. Hal ini sempat aku konfrimasi kepada Mas Erwin, peserta fam trip yang berasal di Wonosobo, ternyata memang jenis tehnya berbeda. Yasudahlah, fix. Soalnya dari wujudnya saja sudah terlihat beda. Aku makin yakin ketika Mas Andy menyampaikan bahwa teh Pagilaran termasuk jenis teh hitam. Makin fix, dong.

Sama seperti halnya aku, jika kalian datang ke sini pasti akan di ajak jalan keliling pabrik dan juga kebun teh. Saat keliling pabrik, kalian akan dikenalkan dengan nama-nama ruangan, nama-nama mesin yang usianya sudah tidak muda lagi, kemudian penjelasan tentang proses produksi teh mulai dari oksidasi sampai dengan grading, hingga akhirnya dikemas. Ada baiknya, jangan berkunjung pada hari minggu karena proses produksi libur. Dan kalau bisa, waktu berkunjunganya, tuh, saat pagi atau menjelang sore hari supaya tetap nyaman karena jika siang hari, tuh, matahari pas banget di atas kepala. HOT!

Oiya, untuk masuk dan tour kebun teh ini, kalian cukup membayar Rp 25.000 per orang dengan minimal peserta 10 orang.

Keliling Kompleks Perkebunan Teh Pagilaran

Usai keliling pabrik, kami mampir ke sebuah rumah tua yang katanya tahun depan akan digunakan untuk syuting film apa, gitu. Rumah ini adalah rumah dinas milik direktur PT. Pagilaran yang juga dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ya, setelah sempat dimiliki oleh Jepang dan Inggris pada tahun 1920, akhirnya kepemilikan PT. Pagilaran di serahkan kepada UGM untuk bahan belajar dan penelitian para mahasiswanya. Kami tidak lama di kompleks bangunan tua itu, hanya sekadar ingin tahu saja. Kemudian lanjut berkeliling kebun teh.

Factory tour ke PT. Pagilaran tidak hanya menikmati wisata alamnya saja, namun kalian dapat menikmati wahana lain seperti flying fox, bebek air, panggung hiburan, dan wahana lainnya yang ada di kompleks wisata Pagilaran. Kalian juga dapat membeli oleh-oleh khas Pagilaran yang berada di halaman parkir.

KEBUN TEH PAGILARAN

Jadi, kapan kalian ke Batang? Jangan lupa kunjungi 3 destinasi wisata di atas, ya! #VisitBatangYear2022 #HeavenofAsia. 😉

Baca lagi Pengalaman Piknik ke Kota Solo.

Rekomendasi Obyek Wisata di Lasem yang Menarik

Rekomendasi Obyek Wisata di Lasem  – Aku kembali merasakan rindu pada sebuah destinasi wisata yang telah aku kunjungi. Setelah tahun lalu ada Lampung yang membuatku betah berlama-lama di sana karena banyaknya potensi pariwisata yang menarik dan rapihnya tiap sudut kota di sana. Kali ini, rindu sedang tertuju pada Lasem.

Sabtu, 20 April 2019, aku bersama teman-teman Jateng On The Spot mengeksplorasi Lasem, sebuah Kecamatan di Kabupaten Rembang yang menjadi kota terbesar kedua setelah Kota Rembang. Destinasi wisata Lasem telah aku masukan ke dalam daftar kunjungan wisata, sudah dari tiga tahun yang lalu, tepatnya setelah aku bertemu dengan Mbak Agni dalam kegiatan bimbingan teknis. Dia merupakan salah satu penggiat wisata di Lasem dan menjadi bagian dari pengelola website kesengsem lasem.

Berangkat dari Semarang pukul 07.00 WIB dengan mengendarai Bus, kami tiba di Lasem kira-kira pukul 10.45 WIB. Tujuan utama kami saat itu yaitu memperingati Hari Kartini di tanah Rembang, kemudian esok harinya dilanjut dengan menyusuri beberapa destinasi wisata di Lasem yang sangat terkenal. Apalagi kalau bukan bangunan tua berikut sejarahnya yang sangat menarik untuk diikuti. Ya, di sini banyak warisan atau peninggalan sejarah yang unik dan menarik. Makanya, tak jarang ketika seorang Traveller mengunjungi Rembang, Lasem pun menjadi tujuan utama untuk kegiatan traveling.

Rekomendasi Obyek Wisata di Lasem.

Sesampainya di kawasan Lasem, aku nyaris tidak percaya jika di dalam kawasan yang mempunyai julukan “Tiongkok Kecil” ini banyak banget bangunan tua. Bisa jadi karena minimnya signage dan atau ikon sebagai tanda di sepanjang jalan menuju kompleks wisata Lasem. Pun saat masuk gang menuju destinasi wisata tersebut. Sampai akhirnya aku baru baru tahu kalau kami sudah berada di sebuah destinasi wisata yang sangat terkenal di Lasem, yaitu Klenteng Cu An Kiong, saat Pak Mardiyanto sebagai sopir Bus mulai pelan menjalankan Busnya dan parkir tepat di depan Klenteng.

Hal pertama yang aku lakukan di Klenteng ini yaitu melihat monumen perjuangan laskar Tionghoa dan Jawa melawan VOC yang berada di depan Klenteng sebelah kiri. Sembari menunggu guide lokal yaitu Pak Irawan dan Pak Toro, aku mengeluarkan kamera untuk mulai mendokumentasikannya karena pasti sayang banget jika sampai ada yang terlewatkan.

Kalian ingin tahu apa saja destinasi wisata di Lasem, dan seperti apa kondisinya saat ini? Yuk…ikut aku menyusuri destinasi wiasta Lasem yang kental akan sejarah dan juga budayanya. 😉

Terkagum dengan Klenteng Cu An Kiong

Klenteng Cu An Kiong adalah klenteng tertua di Lasem, dan juga Jawa. Berlokasi di Jl. Dasun No. 19, Desa Soditan, Klenteng ini dibangun dengan sentuhan seni tinggi yang mana di dalamnya juga terdapat banyak simbol penuh makna yang sukses membuatku terkagum-kagum.

