Pernahkah Menjadi Pemburu SPBU?
Singgah di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Jompo mengingatkan aku kepada sebentuk SPBU sederhana di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sayang banget, aku…
Singgah di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) Jompo mengingatkan aku kepada sebentuk SPBU sederhana di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sayang banget, aku…
Hari Blogger Nasional (Harblognas) yang diperingati tiap tanggal 27 Oktober telah berlalu. Keramaian di twitter, dimana hastag yang menjadi trending topic spesial Hari Blogger Nasional pun sudah terganti dengan hastag lain. #TerimaKasihPungky, misalnya.
Ini kali pertama aku “turun”, turut memeriahkan Hari Blogger Nasional. Pertama sekaligus menjadi yang spesial, karena aku bisa hadir bersama keluarga kecilku, Dede cantik. 😆 Meski dalam keadaan hamil, aku memberanikan diri untuk ikut karena lokasi acara tidak begitu jauh dari tempat tinggalku.
Ya, aku memilih Purwokerto, lokasi terdekat acara Blogger Camp Indonesia Tahun 2015, yang menjadi acara khusus dalam memperingati Hari Blogger Nasional. Ada tiga kota lain yang ditunjuk sebagai tuan rumah, yaitu Makassar, Surabaya dan Jakarta.
Topik yang diangkat dalam acara ini yaitu tentang “Kredibilitas Web Blog“. Seberapa kredibelkah isi konten blog kamu?
Sesi sharing fokus diskusi tentang kredibilitas blog. Terkait dengan keaslian, kejujuran, kepercayaan dan pertanggungjawaban atas postingan yang sudah ditulis oleh para Blogger di Blognya masing-masing. Merinding juga, ya, kalau ngomongin kejujuran sampai dengan pertanggungjawabannya. 😀
Selain sesi sharing, masih ada beberapa catatan penting dalam acara ini. Catatan ini hanya ada di Blogger Camp Indonesia Tahun 2015 dari KORWIL Purwokerto. Hahaha (((KORWIL)))! Koordinasi Wilayah, maksudnya.

Adalah tentang RESOLUSI KETENGER. Ketenger, nama Desa di Baturraden, Purwokerto, menjadi saksi ikrar kami tentang sebuah resolusi. Resolusi bukan hanya untuk kami, para peserta Blogger Camp Purwokerto. Namun, ini resolusi dari kami, untuk seluruh Blogger yang tersebar di seluruh Indonesia.
Omong-omong tentang resolusi, lekat banget sama yang namanya tahun baru. Ya, ada banyak resolusi yang ditulis oleh Teman-teman Blogger saat pergantian tahun tiba. Iyaa, kaaan…Iya, kaaan…. 😛 Tapi, aku belum membaca satu pun resolusi dari Teman-teman Blogger saat Hari Blogger Nasional tiba. Kecuali Blog gretongan milik keluarga kecilku. 😀 *EfekBelumBW*
Blog gretongan, satu Blog banyak yang menulis. Dalam postingan spesial Hari Blogger Nasional yang diterbitkan oleh salah satu Admin dari keluarga kecilku, Ia menulis sebuah tuntutan dan juga harapan. Tuntutan yang simpel, bawha ia menuntut kepada para penulis Blog gretongan untuk segera bangun dari hibernasi. 😀
Hibernasi, sebuah keadaan dimana para hewan Beruang imut terlalu lama istirahat. Ngga cukup seminggu, dua minggu. Tapi, satu dua bulan fakum! Saking cintanya sama Bear, keluarga kecilku seringkali menyebut Beruang untuk panggilan. 😀
Resolusi/re·so·lu·si/résolusi/n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Berikut Resulusi Ketenger yang dibuat atas dasar musyawarah dan kemudian ditulis oleh Mbak Wening.
Semisal ada permintaan untuk live tweet atau live blog competition pada suatu event, tapi akses intenet sama sekali tidak mendukung. Bagaimana Blogger bisa tenang dan merasa nyaman? Yang ada, sih, panik duluan, ya. Hihihi Mungkin, hal ini ngga akan terjadi di kota besar. Jadi, pemerintah dan juga penyedia provider harus lebih memperhatikan lagi tentang jangkauan internet hingga pelosok nusantara. Akses internet adalah salah satu aset terbesar bagi tiap Blogger. Ngga hanya perkara untuk blog on the spot saja. Tapi, juga kegiatan Blogging tiap harinya. Spesial bagi para Blogger yang tinggal di pelosok Desa.
Tak kalah dari sebuah akses internet, Blogger Indonesia juga wajib untuk bela negara. Ini tuntuntan yang serius banget. Bagi Blogger yang rajin menulis tentang Politik, misalnya. Meski keadaan negara sedang “panas”, ada baiknya Blogger bisa menjadi “pendingin” dengan menulis pendapat-pendapat yang positif. Sekalipun sudut pandangnya berbeda, kemaslah dengan bahasa yang apik. Tidak mengandung unsur adu domba. Apapun fokus tulisan kita, dalam ranah apapun, ngga ada baiknya menjelekkan nama bangsa, Guys! 