Dimulai dari gapura dan juga pintu tengah Klenteng yang begitu unik dan beda dari Klenteng pada umumnya. Terdapat dua patung Singa berwarna emas, dan dua tokoh masing-masing membawa senjata yang seolah menjaga Klenteng tersebut.

Memasuki bagian teras, aku meraba pahatan huruf China, dan gambar dua tokoh Tionghoa-Lasem pada salah satu pintu yang terbuat dari kayu jati. Konon, dua tokoh yang bernama Bi Nang Un dan isterinya, Na Li Ni, pernah mengajarkan batik pada penduduk. Tentang tulisan-tulisan China, baik Pak Irawan maupun Pak Toro tidak paham arti dari tulisan tersebut karena minimnya pengetahuan.

Memasuki ruang tengah, aku kembali terkagum dengan mural monokrom. Mural 100 panel ini tergores pada kanan dan kiri dinding. Mural ini mengisahkan tentang Fangshen Yanyi (kisah terciptanya desa-dewi) yang diambil dari ‘komik’ Fangshen Yanyi atau kisah mitologi Dewa-Dewi Taois karya Xu Zhonglin. Saking detailnya torehan tinta pada mural tersebut, sampai sekarang mural masih terlihat dengan jelas dan bagus banget. Makanya, masuk dalam Rekomendasi Obyek Wisata di Lasem.

Selain monokrom 100 panel, ada juga monokrom dewa-dewa langit. Monokrom ini dapat dilihat di bagian altar tepatnya di dinding sebelah kanan dan kiri. Ada lebih dari 30 dewa langit di sini. Masih pada bagian altar, tepatnya di pojok kanan, terdapat beberapa senjata yang digunakan pada masa perang. Menurut Pak Irawan, banyak senjata yang dibawa oleh Belanda pada saat perang. Penjarahan oleh tentara Belanda pada masa penjajahan juga diyakini turut menghilangkan bukti sejarah Klenteng Cu An Kiong. Konon, Belanda mencuri catatan penting tentang klenteng ini dan klenteng-klenteng di Jawa. Informasi ini diketahui ketika beberapa pengurus kelenteng di Indonesia mengunjungi Museum khusus Indonesia di Den Haag. Di sana, catatan tentang klenteng di Jawa cukup lengkap.

Masih di bagian altar, di sini ada altar yang tidak boleh didokumentasikan oleh wisatawan, yaitu altarnya Dewi Ma Zu. Dewi Ma Zu ini merupakan Dewi Laut yang dipuja oleh pelaut dan juga perantau yang mengarungi lautan supaya mendapatkan cuaca bersahabat dan keselamatan ketika hendak melaut. Karena saking dipujanya, Dewi Ma Zu diletakkan pada altar utama klenteng ini.

ALTAR-KLENTENG-CU-AN-KIONG

Melihat detail tiap sudut bangunannya, Klenteng ini betul-betul memiliki karakter yang membuat wisatawan penasaran akan tiap detailnya. Namun sama seperti Klenteng lainnya, di sini terdapat kotak ramalan dan juga lampion. Selebihnya, di bagian kiri Klenteng terdapat bangunan baru yang dimanfaatkan untuk Altar dan penyimpanan tandu yang digunakan untuk perayaan Cap Go Meh.

Klenteng Cu An Kiong sangat dijaga karena selain sebagai tempat ibadah, klenteng ini menyimpan banyak sejarah khususnya bagi penduduk Lasem. Makanya, tidak heran jika depan klenteng dipasang sliding pagar besi berwana merah setinggi atap klenteng tersebut.

Jejak Menarik di Lawang Ombo

Berjalan kurang lebih lima puluh meter dari Klenteng Cu An Kiong, kalian akan menemukan bangunan tua dengan dinding tebal dan tinggi yang bernama Lawang Ombo atau yang juga dikenal dengan nama Rumah Candu. Seperti namanya Lawang Ombo, ukuran lawang atau pintu yang ada di sini, tuh, lebar. Kira-kira lebarnya sampai tiga meter. Bangunan dinding yang mengelilingi rumah ini pun khas bangunan  zaman dulu; tinggi, tebal dan masih terlihat kokoh tak kenal usia.

Disebut sebagai Rumah Candu, konon rumah ini digunakan sebagai akses penyelundupan candu (ganja) pada zamannya. Jejak-jejak tentang lorong candu pun masih ada di sini, termasuk peninggalan benda tak bergerak berupa Jangkar Kapal Tua yang diduga punya si pemilik rumah yaitu Kapiten Lim.

“Rumah ini diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-18 dengan pemiliknya adalah Lim Cui Soon atau Kapiten Lim. Nanti kalian akan melihat bukti-bukti tersebut di samping rumah ini.” Pak Irawan mulai bercerita tentang sejarah Lawang Ombo disertai dengan kisah-kisah menarik lainnya seperti adanya sungai yang sangat luas sebagai tempat para saudagar dari Tiongkok mendarat menggunakan perahu kecil. Sungai ini berada di depan Klenteng Cu An Kiong. Konon, di sini juga Laksamana Cheng Ho pertama kali mendarat.

Rumah ini sudah tidak dihuni oleh pemiliknya –pewaris rumah–, namun demikian masih terdapat Altar yang digunakan untuk sembahyang oleh keluarga Lim tiap kali datang ke rumah ini. Altar ini digunakan untuk pemujaan kepada leluhur, mendoakan keluarga yang sudah meninggal. Sebagai informasi, sampai saat ini foto-foto pada bagian kanan kiri altar terpampang foto-foto keluarga Lim.

Ada sensasi tersendiri ketika menyusuri tiap ruang, bahkan lorong Rumah Candu. Meski ramai-ramai, tetap saja ada detak jantung tidak terkendali. 😆 Terlebih saat masuk lorong candu, sebuah lorong yang sampai sekarang masih terdapat genangan air yang dulu digunakan untuk menghanyutkan candu. Suhu di ruang ini terasa berbeda, dingin. 😀 Jejak Kapiten Liem juga dapat dilihat dari pemakaman keluarga atau Bong yang berada di samping kanan rumah ini.

 Suguhan Atraksi dan Kuliner di Rumah Merah

Rumah Merah menjadi salah satu bangunan termegah di Lasem. Rumah ini memiliki dua pintu; pintu utama bergaya China terbuat dari kayu dengan lebar mencapai 2 meter, sedangkan pintu lainnya yaitu pintu besi bercat merah. Rumah Merah ini milik Rudy Hartono, seorang pengusaha toko elektronik terkenal di Rembang. Rumah ini dibeli dari generasi ke lima keluarga Tionghoa Lasem.

Memasuki Rumah Merah, kami akan disambut oleh para pramusaji yang sangat ramah. Mereka juga menawarkan segelas Sirup Kawista yang dingin dan segar. Minuman yang terbuat dari bahan pohon kawista ini menjadi salah satu oleh-oleh khas Rembang. Rasanya legit, dan aromanya khas sekali. Kemudian, wisatawan akan diarahkan ke bagian tengah rumah yang mana terdapat beberapa kamar yang disewakan. Tidak jauh dari ruang tengah, terdapat Altar yang dapat digunakan oleh siapa saja yang akan beribadah.

Keluar dari penginapan, tepatnya di bagian belakang rumah, wisatawan akan menjumpai dinding panjang berwarna merah menyala dan juga sumur tua berwarna kuning. Di tempat ini lah banyak wisatawan berswafoto karena memang menarik. Barang-barang antik pun dipamerkan di Rumah Merah. Mulai dari peralatan memasak zaman dahulu, sampai dengan toilet dan tempat tidur zaman dahulu.

Rumah yang dibangun pada tahun 1800-an, telah mengalami pemugaran namun tidak mengurangi kesan megah. Rumah ini sengaja dipugar karena digunakan untuk penginapan oleh pemiliknya. Rudy Hartono telah mengonsep Rumah Merah menjadi destinasi wisata yang asyik. Ya, awalnya rumah merah ini hanya memaksimalkan penginapan saja, namun tidak ingin ketinggalan dengan destinasi wisata di kota lain, Rudy membuat paket wisata menginap yang mana di dalamnya terdapat atraksi yaitu belajar membatik, mewarnai batik, dan menikmati kuliner khas Rembang.

Lalu, apa saja kuliner khas Rembang yang ditawarkan oleh Rumah Merah?

Pertama yaitu Lontong Tuyuhan. Lontong atau makanan yang terbuat dari beras kemudian dibungkus dalam daun pisang dan dikukus menjadi bahan utama kuliner ini. Karena pembuat dan penjual makanan ini berasal dari Desa Tuyuhan, maka namanya menjadi Lontong Tuyuhan. Rasanya menjadi gurih ketika lontong disiram dengan kuah kental yang pedas. Untuk lauknya, lontong tuyuhan ini ditambah dengan sepotong ayam jawa. Jadi hampir mirip opor.

Kedua yaitu Dumbek. Makanan tradisional yang dibungkus dengan daun lontar sekilas terlihat sama dengan jenang hanya beda cara pengemasannya. Bentuknya unik, menyerupai terompet. Dumbek ini terbuat dari tepung beras, santan, dan gula merah. Rasanya? Tentu manis dan juga gurih.

Ketiga yaitu Yopia. Kue kering berkulit tipis dan berisi gula jawa ini mirip Nopia, penganan asal Banyumas. Hanya saja beda tekstur. Isi gula jawa milik Yopia ini tidak sepadat Nopia. Kulitnya pun lebih keras dibanding dengan Nopia. Untuk bentuknya, Yopia ini lebih mirip bakpao versi kecil. 😉

Seseruan dengan Mobil ATV di Pantai Karang Jahe

Destinasi wisata yang terakhir adalah bonus! Yaitu Pantai Karang Jahe. Aku bilang bonus karena lokasi pantai tersebut bukan lagi di Kecamatan Lasem, melainkan Kecamatan Rembang tepatnya di Jetakbelah, Punjulharjo. Kurang lebih 20 menit dari Lasem, pantai ini bisa menjadi referensi kunjungan wisata bagi kalian yang suka wisata alam. Ya, setelah hampir seharian keliling pecinan, traveling makin lengkap jika kalian juga mengunjungi pantai di jalur pantura ini.

Rimbunnya pohon cemara dengan pemandangan pantai pasir putih yang indah, Pantai Karang Jahe asyik banget buat  menikmati pemandangan lepas pantai dan foto-foto. Apalagi ditambah dengan adanya sewa Mobil ATV dan juga mobil dragon untuk keliling tepian pantai, sambil menunggu matahari terbenam makin asyik, bukan? 😉 HTM ke pantai ini Rp 3.000 per orang.

Bagaimana? Sudah siap untuk traveling ke Rembang? Itu tadi rekomendasi obyek wisata di Lasem. Sesekali, datanglah ke Rembang. Ada banyak hal menarik di sana. Ada banyak hal yang bikin asyik di sana. Meski udara Rembang panas, tapi ketika masuk kampung pecinan kalian akan merasakan ketenangan, adem. Untuk masalah transportasi dan akomodasi jangan khawatir, Rembang sudah menyiapkannya. 🙂

Bertualang ke Agrowisata Jollong, Pati

Agrowisata Jollong Pati- Berwisata ke Desa selalu menyisakan pengalaman yang asyik dan menyenangkan. Apalagi jika kita tahu bahwa seluruh destinasi wisata yang ada dibangun dan dikelola oleh masyarakat, pasti mereka dapat menikmati hasilnya. Rasa bahagia pun muncul ketika obyek wisata tersebut menjadi referensi tujuan wisata dan ramai, seperti Agrowisata Jollong yang berlokasi di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Meski dikelola oleh PT. Perkebunan Nasional IX, namun aku yakin masyarakat ikut menikmati hasilnya. Berada di puncak, akses jalan menuju lokasi tergolong bagus dengan jalan utama sebagian besar beraspal mulus dan jalan masuk Desa adalah jalan cor-coran. Namanya di puncak, ya, perjalanannya terus naik. Perjumpaan dengan beberapa kelok pun membuat bobok kurang nyenyak. Hahaha.