Bisa dipahami untuk resolusi ketiga, kan? Aku ngga mampu berkata untuk poin ketiga ini. 😀 Hanya bisa berharap, semoga Blogger Indonesia bisa makin berdamai dengan hati masing-masing, ya. Mampu menjaga perasaan oranglain, menghargai dan saling menghormati. Tulis dan bagilah konten yang bermanfaat. 😉 *CatatanDiri* *SemogaAkuBisa*
Lebih mengenalkan sebuah profesi kepada masyarakat. Yaitu Blogger. Banyak masyarakat yang belum tahu tentang profesi ini. Ya, Blogger kini bisa dikatakan sebagai profesi. Tengoklah para Blogger senior. *lirik siapa, ya?* Beberapa dari mereka menjadi full time Blogger. Tawaran pekerjaan menulis di blog berdatangan, sampai benefitnya bisa dimanfaatkan untuk “menyambung hidup”.
Nah, kalau sudah sampai pada rejeki yang lebih dari lumayan, bukankah harus diketahui asal usulnya? Daripada nanti dikira ngga punya pekerjaan, kerjanya duduk di rumah, tapi bisa mencukupi kehidupan keluarga. Pasti banyak yang suudzon, kan? Makanya, selain ada peringatan Hari Blogger Nasional, perlu banget, tuh, tanggal 27 pada kalender diubah menjadi warna merah. 😛
Sebagai Blogger Indonesia, pasti kamu setuju banget. Aku lebih bahagia jika ada akses internet ke seluruh situs blog digratiskan, ketimbang akses ke http://0.facebook.com. gratis! Bagi Blogger yang tak sekadar punya hobi menulis, mereka yang punya hobi Blogwalking pasti akan terbantu banget. Situs blog saja, Kak. Ngga usah muluk-muluk sampai ke Youtubelah, ya. Tapi, ini khusus untuk Blogger Indonesia. Tentunya, dengan cara mendaftarkan Blog yang dipunya, kemudian mendapat kode unik untuk bisa akses interntet secara gratis. Pasti bisa, kan? Iya, kaan….iya, kaaan…. 