Alhamdulillaah, dengan mengendarai bus berukuran sedang, perjalanan dari Factory Tour ke PT. Dua Kelinci menuju Agrowisata Jollong bisa dibilang lancar. Ya, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dari tengah kota, kami sampai lokasi kira-kira pukul 11.00 WIB saat mentari sedang terik. Tapi kami beruntung karena tujuan wisata kali ini adalah agrowisata yang letaknya di puncak tepatnya di lereng timur Gunung Muria. Cuacanya cerah, udaranya begitu segar dan bikin betah. Apalagi penyambutan dari pengelola obyek wisata begitu hangat. Menambah suasana makin sejuk.

AGROWISATA JOLLONG PATI

Saat kami berkunjung, di bagian bawah area pabrik kopi sedang berlangung event Trabas dan beberapa event. Kebayang ramainya wisatawan dan para penjual jajan, kan. Area parkir yang cukup luas pun telah dipenuhi dengan kendaraan roda empat dan juga sepeda motor.

Agrowisata Jollong: Tur di Gudang Kopi.

Melihat gapura masuk bertuliskan “Cafe Pabrik Pengolahan Kopi Jollong”, langkah kaki yang sebelumnya santai tiba-tiba menjadi cepat karena ingin segera duduk-duduk di Cafe. Pinginnyaaa. Namun Bu Nane mengarahkan kami untuk masuk ke dalam gudang Kopi, keinginan untuk bersantai di Cafe pun gagal. 😀

Di gudang ini, kami tur ditemani Pak Nurdiyanto, pemandu wisata dari Agrowisata Jollong. Beliau memberi tahu jika kopi-kopi yang ada di gudang adalah hasil dari perkebunan sendiri, asli Pati. Setelah kopi dipanen, kemudian dilakukan pemilihan atau grading berdasarkan ukuran. Nah, kalau udah ngomongin grade, kelanjutannya adalah harga. Pak Nur menyampaikan, untuk harga kopi yang masih mentah, tuh, telah dibanderol mulai dari Rp 40.000 per kg. Sedangkan yang tinggal seduh, harga mulai dari Rp 80.000 per kg.

AGROWISATA JOLLONG GUDANG KOPI 2
Mereka tertarik bisnis kopi…hahaha

“Pak, berapa harga satu kilo gram kopi ini?” Tanya Mohammed, peserta trip yang berasal dari Timur Tengah. Tidak hanya Mohammed, beberapa peserta lain yang berasal dari luar negeri juga ngobrol banyak dan tanya detail perihal pemasaran kopi karena beberapa diantara mereka ada yang berminat untuk membuka kedai kopi di tempat asal jika sudah selesai study nantinya. Bagiku ini menarik, artinya jumlah ekspor untuk komoditas kopi akan makin banyak. Ya…meski aku tahu kalau jumlah stok kopi untuk wilayah sendiri saja kadang kurang. Ini di tempat tinggalku, Banjarnegara. Produksi kopi asli Banjarnegara masih masih minim karena yang menanam belum banyak.

AGROWISATA JOLLONG GUDANG KOPI
Kopi asli Jollong, Pati…

Seluruh kopi yang ada di gudang telah dipack menggunakan karung berukuran besar dengan berat mulai dari 60-80 kg per karung. Jenis kopi yang ditanam di sini adalah Robusta, dan ditanam di antara 600-900 m dpl. Ternyata, Desa ini termasuk sentra penghasil kopi di Kabupaten Pati. Dulu, Desa ini juga menjadi tempat pengolahan hasil perkebunan kopi. Berlokasi di atas Cafe, tepatnya di seberang Mushola, terdapat sebuah pabrik kopi yang cukup luas. Pabrik yang tidak berdiding penuh ini sudah ada sejak zaman Belanda. Terlihat dari luar, masih terdapat beberapa alat pengolahan yang sepertinya sudah berkarat. Sayang sekali pabrik ini tidak dibuka untuk umum, jadi hanya bisa mengintip saja dari luar pagar yang terbuat dari besi.

Kenalan dengan Agrowisata Jollong.

Agrowisata Jollong dibangung pada tahun 2012, sudah cukup lama, ya. Agrowisata ini terbagi menjadi dua tempat, yaitu Agrowisata Jollong I dan Agrowisata Jollong II. Di sini terdapat dua pintu gerbang, yaitu pintu gerbang bawah yang berarti Agrowisata Jollong I dengan obyek wisata Kompleks Pabrik Kopi sampai Kebun Jeruk. Kemudian ada pintu gerbang atas yang berarti Agrowisata Jollong II dengan obyek wisata andalannya yaitu Kebun Buah Naga. Wisatawan dapat memilih untuk aksesnya, lewat pintu atas atau bawah. Yang jelas tidak ada pintu doraemon, ya. 😛

Dari kompleks pabrik kopi, kami terbagi menjadi dua mobil dengan tipe yang berbeda. Satu adalah modil semi terbuka dengan cat warna-warni lucu menggemaskan dan tangguh, satunya adalah mobil bak terbuka yang elegan dan pastinya super tangguh. Mulai perjalanan, kami menjadi sasaran penglihatan para wisatawan yang ada di sekitar area event. Kenapa? Karena ada mahasiswa asing bersama kami. Beberapa wisatawan juga ada yang minta untuk berselfie, termasuk petugas loket di pintu masuk. Hahaha.

AGROWISATA JOLLONG GUDANG KOPI 3
Ini mobil kuat bangettt!

Nah, setelah jalan-jalan manja di kompleks pabrik dan gudang kopi, saatnya lanjut untuk bertualang. 😆 Aku menyebut bertualang karena untuk menuju Agrowisatanya harus membelah hutan selama kurang lebih satu jam naik mobil semi terbuka dengan akses jalan yang aduhaaii, agak offroad, gitu. 😀 Sepanjang perjalanan, kanan kiri jalan adalah hutan. Buat yang suka bertualang, kebayang asyiknya, kaaan? Sesekali kami minta berhenti untuk mendokumentasikan pemandangan alam yang menyejukan. Ketika menghadapi jalanan yang mulai menanjak, tangan harus berpegangan kuat di kursi atau jendela besi bagian belakang supaya tidak terombang-ambing. Pokoknya tidak ada waktu buat ngantuk. Hahaha.

Planting Coffee

Setelah menempuh perjalanan panjang kurang lebih 30 menit, akhirnya kami dapat melihat hamparan perkebunan kopi sekaligus menambah ilmu dan pengetahuan perihal penanaman kopi. Ya, kebun kopi dengan luas kurang lebih 500 Ha ini menjadi tujuan pertama kami untuk bertualang. Seperti yang aku sampaikan di awal, kopi yang ditanam di sini masuk jenis kopi robusta. Aku yang dari dulu tidak paham masalah per-kopi-an, di sini cukup menikmati trip karena teman-teman aktif bertanya perihal penanaman kopi.

AGROWISATA JOLLONG PENANAMAN KOPI 3
Mas Nur sharing tentang penanaman Kopi…

Kami kembali melakukan tur di perkebunan kopi dan masih ditemani Pak Nur. Penyambungan bibit pohon kopi, aku baru tahu ada tahap ini sebelum penanaman pohon di kebun. Jadi, di sini kami diberi tahu step by step pembibitan kopi sampai dengan panen kopi. Dalam satu area terdapat lahan khusus yang digunakan untuk belajar tentang pembibitan kopi. Pembibitan di sini dimulai dari menanam biji kopi sampai biji tersebut nongol seperti kecambah. Sepertinya ada istilah tersendiri, nih, cuma aku tidak menanyakannya. Yamasa, nanem kopi tumbuhnya kecambah. Kan lucu, kayak kamu yang lagi nyiulin kelinci. Hahaha.

Pembibitan dari biji sampai bisa ditanam ini kurang lebih 14 bulan. Setelah keluar kecambah (eeh kecambah lagi), kemudian bibit ditanam di polybag sampai 6 bulan. Nah, setelah ini, barulah dilakukan penyambungan. Di sini aku merasa bingung sebenarnya, pohon kopi yang tinggi mungkin baru setengah meter itu disambung. Lagi-lagi aku tidak tanya detailnya, malah liatin si Mohammed yang sedang menggali lubang untuk penanaman kopi. Hahaha. Iya, ceritanya dia mau menanam pohon kopi di sini, jadi sok-sok buat lubang dengan ukurang 1 meter persegi. Oiya, pohon kopi ini akan mulai berbunga jika usianya mencapai 3 tahun. Ternyata lama juga prosesnya, ya.

Kebun Jerung Keprok dan Jeruk Pamelo

Usai keliling kebun kopi dan mendapat banyak pengetahuan, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Jeruk. Jarak antara kebun kopi dan kebun jeruk ini tidak begitu jauh, hanya 20 menit. Tidak tahu kenapa, perjalanan kedua membelah hutan kali ini terasa cukup lama, padahal cuma lima belas menit. Ada apa gerangan? Apakah karena sudah lelah atau pingin cepat-cepat menikmati segaranya jeruk Pamelo? 😆

Jeruk Keprok dan Jeruk Pamelo, dua jenis jeruk ini sangat asing di telingaku. Aku lebih sering mendengar jeruk nipis, jeruk samarinda, jeruk purut, dan jeruk mandarin. Hahaha. Padahal, tiap ke pasar dan membeli jeruk, pasti aku belinya jeruk jenis keprok. Tapi aku baru tahu saat tanya ke penjual buah langganan, beberapa waktu setelah mengikuti trip. Pokoknya konfirmasi itu penting. 😀

Sesampainya di sini, Pak Nur mengambilkan jeruk untuk kami. Jeruk yang disuguhkan yaitu jeruk pamelo yang ternyata adalah jeruk bali. Iya, aku lebih familiar dengan nama jeruk bali untuk menyebut jeruk dengan ukuran yang besar ini. Di sini kami cukup lama, menikmati suguhan panorama Waduk Gembong dan Waduk Gunung Rowo dari atas kebun jeruk dan juga keliling kebun sampai bawah. Sayangnya, pas kami ke sini tidak sedang musim jeruk, katanya setengah bulan lagi baru mulai pada berbuah. 😆

Kebun Buah Naga.

Sampai, nih, di Jollong II atau kompleks kebun buah naga setelah 15 menit perjalanan dari kebun jeruk. Berbeda dengan kebun jeruk yang tidak begitu ramai, di sini banyak wisatawan yang sedang keliling petik buah naga. Jadi nih, ya, di sini bisa lebih ramai wisatawan karena mereka lewat pintu gerbang atas yang mana banyak menawarkan spot-spot selfie berkarakter, seperti replika buah naga, dan perjalanan menuju sini tidak sejauh perjalanan menuju kebun jeruk.

AGROWISATA JOLLONG KEBUN BUAH NAGA
Welcome to Jollong II…

Buah Naga ini termasuk buah yang jarang dijumpai di Jawa Tengah. Selain butuh ketelatenan dalam perawatan, buah ini hanya dapat tumbuh segar di daerah tertentu. Maksudnya, pohonnya dapat tumbuh dengan baik, buahnya bisa besar dan segar. Ratusan pohon yang ditanam di sini seluruhnya adalah buah naga dengan isi merah. Ada juga buah naga yang dalamnya warna putih, tapi tidak ada di kebun ini. Namanya agrowisata, ya, wisatawan bisa dengan bebas memetik buah, kemudian ditimbang oleh petugas, lalu bayar di tempat! Harga buah yang ditawarkan menyesuaikan harga pasaran dan cenderung lebih murah.