Lima Resolusi Ketenger di atas sudah disampaikan oleh Ketua Blogger Camp ID Purwokerto, Beauty Pungky, kepada sponsor utama Blogger Camp Indonesia Tahun 2015, yaitu Indosat dan Juara Agency.
Nah, untuk Teman-teman Blogger yang ngga ikut mengisi petisi Resolusi Ketenger, bisa banget menyebarkan link blog post ini melalui media apapun, lho. Ngga memaksa, hanya memohon. Siapa tahu pemerintah, provider, atau pihak terkait lainnya yang tercantum dalam resolusi akan mengabulkan Resolusi Ketenger. Serius. 😉
By the way, aku ingin tahu, setelah kita semua, KITA, para Blogger memperingati hari spesialnya, apakah Teman-teman Blogger mempunyai resolusi untuk Blognya?
BlogerCampID Ketenger – Ada banyak Blogger dari berbagai komunitas yang datang untuk berbagi kebahagiaan, pengalaman, baik dengan sesama Blogger maupun para pembicara dalam rangka memperingati Hari Blogger Nasional (Harblognas).
Teman-teman Blogger pasti tahu, dong, kalau tanggal 27 Oktober adalah Hari Bloger Nasional. Dan bahagianya, pada hari ini, tepatnya mulai kemarin sore, Harblognas diselenggarakan serempak di empat kota; Jakarta, makassar, Surabaya dan Purwokerto. Di empat kota tersebut, diselenggarakan pula Blogger Camp. Ya ampuun…asyik banget, kaan? 😀
Seperti yang sudah aku tulis di post blog sebelumnya, aku ikut di Purwokerto. Tepatnya di Desa Wisata Ketenger, Baturraden. Kota yang paling dekat dengan tempat tinggalku, Banjarnegara.
Nah, tahun 2015 adalah tahun ke 8 peringatan Harblognas. Aku baru tahu fakta ini dari seorang sahabat yang duduk di sebelahku, Mbak Lia, saat panitia melontarkan pertanyaan seputar Harblognas. 😆
Usai SENAM GOKIL, kami berkumpul di sebuah ruang yang begitu nyaman bagiku dan semoga bagi Teman-teman lain juga, ya. Di sini, kami duduk berdampingan, lesehan, sembari mendengarkan para pembicara berbagi pengalaman dalam dunia Blogging. Pengalaman yang sesuai dengan profesi mereka sebagai Blogger.
Hah? Profesi? Iya, Blogger sekarang kan sudah menjadi profesi, ya. Hanya saja, keberadaanya ngga disahkan secara KTP. Eh, ngga atau belum, sih? 😛
Lingkaran ini membuatku bahagia. Sirkulasi udara cukup baik. Ini juga membuatku makin betah duduk lama untuk mendengar sharing dari para Pembicara; Mas Pradna, Mbak Mira Sahid dan Mbak Eva.
Mas Pradna sebagai pembicara pertama berbagi tentang pemanfaatan internet untuk Desa. Sebagai Blogger, Beliau membantu pembuatan website untuk desa, sekaligus penggiat kegiatan, baik Desa yang ada di Kabupatennya, maupun Desa lain di Indonesia.
Menurutnya, pemanfaatan internet untuk Desa akan lebih tepat guna, karena informasi yang diberikan akan lebih relevan, akurat. Tidak mengada-ada, apalagi hanya isu belaka.
Mas Pradna juga memutar video yang berisi tentang sebuah prestasi yang begitu mengunspirasi. Prestasi dari salah satu Desa di Banyumas yang telah sukses memanfaatkan internet untuk kebuthan Desa, warga Desa.
Sesi berikutnya ada Mbak Mira dan Mabak Eva yang berbagi informasi seputar kredibilitas blog. Sharing dari mereka yang berangkat berdasarkan pengalaman, tuh, mengasyikkan. Sama halnya seperti Mas Pradna.
Menurut Mbak Mira, untuk mempertahankan kredibilitas blog, ada baiknya Blogger fokus dengan konten yang sesuai dengan kemampuan Blogger itu sendiri. Sesuai dengan personalnya. Supaya apa yang ditulis pada blog post lebih menarik dan membahagiakan pembaca. 😉
Saat Mbak Eva berbagi tentang cerita travelingnya. Dia menyampaikan, bahwa awal mula Mbak Eva menjadi Blogger, tuh, suka menulis fiksi. Namun, ia punya hobi lain, yaitu jalan-jalan atau traveling. Nah, karena dua hobi tersebut sangat berseberangan, ia pun membuat blog baru khusus untuk share tentang pengalamannya saat traveling.. Supaya pembaca blognya bisa membedakan, mana yang fiksi mana yang real. Biar ngga dikira piknik dalam angan-angan. 😀
Menurutnya, jika sudah berani terjun pada satu tema blog, kita harus konsisten. Boleh, sih, sesekali menyelingi dengan post blog lain, tapi nanti jadi blog gado-gado, ngga punya ciri khas. Etapiii… blog mau gado-gado, lotek, atau apalah, dikembalikan lagi pada si empunya Blog alias Blogger. Terpenting, kalau memang Blogger, ya rajin diupdate saja blognya dan bisa dipertanggungjawabkan semua blog post yang sudah ditulis.  😉
“Salah satu bentuk kebahagiaan bagi Ibu Hamil (BuMil) adalah perhatian khusus.” Iya, kan, Beib? 😛 Ngaku saja, ngaku! Bagi yang sedang hamil, lho,…
Tinggal menghitung hari, insya allah aku akan menghadiri acara Blogger Camp dalam rangka memperingati Hari Blogger Nasional. Acara tersebut akan diselenggarakan serempak di…
“Aku ingin menjadi orang penting, orang nomor satu di Indonesia, Presiden. Aku ingin menjadi Petani, biar bisa panen tiap hari. Aku ingin menjadi Dokter, agar bisa nyembuhin Mama kalau demam. Aku ingin menjadiii…” Ada banyak jawaban atas sebuah pertanyaan tentang cita-cita.
Cita-cita yang terpatri semenjak kecil bisa menjadi cita-cita sepanjang masa. Terus berusaha untuk mengejarnya sampai bisa terwujud. Atau, bisa jadi, cita-cita semasa kecil hanya sebatas ikrar dowang. Menyatakan ingin menjadi Princess, atau Frozen, misalnya.
Ya…namanya anak kecil. Terkadang, apa yang diidolakan olehnya, bisa menjadi cita-cita. Ngga memandang idolanya itu hanya ada di televisi atau film. Belum paham yang namanya tokoh fiktif. Karena, yang ada di benaknya hanyalah figur yang cantik, ganteng, kuat, dan baik. Simpel banget, kan?
Seperti yang terjadi pada Minggu pagi, (18/10). Tepat di hari ulang tahunku, Peri Kecil, Roseita, yang biasa kupanggil Rose, mengirim sebuah pesan singkat melalui e-mail.
“Mama punya cita-cita yang belum terwujud? Princess mau doain buat Mama.”