Di kebun yang sangat luas ini, aku bersama Parahat dan Nuryono, sok heboh unboxing dragon fruit. Tidak hanya unboxing alias belah buah naga, kami juga membuat testimoni menggunakan Bahasa masing- masing. Ada yang menggunakan bahasa Thailand, Turkmenistan, Jawa alus, dan aku pakai bahasa NGAPAK is the best. Hahaha. Setelah puas unboxing dan berlipstikan buah naga warna merah, kami duduk-duduk santai di sebuah warung yang nampaknya dikelola Desa setempat sambil memesan aneka jus segar di sini. Di sekitar warung ini juga berdiri banyak warung milik pribadi, warga setempat. Asyik banget, kan, kalau wisata di Desa sampai ramai, karena diharapkan masyarakat setempat dapat merasakan manfaatnya.

Membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan atau kira-kira 20 km dari pusat kota Pati untuk sampai di Agrowisata Jollong. Buat kamu yang suka agrowisata, Jollong dapat dijadikan tempat tujuan saat di Jawa Tengah. Yukkk…bertualang ke Agrowisata Jollong! Nikmati keseruan perjalanan dan wisata ke beberapa destinasi Agrowisata Jollong!

Factory Tour ke PT. Dua Kelinci, Pati

Factory Tour ke PT. Dua Kelinci, Pati – Pati, sebuah kabupaten di Jawa Tengah ini sering aku dengar, namun karena belum punya teman ataupun saudara, kabupaten ini sama sekali tidak aku masukan dalam daftar rencana piknik. Hihihi. Ya gimana lagi, abisanya tidak ada yang bisa meyakinkan aku jika di Pati banyak destinasi pariwisata yang manarik. Hahaha.

Kabupaten Pati menjadi tujuan wisata pada hari kedua dalam rangkaian kegiatan Jateng On The Spot 2019. Di kabupaten ini, kami melakukan factory tour ke PT. Dua Kelinci dan bertualang ke Agrowisata Jollong.

Ini kali kedua aku mengikuti factory tour setelah sebelumnya mengikuti wisata industri ke PT. Perkebunan Teh Tambi beberapa tahun silam. Masing-masing pabrik tentu punya standard operasional untuk kunjungan industri, ya. Harus menggunakan tutup kepala selama tur pabrik, misalnya. Yang jelas ketika sudah masuk kawasan pabrik, pengunjung harus mengikuti aturan yang berlaku.

Berkeliling pabrik yang terkenal dengan produk snack kacang terbagus di Indonesia dan pernah menjadi sponsor utama untuk tim sepak bola Real Madrid, aah…bahagia akutuuuuuh. 😆 Iyalah, bahagia sekaligus beruntung karena tidak semua orang bisa mengikuti factory tour ke PT. Dua Kelinci, lho. Yaa…namanya wisata industri di pabrik besar pasti banyak syarat dan ketentuan, kan. 😛

FACTORY-TOUR-KACANG-DUA-KELINCI-44

Kami sampai di PT. Dua Kelinci kira-kira pukul 08.15 WIB. Berarti, perjalanan dari Kabupaten Rembang menuju Pati cukup lama, hampir 1 jam karena kami berangkat pukul 07.30 WIB. Sesampainya di pabrik, kami disambut oleh beberapa karyawan yang sudah siap mengajak kami untuk tur. Namun, sebelum tur dimulai, terlebih dahulu kami menuju sebuah ruang berkapasitas sampai 100 orang untuk menonton kilas balik PT. Dua Kelinci seperti asal muasal nama brand Dua Kelinci yang dulunya adalah Sari Gurih. Mbak Desi, bagian marketik PT. Dua Kelinci, juga memaparkan tentang program-program yang telah dilaksanakan oleh mereka menggunakan dana CSR dan mengenalkan sekilas produk-produk mereka baik produk lama maupun terbaru.

Usai presentasi, kami dikejutkan dengan kedatangan ikon pabrik ini yaitu Kelinci! Hihihi. Dua kelinci ini muncul dari pintu depan dan sempat mengagetkan kami mereka terlalu aktif, colek-colek, gitu. 😀 Kedatangan dua kelinci ini diperuntukan untuk dokumentasi alias foto-foto. Setelahnya, barulah kami bersiap-siap tur. Seluruh peserta tur diberi masker dan juga penutup kepala (kecuali bagi perempuan berhijab) untuk keamanan dan kenyamanan saat tur. Satu hal yang menarik dari pemaparan Mbak Desi yaitu tentang limbah. Ya, Mbak Desi menyampaikan bahwa PT. Dua Kelinci mengolah limbah pabrik dengan membuatkan kolam ikan. Aku penasaran banget, dong, pengolahannya seperti apa. Terus juga kolamnya seperti apa. Pokoknya udah niat banget pingin lihat dan kalau bisa juga mendokumentasikannya.

FACTORY-TOUR-KACANG-DUA-KELINCI-44

Kepada teman-teman, untuk keamanan dan kenyamanan, dimohon untuk menyimpan alat dokumentasi, ya. Handphone, Kamera, dll. Karena selama tur beralangsung, pengunjung tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar.

Degh! Hyaaah! Duuh! Udah siap-siap mau potoin aktivitas di dalam pabrik, malah Mas Andre memberi peringatan dilarang keras mengambil gambar. Yasudah, nikmati saja perjalanan tur kali ini. 😀 Terus, kira-kira apa yang menarik selama tur? Banyak banget! Mending bahas satu per satu proses pengolahannya, ya. Biar afdhol. 😛

Pertama yaitu tentang kesterilan. Tiap kendaraan yang masuk pabrik harus melapor kepada security. Tentu ini hanya kendaraan yang membawa bahan baku kacang, dong. Ehhh…tapi bisa juga kendaraan tamu, ya. Ahhh, bahas saja kendaraan khusus bahan baku supaya konsisten. 😆 Setelah security memberi kode AMAN, kemudian akan dilakukan penimbangan. Eh btw, bahan baku yang dibawa satu kendaraan, tuh, berkapasitas 4 ton, lho.