Dia lebih senang menyebut dirinya sendiri Princess. Sebuah nama yang terinspirasi dari film kartun. Kartun apalah-apalah, aku ngga mau menyebutkannya. Takut tambah terkenal.
Aku yang pagi itu baru saja mengaktifkan paket data, langsung membalas e-mail tersebut meski telat lima menit. Ngga ada cita-citaku yang kusampaikan pada Princess. Tapi, karena ada suatu hal yang menjadikanku penasaran, aku membalas e-mail dengan bertanya balik.
“Princess sendiri cita-cita yang belum terwujud apa? Nanti kita panjatkan doa bersama.“

“Mamaaa, selamat ulang tahun, ya. Princess doakan untuk kesehatan Mama dan juga Dede yang masih di dalam perut. Cita-cita Princess ingin menjadi Penari.
Princess tau, Mama pasti ngga suka. Tapi, Princess mau ngajak Dede jadi Penari juga. Nanti kami mau menari bersama-sama. Mau belajar tari tradisional dan balet. Bukan tari modern, Ma. Semoga Mama mau mendoakannya.“
Pada usianya yang ke Delapan, ia mengikrarkan cita-citanya menjadi Penari. Aku tahu, tak ada bakat sedikitpun dalam dirinya untuk menjadi penari. Disamping itu, Princess pemalu. Tapi, aku selalu suka mendengar ceritanya tiap kali selesai les menari. Princess terlihat antusias, semangat mengikuti tiap sesi pelatihan.

Bagiku, bakat bukan menjadi faktor penentu keberhasilan dalam cita-cita. Apalah artinya, jika mempunyai bakat, tapi ngga dimanfaatkan sedikitpun.
Jika memang Princess punya cita-cita menjadi Penari, semoga itu bukan hanya ikrar semasa kecil dowang. Ilmu dasar yang sudah didapat, bisa ia manfaatkan sampai nanti. Sampai ia dewasa, menjadi Guru Tari, misalnya.
Btw, apakah teman-teman punya cita-cita semasa kecil, sampai akhirnya terwujud saat dewasa kini?
Makanan ringan yang aku beli di pinggiran alun-alun kota telah habis. Sudah mulai bingung mau pose gimana lagi. Ngga mungkin ngambil camilan milik…
Udara di Banjarnegara Sejuk Banget! Sebentuk harapan dan sugesti kuat dariku. Padahal, aslinya PANAS, HOT, VERI HOT, PANAS BANGET! Entahlah, rasanya sedang berada…
Menu segar menjadi menu favoritku saat singgah di tempat makan. Kenapa menu segar? Alasannya simpel banget! Ngga membutuhkan waktu lama untuk menyantapnya. Terkadang,…
Pertimbangan untuk memanfaatkan jasa jemput menuju Gua Pindul adalah pilihan yang tepat bagi kami, khususnya aku. Meski aku ngga ikut andil menentukan, tapi aku turut merasakan kepuasan atas sebuah pelayanan.
Tak banyak yang bisa kulakukan saat mendapat pelayanan maksimal dari sebuah jasa kecuali menuliskannya. Sekadar mendokumentasikan, sebagai pengingat, dan berbagi pengalaman. Siapa tahu bisa menjadi referensi juga bagi mereka yang membutuhkannya.
Aku tahu, memberi pelayanan maksimal sudah menjadi kewajiban bagi para penyedia jasa dalam bidang apa saja. Pun dengan ending yang memuaskan, membahagiakan bagi para pemakai jasa yang menjadi tujuan mereka. Memberikan pelayanan yang ngga nanggung, full service. Seperti saat piknik ke Gua Pindul, aku merasa puas dengan pelayanan dari jasa pemandu wisata Gelaran Indah.
Gelaran Indah (GI) adalah sebentuk kelompok sadar wisata (POKDARWIS) yang beranggotakan masyarakat Gelaran 1, Bejiarjo, Karangmojo, Gunung Kidul.

Jasa pemandu dari Gelaran Indah terdiri dari beberapa tim yang telah terbagi menjadi beberapa bagian. Sebagian besar anggota adalah lelaki yang sudah tidak muda lagi, tapi masih dalam usia yang produktif. Mereka yang sering menjadi pemandu cave tubing dan rafting. Sedangkan yang masih muda, mereka lebih aktif menjadi jasa penjemput, penerima wisatawan, dan menjaga basecamp.

“Kurang lebih tujuh puluh orang yang sama-sama bekerja untuk Gelaran Indah. Mulai dari bagian penjemputan di gerbang utama, pengambilang tubing, pemakaian pelampung, sampai pada mereka yang mengantar, mendampingi para wisatawan menikmati paket wisata yang kami sediakan.” Jelas Mas Hendri, Pemandu Wisata yang saat itu mendampingi kami susur Gua Pindul dan River Tubing Oyo.
Tujuh puluh orang yang terbagi menjadi sekian tim. Pantas saja, pelayanannya cepat. Karena, ada banyak tim yang siap memandu para wisatawan selama berwisata di Gua Pindul dan sekitarnya.


Ngomongin tentang kepuasan dari pelayanan wisata, ada sepuluh alasan, mengapa aku memilih dan merekomendasikan Gelaran Indah sebagai Jasa pemandu wisata gua pindul. Yaitu, karena:
Ya, jika Teman-teman punya rencana piknik ke Gua Pindul tanpa Biro Wisata, bisa banget dapat diskon hingga 15% dafi harga tiket normal Rp 35.000. Lumayan, kan? Ssst…aku pernah menikmati diskon tersebut. Nah, jika pesan tiket masuknya lewat aku, ntar bisa aku kasih tambahan diskon (lagi). *referalllllll**cari untung* Bhahaha

Ke sepuluh hal di atas cukup membuat kami, khususnya aku, merasa puas dengan layanan yang maksimal, sepenuh hati. Apalagi, dalam satu kelompok hanya terdapat tujuh wisatawan. Satu pemandu, tujuh wisatawan. Jadi, pemandu bisa fokus dan cukup ringan untuk terus memantau tujuh orang.
Jika Teman-teman ada rencana piknik ke Gua Pindul, bisa banget kontak aku, lho. Jangan khawatir, nanti aku beri diskon yang lumayan banget bisa untuk beli es cincau. 😛
Teman-teman bisa banget baca Pemandu Wisata Dieng. Ada diskonan juga di sana. Bhahaha