Kedua yaitu gerbang masuk khusus. Gerbang masuk ini tidak hanya berfungsi sebagai jalan saja, namun di sini akan dilakukan pengecekan, penentuan, dan penyortiran bahan baku mulai dari kualitas, hingga harga. Tiap hari, pabrik ini membutuhkan kurang lebih 750 ton bahan baku untuk dapat memenuhi produksi, makanya PT. Dua Kelinci tidak hanya mengambil bahan baku dari Jawa saja. Dan kualitas kacang paling bagus malah bukan dari Pati, melainkan dari Tuban dan Jepara. Tapi kenapa aku sanksi, ya, emang di Jepara ada petani kacang tanah, gitu. Hahaha.

Ketiga yaitu pencucian menggunakan mesin cleaner. Ya, mesin pertama yang kami jumpai di sini adalah mesin pencucian di mana bahan baku akan dibersihkan dari akar-akarnya. Jangan tanya berapa besar mesinnya, ya. Karena itu mesin gede-gede dan ada beberapa. Proses pencucian ini ada beberapa tahapan dan yang melakukan pekerjaan ini semuanya adalah mesin! Ya, di sini kamu tidak akan menjumpai banyak karyawan karena hampir seluruh pekerjaan dikerjakan oleh mesin.

Keempat yaitu proses perebusan. Proses ini berada di suhu 100-120 derjat celcius dengan batasan waktu 5-10 menit. Untuk merebus kacang ini, pabrik lebih memilih menggunakan tenaga batu bara karena dirasa paling hemat. Pas lagi ngomongi batu bara, tiba-tiba aku ingat video sexy killer. Hahaha.

Kelima yaitu masuk proses pengeringan. Di sini terdapat tiga mesin pengeringan dan hampir tiap hari bekerja antara 10-12 jam dengan suhu mencapai 100 derajat. Dan setelah proses ini, bahan baku disimpan di gudang yang sangat luas. Kami juga diberi kesempatan untuk masuk gudang penyimpanan yang dapat menampung bahan baku sampai 10 ton. Sistem penyimpanan di sini menggunakan metode first in, first out atau bahan baku yang masuk pertama maka akan dikeluarkan lebih awal.

Omong-omong, nih, proses sortir bahan baku menggunakan mesin ini baru dimulai sejak dua tahun yang lalu. Sortir otomatis ini dilakukan setelah bahan baku dibersihkan. Dan untuk sortir akhir atau finasl, tetap menggunakan tenaga manusia dibantu mesin berjalan alias konveyor.

Proses terakhir yaitu packaging. Di PT. Dua Kelinci yang di Pati hanya memproduksi snack kacang biasa. Maksudnya, sekarang, kan, produk Dua Kelinci makin banyak varian, ya. Untuk jenis produk seperti wafer, minuman, dan cokelat, diproduksi di cabang yaitu Jakarta dan Surabaya. Ya, setelah resmi berganti nama dari Sari Gurih ke Dua Kelinci pada tahun 1985, putra pendiri, Ali Arifin dan Hadi Sutiono, membuka cabang di dua kota tersebut.

Perjalanan tur berakhir di sebuah pusat oleh-oleh yang masih berada dalam satu komplek pabrik. Selain pabrik, di sini terdapat pusat oleh-oleh yang menawarkan produk-produk PT. Dua Kelinci dan juga produk khas Pati seperti Bandeng. Di sini, wisatawan dapat memilih aneka snack dengan label Dua Kelinci. Ditawarkan juga paket snack yang murah meria dengan banyak isi.

Nah, buat kamu tertarik untuk mengikuti tur PT. Dua Kelinci, syaratnya gampang banget. Kamu cukup membeli paket makan di Waroeng Pati (ini masih dalam satu kompleks pabrik) senilai minimal Rp 15.750 per orang. Warungnya ini unik banget, lho. Bergaya joglo khas Pati. Pun dengan fasilitas umumnya. Toilet, misalnya. Toilet ini dibangun menggunakan kayu, persis warung juga, model joglo. Lalu dindingnya ditambah dengan ornamen jagung.

Setelah membeli paket makan, selanjutnya harus terkumpul minimal 50 orang, maksimal 250 orang untuk dapat mengikuti tur. Hihihi. Ya, kalau paling 10-20 orang, Mbak Desi belum bisa melayani tur. Selain itu, harus menggunakan surat izin tur dan diberikan paling lambat 1 minggu sebelum kunjungan. Jadwal tur dari Senin-Jum’at dan terbagi menjadi tiga sesi yaitu pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB. Sementara hari Sabtu hanya ada dua sesi yaitu pukul 08.00 dan 10.00 WIB.

Satu hal yang bikin aku penasaran tapi lupa aku kunjungi dan juga lupa tanya yaitu tentang pengolahan limbah. Hahaha. Aku, sih, yakin kalau pengolahan limbah untuk menjadi manfaat ini tempatnya tidak dekat dengan pabrik, tapi tetap saja kalau aku ingat waktu itu, pasti aku tanyakan lagi “dimana pengolahan limbanya, Kakaaak?” 😛

Btw, apa yang melintas di benak kamu saat mendengar kata Dua Kelinci? Apakah langsung ingat snack super kriuk seperti kacang kulit, kacang oven, kacang atom, atau hal menarik lainnya di luar produk-produk mereka?

Singgah di Gedung Sate, Bandung!

Gedung Sate, Bandung – Bus yang kami naiki mulai mengurangi kecepatan lajunya. Pelan-pelan aku membuka mata sebelum sampai di Terminal Cicaheum, Bandung. Aktivitas mengumpulkan tenaga pun aku lakukan supaya saat turun nanti tidak oleng.

“Jangan tidur lagi, kita sudah masuk terminal.” Teman perjalanan dari Banjarnegara-Bandung tiba-tiba membuka paksa kedua mataku. Dia nampak sedikit kesal karena sepanjang perjalan aku tidur pulas. Yaa…gimana lagi, berangkat dari Banjarnegara sudah petang, mainan handphone bingung mau chat sama siapa, orang yang biasa aku ajak ngobrol saja berada di sampingku ini. Lagi pula, aku kadang mual dan pusing kalau mainan handphone saat berkendara.

Tiba di terminal, ternyata waktu baru menunjukan pukul 04.00 WIB. Sambil menunggu adzan subuh, kami pun menuju mushola yang berada di kompleks terminal. Kami cukup lama duduk-duduk di depan Mushola, ngobrol-ngobrol yang agak penting, yaitu perihal destinasi wisata yang akan kami kunjungi nanti.

Betul, kami pergi ke Bandung tanpa rencana. Saking penatnya dengan rutinitas masing-masing, dari obrolan pagi yang awalnya hanya bercandaan, sore harinya langsung beli tiket Bus. Tanpa ribet packing dan mikirin uang saku, kami merasa asyik-asyik saja dengan traveling tanpa rencana ini.

“Kita keliling ke kawasan kota saja, yang dekat-dekat, gitu. Kalau memang mau nambah hari, esoknya baru bertualang ke wisata alam. Kawasan Bandung Barat, misalnya. Toh kita ke sini niatnya bersenang-senang, jangan capek-capek lah.”

Teman perjalananku kali ini memang cukup paham dengan Kota Kembang. Punya banyak saudara dan juga pernah menetap beberapa bulan di Bandung. Tapi bukan berarti kami memanfaatkan keadaan, dong. Apalagi masalah penginapan, banyak villa bandung di traveloka. Pokonya tidak ada alasan pingin irit meski uang saku minim. Hahaha.

Duuh…namanya sedang penat, bawaannya pingin ke tempat yang sunyi, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Aku ngeyel pingin lari ke hutan, dianya pingin santai-santai di sekitar Alun-alun dan Gedung Sate. Sungguh bertolak belakang. Karena tidak mau ribut dan ambil pusing, akhirnya dia mengikuti keinganku. Aku senang, aku bahagia, dan dia mencoba untuk ikut bergembira. Hahaha.

MUSEUM GEDUNG SATE

Setelah sekian lama, tentu dengan segala keinginanku ketika ke Bandung, kompleks perkotaan selalu aku skip. Ya, ketika ke Bandung, aku tidak punya minat untuk traveling di seputar kota, bahkan untuk sekadar singgah. Dan sekarang, aku lagi pingin ke Bandung dan singgah ke beberapa tempat yang ada di seputar kota salah satunya yaitu Gedung Sate.

Kenapa ingin ke Gedung Sate, Bandung?

Alasan paling kuat untuk sekarang ini yaitu karena melihat daftar 10 Top Destinasi Wisata Bandung dan Gedung Sate masuk di dalamnya. Korban iklan banget, nih. Hahaha. Eh bukan korban iklan, melainkan pingin nostalgia. Beberapa kali lewat depan Gedung ini, tapi tidak pernah mau diajak masuk. Padahal meskipun Gedung Sate masih dipakai secara aktif untuk kegiatan pemerintahan Provinsi Jawa Barat, sekarang dapat dinikmati sebagai kawasan wisata.

Dan aku baru tahu, meski Kemenpar sudah memasukan Gedung Sate ke dalam daftar rekomendasi kunjungan wisata, untuk masuk ke gedung ini harus dengan izin. Tapi aku maklum, sih, karena gedung ini aktif digunakan sebagai gedung perkantoran, pasti pemerintah kota setempat ingin tetap menjaga keamanan khususnya dokumen-dokumen yang ada di dalamnya.

Lalu, wisatawan dapat menikmati apa saja ketika berkunjung ke Gedung Sate?

Pertama, berfoto di depan atau sekitaran Gedung Sate, sebuah gedung berarsitektur Hindia Belanda. Katanya, spot foto yang paling digemari wisatawan ini ada pada bagian depan gedung.

Kedua, ada sebuah prasasti di depan Gedung Sate. Membaca di wikipedia, di bawah prasasti tersebut pernah terkubur tujuh jenazah pemuda pejuang kemerdekaan yang gugur saat mempertahankan gedung tersebut dari serangan penjajah. Wisatawan dapat melihat prasasti tersebut.

GEDUNG SATE

Ketiga, mengunjungi museum Gedung Sate. Museum ini terletak di bagian belakang Gedung sebelah kanan. Museum yangi memiliki luas sekitar 500 meter persegi menampilkan sejarah kota bandung dan kebudayaan Jawa Barat. Informasi sejarah tentang Gedung Sate pun bisa dibaca-baca di sini. Untuk informasi lebih lanjut baik tentang HTM maupun jam kunjungan, kamu dapat membuka website resmi museum ini di www.museumgegungsate.org.

Keempat, mengunjungi teras atap. Usai melihat koleksi di Museum Gedung Sate, wisatawan dapat meneruskan kunjungannya ke bagian teras atap. Bagian ini merupakan bagian paling tinggi dari Gedung Hindia Belanda. Menariknya, di sini wisatawan dapat menikmati pemandangan lapangan Gasibu dan juga Tangkuban Perahu.

Kelima, berolahraga atau sekadar main di Gasibu. Sebuah lapangan yang dapat digunakan untuk jogging ini letaknya di luar Gedung Sate, tepatnya di seberang gedung. Lapangan ini selalu ramai dan selalu ada aktivitas di sini.

Sekali lagi, untuk dapat masuk Gedung Sate, kamu harus minta izin kepada pemerintah kota setempat atau menghubungi pengelola gedung di nomor (022)4267753. Gedung Sate buka dari Senin-Jum’at pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.

GEDUNG SATE 2

Jika diberi kesempatan untuk kembali mengunjungi Bandung, aku akan menyempatkan untuk singgah di Gedung Sate. Tentunya ke Bandung bukan dengan teman perjalanan lagi, dong. Mau ajak Kecemut saja yang sekarang udah mulai sering ngajak main.

Baca lagi Wisata Floating Market Lembang, Bandung.

NOTES: Seluruh foto diambil di website Museum Gedung Sate.